Satu pertanyaan buat kaum Gadariyyah: Apakah mungkin Allah mengajarkan hamba-Nya sesuatu yang Dia sendiri tidak mengetahuinya? Kalau mereka menjawab: Allah tidak sekali-kali mengajarkan sesuatu kepada hamba-Nya, melainkan Dia mengetahui hal itu. Maka kukatakan kepada mereka: Kalau begitu, tidak sekali-kali pula Dia mentakdirkan sesuatu kepada hamba-Nya, melainkan Dia menguasainya. Tentulah pernyataan ini mereka benarkan. Lantas kukatakan lagi: Sekiranya Dia mentakdirkan mereka menjadi kufur, tentu Dia kuasa mengkufurkan mereka. Dan sekiranya Dia kuasa mengkufurkan mereka, mengapa pula anda menetapkan bahwa kekufuran itu merupakan sesuatu yang rusak ataupun batil, padahal Dia berfirman: ''Maha Kuasa (Allah) berbuat apa pun yang dikehendaki-Nya” (OS, al-Buruj, 85: 16). Apabila kekufuran yang dikehendaki itu telah ditakdirkan-Nya dan diberikan-Nya kepada mereka dalam bentuk kemurahan rezki, maka bukankah Allah itu Maha Kuasa memberikan rezki kepada makhluk-Nya, tetapi manakala mereka diberi rezki, mereka pun berlebih-lebihan? Dan bukankah Dia itu Maha Kuasa pula mengkufurkan mereka, yang manakala Dia menjadikan kekufuran, tentu mereka pun menjadi kufur? Maka itu firman-Nya: ''Dan sekiranya Allah melapangkan rezki kepada hamba-Nya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi ini” (OS, asy-Syura, 42: 27), dan "sekiranya bukan karena hendak: mencegah manusia menjadi ummat (kafir) yang satu, tentulah Kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhan yang Maha Pemurah itu loteng-loteng perak” (OS, az-Zukhruf, 43: 33). Tentu pertanyaan tersebut tidak bisa tidak mesti dijawab, ya! Lantas kukatakan kepada mereka: Mengapa anda mengakui bahwa Dia itu Maha Kuasa menjadikan kemurahan rezki kepada mereka, yang manakala Dia menjadikan hal itu kepada mereka, niscaya semua beriman — sebagaimana Dia kuasa pula mengkufurkan mereka, yang manakala mereka dijadikan-Nya begitu, tentunya pun mereka menjadi kufur?
MASALAH :
Bukankah Allah berfirman: ”Sekiranya bukan karena karunia dan rahmat Allah kepadamu, tentu kamu mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja” (OS, an-Nisa', 4: 83): dan "sekiranya bukan karena karunia dan rahmat-Nya kepadamu, tentu tidak seorang pun di antara kamu yang bersih (dari kekejian dan keingkaran kamu) selama-lamanya” (OS, an-Nur, 24: 21), dan "maka dia meninjaunya, lalu dia melihat temannya itu di tengah-tengah neraka yang menyala-nyala” (OS, ash-Shaffat, 37: 55): dan "dia berkata: Demi Allah, sebenarnya kamu nyaris mencelakakanku. Dan sekiranya bukan karena nikmat Tuhanku, tentu aku termasuk orang-orang yang diseret (ke dalam neraka) itu” (OS, ash-Shaffat, 37: 56-57).
Coba anda renungkan ayat-ayat di atas, karunia macam apakah yang diberikan Allah kepada orang-orang mukmin, dan kalau Dia tidak memberikannya, mereka pun menjadi pengikut-pengikut setan? Bahkan tidak seorang pun di antara mereka yang selamanya bersih dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar? Lantas kenikmatan macam apa pula yang apabila tidak diberikan-Nya kepada mereka, niscaya mereka tergolong orang-orang yang diseret ke dalam neraka? Apakah kenikmatan tersebut merupakan sesuatu yang tidak diberikan Allah kepada orang-orang kafir, tetapi dikhususkan bagi orang-orang mukmin? Kalau mereka menjawab, ya! Berarti mereka telah menjernihkan anggapannya serta menetapkan bahwa Allah itulah yang banyak memberikan karunia dan rahmat kepada orang-orang mukmin, tetapi tidak kepada orang-orang kafir, bahkan orang-orang kafir itu telah menerima ketentuan-ketentuan yang ditetapkan-Nya. Tetapi kalau mereka menjawab: Allah pun memberikan karunia dan rahmat itu kepada orang-orang kafir, sebagaimana yang diberikan- Nya kepada orang mukmin. Nah, sekiranya benar Allah memberikan karunia dan rahmat itu kepada orang-orang kafir — sementara mereka tidak bersih dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar, bahkan, mereka menjadi pengikut-pengikut setan dan menjadi penghuni neraka — maka apakahkitapun boleh mengatakan kepada orang- orang mukmin, bahwa kalau bukan karena Allah telah menciptakan tangan dan kaki untukmu, tentu pula kamu menjadi pengikut-pengikut setan? Karena toh Dia pun telah menciptakan tangan serta kaki buat orang-orang kafir, tetapi mereka menjadi pengikut-pengikut setan! Kalau mereka menjawab: Tidak boleh itu dikatakan kepada orang-orang mukmin. Maka kukatakan kepada mereka: Kalau begitu, apa yang anda katakan tadi pun tidak boleh terjadi. Sebenarnya telah dijelaskan bahwa Allah mengkhususkan nikmat, taufig dan petunjuk-Nya ke jalan yang benar kepada orang-orang mukmin, dan kesemuanya itu tidak diberikan Allah kepada orang- orang kafir, bahkan Allah melebihkan derajat orang-orang mukmin ketimbang orang-orang kafir.
MASALAH KEMAMPUAN TAAT :
Sekarang, satu pertanyaan pula kepada mereka: Bukankah kemampuan beriman adalah suatu nikmat dari Allah, karunia dan kebaikan-Nya? Kalau mereka menjawab, ya! Maka kukatakan lagi kepada mereka: Mengapaanda pun tidak mengakui bahwa kemampuan tersebut merupakan taufig dan petunjuk Allah ke jalan yang lurus? Jawabannya tidak bisa tidak mestilah, ya! Lantas kukatakan pula: Sekiranya orang-orang kafir itu mampu beriman, mengapa anda tidak mengakui bahwa mereka pun tergolong orang-orang yang mendapat taufig untuk menjadi beriman? Kalau mereka tergolong orang-orang yang mendapat taufig dan petunjuk ke jalan yang lurus, tentu mereka pun merupakan orang-orang yang terpuji: tetapi, karena pernyataan ini tidak bisa dibenarkan, maka tidak bisa dikatakan bahwa mereka pun merupakan orang-orang yang mampu beriman. Karena itu tentunya pula Allah mengkhususkan daya kemampuan beriman tersebut hanya bagi orang-orang mukmin semata.
MASALAH :
Kukatakan kepada mereka: Kalau kemampuan kufur itu sama halnya dengan kemampuan iman, tetapi dalam menuju-Nya itu mereka lebih menyenangi kemampuan melakukan kufur, maka orang-orang mukmin yang menuju Allah itu pun niscaya lebih menyenangi kemampuan melakukan iman dan membenci kemampuan melakukan kufur. Lantas kita pun menarik kesimpulan, bahwa orang-orang yang menyenangi kemampuan melakukan kufur itu merupakan orang-orang yang tidak membenci kemampuan melakukan kufur.
MASALAH :
Sekelompok orang bertanya tentang kemampuan iman: Tidak kah itu merupakan karunia Allah? Tentu jawaban mereka tidak bisa tidak mesrilah, ya! Kukatakan kepada mereka: Bukankah karunia yang diberikan kepada seseorang itu bisa menjadikan dirinya merasa berlebihan dan juga tidak? Tentu pula mereka menjawab, ya! Sebab hal itu merupakan pembeda antara karunia dengan hak. Lantas kukatakan lagi: Bagi seseorang yang memperoleh karunia, apabila dia diperintahkan beriman, semestinya pun dia memelihara karunia tersebut dengan tidak merasa berlebihan. Bahkan semestinya dia mengajak orang lain agar beriman pula, sekalipun mereka dibiarkan Allah begitu saja dengan tidak diberi kemampuan beriman. Sungguh, inilah pendirian dan pemahamanku.
JAWAB :
Kukatakan kepada mereka: Apakah Allah kuasa memberikan taufig kepada orang-orang kafir, sehingga mereka menjadi orang- orang mukmin? Kalau mereka menjawab, tidak! Artinya, mereka telah melemahkan Allah. Maha Tinggi Allah dari yang demikian itu. Tetapi kalau mereka menjawab, ya! Berarti mereka telah meninggalkan anggapannya semula, bahkan sesungguhnya mereka telah berpendapat dengan benar.
MASALAH :
Kalau ada orang yang bertanya tentang firman-Nya, "Dan Allah tidak menghendaki kezhaliman terhadap hamba-Nya” (OS, al-Mu'min, 40: 31) dan "tidaklah Allah menghendaki aniaya terhadap hamba-Nya” (OS, Ali "Imran 3: 108), maka katakanlah kepada mereka: Ya, memang Dia tidak menghendaki berbuat zhalim terhadap hamba-Nya, sebab Dia memfirmankan "...tidak menghendaki kezhaliman terhadap hamba-Nya” dan bukannya memfirmankan ” tidak menghendaki sebagian hamba-Nya berbuat zhalim terhadap sebagian lainnya, sementara Dia tidak menghendaki kezhaliman terhadap mereka.” Sungguh, kalau Dia menghendaki, tentu sebagian mereka berbuat zhalim terhadap sebagian lainnya, tetapi, Dia (sendiri) tidak menghendaki kezhaliman terhadap hamba-Nya.
MASALAH :
Kalau ada orang yang bertanya tentang firman Allah, "Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah itu sesuatu yang tidak seimbang” (OS, al-Mulk, 67: 3), sementara orang-orang kafir itu tidak scimbang, maka bagaimana mereka diciptakan Allah? Maka jawabnya adalah juga firman-Nya tersebut, ''Dia yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah itu sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian lihatlah sekali lagi, niscaya penglihatanmu itu kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat, sementara penglihatanmu itu dalam keadaan lemah” (OS, al-Mulk, 67: 3-4). Jelas, penglihatan anda ketika itu menjadi lemah dan anda pun tidak bisa melihat sesuatu yang tidak seimbang pada langit: dan di sini Dia hanya menyebutkan tentang penciptaan langit, tidak menyebutkan tentang penciptaan orang-orang kafir. Kalau pernyataan ini sesuai dengan apa yang telah kubicarakan di atas, maka apa yang mereka bicarakan tadi adalah batil. Segenap puji hanya milik Allah, Tuhan semesta alam.
JAWAB :
Katakanlah kepada mereka: Apakah anda mengakui bahwa Allah memiliki sesuatu nikmat yang dikhususkan kepada Abu Bakr as-Siddig, vang tidak diberikan-Nya kepada Abu Jahl? Kalau mereka menjawab, tidak! Sungguh, keterlaluan sangat anggapan mereka itu. Tetapi kalau mereka menjawab, ya! Berarti mereka telah meninggal- kan anggapan mereka sendiri, sebab (dulu) mereka beranggapan babwa Allah tidak mengistimewakan orang-orang mukmin dengan memberikan sesuatu nikmat yang tidak diberikan-Nya kepada orang-orang kafir.
MASALAH :
Kalau ada orang yang bertanya tentang firman Allah, "Kami tidak menciptakan langit dan bumi sertaapapun yang ada di antara keduanya itu dengan kebatilan” (OS, Shad, 38: 27), yang menurut anggapan mereka ayat ini mengandung pengertian bahwa Allah tidak menciptakan kebatilan. Maka sebagai jawabnya: Allah mendustakan orang-orang musyrik yang menganggap tiadanya tempat berkumpul, tiadanya tempat menyebar dan tempat kembali. Padahal tidak sekali-kali Allah menciptakan tempat berkumpul, tempat menyebar dan tempat kembali kelak, kalau Dia tidak memberikan pahala kepada orang-orang taat dan tidak memberikan siksa kepada orang-orang durhaka. Tidakkah anda perhatikan (sambungan) firman-Nya tersebut, ''Yang demikian itu merupakan prasangka orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir tersebut, karena mereka niscaya masuk neraka. Patutkah Kami menjadikan orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal shaleh itu sama halnya dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi ini? Dan patutkah pula Kami menjadikan orang-orang yang bertagwa itu sama halnya dengan orang-orang yang berbuat maksiat” (OS, Shad, 38: 27-28). Tegasnya, Allah tidak mempersamakan mereka dalam kehancurannya, bahkan tidak pula mengembalikan mereka pada suatu jalan yang sama.
MASALAH :
Kalau ada orang yang bertanya tentang firman Allah, "Apa pun nikmat yang kamu peroleh, itu dari Allah. Dan apa pun bencana yang kamu peroleh, itu dari kesalahanmu sendiri” (OS, an-Nisa', 4: 79). Maka jawabnya adalah firman Allah sebelum itu, "Dan sekiranya mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: Ini semua dari sisi Allah! Tetapi sekiranya mereka memperoleh suatu bencana, mereka mengatakan: Ini semua dari sisi kamu, Muhammad” (OS, an-Nisa', 4: 78): dan Allah pun (menyambung) berfirman, ''Muhammad, katakanlah: Semua itu dari sisi Allah. Maka, mengapa pula orang-orang (munafig) tersebut hampir-hampir tidak memahami kenyataan sedikit pun” (OS, an-Nisa', 4: 78). Menurut anggapan mereka, jawaban ini tidak berlaku pada ayat yang dipertanyakan tadi, sebab jawaban ini justru menunjukkan bahwa semuanya datang dari sisi Allah. Katakanlah: Dalam al-Our'an tidak ada ayat yang saling berlawanan. Jadi, tidak mungkin ayat yang satu menyatakan bahwa sesuatu itu dari sisi Allah, sementara ayat yang lain menyatakan bahwa sesuatu itu — yakni, bencana yang datang menimpa manusia — tidak dari sisi Allah. Maka hal ini makin menjelaskan betapa batilnya anggapan mereka terhadap ayat tersebut, bahkan ini menuntut mereka untuk mengemukakan suatu alasan yang lebih kuat.
MASALAH :
Kalau ada orang yang bertanya tentang firman Allah, "Aku tidaklah menciptakan jin dan manusia, kecuali agar mereka menyembah-Ku” (OS, adz-Dzariyat, 51: 56). Maka jawabnya: Dengan ayat tersebut Allah hanya memaksudkan orang-orang yang beriman saja, tidak orang-orang kafir, sebab Dia pun telah menyiapkan neraka jahannam bagi kebanyakan makhluk-Nya. Adapun orang-orang yang diciptakan-Nya untuk neraka jahannam, yang telah dihitung dan dicatat nama mereka beserta nama-nama ibunya dan bapaknya, yalah orang-orang yang diciptakan (Allah) bukan sebagai hamba-Nya.
MASALAH BEBAN KEWAJIBAN :
Dalam masalah ini aku memulai dengan pertanyaan: Bukankah Allah telah mewajibkan orang-orang kafir agar mendengarkan kebenaran dan menerimanya, seraya beriman kepada Allah? Tentu pertanyaan ini tidak bisa tidak mesti dijawab, ya! Lantas kukatakan kepada mereka: Tetapi Allah berfirman, "Mereka senantiasa tidak dapat mendengar” (OS, Hud, 11: 20): dan "mereka tidak sanggup mendengar” (OS, al-Kahf, 18: 101), sementara Allah mewajibkan mereka mendengar kebenaran.
JAWAB :
Kukatakan kepada mereka: Bukankah Allah berfirman, "Pada hari ketika betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk sujud, mereka tidak kuasa"" (OS, al-Galam, 68: 42). Nah, bukankah Dia memerintahkan mereka untuk sujud di akhirat kelak? Bahkan dalam suatu hadits dijelaskan bahwa tulang rusuk orang-orang munafig itu dijadikan Allah seperti halnya papan yang kaku, sehingga mereka tidak bisa melakukan sujud. Maka dalam hal ini, sesuai dengan apa yang telah kukatakan tadi, Allah pun apabila memerintahkan orang-orang kafir untuk sujud tidaklah berarti Dia harus menjadikan mereka mampu melakukan sujud. Sungguh, semua itu hanya anggapan kaum Oadariyyah yans batil.
MASALAH KESAKITAN ANAK-ANAK :
Sekarang, kuajukan suatu pertanyaan kepada mereka: Bukankah 'Allah menimpakan kesakitan kepada anak-anak dengan rupa-rupa penyakitnya, semisalkan saja kusta, yang dapat merontokkan (jari-jari) tangan dan kaki mereka? Dan bukankah ini merupakan sesuatu yang mungkin serta gampang bagi Allah? Apabila mereka menjawab, ya! Katakanlah kepada mereka: Kalau ini benar, mengapa anda tidak mengakui bahwa Dia pun niscaya menimpakan kesakitan kepada merekadi akhirat kelak? Dan hal ini memang benar. Tetapi, kalau mereka mengatakan: Dia menimpakan kesakitan kepada anak-anak itu agar menjadi pelajaran bagi bapak-bapak mereka. Maka katakanlah kepadanya: Kalau Dia melakukan hal itu agar menjadi pelajaran bagi bapak-bapak mereka, memang hal ini bisa saja dibenarkan, mengapa pula Dia tidak menimpakan kesakitan kepada anak-anak orang kafir itu agar bapak-bapak mereka pun menjadi marah? Dan apakah hal tersebut dapat dibenarkan? Ada satu hadits yang menjelaskan bahwa sebagian anak-anak itu pada hari giamat kelak bagiannya adalah neraka yang menyala-nyala, kemudian dikatakan kepada mereka: Masuklah kamu sekalian ke dalamnya! Maka, barang-siapa mau masuk ke dalamnya, dia pun dimasukkan ke surga: dan barangsiapa tidak mau masuk ke dalamnya, dia itu dimasukkan ke neraka.
MASALAH :
Telah banyak diriwayatkan tentang kesakitan anak-anak ini, bahkan ada satu riwayat dari Nabi saw, bahwa anak-anak Isma'il pun berada dalam neraka.
JAWAB :
Kukatakan kepada mereka: Bukankah Allah pun berfirman, "Celakalah kedua tangan Abu Lahb, sungguh, dia niscaya celaka. Tidaklah berguna harta-benda miliknya, tidak pula yang dia usahakan. Kelak dia niscaya memasuki api yang menyala-nyala” (OS, al-Lahb, 111: 1-3). Dalam ayat ini diceritakan Allah memerintahkan Abu Lahb agar beriman, di mana dia pun semestinya tahu kalau dirinya itu tidaklah beriman, dan apa yang diceritakan Allah tentangnya tersebut memang benar, memang benar dia tidak beriman, sementara perintah Allah kepadanya itu agar dia beriman. Di sini antara ilmu dan iman tidaklah bersatu, Abu Lahb adalah seseorang penguasa, tetapidia tidak kuasa beriman dan tidak pula tahu kalau dirinya tidak beriman. Dengan begitu berarti Allah memerintahkan Abu Lahb agar melakukan sesuatu yang dia tidak kuasa mengerjakannya, yaitu agar beriman, tetapi ternyata dia tidak kuasa beriman.
MASALAH :
Kukatakan lagi kepada mereka: Bukankah Allah memerintahkan orang-orang yang tahu kalau dirinya tidaklah beriman agar dia beriman? Kalau mereka menjawab, ya! Maka kutanyakan pula kepada mereka: Bukankah anda pun kuasa beriman, bahkan hal ini gampang saja buat anda? Sekiranya mereka menjawab, tidak! Berarti mereka sepaham dengan pendirian kita. Tetapi sekiranya mereka menjawab, ya! Berarti mereka beranggapan bahwa hamba-hamba Allah bisa saja keluar dari pengawasan-Nya, Maha Tinggi Allah dari yang demikian itu.
« Prev Post
Next Post »