Firman Allah: "Tiap sesuatu niscaya binasa, kecuali wajah-Nya" (QS, al-0ashash, 28: 88), dan "'kekallah wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran serta kemuliaan” (OS, ar-Rahman, 55: 27). Jelas, kedua ayat ini mengandung pengertian bahwa Allah mempunyai Dzat yang tidak fana dan tidak binasa. Lalu firman Allah: Yang berlayar dengan pengawasan mata Kami” (OS, al-Gamar, 54:14), dan "buatlah bahtera itu dengan pengawasan (mata) dan petunjuk Kami” (OS, Hud, 11: 37). Dalam ayat-ayat ini Allah menjelaskan bahwa Dia mempunyai wajah serta mata, tanpa seorang pun dapat menghalanginya serta tiada terbatas. Bahkan firman-Nya: ”Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan (mata) Kami” (OS, ath-Thur, 52: 48): dan "agar kamu diasuh di bawah pengawasan mata-Ku” (OS, Thaha, 20: 39), dan "Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” Kepada Musa dan Harun pun Dia berfirman: "Sungguh, Aku beserta kamu berdua, bahkan Aku mendengar dan melihat” (OS, Thaha, 20: 46). Dalam hal ini Allah menegaskan adanya pendengaran dan penglihatan-Nya. Adapun kaum Jahamiyyah tidak mengakui adanya wajah bagi Allah, sebagaimana halnya mereka tidak mengakui adanya pendengaran ataupun penglihatan bagi-Nya. Begitupun orang-orang Nasrani telah mendukung anggapan kaum Jahamiyyah ini. Mereka tidak mengakui bahwa Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat, sebaliknya mereka mengartikan itu sebagai Maha Mengetahui semata. Orang-orang Jahamiyyah pun tidak menyatakan Allah sebagai Maha Melihat dan Maha Mendengar, sebagaimana halnya orang-orang Nasrani, melainkan sebagai Maha Mengetahui semata.
Di samping itu kaum Jahamiyyah beranggapan bahwa Allah tidak memiliki sifat ilmu, gudrat, sama' ataupun bashar, dan anggapan mereka itu dimaksudkannya untuk membekukan tauhid serta mendustakan nama-nama Allah. Sekiranya mereka tidak takut terhadap ancaman hukum, tentu mereka berterus-terang menyatakan bahwa Allah tidaklah mendengar, melihat ataupun mengetahui: tetapi, sebab mereka takut terancam hukuman, mereka tidak berani mempertontonkan kezindikannya. Sementara guru-guru mereka telah beranggapan bahwa ilmu Allah adalah Allah dan Allah adalah ilmu. Mereka menafikan ilmu, sebab mereka tidak yakin bahwa Allah telah menetapkannya, sehingga mereka seharusnya pun mengatakan: "Wahai ilmu, ampunilah aku!” Maha Tinggi Allah dari anggapan semacam itu.
Katakanlah: Hanya kepada-Nya aku memohon petunjuk dan hanya kepada-Nya pula aku memohon kecukupan, tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah jua, dan, sesungguhnya, Dia adalah pemberi pertolongan. Dan barangsiapa bertanya: Apakah anda berpendirian bahwa Allah memiliki wajah? Maka katakanlah: Ya, aku berpendirian begitu dan berbeda dengan anggapan orang: orang ahli bid'ah, karena Allah berfirman, Maka, kekaliah wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran serta kemuliaan” (OS, ar-Rahman, 55: 27).
SOAL :
Seandainya seseorang bertanya: Apakah anda setuju Allah mempunyai tangan?Maka jawabku, ya! Berdasarkan firman-Nya: "Tangan Allah itu di atas tangan mereka” (OS, al-Fath, 48: 10): dan "yang Aku ciptakan dengan tangan-Ku” (OS, Shad, 38: 75). Adapun riwayat dari Nabi saw yalah sabdanya: "Sesungguhnya, Allah mengusap punggung Adam dengan tangan-Nya, maka dikeluarkan-Nya dari punggung Adam itu anak keturunannya.” Jelas, hadits ini mengandung pengertian bahwa Allah mempunyai tangan, sebagaimana tadi firman-Nya: Yang Aku ciptakan dengan tangan-Ku” (OS, Shad, 38: 75). Bahkan terdapat kabar ma'tsur dari Nabi saw, yang sabdanya: "Sesungguhnya, Allah menciptakan Adam dengan tangan-Nya, menciptakan surga 'Adn dengan tangan-Nya, menulis Taurat dengan tangan-Nya, dan menyiram pohon Thuba dengan tangan-Nya pula.” Dan firman Allah: "Bahkan, tangan-tangan Allah terbuka” (OS, al-Ma'idah, 5: 64). Rasulullah pun bersabda, ”Tangan-Nya yang kanan...,” sebagaimana firman-Nya: "Niscaya Kami pegang dia pada tangan kanannya” (OS, al-Haggah, 69: 45).
Menurut perkataan orang-orang Arab dan kebiasaan yang berlaku di kalangan para ahli pidato (ahlul khithab), seseorang yang mengatakan, ''Aku berbuat begitu dengan tanganku,” itu tidak boleh diartikan sebagai 'nikmatku'. Allah menyampaikan firman-Nya kepada orang-orang Arab dalam bahasa mereka sendiri, dengan apa yang dapat dipahami ataupun dimengerti dari pembicaraan mereka. Maka menurut para ahli bahasa (ahlul bayan) seseorang yang mengatakan, ''Aku berbuat begitu dengan kedua tanganku,” itu tidak boleh diartikan sebagai 'kedua nikmatku'. Begitulah, sekiranya Allah memfirmankan, "Dengan tangan-Ku,” itu tidak boleh diartikan sebagai 'nikmat-Ku'. Dan seseorang yang mengatakan, ''Dia harus mengulurkan tangannya kepadaku,” itu pun tidak boleh diartikan sebagai 'dia harus mengulurkan nikmatnya kepadaku'.
Dalam masalah ini, orang-orang yang menolak pandanganku dalam pemakaian arti bahasa, bahkan menentang kebiasaan para ahli bahasa, niscaya terdorong untuk selalu menggunakan kata 'tangan' itu diartikan sebagai 'nikmat', sebab, menurut anggapan mereka, mengaitkan kata 'tangan' dengan 'nikmar' bisa dilakukan berdasarkan tinjauan bahasa. Dengan begitu, semestinya mereka jangan menafsirkan al-Gur'an dari segi bahasanya, bahkan janganlah mengartikan 'tangan'” dengan 'nikmat'. Dan seandainya firman (Allah) yang mereka tafsirkan "dengan tangan-Ku”' sebagai 'dengan nikmat-Ku' tersebut didasarkan atas kesepakatan ummat Islam, maka ummat Islam sebenarnya tidak pernah sepakat dengan anggapan mereka. Bahkan seandainya mereka kembalikan persoalan ini pada pengertian bahasa, maka menurut pengertian bahasa pun seorang yang mengatakan, ''Dengan tangan-Ku,” itu tidak boleh diartikan sebagai 'dengan nikmat-Ku'. Maka, tidak ada cara apa pun yang bisa mereka temukan untuk membenarkan anggapannya menghadapi pertanyaan-pertanyaanku ini.
SOAL :
Katakanlah kepada para ahli bid'ah itu: Mengapa anda beranggapan bahwa pengertian "dengan tangan-Ku” adalah 'dengan nikmat-Ku'? Anggapan anda ini, apakah berdasarkan kesepakatan (ijma”) ataukah berdasarkan bahasa? Padahal, tentang hal ini, tidak mereka temukan baik dalam kesepakatan maupun arti bahasa. Sekiranya mercka menjawab: Kami beranggapan begini dengan berlandaskan analogi (giyas). Niscaya kepadanya kukatakan: Darimana anda menganalogikan "dengan tangan-Ku” itu sehingga, tidak bisa tidak, harus diartikan 'dengan nikmat-Ku'? Sungguh, mana mungkin penafsiran yang serupa ini dapat dimengerti akal, sementara kita telah melihat kitab-Nya itu mencgaskan bahasa nabi-Nya yang benar, yang firman-Nya: "Kami tidak mengutus scorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya sendiri” (OS, Ibrahim, 14: 4): dan "padahal bahasa orang-orang yang mereka tuduh (Muhammad) belajar kepadanya adalah bahasa 'Ajam, sementara al-Our'an itu (diturunkan) dalam bahasa Arab yang jelas” (OS, an-Nahl, 16: 106): dan "sesungguhnya, Kami menurunkan al-Gur'an dalam bahasa Arab” (OS, ax-Zukhruf, 43: 3): dan "apakah mereka memperhatikan al-Our'an tersebut” (OS, an-Nisa', 4: 82). Seandainya al-Our'an tidak diturunkan dalam bahasa Arab, maka ketika mendengarnya tidak mungkin kita dapat memikirkan dan mengetahui maknanya. Bahkan sekiranya seseorang itu bukan (bangsa) Arab, tetapi dia mengerti ketika mendengar percakapan orang-orang Arab, tentunya pun dia dapat memahami al-Gur'an, sebab, al-Our'an itu diturunkan dalam bahasa Arab, bukan dalam bahasa yang mereka dakwakan.
ٍSOAL YANG LAIN :
Adalah firman Allah: ''Dan langit itu dengan tangan-Ku (bi-aydi) pula Kubangun” (OS, adz-Dyariyat, 51: 47). Mereka mengartikan kata أَيْدِي tersebut dengan 'kekuasaan', sehingga perkataan بِيَدَي pun mereka artikan sebagai 'dcngan kekuasaan-Ku'. Maka, kepada mereka katakanlah: Pcntakwilan yang semacam ini salah (fasid), sebab bentuk jamak kata يَدٌ adalah أَيَادٍي pula, bukan أَيْدِي tersebut. Sementara Allah SWT, dalam avat lainnya, memfirmankan لِمَا خلقت بيدي tersebut. Karena itu firman "dengan tangan-Ku” tersebut tidak boleh diartikan sebagai 'dengan kekuasaan-Ku'. Bahkan, sekiranya diartikan sebagai 'kekuasaan', tentu pula pengertiannya itu menjadi 'dengan (banyak) kekuasaan-Ku'. Begitulah, aku bantah mereka dengan membatalkan anggapan tersebut, sebab mereka tidak menetapkan adanya 'satu' kekuasaan. Sungguh, bagaimana mungkin mereka sampai menetapkan (pengertian) adanya 'dua kekuasaan' dengan أيدي tersebut.
Sekiranya firman Allah, "Yang Aku ciptakan dengan tangan-Ku,” tersebut dimaksudkan-Nya sebagai 'dengan kekuasaan-Ku,'tentu dalam penciptaan Adam dan Iblis pun tidak ada perbedaan, sementara Allah berkehendak memperlihatkan bahwa kelebihan Adam as adalah karena dia diciptakan dengan tangan-Nya (langsung) dan bukan dengan yang lain: dan sekiranya Iblis pun diciptakan Allah dengan tangan-Nya, sebagaimana halnya Adam, tentu pula tidak ada perbedaan antara Adam dan Iblis. Bahkan Iblis pun, barangkali, akan beralasan kepada Tuhannya dengan berkata: "Engkau telah menciptakan aku dengan tangan-Mu, sebagaimana Engkau menciptakan Adam.” Tetapi Allah bemaksud melebihkan Adam dari Iblis, bahkan dengan menghinakan kesombongannya itu Allah memerintahkan Iblis agar sujud kepada Adam, sebagaimana yang difirmankan-Nya: ''Apa yang menghalangimu sujud kepada makhluk yang telah Kuciptakan dengan (dua) tangan-Ku, apa kamu menyombongkan diri” (OS, Shad, 38: 75). Jelas, dalam ayat ini tidak ada pengertian (dua) kekuasaan, sebab tidak mungkin ada 'dua kekuasaan! Sungguh, Dia tetap menghendaki arti 'dua tangan') dan antara Iblis dengan Adam tidak sama dalam penciptaannya, di mana Adam justru diciptakan dengan (dua) tangan-Nya.
Firman "dengan (dua) tangan-Ku”' tersebut memang tidak lepas dari beberapa kemungkinan pengertian, yang antara lain dua kenikmatan, dua sayap, atau dua kekuasaan, tetapi juga bisa jadi bukan dua kenikmatan, bukan dua sayap, bahkan bukan pula dua kekuasaan, sehingga pengertiannya terserah kepada Allah semata. Adapun tidak bolehnya diartikan dengan dua kenikmatan, sebab menurut para ahli percakapan (ahlul lisan) pun seseorang yang mengatakan, '"Aku berbuat begitu dengan tanganku,” itu tidak boleh diartikan sebagai 'dengan nikmatku'. Begitupun menurut hematku, bahkan juga menurut lawan-lawanku, tidak boleh itu diartikan sebagai 'dengan sayapku' ataupun 'dengan kekuasaanku'. Maka sekiranya disetujui, bahwa ketiga pengertian ini salah, tentu benarlah pengertian keempat — yaitu, firman "dengan (dua) tangan-Ku”' tersebut tetap diartikan 'dengan (dua) tangan-Ku', bukan (dua) sayap, bukan (dua) kekuasaan dan bukan pula (dua) kenikmatan. Sehingga, tidak ada makna lain dari pengertian yang benar-benar 'dengan (dua) tangan', yang tentunya tidaklah semacam tangan makhluk biasa.
SOAL YANG LAIN :
Firman "dengan (dua) tangan-Ku” yang diartikan sebagai 'dengan (dua) nikmat-Ku', menurut aliran yang berbeda pendirian dengan kita, tentu saja tidak membedakan antara penciptaan Adam as dan Iblis: tetapi, menurut anggapan mereka, Allah (memang) memulai penciptaan Iblis sama halnya dengan penciptaan Adam as. Bahkan yang diartikan sebagai 'dengan (dua) nikmat' itu bisa jadi karena dua kemungkinan, yaitu 'tubuh' Adam as atau 'kehormatan' yang diciptakan pada tubuh Adam. Sekiranya yang dimaksudkan adalah tubuh Adam, sementara yang dikatakan tubuh — menurut anggapan Mu'tazilah — itu suatu jenis, tentunya pun kenikmatan tersebut terdapat pula pada tubuh Iblis, sebagaimana halnya itu terdapat pada tubuh Adam as. Begitupun sekiranya yang dimaksudkan adalah kehormatan yang diciptakan pada tubuh Adam, maka — sekalipun pengertian kehormatan yang diciptakan pada tubuh Adam itu bukan yang semacam (ras) warna kulit, kehidupan, kekuatan dan lain sebagainya, melainkan dari sesuatu jenis yang diciptakan pada tubuh Adam — kehormatan tersebut pasti pula ada pada tubuh Iblis. Maka sekali lagi, menurut anggapan mereka, tidak ada perbedaan antara penciptaan Adam dengan Iblis.
Maha Perkasa Allah. Sungguh, yang dimaksudkan-Nya adalah Iblis dimintai alasan, mengapa ia tidak mau sujud kepada Adam, untuk memperlihatkan bahwa Adam as mempunyai kelebihan dalam hal penciptaannya ketimbang penciptaan Iblis. Adapun yang kuurzi-kan di atas justru menunjukkan bahwa firman Allah, "Yang Aku Ciptakan dengan (dua) tangan-Ku,” itu bukan dimaksudkan 'dengan (dua) nikmat-Ku'.
JAWAB :
Katakan kepada mereka: Mengapa anda tidak mengakui bahwa yang dimaksudkan Allah dengan kata-kata يَدَي tersebut adalah benar-benar dua tangan, bukan dua kenikmatan? Mungkin mereka menjawab: Sebab, kata يَدٌ, pun sekiranya tidak diartikan dengan 'kenikmatan' pasti artinya itu tidak lain dari 'sayap”. Tanyakanlah: Mengapa anda memastikan begitu? Sekiranya itu mereka kembalikan pada kenyataan-kenyataan makhluk, lalu mereka berkata: Kata يَدٌ: pun sekiranya tidak diartikan dengan 'kenikmatan' yang terdapat pada alam lahir, tentu artinya pun tiada lain dari 'sayap'. Maka kepadanya kukatakan: Seandainya anda bergantung pada alam lahir untuk memutuskan begitu, tentulah tidak ada hidup bagi makhluk melainkan (hanya) tubuh, daging dan darah semata.
Cobalah anda terapkan ketetapan yang semacam itu kepada Allah. Kalau tidak, berarti anda berbelok dari anggapan (anda) semula, sehingga alasan yang anda kemukakan tadi tidak dapat dibenarkan. Sekiranya anda menetapkan adanya hidup bagi Allah tidak sama halnya dengan hidup kita, maka mengapa anda menolak kata-kata 'dua tangan' yang difirmankan Allah itu diartikan dengan 'dua tangan' pula — bukan dua nikmat, bukan dua sayap, bahkan bukan diartikan dengan yang semacam dua tangan kita? Begitupun, anda tidak akan menemukan (di alam ini) yang dapat berpikir dengan bijaksana, yang selain manusia, tetapi anda menetapkan, pemikiran dan kebijaksanaan yang ada pada alam ini tidaklah seperti (pemikiran dan kebijaksanaan) manusia. Maka janganlah anda menghalangi diri untuk menetapkan (kebenaran) bahwa pengertian 'dua tangan' itu bukan 'dua nikmat', bukan pula 'dua sayap, sebab itu menyalahi kenyataan.
SOAL :
Mungkin mereka bertanya: Sekiranya anda menetapkan Allah mempunyai dua tangan itu berdasarkan firman-Nya, "Yang Aku ciptakan (makhluk) itu dengan (dua) tangan-Ku,” mestinya anda menetapkan pula bahwa Dia mempunyai beberapa tangan. Sebab firman-Nya pun: "Yaitu sebagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan tangan-tangan Kami sendiri” (OS, Yasin, 36: 71). Nah, jawablah: Para ulama telah sepakat untuk tidak membenarkan anggapan seseorang yang menyatakan bahwa Allah mempunyai beberapa tangan. Dalam hal Allah memfirmankan tangan-tangan itu, pengertiannya pun mestilah diberlakukan pada perkataan 'dua tangan' tersebut, sebab, ada bukti yang menunjukkan kebenarannya, yaitu kesepakatan para ulama. Bahkan al-Our'an itu semestinya diinterpretasikan menurut makna lahiriahnya, di mana lahiriah al-Our'an senantiasa harus menjadi alasan pokok. Begitulah, dengan ini cukuplah alasan kita untuk mengartikan perkataan 'tangan-tangan' itu menurut lahiriahnya.
SOAL :
Sekiranya mereka bertanya: Anda mengartikan perkataan 'tangan-tangan' tersebut dimaksudkan sebagai 'dua tangan', tetapi anda menolaknya untuk diartikan dengan 'satu tangan' saja? Jawablah: Allah (sendiri) yang menyebutkan perkataan 'tangan-tangan' itu dengan maksud 'dua tangan': sebab, perkataan 'tangan-tangan' itu sekiranya diartikan banyak tangan atau hanya satu tangan tentu tidak diterima umum. Maka itu kita hanya boleh mengartikannya dengan 'dua tangan”. Di samping itu, al-Gur'an pun harus diinterpretasikan menurut arti lahiriahnya, kecuali ada alasan yang mengharuskan kita untuk mengartikannya dengan yang selain itu.
SOAL :
Mereka kembali bertanya: Mengapa pula anda tidak mengakui sekiranya firman "'yaitu sebagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan tangan-tangan Kami sendiri” dan "'yang Aku ciptakan dengan (dua) tangan-Ku”' tersebut ditafsirkan menurut arti yang majazi? Katakan saja kepadanya: Kalamullah itu hendaklah ditafsirkan menurut arti lahiriah yang sebenarnya, bukan ditafsirkan secara majazi, kecuali terdapat alasan kuat yang mengharuskannya.
Adakah anda perhatikan Kalamullah yang semestinya diartikan secara lahiriah, tetapi diartikan secara majazi, karena adanya alasan yang mengharuskan itu? Dan tidakkah anda perhatikan Kalamullah yang didatangkan dengan bahasa umum, tetapi juga dimaksudkan dengan makna khusus? Ketahuilah, makna yang demikian itu bukan makna yang sebenarnya: dan tidak boleh Kalamullah yang mempunyai arti umum dipersamakan dengan Kalamullah lainnya yang mempunyai arti umum pula, tanpa adanya alasan. Begitupun firman Allah, "Yang Aku ciptakan dengan (dua) tangan-Ku,” itu secara lahiriah memang benar-benar harus diartikan (dua) tangan, dan tidak boleh mempersamakan arti lahiriah ayat ini dengan arti yang diakui lawan-lawan kita, yakni kekuasaan, kecuali terdapat alasan yang membenarkan hal itu. Sekiranya hal demikian itu boleh, meskipun tanpa alasan yang membenarkannya, tentu boleh pula mengartikan kata yang mengandung arti umum dengan arti khusus, dan juga sebaliknya, yaitu mengartikan kata yang mengandung arti khusus dengan arti umum, tanpa usah terdapat alasan yang membenarkan hal itu. Tetapi sekiranya ini tidak boleh, tentunya pun anda tidak boleh mengatakan bahwa Kalamullah tersebut dapat diartikan secara majazi, tanpa adanya alasan. Sungguh, makna yang sebenarnya dari firman "yang Aku ciptakan dengan (dua) tangan-Ku” tersebut menetapkan bahwa Allah mempunyai (dua) tangan, bukannya (dua) kenikmatan. Bahkan menurut para ahli bahasa, seseorang yang mengatakan, "Aku berbuat begitu dengan (dua) tanganku,” itu tidak boleh diartikan sebagai 'dengan (dua) nikmatku'.
« Prev Post
Next Post »