Kamis, 12 Desember 2024

Sikap Menolak Sifat-Sifat Allah

Coba anda renungkan firman-firman Allah ini: "Allah menurunkan (al--Our'an) itu dengan ilmu-Nya” (OS, an-Nisa', 4: 166): dan "tidaklah seorang perempuan pun mengandung atau melahirkan, kecuali dengan ilmu-Nya” (OS, Fushshilat, 41: 47), dan "seandainya mereka tidak menerima seruanmu itu, ketahuilah, sesungguhnya al-Our'an itu diturunkan dengan ilmu Allah” (OS, Hud, 11: 14): dan "mereka tidak mengetahui apa pun dari ilmu Allah, melainkan apa yang dihendaki-Nya” (OS, al-Bagarah, 2: 255), dan masih terdapat firman-Nya yang lain, yang juga membicarakan sifat ilmu tersebut, sampai-sampai Dia menyebutkan itu pada lima tempat dalam kitab-Nya. Di samping itu Allah pun menyebutkan tentang kekuatan (gudrat) dalam firman-Nya: "Apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah, yang menciptakan mereka, lebih besar kekuatan-Nya ketimbang mereka” (OS, Fushshilat, 41: 15): dan "yang memiliki kekuatan serta Maha Kokoh” (OS, adz-Dzariyat, 51: 58): dan "langit itu dengan (kekuatan) tangan-Ku pula Kubangun” (OS, adz-Dzariyat, 51: 47).

Kaum Jahamiyyah beranggapan bahwa Allah tidak memiliki sifat '“iImu, gudrat, hayat, sama' dan bashar. Mereka bermaksud menafikan kenyataan bahwa Allah itu Maha Tahu, Maha Kuasa, Maha Hidup, Maha Mendengar dan Maha Melihat. Tetapi, karena mereka takut atas ancaman hukum, mereka pun tidak berani memperlihakan pernyataannya yang menafikan kebenaran tersebut, dan akhirnya mereka (pura-pura) mengartikan itu dengan sebenarnya. Kalau mereka mengatakan bahwa Allah tidak memiliki sifat “ilmu dan gudrat, berarti mereka mengatakan bahwa Allah tidak Maha Tahu dan (tidak) Maha Kuasa. Anggapan yangserupaini bersumber dari orang-orang zindik dan (ateis) yang akan membekukan tauhid, sebab orang-orang zindik itu beranggapan bahwa Allah tidak Maha Tahu, tidak Maha Kuasa, tidak Maha Hidup, tidak Maha Mendengar dan tidak Maha Melihat. Begitulah halnya kaum Jahamiyyah dan orang-orang Mu'tazilah, mereka tidak berani berterus-terang memperlihatkan anggapan yang sebenarnya, tetapi mereka pura-pura berkata: "Sesungguhnya, Allah itu Maha Tahu, Maha Kuasa, Maha Hidup, Maha Mendengar dan Maha Melihat.” Mereka berkata seperti ini hanya pura-pura saja, tidak dalam pengertian yang sebenarnya.

SOAL :

Abu Hudzail al-'Alaf, salahseorang tokoh di kalangan mereka, mengatakan bahwa ilmu Allah adalah Allah itu sendiri dan Allah pun adalah ilmu.

Maka katakan kepadanya: Kalau anda berkata begitu, ketika berdoa pun anda semestinya berkata, Wahai ilmu, ampunilah aku dan kasihanilah aku!” Tetapi dia tidak menerima dan tidak mau mengucapkan doa seperti itu, sehingga tertolaklah sudah anggapannya tersebut. Anda mesti tahu, semoga rahmat-Nya menyertai anda, bahwa seseorang yang mengatakan, "'Dia seorang alim, tetapi tidak berilmu,” tentunya punperkataannya ini tidak dapat diterima — sebagaimana halnya dengan perkataan, "Dia itu berilmu, tetapi tidak alim.” Begitupun dengan perkataan Kuasa namun tidak Maha Kuasa, Hidup namun tidak Maha Hidup, Mendengar namun tidak Maha Mendengar dan Melihat namun tidak Maha Melihat.

JAWAB :

Kukatakan kepada mereka: Kalau seseorang beranggapan bahwa Allah itu yang berkata-kata, yang senantiasa memerintah dan me- larang, tetapi Dia tidak memiliki kata-kata, tidak pula memiliki perintah dan larangan, bukankah anggapan ini tidak dapat diterima dan keluar dari kesepakatan kaum Muslimin? Maka jawabannya pun tidak bisa tidak niscaya, ya! Katakan lagi kepadanya: Kalau anda mengiyakan pertanyaan tadi, maka berarti orang yang beranggapan bahwa 'Allah Maha Tahu, tetapi Dia tidak memiliki ilmu' ity pun tidak dapat diakui dan keluar dari kesepakatan kaum -Muslimin. Sebelum munculnya kaum Jahamiyyah, Mu'tazilah ataupun Haruriyyah, kaum Muslimin telah sepakat bahwa Allah senantiasa memiliki ilmu, dengan mengatakan: "Ilmu Allah senantiasa ada dan mendahului segala-galanya.” Bahkan kaum Muslimin mengatakan, segenap peristiwa dan kejadian pun telah diketahui Allah. Maka, barangsiapa tidak menerima bahwa Allah memiliki ilmu, berarti dia telah beranggapan lain dari kaum Muslimin dan keluar dari kesepakatan mereka.

JAWAB :

Kembali kukatakan: Sekiranya Allah itu Maha Menghendaki, apakah Dia memiliki kehendak? Kalau jawabannya, tidak! Maka kukatakan: Karena anda menetapkan bahwa Allah itu Maha Menghendaki, tapi tidak memiliki kehendak, mestinya pun anda menetap- kan bahwa Dia yang berkata-kata, tapi tidak memiliki kata-kata. Tetapi kalau jawabannya, ya! Artinya, mereka sebenarnya mengakui bahwa Allah memiliki kehendak. Maka kukatakan lagi: Kalau seseorang itu dikatakan berkehendak karena dia memiliki kehendak, mengapa anda tidak mengakui bahwa seseorang itu dikatakan alim karena memiliki ilmu? Karena itu Allah mesti memiliki ilmu, sebagaimana anda menetapkan bahwa Dia memiliki kehendak.

SOAL :

Mereka membedakan antara ilmu dan kata-kata, katanya: Allah telah mengajar Musa dan Fir'aun, bahkan telah berkata-kata kepada Musa, sekalipun tidak kepada Fir'aun. Dikatakannya pula bahwa Dia telah mengajarkan hikmah kepada Musa serta memberikannya pangkat kenabian, sekalipun Dia tidak mengajarkan hal itu kepada Firaun. Masalahnya, kalau benar Allah memiliki kata-kata karena Dia berkata-kata kepada Musa — sekalipun tidak kepada Fir'aun — maka begitupun halnya Dia mesti memiliki ilmu karena Dia mengajarkan hikmah kepada Musa, sekalipun tidak kepada Fir'aun. Kemudian kukatakan kepada mereka: Kalau Allah memiliki kata-kata yang dengannya Dia berkata-kata kepada Musa, sekalipun tidak kepada Fir'aun, mengapa anda tidak mengakui kalau Dia pun memiliki ilmu yang dengan hal itu Dia mengajar keduanya. Lalu kalau dikatakan: Allah telah berkata-kata kepada sesuatu yang dikehendaki-Nya dengan memfirmankan ye tersebut. Nah, anda menetapkan bahwa Allah memiliki kata-kata. Dengan begitu, seandainya Dia mengajarkan sesuatu, maka Dia mesti memiliki ilmu.

JAWAB :

Kukatakan kepada mereka: Kalau anda beranggapan bahwa Allah memiliki kata-kata namun tidak memiliki ilmu, sebab kata-kata lebih khusus ketimbang ilmu dan ilmu pun lebih umum ketimbang kata-kata, cobalah anda katakan bahwa Allah memiliki kekuasaan (gudrat). Mengapa aku bertanya begitu? Karena aliran Oadariyyah tidak mengakui bahwa Allah itu kuasa menciptakan kekufuran, padahal mereka sendiri yang menetapkan bahwa kekuasaan lebih khusus ketimbang ilmu dan ilmu pun lebih umum ketimbang kekuasaan. Maka seharusnya pun mereka mengatakan bahwa Allah memiliki sifat kekuasaan (gudrat).

JAWAB :

Kemudian kutanyakan kepada mereka: Sekiranya Allah itu Maha Tahu, kenapakah sifat #Imu lebih umum ketimbang sifat mutakallim itu? Tidaklah pantas dikatakan, bahwa 'Allah berkata- kata namun tidak Maha Tahu" itu disebabkan sifat mutakallim lebih khusus ketimbang sifat 'Imu. Bahkan mengapa anda tidak mengatakan bahwa sifat mutakallim itu, sekalipun lebih khusus ketimbang sifat 'ilmu, tidak akan menafikan sifat 'ilmu bagi Allah?

JAWAB :

Dari mana anda mengetahui bahwa Allah itu Maha Tahu? Kalau mereka menjawab dengan firman-Nya, "Sesungguhnya, Dia Maha Tahu segenap sesuatu” (OS, asy-Syura, 42: 12). Maka kukatakan: Kalau begitu, anda pun mesti mengakui bahwa Allah memiliki ilmu, berdasarkan firman-Nya, "Allah menurunkan (al-Our'an) itu dengan ilmu-Nya” (OS, an-Nisa', 4: 166): dan "tidaklah seorang perempuan pun mengandung atau melahirkan, kecuali dengan ilmu-Nya” (OS, Fathir, 35: 11). Begitupun yang menyatakan bahwa Allah memiliki kekuatan, yang firman-Nya, "Apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah, yang menciptakan mereka, lebih besar kekuatan-Nya ketimbang mereka'' (OS, Fushshilat, 41: 15). Kalau mereka menjawab: Kami mengatakan Allah itu Maha Tahu, jusuu, karena Dia menciptakan sifat Maha Tahu tersebut berdasarkan suatu kebenaran dan keteraturan yang sistematis. Katakanlah kepada mereka: Mengapa anda tidak mengakui pula bahwa Allah memiliki pengetahuan itu karena adanya kebenaran dan keteraturan pada Dzat yang Maha Tahu tersebut, mengapa tidak begitu? Sungguh, kebenaran dan keteraturan itu hanya bisa tampak pada orang-orang yang tahu tentangnya — sebagaimana kekuatan pun hanya bisa tampak pada orang-orang yang kuat ataupun yang mampu.

JAWAB :

Kalau anda menafikan ilmu Allah, apakah anda pun menafikan nama-Nya? Mungkin mereka menjawab: Bagaimana mungkin kami menafikan nama-Nya, sementara nama-Nya tersebut telah banyak disebutkan di dalam kitab-Nya. Maka katakanlah kepadanya: Kalau begitu, anda pun tidak boleh menafikan ilmu dan kekuatan-Nya, sebab Dia telah berkali-kali menyebutkan ilmu dan kekuatan-Nya itu di dalam kitab-Nya.

JAWAB :

Allah mengajarkan kepada nabi-Nya saw tentang berbagai syariat dan hukum-hukum yang seumpamanya halal, haram: dan tidak mungkin Allah mengajarkan sesuatu, tanpa Dia sendiri mengetahuinya. Sungguh, Maha Tinggi Allah dari anggapan kaum Jahamiyyah yang semacam itu.

JAWAB :

Kukatakan pula kepadanya: Kalau Allah mengutuk orang-orang kafir, bukankah pengertiannya adalah kutukan-Nya dan kutukan nabi-Nya saw itu bagi mereka semata? Kalau mereka menjawab, ya! Maka kembali katakan: Nah, mengapa anda menolak pernyataan bahwa seandainya Allah mengajarkan sesuatu kepada nabi-Nya saw, maka ilmu tersebut pun berarti milik nabi dan juga milik Allah? Sungguh, kalau kita menetapkan Dia.murka kepada orang-orang kafir, maka tidak bisa tidak Dia pasti memiliki murka: dan kalau kita mengatakan Allah ridha terhadap orang-orang mukmin, maka tidak bisa tidak Dia pasti memiliki ridha. Begitupun kalau kita mengatakan Dia itu Maha Hidup, Maha Mendengar dan Maha Melihat, maka tidak bisa tidak Dia pasti memiliki (Dzat) hidup, pendengaran dan penglihatan.

JAWAB :

Sebagaimana kita ketahui, kata عَالٍمٌ itu dari kata عِلْمٌ asalnya, kata قَادِرٌ itu dari kata قُدْرَةٌ asalnya, kata حَيٌّ itu dari kata حَيَاةٌ asalnya, kata سَمِبْعٌ itu dari kata سَمْعٌ asalnya dan kata بَصِيْرٌ itu pun dari بَصَرٌ asalnya. Bahka nama-nama Allah yang lainnya pun tidak lepas dari asal kata atau kegunaan artinya, ataupun panggilan bagi-Nya. Sebab itu kita tidak boleh memberi nama kepada Allah dengan nama yang tidak mengandung arti kegunaan, bahkan tidak boleh dengan kata sifat yang tidak mempunyai asal kata. Apabila kita mengatakan, "Sesungguhnya, Allah itu Maha Tahu dan Maha Kuasa,” maka nama-nama ini bukanlah nama panggilan seperti halnya kita mengatakan Zaid, ' Umar ataupun 'Ali. Dan ketentuan yang semacam ini merupakan kesepakatan kaum Muslimin. Karena kata (je itu bukan nama panggilan, tetapi sebagai kata-kata yang berasal dari kata F, tersebut, maka tidak bisa tidak Allah pasti memiliki ilmu, dan karena pemberian nama tersebut disebabkan kegunaan maknanya, maka kita pun mesti mengatakan bahwa setiap (keperiadaan) yang mengetahui berarti memiliki ilmu, sebagaimana kita mesti menyatakan bahwa adanya sesuatu itu memberi manfaat kepada kita. Maka terbuktilah di sini bahwa Allah itu bersifat 'hidup', 'mendengar' dan 'melihat', sebab Allah memang wujud, dan wujud-Nya pun telah terbukti kebenarannya, dengan adanya alam semesta ini.

JAWAB :

Kutanyakan kepada kaum Mu'tazilah, Jahamiyyah dan Haruriyyah: Apakah anda setuju bahwa Allah itu mengetahui segala sesuatu, yang ada-Nya jauh lebih dahulu sebelum diciptakan-Nya segala sesuatu itu, mengetahui apa yang akan dilahirkan setiap perempuan yang mengandung dan mengetahui apa pun yang terjadi? Kalau mereka menjawab, ya! Artinya, mereka setuju bahwa Allah memiliki ilmu. Tetapi kalau jawabannya, tidak! Maka katakan kepadanya: Dengan begitu berarti anda telah menolak beberapa firman-Nya, yang antara lain, "Allah menurunkan (al-Our'an) itu dengan ilmu-Ny2” (OS, an-Nisa', 4: 166): dan "tidaklah seorang perempuan pun mengandung atau melahirkan, kecuali dengan ilmu-Nya”' (OS, Fathir 35: 11): dan "seandainya mereka tidak menerima seruanmu itu, ketahuilah, sesungguhnya al-Our'an itu diturunkan dengan ilmu Allah” (OS, Hud, 11: 14). Bahkan firman Allah Maha Tahu (Dia) atas segenap sesuatu” dan "Tiada sehelai daun pun yang gugur, melainkan Dia mengetahuinya” (OS,.al-An'am, 6: 59), itu mengandung pengertian bahwa Dia (sendiri) yang Maha Tahu atas segenap sesuatu. Maka, mengapa anda tidak menerima ayat-ayat itu mengandung pengertian bahwa Allah pasti memiliki pengetahuan atas segenap sesuatu?

JAWABAN :

Kepada mereka kukatakan pula bahwa Allah memiliki pengetahuan yang membedakan para wali-Nya dari para musuh-Nya, maka apakah Allah berkehendak untuk membedakan keduanya: dan apakah Dia memiliki kehendak atas keimanan, apabila Dia menghendakinya? Kalau mereka menjawab, ya! Artinya, mereka sepaham dengan pemikiran kita. Tetapi kalau mereka menjawab: Apabila Dia menghendaki keimanan, berarti Dia memiliki kehendak. Maka kukatakan lagi: Kalau anda menjawab begitu, maka demikian pula halnya — apabila Dia membedakan para wali-Nya dari para musuh-Nya, tidak bisa tidak — pasti Dia memiliki pengetahuan untuk membedakan hal itu. Lalu, bagaimana mungkin kita dapat menyatakan bahwa makhluk mempunyai pengetahuan yang membedakan para wali-Nya dari para musuh-Nya, sementara Allah tidak? Sungguh, kalau demikian halnya, berarti makhluk dapat melebihi Allah dalam hal pengetahuan, Maha Tinggi Allah dari pandangan serupa ini. Selanjutnya, kalau kita mempunyai keyakinan bahwa orang yang berpengetahuan lebih tinggi derajatnya ketimbang yang tidak berpengetahuan, maka — kalau anda beranggapan bahwa Allah tidak memiliki pengetahuan — itu berarti makhluk lebih tinggi kedudukannya ketimbang Allah. Sungguh, Maha Tinggi Allah dari pandangan seperti ini.

JAWABAN :

Kita katakan kepada mereka: Kalau orang yang tidak berpengetahuan dikatakan sebagai orang bodoh dan berkekurangan, mengapa anda tidak menerima bahwa Allah pasti memiliki pengetahuan? Sebab, kalau tidak, berarti Allah memiliki sifat kekurangan. Maha Tinggi Allah.

Sungguh, tidakkah anda berkeyakinan bahwa orang yang tidak mengetahui sesuatu, berarti dia adalah orang bodoh dan berkekurangan, dan kalau keyakinan yang seperti ini diberlakukan pula terhadap Allah, tentunya pun Dia memiliki sifat yang tidak wajar. Maka yang demikian ini tidak berlaku bagi Allah, sebab Dia tidak bodoh dan tidak berkekurangan.

JAWABAN :

Tanyakanlah kepada mereka: Apakah mungkin orang yang tidak berpengetahuan dapat mengatur sistem kerja pemerintahan? Kalau mereka menjawab: Hal itu tidak mungkin terjadi, sebab cara kerja yang teratur dan sistematis itu hanya mungkin dilakukan orang yang berpengetahuan, yang berkemampuan dan yang hidup, maka katakanlah: Bila pendirian anda begitu, berarti cara kerja pemerintahan yang teratur dan sistematis itu hanya mungkin dilakukan orang yang berpengetahuan, yang berkemampuan dan yang hidup. Kalau dimustahilkan hal itu dapat dilakukan orang yang tidak berpenge tahuan, mengapa anda menolak pendapat di atas? Sungguh, segenap permasalahan yang kutanyakan kepada mereka ini tidak keluar dari permasalahan sifat 'iImu, gudrat, hayat, sama' dan bashar.

MASALAH :

Orang-orang Mu'tazilah beranggapan bahwa firman 'yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat" itu pengertiannya hanyalah Maha Tahu. Katakan padanya: Apakah juga firman 'sungguh, Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat" dan 'sesungguhnya, Allah mendengar perkataan wanita yang mengajukan keluhannya kepadamu tentang suaminya' itu pun berarti Allah hanyalah Maha Tahu? Kalau mereka menjawab, ya! Maka firman 'bahkan Aku mendengar dan melihat” itu mestinya pun mereka artikan "bahkan Aku mengetahui dan mengetahui' pula.

MASALAH YANG LAIN:

Orang-orang Mu'tazilah menafikan beberapa sifat Allah, bahkan mereka mengartikan firman 'yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat itu dengan 'yang Maha Tahu', sebagaimana halnya orang-orang Nasrani yang beranggapan bahwa pendengaran-Nya dan penglihatan-Nya itu harus diartikan dengan firman-Nya ataupun ilmu-Nya. Maha Tinggi Allah dari vang demikian itu. Katakanlah kepada mereka: Kalau anda beranggapan bahwa firman 'yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat' itu harus diartikan dengan 'yang Maha Tahu', mengapa anda tidak beranggapan bahwa pengertian 'yang Maha Kuasa' adalah 'yang Maha Tahu' pula? Bahkan kalau anda beranggapan bahwa firman yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat' itu pengertiannya adalah 'yang Maha Kuasa', maka mengapa anda tidak beranggapan bahwa pengertian 'yang Maha Tahu' itu pun 'yang Maha Kuasa pula? Dan 'yang Maha Hidup" pun mengapa tidak diartikan dengan 'yang Maha Tahu' pula? Barangkali mereka menjawab: Segenap pengetahuan itu berada dalam pengurusan-Nya. Katakanlah kepada mereka: Kalau firman 'yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat itu diartikan dengan 'yang Maha Tahu', tentunya pun segenap yang diketahui itu dapat pula didengar. Sekiranya pernyataan ini tidak dapat anda terima, berarti anggapan anda semula puntidak dapat dibenarkan.

Previous
« Prev Post

Artikel Terkait

Copyright Ⓒ 2024 | Khazanah Islam