Sabtu, 07 Desember 2024

Makna Tuhan Bersemayam di atas 'Arasy

Seandainya seseorang bertanya: Bagaimana pendapat anda, apakah Allah bersemayam di atas 'Arasy?

Jawablah: Benar, Allah sesungguhnya bersemayam di atas 'Arasy-Nya. Dan adalah firman-Nya: "Tuhan yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas 'Arasy” (OS, Thaha, 20: 5), atau ''kepada-Nya itulah naik perkaraan-perkataan yang baik” (OS, Fathir, 35: 10): atau "tetapi Allah telah mengangkat 'Isa kepada-Nya” (OS, an-Nisa', 4: 158): ataupun ''Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, lalu (urusan) itu naik kepada-Nya” (OS, as-Sajdah, 32: 5). Lalu firman-Nya pun menceritakan Fir'aun yang berkata: "Hai Haman, dirikanlah buatku bangunan yang tinggi agar aku sampai ke pintu-pintu, yaitu pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan (Nabi) Musa, dan, sesungguhnya, aku menganggapnya sebagai pendusta” (OS, al-Mu'min, 40: 36-37). Firaun mendustakannya ketika Musa berkata, "Sesungguhnya, Allah berada di atas langit.”

Allah pun berfirman: "Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (kuasa) di atas langit, bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu” (OS, al-Mulk, 67: 16). 'Arasy berada di atas langit. Maka apakah anda merasa aman terhadap Allah yang kuasa di langit, sebab Dia bersemayam di 'Arasy yang berada di atas langit? Segenap sesuatu yang berada di atas, itu langit namanya, sementara 'Arasy melebihi tingginya langit. Karena itu sekiranya difirmankan: "Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (kuasa) di atas langit,” tentunya pun pengertian langit dalam ayat ini bukanlah segenap langit, tetapi 'Arasy yang berada di atas langit. Tidakkah anda tahu bahwa Allah telah menyebutkan beberapa langit yang bertingkat-tingkat, yang firman-Nya: ''Dan Dia menciptakan bulan pada langit yang bertingkat-tingkat itu sebagai cahaya” (OS, Nuh, 71: 16). Dalam hal ini tidak dijelaskan bahwa bulan memenuhi langit, tetapi toh ia berada padanya, dan sekiranya pun kita perhatikan (kenapa dalam shalat) orang-orang yang menengadah ke langit itu mengangkat tangannya, tidak bisa tidak, sebab Allah di 'Arasy yang berada di atas langit. Sekiranya pula Allah tidak bersemayam di 'Arasy, tentunya pun mereka tidak mengangkat tangannya menghadap ke 'Arasy — sebagaimana halnya mereka pun tentu tidak menurunkan tangannya, ketika menundukkan kepalanya (sujud) menghadap ke bumi.

SOAL :

Orang-orang Mu'tazilah, Jahamiyyah dan Haruriyyah telah beranggapan bahwa firman-Nya: "Tuhan yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas 'Arasy” (OS, Thaha, 20: 5), itu menyarankan pengertian bahwa Allah adalah berkuasa dan berada di mana-mana. Mereka tidak mengakui Allah itu bersemayam di atas 'Arasy-Nya, sebagaimana yang dinyatakan para ulama ahli kebenaran, bahkan mereka telah mengartikan "bersemayam' (istawa) itu dengan 'berkuasa”. Sekiranya begitu, tentu tidak ada perbedaan antara 'Arasy dengan bumi. Allah berkuasa atasnya, bahkan atas janin-janin yang berada dalam kandungan. Seandainya Allah bersemayam di atas 'Arasy itu diartikan dengan berkuasa, maka Dia pun tentu menguasai segenap sesuatu, menguasai 'Arasy, bumi, langit, janin-janin serta pribadi-pribadi, karena toh Dia menguasai segala-galanya. Tetapi sekiranya pun Allah berkuasa atas semua itu, seorang Muslim tidak boleh mengatakan bahwa Allah bersemayam di atas janin-janin ataupun tempat-tempat sunyi, dan pengertian bersemayam di atas 'Arasy tidak boleh diartikan secara umum, yaitu bersemayam di atas segenap sesuatu, tetapi mesti diartikan secara khusus, yaitu bersemayam di atas 'Arasy. Di samping itu mereka pun (kaum Mu'tazilah, Haruriyyah dan Jahamiyyah) beranggapan bahwa Allah berada di mana-mana. Seandainya begitu, maka Dia pun tentu berada dalam perut Maryam, dalam janin-janin ataupun tempat-tempat sunyi. Sungguh, anggapan semacam ini bertolak-belakang dengan ajaran (syari'at) agama, dan Maha Tinggi Allah dari pandangan mereka itu.

JAWAB :

Sekiranya pengertian ayat 'yang bersemayam di atas 'Arasy' itu tidak diartikan secara khusus, yaitu hanya bersemayam di atas 'Arasy — sebagaimana halnya pandangan ahli-ahli ilmu, orang-orang yang hafal atsar serta hadits — tentu Allah berada di mana saja, bahkan berada di bawah bumi yang di atasnya itu langit. Maka, seandainya Dia berada di bawah bumi yang di atasnya itu langit, dalam hal ini berarti Allah berada di bawah sesuatu yang terdapat di bawah sesuatu yang lain: lalu, di samping itu, Dia pun berada di atas segenap sesuatu. Jadi, dengan kata lain, hal itu berarti Allah berada di bawah dan di atas sesuatu. Sungguh, anggapan semacam ini ' tidak bisa diterima, dan Maha Tinggi Allah dari anggapan mereka yang mengada-adakan itu.

ALASAN YANG LAIN :

Bukti-bukti (hadits) yang memperkuat pandangan bahwa Allah bersemayam di atas 'Arasy, bukannya di atas segenap sesuatu, antara lain yalah hadits yang diriwayatkan 'Affan dari Hammad ibn Salamah, dari 'Umar ibn Dinar, dari Nafi' ibn Jubair, dari ayahnya, bahwa Nabi saw bersabda: "Setiap malam Allah turun ke langit dunia seraya berkata, 'adakah orang yang meminta? Niscaya Aku memberinya. Adakah orang yang memohon ampun? Niscaya pula Aku mengampuninya,' sampai terbit fajar.”

Dan diriwayatkan 'Abdullah ibn Bakr dari Hisyam ibn Abu 'Abdullah, dari Yahya ibn Abu Katsir, dari Abu Ja'far dan Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw bersabda: "'Apabila tiba saat sepertiga malam, maka Allah turun dan berkata, "barangsiapa berdoa kepada-Ku, niscaya Aku mengabulkannya. Barangsiapa meminta dibukakan jalan dari kesesatan, niscaya Aku membukakannya. Dan barangsiapa meminta rezki kepada-Ku, niscaya pula Aku memberinya," sampai terbit fajar.”

Bahkan diriwayatkan 'Abdullah ibn Bakr asSahmy dari Hisyam ibn Abu 'Abdullah, dari Yahya ibn Abu Katsir, dari Hilal ibn Abu Maemunah, dari “Atha, dari Yasar, dari Rifa'ah al-Juhani, di mana dia (Rifa'ah) berkata: Ketika kami bersama Rasulullah saw berada di al-Kadid (al-Gadid), beliau memuji Allah serta menyanjung-Nya, lalu beliau bersabda, "Apabila berlalu sepertiga malam ataupun duapertiga malam, maka Allah turun ke langit (dunia) dan berkata, "barangsiapa berdoa kepada-Ku, niscaya Aku mengabulkannya. Barangsiapa memohon ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampuninya. Dan barangsiapa memohon kepada-Ku, niscaya pula Aku memberinya,” sampai terbit fajar.”

ALASAN YANG LAIN :

Bukti-bukti lain yang membenarkan Allah bersemayam di atas 'Arasy antara lain yalah firman Allah: "Mereka takut kepada Tuhannya yang kuasa atas mereka” (OS, an-Nahl, 16: 50): dan "para malaikat serta Jibril naik (menghadap) kepada-Nya” (OS, al-Ma'arij, 70: 4): dan "kemudian Dia menuju pada penciptaan langit, di mana langit ketika itu masih (merupakan) asap” (OS, Fushshilat, 41: 11): dan "kemudian Dia bersemayam di atas 'Arasy, Dia yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah tentang(hal) itu kepada yang Maha Mengetahui” (OS, al-Furgan, 25: 59), dan "kemudian Dia bersemayam di atas 'Arasy, maka tidaklah ada seorang penolong pun bagi kamu, selain Dia, tidak pula seorang pemberi syafa'at” (OS, as-Sajdah, 32: 4).

Ayat-ayat tersebut semuanya menunjukkan bahwa Allah bersemayam di atas 'Arasy-Nya ataupun di langit, dan yang dimaksud dengan langit, menurut sepakat kebanyakan ulama, bukan langit dunia. Maka dari itu, Allah menyendiri dengan keesaan-Nya serta bersemayam di atas 'Arasy-Nya.

ALASAN YANG LAIN :

Firman Allah: "Dan datanglah Tuhanmu, sementara para malaikat pun berbaris-baris” (OS, al-Fajr, 89: 22): dan "tiada yang mereka nanti-nantikan (pada hari kiamat) itu melainkan datangnya (siksa) Allah bernaungkan awan” (OS, al-Bagarah, 2: 210): dan "kemudian Dia mendekat dan bertambah dekat lagi. Maka, jadilah Dia sedekat (jarak) dua ujung busur panah atau bahkan lebih dekat lagi. Lalu Dia sampaikan kepada hamba-Nya apa-apa yang Allah wahyukan. Tidaklah hatinya pernah mendustakan apa yang telah dilihatnya, maka apakah orangorang (musyrik) itu akan membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Sesungguhnya, dia (Muhammad) itu telah melihat Jibril (dalam bentuk aslinya) pada suatu ketika yang lain, yaitu di Sidrat al-Muntaha. Di dekatnya pun terdapatlah surga tempat tinggal. Ketika (Muhammad melihat Jibril) itu Sidrat al-Muntaha diliputi sesuatu yang meliputi. Penglihatannya udaklah berpaling dari yang dilihatnya, tidak pula melampaui. Sesungguhnya, dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhan-nya yang begitu hebat” (OS, an-Najm, 53: 8-18). Bahkan kepada 'Isa ibn Maryam as pun Allah berfirman: "Sesungguhnya, Aku akan menyampaikanmu pada akhir ajalmu dan mengangkatmu kepada-Ku” (OS, Ali 'Imran, 3: 55): dan "'mereka tidak yakin, bahwa yang mereka bunuh itu (disangkanya) 'Isa. Padahal (sebenarnya) Allah telah mengangkat 'Isa kepada-Nya” (OS, an-Nisa', 4: 157- 158). Dalam hal ini segenap ummat Islam telah sepakat bahwa Allah mengangkat 'Isa ke langit. Adapun kaum Muslimin, sekiranya mereka merasa senang terhadap urusan yang diturunkan Allah kepadanya, mereka senantiasa berdoa: "Wahai (Allah) yang bersemayam di atas 'Arasy!”

ALASAN YANG LAIN :

Firman Allah: "Dan tidak mungkin Allah berkata-kata dengan manusia, kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir ataupun dengan mengirimkan (malaikat) utusan, lalu dengan seizin-Nya diwahyukan kepada manusia apa yang Dia kehendaki” (OS, asy-Syura, 42: 51). Jelas, firman ini dikhususkan Allah kepada manusia, bukan kepada yang lain. Sekiranya ayat ini mengandung pengertian umum, yakni ketidakmungkinan bagi manusia atau yang lainnya, tentunya pun pengertian ayat ini lebih kabur ketimbang ayat-ayat mutasyabihat, dan niscaya mengundang keragu-raguan bagi orang yang mendengar ayat tersebut, seandainya (semisalkan) diucapkan kalimat yx4Yatek padanya. Bahkan, barangkali, akan lebih jelas seandainya difirmankan, ''Dan tidak mungkin Allah berkata-kata dengan 'jenis' manusia, kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir ataupun dengan mengirim (malaikat) utusan ...”” Dari semua ini, jelas, bahwa ayat yang disebutkan tadi menunjukkan pengertian dikhususkannya ayat tersebut kepada manusia dan tidaklah kepada yang lain.

ALASAN YANG LAIN :

Firman Allah "Kemudian mereka dikembalikan kepada Allah, penguasa mereka yang sebenarnya” (OS, al-An'am, 6: 62): dan "seandainya kamu melihat ketika mereka dihadapkan kepada Tuhan-nya” (OS, al-An'am, 6: 30): dan "seandainya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya” (OS, as-Sajdah, 32: 12), dan ''mereka akan dibawa ke hadapan Tuhanmu dengan berbaris-baris” (OS, al-Kahf, 18: 48). Semua (ayat) ini menunjukkan bahwa Allah tidak bersemayam di dalam makhluk-Nya. Sebaliknya, makhluk-Nya pun tidaklah berada di dalam Diri-Nya. Allah hanya bersemayam di atas 'Arasy-Nya, Maha Tinggi Allah atas semua anggapan orang-orang zhalim yang sombong serta takabur. Pemberian sifat yang mereka nisbatkan itu tidak memiliki kebenaran sama-sekali, bahkan mereka pun tidak mampu mengemukakan bukti-bukti kuat untuk menolak pandangan-pandangan yang dikemukakan kepada mereka — yang berkenaan dengan keesaan Allah — dalam masalah ini, sebab semua anggapan mereka hanya berdasarkan takwil-takwil yang keliru, bahkan pemberian sifat yang mereka nisbatkan kepada Allah itu hanya membuktikan sebaliknya. Tanyakanlah kepada mereka: Apakah anda memaksudkan hal itu untuk memahasucikan Allah dan membebaskan-Nya dari keserupaan dengan makhluk? Kita berlindung kepada Allah dari sikap yang semacam ini.

ALASAN YANG LAIN :

Firman Allah: "Allah Cahaya langit dan bumi” (OS, an-Nur, 24: 35). DiriiNya dinamai Cahaya (Nur), sementara yang namanya cahaya tidak pernah keluar dari dua jenis, yaitu Cahaya yang dapat mendengar dan yang dapat melihat. Barangsiapa beranggapan bahwa Allah tidak mendengar dan tidak melihat, maka anggapannya yang menafikan penglihatan Tuhan itu tidak dapat dibenarkan, dan ini berarti bahwa dia pun telah mendustakan kitab-Nya dan hadits nabi-Nya. Sungguh, terdapat riwayat para ulama hadits yang diterima dari 'Abdullah ibn 'Abbas, bahwa Nabi saw telah bersabda: ''Pikirkanlah ciptaan Allah dan janganlah kamu pikirkan (Dzat) Allah, sebab jarak antara 'Arasy dan langit pun adalah seribu tahun, sementara Allah jauh lebih tinggi dari semua itu.”

ALASAN YANG LAIN :

Para ulama meriwayatkan hadits Nabi saw, bahwa beliau bersabda: "Sesungguhnya, seorang hamba tidak akan beranjak kedua kakinya dari hadapan Allah, sampai dia ditanya tentang perbuatannya.” Riwayat lain menyebutkan, bahwa seorang laki-laki membawa seorang sahaya wanita ('ammat) negro, lalu dia berkata: "Ya Rasulullah, saya ingin memerdekakannya dengan membayar tebusan, apakah boleh?” Nabi lalu menanyai 'ammat itu: "Di manakah Allah?” Jawabnya: "Dia di langit.” Kembali Nabi bertanya: "'Dan siapakah aku?” Jawabnya: "Engkau adalah Rasulullah.” Nabi saw pun seketika memerdekakannya, sebab ammat itu diakui sebagai orang beriman. Maka, hadits ini menunjukkan bahwa Allah (benar) bersemayam di atas 'Arasy-Nya, yang berada di atas langit.

Previous
« Prev Post

Artikel Terkait

Copyright Ⓒ 2024 | Khazanah Islam