Dalam kesempatan ini aku akan membantah anggapan kaum Mu'tazilah tentang 'kehendak Allah”. Kumulai dengan melontarkan satu pertanyaan kepada mereka: Bukankah anda beranggapan bahwa Allah senantiasa Maha Tahu? Kalau mereka menjawab, ya! Maka kukatakan: Mengapa pula anda tidak beranggapan bahwa yang Senantiasa tahu di sepanjang masa itu berarti senantiasa berkehendak di sepanjang masa, sementara yang senantiasa tahu (tetapi) tidak di sepanjang masa itu berarti senantiasa tidak berkehendak di sepanjang masa, di mana yang senantiasa tahu itu berarti senantiasa berkehendak? Kalau mereka menjawab: Kami tidak beranggapan bahwa Allah senantiasa Maha Berkehendak, sebab Dia berkehendak dengan kehendak yang ada pada makhluk. Maka kukatakan kepada mereka: Mengapa anda beranggapan seperti itu? Apa pula bedanya anda dengan kaum Jahamiyyah, yang beranggapan bahwa Maha Tahu Allah itu dengan pengetahuan yang ada pada makhluk? Kalau 'iImu Allah tidak mungkin dikatakan makhluk, mengapa anda tidak mengatakan bahwa iradah-Nya pun bukan makhluk? Kalau mereka menjawab: Ilmu Allah tidak bisa dikatakan makhluk atau sesuatu yang baru, sebab hal ini membawa pengertian bahwa Allah pun baru, sampai tiada berkesudahan. Kalau mereka mengatakan bahwa ilmu Allah tidak bisa dikatakan baru, sebab hal ini membawa pengertian bahwa Dia berkehendak dengan kehendak yang ada pada makhluk, tentu pengertian yang serupa ini tidak dapat diterima, dan juga kalau mereka mengatakan bahwa ilmu Allah tidak bisa dikatakan baru, sebab yang semula tidak mengetahui sesuatu itu bila menjadi tahu, berarti dia memiliki sifat kekurangan. Maka kukatakan lagi kepada mereka: Kalau begitu, kehendak Allah pun tidak bisa dikatakan baru, sebab yang semula tidak berkehendak itu bila menjadi berkehendak, berarti dia memiliki sifat kekurangan pula. Seperti halnya dengan kehendak-Nya ini, firman-Nya pun tentu tidak bisa dikatakan baru ataupun makhluk.
JAWAB :
Kukatakan kepada mereka: Anda beranggapan bahwa kekuasaan Allah itu meliputi orang-orang kafir dan durhaka. Tetapi Dia tidak menghendaki adanya kekafiran dan kedurhakaan, bahkan menghendaki agar semua makhluk beriman kepada-Nya, walau ternyata mereka tidak beriman. Sungguh, dalam anggapan anda ini terkandung pengertian bahwa sesuatu yang dikehendaki Allah seringkali tidak terjadi, sementara yang tidak dikehendaki Allah seringkali terjadi, Mengapa demikian? Sebab, kenyataannya, kekufuran yang tidak dikehendaki Allah itu lebih banyak terjadi ketimbang keimanan yang dikchendaki-Nya. Dan inilah bantahan mereka terhadap apa yang telah disepakati kaum Muslimin, di mana kita sepakat bahwa sesuatu yang Allah kehendaki itu niscaya terjadi, sementara yang tidak Dia kehendaki itu niscaya tidaklah terjadi.
JAWAB :
Dari pembicaraan anda tadi seolah-olah dapat disimpulkan bahwa sesuatu yang dikehendaki Iblis seringkali terjadi, sebab orang kufur lebih banyak ketimbang orang Mukmin, dan sesuatu yang terjadiini kebanyakan adalah yang dikehendaki Iblis, yang dengan begitu berarti anda mengatakan bahwa kehendak Iblis lebih banyak berhasil ketimbang kehendak Allah. Maha Tinggi Allah dari yang demikian ini, bahkan Maha Suci pula nama-Nya. Tetapi karena setiap yang dikehendaki Iblis itu seringkali terjadi, maka anda pun seolaholah beranggapan bahwa dalam hal kehendak Iblis itu mempunyai suatu martabat yang tidak dimiliki Allah, Tuhan yang menguasai segenap alam. Maha Tinggi Allah dari anggapan orang-orang zhalim ini.
JAWAB :
Sekarang, aku akan mengemukakan dua pernyataan. Pertama, apabila seseorang menghendaki adanya sesuatu, tentu sesuatu itu akan ada, dan apabila dia tidak menghendakinya, tentu sesuatu itu tidak akan ada. Kedua, sesuatu yang adanya dikehendaki seseorang, niscaya itu belum tentu ada, dan sesuatu yang adanya tidak dikehendaki, bisa saja justru akan ada. Pertanyaanku kepada mereka: Mana yang lebih tepat di antara kedua pernyataan tadi, bila dikaitkan dengan sifat kuasa (gudrat) Allah? Kalau mereka menjawab: Pernyataan keduaniscaya lebih tepat dalam kaitannya dengan sifat kuasa: maka berarti mereka sependapat dengan kita. Kukatakan kepada mereka: Kalau anda membolehkan diri anda mengatakan demikian, tentu orang lain pun boleh mengatakan bahwa sifat ilmu lebih benar dan lebih tepat dengan pernyataan kedua — yang menegaskan bahwa sesuatu yang tidak dikehendaki itu bisa saja mengada — ketimbang dengan pernyataan pertama. Tetapi kalau mereka berbalik dari persilangan pendapat ini, lantas mereka beranggapan bahwa sifat kuasa (gudrat) itu lebih cenderung pada pernyataan pertama — yang menegaskan bahwa sesuatu yang dikehendaki itu pasti ada, sementara yang tidak dikehendaki itu pasti tidak ada — maka anda pun seolah-olah menyatakan bahwa Iblis lebih kuasa ketimbang Allah, sebab apa pun yang dikehendaki Iblis seringkali terjadi. Bahkan kukatakan kepada mereka: Apabila sifat kuasa (gudrat) itu lebih cenderung dimiliki seseorang yang kuasa mewujudkan setiap kehendaknya, maka anda pun semestinya berkeyakinan bahwa Allah kuasa mengadakan ataupun meniadakan segenap yang dikehendaki-Nya. Karena itu Dia lebih berhak atas sifat kuasa (gudrat) tersebut.
JAWAB :
Kutanyakan kepada mereka: Mana yang lebih sesuai dengan sifat ketuhanan dan kekuasaan' (Allah) dari kedua pernyataan ini. Pertama, sesuatu yang diketahui seseorang itulah yang ada, tanpa mungkin tersembunyi dari pengetahuannya. Kedua, sesuatu yang tidak diketahui seseorang irulah yang ada, sekalipun ia tersembunyi dari pengetahuannya. Kalau mereka menjawab: Yang lebih sesuai dengan sifat ketuhanan adalah pernyataan pertama. Maka kukatakan lagi kepada mereka: Dengan demikian, seseorang yang menghendaki adanya sesuatu, lalu sesuatu itu terwujud — sementara terwujudnya (sesuatu) itu hanya merupakan sesuatu yang kikehendakinya, yang tidak akan hilang dari kehendaknya — maka orang tersebut pun tentu lebih cenderung pada sifat ketuhanan, sebagaimana halnya pendapat anda tentang kecenderungan sifat ilmu. Kalau mereka mengatakan, mereka telah meninggalkan anggapannya semula dan telah kembali ke pandangan kita, berarti mereka pun telah menetapkan bahwa Allah itu Maha Berkchendak atas sesuatu yang ada dan sesuatu yang ada ini hanya merupakan kehendak-Nya semata.
JAWAB :
Kalau anda beranggapan bahwa yang termasuk dalam kekuasaan-Nya adalah sesuatu yang tidak dikehendaki-Nya, yang kemudian mengada — sehingga, tidak bisa tidak, mesti diakui bahwa kekuasaan-Nya itu meliputi sesuatu yang dibenci-Nya, Maka kukatakan kepada mereka: Kalau anggapan anda serupa itu, mengapa anda tidak menerima pendapat bahwa kekuasaan-Nya meliputi pula sesuatu yang adanya tidak dikehendaki-Nya? Kalau mereka menjawab setuju, maka kukatakan pula kepadanya: Anggapan anda itu seolah-olah menyimpulkan, bahwa kemaksiatan pun bisa saja merupakan sesuatu yang dikehendaki Allah atau bisa pula tidak merupakan sesuatu yang dikehendaki-Nya. Nah, yang begini tentu harus dikatakan sebagai sifat lemah. Maha Tinggi Allah dari yang demikian itu.
JAWAB :
Kutanyakan kepada mereka: Bukankah di antara apa yang dikerjakan hamba (Allah) itu ada juga yang dibenci-Nya, sehingga apabila mereka sengaja mengerjakannya, tentu Dia membencinya? Maka pernyataan ini tidak bisa tidak mesti dijawab, ya! Lalu kukatakan lagi: Kalau seorang hamba mengerjakan sesuatu yang tidak dikehendaki-Nya, tentu Dia membencinya pula. Nah, sifat yang serupa ini merupakan sifat pemaksaan: dan Maha Tinggi Allah dari yang demikian itu.
JAWAB :
Lalu kunyatakan pula kepada mereka: Bukankah Allah berfirman, "Maha Kuasa (Allah) berbuat apa pun yang dihendaki-Nya” (OS, al-Buruj, 85: 16). Tentu pernyataan ini jawabnya, ya! Kukatakan lagi kepadanya: Dengan beranggapan bahwa Allah berbuat sesuatu yang tidak Dia kehendaki atau Dia menghendaki sesuatu yangtidak ada, berarti Allah memiliki sifat lupa atau lemah menghadapi adanya sesuatu yang tidak dikehendaki-Nya. Barangkali mereka pun kembali menjawab, ya! Sekali lagi kukatakan: Kalau anda setuju dengan ini, begitupun orang yang beranggapan bahwa kekuasaan Allah itu meliputi sesuatu yang tidak Dia kehendaki dari hamba-Nya. Dan anggapan semacam ini mengandung dua konsekuensi, yaitu apa Dia lupa atau Dia lemah menghadapi adanya sesuatu yang tidak dikehendaki-Nya.
JAWAB :
Bukankah orang yang beranggapan bahwa Allah berbuat sesuatu yang Dia tidak memiliki pengetahuan tentangnya, berarti dia telah menisbatkan Allah dengan sifat bodoh, yang tentunya tidak pantas bagi-Nya? Pertanyaan ini tentu jawabnya, ya! Lantas kukatakan kepada mereka: Kalau anda setuju dengan pernyataan di atas, begitu pula halnya dengan orang yang beranggapan bahwa hamba Allah dapat mengerjakan sesuatu yang tidak dikehendaki-Nya. Dan ini berarti orang tersebut telah menisbatkan Allah dengan sifat lupa atau tidak memiliki kekuatan menghadapi adanya sesuatu yang tidak dikehendaki-Nya. Lalu kalau mereka pun setuju dengan pernyataan ini, kukatakan lagi kepada mereka: Begitu pula halnya dengan orang yang beranggapan bahwa hamba-hamba Allah dapat mengerjakan sesuatu yang Dia tidak memiliki pengetahuan tentangnya, yang berarti orang tersebut menisbatkan Allah dengan sifat bodoh. Maka pernyataan ini pasti mereka setujui pula, sehingga kukatakan lagi kepada mereka: Begitu pula halnya bila Allah mengerjakan sesuatu yang Dia sendiri tidak menghendakinya, maka pasti Dia memiliki sifat lupa atau lemah dan tidak berdaya menghadapi adanya sesuatu yang tidak dikehendaki-Nya. Dan kalau sesuatu yang tidak dikehendaki-Nya itu muncul dari selain-Nya, maka pasti pula Dia bersifat lupa atau lemah dan tidak berdaya menghadapi tiadanya sesuatu yang dikehendaki-Nya. Maka, dalam hal ini, tidak ada perbedaan antara yang muncul dari-Nya dan yang muncul dari selain-Nya.
JAWAB :
Kalau kekuasaan Allah meliputi sesuatu yang tidak dikehendaki-Nya, sementara Dia mengetahuinya dan tidak terkena sifat lemah dan tidak berdaya menghadapi tiadanya sesuatu yang dikehendaki-Nya, mengapa pula anda tidak mengakui bahwa kekuasaan-Nya itu meliputi seusatu yang tidak diketahui-Nya dan Dia tidak memiliki sifat kekurangan. Kalau hal ini tidak dapat anda terima, anda pun tidak boleh beranggapan yang semacam anda kemukakan tadi.
MASALAH :
Kalau ada orang yang bertanya: Mengapa anda menyatakan bahwa Allah itu Maha Berkehendak terhadap adanya sesuatu yang ada dan terhadap tiadanya sesuatu yang tidak ada? Maka jawablah: Memang ada bukti yang menerangkan bahwa Allah menciptakan kekufuran dan kemaksiatan. Untuk lebih jelasnya, nanti akan kuterangkan setelah masalah ini. Kalau Allah pasti menciptakan kekufuran dan kemaksiatan, maka pasti pula Dia menghendaki keduanya, sebab tidak mungkin Dia menciptakan yang tidak dikehendaki-Nya.
JAWAB :
Tidak mungkin kekuasaan Allah itu meliputi usaha para hamba-Nya yang tidak Dia kehendaki, sebagaimana halnya tidak mungkin seseorang yang melakukan sesuatu secara kelompok itu diartikan dia berbuat sesuatu yang tidak dikehendakinya, sebab, kalau seseorang melakukan sesuatu yang dia sendiri tidak memiliki pengetahuan tentangnya, tentu dia memiliki sifat kekurangan. Demikian pula ketidakmungkinan kata-kata yang terlontar dari para hamba-Nya, sementara Dia tidak mengetahuinya. Sungguh, tidak mungkin sesuatu terjadi pada hamba-Nya, sementara Dia tidak menghendaki-Nya: sebab, hal ini akan melahirkan pengertian bahwa Allah lupa atau lemah dan tidak berdaya mengadakan sesuatu yang dikehendaki-Nya.
Lalu kalau kemaksiatan tidak dikehendaki adanya, tentu kehadirannya itu akan dibenci, sementara kemaksiatan itu mau tidak mau tetap pula terjadi. Maka, hal ini berarti menunjukkan sifat lemah, Maha Tinggi Allah dari yang demikian itu. Bahkan sebenarnya telah dijelaskan kepada kita, bahwa pada prinsipnya Allah senantiasa Maha Berkehendak menjadikan sesuatu yang diketahui-Nya. Karena itu bila kekufuran terjadi, sementara Dia mengetahuinya, berarti Dia menghendaki terjadinya kekufuran itu.
JAWAB :
Kukatakan kepada mereka: Kalau Allah mengetahui bahwa kekufuran itu pasti terjadi, sementara Dia tidak menghendaki terjadinya sesuatu yang diketahui itu berlainan dengan kenyataan ataupun sebaliknya, berarti Dia menghendaki sesuatu yang diketahui-Nya itu niscaya terjadi sebagaimana mestinya.
JAWAB :
Kukatakan pula kepada mereka: Mengapa anda tidak mengakui bahwa Allah menghendaki kekufuran yang diketahui-Nya itu berada dalam kondisi buruk, rusak dan bertentangan dengan keimanan? Kalau mereka menjawab: Sebab Dia memang berkehendak yang bodoh itu tetap bodoh. Lantas kukatakan lagi: Mengapa anda menjawab demikian? Bukankah Allah telah memberitahukan kita tentang putra Adam (Habil) yang berkata kepada saudaranya, yang difirmankan-Nya: "Sungguh, kalau kamu gerakkan tanganmu untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku untuk membunuhmu (karena) aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam. Sesungguhnya, aku ingin supaya kamu kembali dengan dosaku (sebab kamu membunuhku) dan dosamu sendiri, maka kamu niscaya menghuni neraka” (OS, al-Ma'idah, 5: 28-29). Dalam dua ayat ini dijelaskan bahwa salah seorang putra Adam (Habil) tidak ingin membunuh saudaranya (Oabil) karena berharapan tidak memperoleh siksa, sementara saudaranya yang lain ingin membunuhnya — sehingga dia pun kembali dengan membawa dosa saudaranya yang dibunuh itu, ditambah dosanya sendiri, lalu dia menjadi penghuni neraka. Dalam kasus ini dinyatakan bahwa orang yang ingin membunuh saudaranya adalah orang bodoh, sekalipun dia mengerti soal pembunuhan. Maka, berdasarkan hal ini, mengapa pula anda beranggapan bahwa Allah niscaya terlibat dengan kebodohan karena Dia itulah yang menghendaki hamba-Nya menjadi bodoh?
JAWAB :
Dalam kesempatan ini kukemukakan cerita Yusuf as, di mana dia berkata: "Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai ketimbang memenuhi ajakan mereka kepadaku” (OS, Yusuf, 12: 33). Ajakan yang dimaksud dalam ayat ini yalah berbuat maksiat, semertara mereka berkehendak agar kemaksiatan itu dilakukan Yusuf: tetapi Yusuf tidak memenuhi ajakan mereka, bahkan dia tidak bodoh dengan ajakan kemaksiatan itu. Dengan cerita ini mengapa pula anda tidak mengakui bahwa seandainya Allah menghendaki hamba-Nya menjadi bodoh, semisalnya dengan bersikap buruk dan tidak taat, maka hal ini tidaklah berarti bahwa Dia pun niscaya bodoh.
MASALAH :
Bukankah orang Islam yang melakukan dosa adalah orang bodoh, sementara Allah menghendaki dosa-dosa mereka, tetapi Dia tidak bisa dilibatkan dengan kebodohan mereka itu? Tentu pertanyaan ini jawabnya, ya! Maka kukatakan kepada mereka: Mengapa anda tidak menerima bahwa orang yang menghendaki kebodohan, tentu pula dia menjadi bodoh. Sementara Allah menghendaki kebodohan orang-orang dungu, tetapi Dia tidak bisa dilibatkan dengan kebodohan tersebut. Maha Tinggi Allah dari yang demikian itu.
MASALAH YANG LAIN :
Kukatakan kepada mereka: Bukankah orang yang berada di antara ammat ataupun hamba-sahayanya, yang sebagian mereka melakukan zina dengan sebagian lainnya, sementara dia sendiri tidak kuasa memisahkan mereka, maka orang tersebut dikatakan bodoh? Allah SWT berada di antara hamba-Nya dan “umat-Nya yang sebagian mereka melakukan zina dengan sebagian lainnya, sementara Dia berkuasa memisahkannya serta Dia tidak bodoh. Begitulah, orang yang menghendaki kebodohan tentu menjadi bodoh, tetapi Allah, sekalipun menghendaki kebodohan, Dia tidak bodoh.
MASALAH YANG LAIN:
Orang yang menghendaki ketaatan kepada Allah tentu dia menjadi taat, sebagaimana halnya orangyang menghendaki kebodohan tentu dia menjadi bodoh. Sementara Allah (sekalipun) menghendaki seseorang itu taat kepada-Nya, namun dia belum tentu menjadi orang yang taat, sebagaimana pula orang yang dikehendaki-Nya bodoh, namun dia belum tentu menjadi orang yang bodoh. Masalah yang Lain:
Allah telah berfirman: "'Dan seandainya Allah kehendaki, maka tidaklah mereka saling berbunuh-bunuhan” (OS, al-Bagarah, 2: 253). Dalam ayat ini Allah menjelaskan, seandainya Dia menghendaki agar mereka tidak saling berbunuh-bunuhan, maka tidaklah mereka akan melakukannya. Lalu sambungan firman-Nya: "Tetapi Allah memperbuat apa yang dikehendaki-Nya” (OS, al-Bagarah, 2: 253). Dalam hal ini termasuk soal berbunuh-bunuhan itu. Maka kalau pembunuhan itu terjadi, tentu Dia menghendakinya, sebagaimana pula firman-Nya: "Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentu mereka kembali mengerjakan (apa) yang telah dilarang mereka kerjakan” (OS, al-An'am, 6: 28). Ayat ini mengandung pengertian bahwa sekiranya pun mereka dikembalikan ke dunia lagi, pasti mereka kembali pada kekufuran, dan sekiranya mereka tidak dikembalikan ke dunia, maka mereka tidak mungkin kembali pada kekufuran. Begitupun dengan pengertian yang terkandung dalam ayat yang pertama tadi, bahwa sekiranya Dia menghendaki agar mereka tidak saling berbunuh-bunuhan, tentu mereka tidak melakukannya: tetapi toh Dia menghendaki agar mereka saling berbunuh-bunuhan.
MASALAH YANG LAIN :
Allah pun berfirman: "Dan seandainya Aku kehendaki, niscaya Aku berikan pada setiap jiwa itu petunjuk baginya, namun perkataan dari-Ku telah pasti: Sesungguhnya, Aku akan penuhi neraka jahannam itu dengan jin dan manusia secara bersama” (OS, as-Sajdah, 32: 13). Ayat ini mengandung pengertian bahwa sekalipun ketentuan tentang pemberian petunjuk itu telah ditetapkan, tetapi Dia tidak berkehendak memberikan petunjuk pada tiap-tiap jiwa, dan Dia tidak berkehendak memberikan petunjuk pada tiap-tiap jiwa, sebab ketentuan menyiksa orang-orang kafir pun telah ditetapkan. Jadi, kalau Dia tidak berkehendak memberikan petunjuk pada tiap-tiap jiwa, berarti Dia pun menghendaki kesesatannya. Tetapi penafsiran ayat tersebut mereka artikan begini: Kalau Kami menghendaki, tentu Kami memaksakan dan mengharuskan mereka agar menerima petunjuk. Kukatakan kepada mereka: Sekiranya benar Dia memaksakan dan mengharuskan mereka agar menerima petunjuk, apakah mereka itu orang-orang yang mendapat petunjuk? Kalau mereka menjawab, ya! Maka kukatakan lagi kepada mereka: Sekiranya benar Dia memberi petunjuk kepada mereka, sehingga mereka dikatakan sebagai orang-orang yang mendapat petunjuk, mengapa pula anda tidak mengakui kalau Dia menjadikan mereka itu orang-orang kafir, sehingga mereka semestinya dikatakan sebagai orang-orang kafir pula? Sungguh, hal ini sekedar bantahan terhadap anggapan mereka, sebab mereka menganggap bahwa tidak ada orang yang berbuat kekufuran melainkan orang kafir itu sendiri. Kukatakan pula kepada mereka: Atas dasar apa anda menetapkan adanya petunjuk buat mereka? Dan kapankah Dia mendatangkan ataupun menghendaki petunjuk itu bagi mereka? Kalau mereka menjawab, hal itu atas dasar dan ketika adanya paksaan. Maka kukatakan lagi: Sekiranya benar Dia memaksa mereka untuk menerima petunjuk, apakah sesuatu yang dikerjakan atas dasar paksaan itu dapat memberi manfaat kepada mereka? Kalau mereka menjawab, ya! Maka kukatakan pula: Dia memberitahukan kita bahwa sekiranya Dia menghendaki, tentu Dia memberi petunjuk. Dan kalau ketentuan-Nya sudah dipastikan, tentu Dia penuhi neraka jahannam itu. Tetapi kalau Dia memaksa mereka untuk berbuat sesuatu yang tidak mendatangkan manfaat kepadanya, yang tidak pula menghilangkan siksaan darinya — sebagaimana tidak manfaatnya perkataan Fir'aun ketika dia nyaris tenggelam, sekalipun tidak ada unsur pemaksaan — maka pendapat anda itu tidaklah ada artinya, Sebab, kalau ketentyan telah ditetapkan, niscayalah tiap-tiap jiwa itu diberi petunjuk: dan pemberian petunjuk dengan cara yang telah anda katakan tadi, sebaliknya, tidaklah itu dapat menghilangkan siksa Tuhan.
MASALAH YANG LAIN :
Allah pun berfirman: "Dan sekiranya Allah melapangkan rezki kepada hamba-Nya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi ini” (OS, asy-Syura, 42: 27): dan "sekiranya bukan karena hendak mencegah manusia menjadi ummat (kafir) yang satu, tentulah Kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah itu loteng-loteng perak” (OS, az-Zukhruf, 43: 33). Dalam ayat ini Allah memberitahukan kita, bahwa sekiranya bukan karena hendak mencegah manusia bersatu-padu dalam kekafiran, tentulah diberikan-Nya rezki yang melimpah kepada orang-orang kafir itu dan dibuatkan pula loteng-loteng rumah yang terbuat dari perak. Mengapa anda mengingkari, bahwa sekiranya Dia tidak menghendaki orang-orang kafir itu menjadi kufur, tentulah Dia tidak menciptakan begitu. Maka, kalau Dia. menciptakannya, mereka menjadi kafir —sebagaimana halnya kalau Dia menghendaki manusia bersatu-padu dalam kekafiran, tentu pula Dia menjadikan loteng-loteng yang terbuat dari perak buat orang-orang kafir itu. Tetapi Dia tidak menjadikan loteng-loteng tersebut, sebab Dia menghendaki agar ummat manusia tidak bersatu-padu dalam kekafiran.
« Prev Post
Next Post »