Katakanlah: Sekiranya kemurkaan Allah itu bukan makhluk dan begitu pula ridha-Nya, mengapa anda tidak mengatakan kalam-Nya pun bukan makhluk? Dan orang yang menganggap bahwa kemurkaan Allah itu makhluk, maka dia pun harus menyatakan bahwa kemurkaan-Nya atas orang-orang kafir ataupun ridha-Nya atas malaikat dan para nabi itu akan musnah — sehingga nantinya Dia tidak lagi ridla kepada para waliNya dan tidak pula murka kepada para musuh-Nya. Sungguh, anggapan yang semacam ini jelas keluar dari syari'at Islam. Cobalah anda ajukan pertanyaan kepada mereka tentang firman-Nya: "Sesungguhnya, seandainya Allah menghendaki sesuatu cukup dengan firman كن bakalnya, maka ia pun jadilah” (OS, Yasin, 36: 82). Apakah anda beranggapan bahwa kata-kata كن tersebut merupakan makhluk yang diciptakan dengan kehendak-Nya? Seandainya mereka menjawab, tidak! Maka katakanlah pula: Dengan begitu, mengapa pula anda tidak mengakui Kalamullah itu bukan makhluk, sebagaimana halnya anggapan anda bahwa kata-kata Allah kepada sesuatu yang akan diciprakan-Nya itu bukan makhluk. Tetapi seandainya pertanyaan ini mereka jawab, ya! Maka bacakanlah kembali firman Allah tersebut: "Sesungguhnya, seandainya Allah menghendaki sesuatu cukup dengan firman 'terjadilah" (kun) bakalnya, maka ia pun jadilah” (OS, Yasin, 36: 82). Jadi, sekiranya anggapan anda tetap begitu, tentunya pun setiap Allah menghendaki sesuatu Dia harus mengatakan kun tersebut, dan sekiranya Dia menghendaki kata-kata kun itu untuk sesuatu. Dia pun kembali harus mengatakan kun pula, dan begitu seterusnya, ad infinitum, sampai tiada berkesudahan.
Kemudian, seandainya mereka menganggap Allah itu memiliki 'kata-kata' yang bukan makhluk, katakanlah: Mengapa anda tidak pula mengakui bahwa kehendak Allah bagi adanya keimanan itu bukan makhluk? Lalu kembali katakan: Apa pula yang menyebabkan anda beranggapan bahwa firman kun tersebut, yang disampaikan Allah kepada sesuatu, itu bukan makhluk? Seandainya mereka menjawab: Sebab, firman kun tersebut tidak mengharuskan adanya ucapan kun pula. Nah, sekarang katakanlah: Seandainya begitu, aOur'an pun tentu bukan makhluk, sebab ia adalah ?'kata-kata' Allah. Dan Allah pun tidak mungkin memfirmankan kun tersebut untuk mengadanya Kalamullah itu.
PASAL BANTAHAN TERHADAP KAUM JAHAMIYYAH LAGI
Coba anda tanyakan: Bukankah Allah senantiasa Maha Tahu terhadap para waliNya dan para musuh-Nya? Pertanyaan ini tidak bisa tidak mesti dijawab, ya! Lalu tanyakan: Apakah anda menyetujui pendapat bahwa Dia senantiasa Maha Berkehendak memisahkan para waliNya dari pada musuh-Nya? Barangkali mereka pun akan menjawab, ya! Maka komentrarku: Sekiranya kehendak Allah itu bukan makhluk, mengapa pula anda tidak mengakui bahwa kalam-Nya pun bukan makhluk? Seandainya mereka tetap beranggapan yang serupa itu (bahwa Kalamullah itu makhluk), maka aku pun tetap menyatakan bahwa Dia itu senantiasa Maha Berkehendak memisahkan para wali-Nya dari para musuh-Nya, sementara mereka malah berangggapan bahwa Allah tidak berkehendak memisahkan para wali-Nya dari para musuh-Nya. Sungguh, Maha Tinggi Allah dari anggapan kaum Oadariyyah yang serupa ini,
JAWAB :
Ketahuilah, yang namanya makhluk itu mencakup tubuh, diri dan juga sifat. Maka tidak mungkin Kalamullah itu diri, sebab yang namanya diri (syakhshah) itu perlu makan, minum ataupun nikah, dan keadaan yang semacam ini tidak mungkin berlaku pada Kalamullah. Begitupun Kalamullah tidak bisa dikatakan sebagai sifat, sebab sifat itu tidak selamanya tinggal pada suatu benda. Sekiranya seseorang beranggapan bahwa Kalamullah itu sifat, tentunya Kalamullah itu bisa rusak dan binasa. Karena bukan diri dan bukan pula sifat, maka ia tidak bisa dikatakan makhluk, sebab yang namanya makhluk itu bisa mati, dan barangsiapa beranggapan bahwa Kalamullah itu makhluk, maka sebagai makhluk tentu ia bakal mati. Maka, anggapan yang semacam ini tidak bisa diterima. Di samping itu tidak mungkin Kalamullah diciptakan pada diri seseorang, sebagaimana halnya ia tidak mungkin menjadi sifat bagi seseorang. Sekiranya ia diciptakan pada diri seseorang, sebagaimana kata-kata manusia biasa, tentunya pun tidak mungkin dapat dibedakan antara Kalamullah dengan kata-kata manusia — sebab, keduanya sama-sama diciptakan pada diri—- sebagaimana pula ketidakmungkinan ilmu-Nya tercipta pada diri seseorang.
JAWAB :
Bahkan mesti kukatakan: Sekiranya Kalamullah itu makhluk, tentu ia berbentuk tubuh (jisim) atau sifat bagi tubuh. Dan sekiranya ia berbentuk tubuh, tentu pula ia dapat berbicara. Sementara Allah begitu Maha Kuasa merubahnya, sehingga mungkin saja Dia merubah (a-Our'an) itu jadi manusia, jin ataupun setan. Sungguh, Maha Tinggi Allah dari keadaan kalam-Nya yang semacam itu. Kemudian, sekiranya pun Kalamullah itu merupakan sifat bagi tubuh, sementara Allah begitu Maha Kuasa menjadikan macam-macam tubuh, maka menurut kaum Jahamiyyah itu Allah boleh saja menjadikan al-Our'an berbentuk tubuh yang sempurna — yang suka makan dan minum, lalu nanti mematikannya. Sungguh, hal ini tidak mungkin terjadi pada Kalamullah.
PASAL PERIWAYATAN AL-QUR'AN
MASALAH :
Abu Bakr berkata: Aku dan 'Abbas ibn 'Abdul 'Adzim al-'Anbary mengunjungi Abu "Abdullah, lalu 'Abbas ibn 'Abdul 'Adzim berkata kepada Abu 'Abdullah Ahmad ibn Hanbal, "Masyarakat di sini sebagiannya menyatakan al-Our'an itu bukan makhluk dan sebagian lainnya beranggapan makhluk, dan mereka ini lebih menyesatkan ketimbang kaum Jahamiyyah, celaka! Sekiranya anda tidak bersedia mengatakan ia bukan makhluk, katakanlah ia makhluk.” Maka Abu 'Abdullah pun berkata, "Mereka itu orang-orang jahat.” 'Abbas kembali bertanya, "Apa maksud anda, wahai Abu 'Abdullah?” Abu 'Abdullah menjawab, "'Pandangan yang kuyakini serta tidak diragukan lagi adalah al-Our'an itu bukan makhluk. Subhanallah, siapa yang meragukan pandangan ini?” Lalu 'Abdullah .mengulangi perkataannya, "Subhanallah, apakah masih ada keraguan tentang hal ini? Allah pun berfirman: "Ingatlah, hanya pada Allah hak menciptakan dan memerintah” (OS, al-A'raf, 7: 54). dan "Dia yang Maha Pengasih, yang mengajarkan al-Our'an, yang menciptakan manusia” (OS, ar-Rahman, 55: 1-3). Maka dengan beberapa firman-Nya tersebut tentu berbeda antara al-Gur'an dengan manusia, bahkan al-Our'an itu (benar-benar) berasal dari ilmu Allah. Sungguh, apakah anda tidak mendengar, ''Dia yang mengajarkan al-()ur'an, yang di dalamnya terdapat nama-nama Allah,” tetapi apa yang mereka katakan? Apakah mereka tidak menyatakan bahwa nama-nama Allah itu bukan makhluk, dan bahwa Allah senantiasa Maha Kuasa, Maha Tahu, Maha Perkasa, Maha Bijaksana, Maha Mendengar dan Maha Melihat?
Aku tidak ragu bahwa nama-nama Allah dan ilmu-Nya, kedua-duanya, itu bukan makhluk: dan al-Our'an itu ilmu Allah, yang di dalamnya terdapat nama-nama Allah. Maka itu aku tidak ragu lagi bahwa ia bukan makhluk, melainkan Kalamullah — yang dengannya Allah menyatakan firman,” Lalu ' Abbas bertanya, "Dengan begitu, kufur manakah yang lebih parah dan lebih sesat dari pandangan serupa ini?” Abu 'Abdullah menjawab, "Sekiranya mereka beranggapan bahwa al-Gur'an, nama-nama Allah dan ilmu- Nya itu makhluk, dan semua orang berdiam diri terhadap pandangan ini, bahkan mereka pun ikut menyatakan al-Our'an itu makhluk, lalu mereka menganggap sepele serta tidak memikirkan apa yang terkandung di dalamnya. Nah, itulah yang namanya kufur, dan aku "tidak senang melihat hal itu terjadi atas sebagian orang, sementara yang lainnya telah meminta penjelasan tentang hal ini. Apalagi, konon, mereka telah mendakwakan bahwa aku berdiam diri saja. Maka kepadanya kukatakan: Barangsiapa beranggapan al-Our'an itu makhluk, niscaya ia kafir. Dan orang yang menyatakan nama-nama Allah dan ilmu-Nya itu bukan makhluk, maka ia termasuk kelompok kami. Sungguh, kita tidak usah ragu terhadap al-Our'an yang terdapat pada kita, yang di dalamnya terdapat nama-nama Allah dan sudah barang tentu diturunkan dari-Nya. Sehingga, seandainya ada orang yang menyatakan al-Gur'an itu makhluk, maka menurutku orang itu kafir” Aku masih ragu, kata Abu Bakr, rctapi 'Abbas melirikku seraya kepada Abu 'Abdullah berkata: "Subhanallah, bukankah yang anda kemukakan itu lebih dari cukup?” Abu 'Abdullah berkata: "Tentu saja cukup.”
Kemudian, diceritakan bahwa Husein ibn 'Abdul Awwal berkata: Aku telah mendengar Waki' berkata, "Barangsiapa beranggapan al-Our'an itu makhluk, niscaya ia murtad, sampai ia bertaubat dan diampuni, dan seandainya tidak, bunuh saja dia.”
Dalam kaitannya dengan hal inilah Muhammad ibn Shabah al-Bazzar meriwayatkan 'Ali ibn Husein ibn Sufyan vang berkata: Aku mendengar Ibn al-Mubarak berkata, "Aku bisa menceritakan kata-kata seorang Yahudi dan Nasrani, tetapi aku tidak bisa menceritakan kata-kata yang dilontarkan kaum Jahamiyyah.” Lalu Muhammad ibn Shabah berkata: "Aku takut menjadi kufur tanpa aku sendiri meىyadarinya.”
" Harun Ishak ibn Ishak al-Hamdani mendapat berita dari Abu Nu'aim, dari Sulaiman ibn 'Isa al-Oari, dari Sufyan ats-Tsauri, di mana dia (Sufyan) berkata: Hammad ibn Abu Salmah berkata kepadaku, bahwa dia telah bebas dari kemusyrikan. Mengapa dia berkata begitu? Karena dia pernah menyatakan al-Gur'an itu makhluk.
Sufyan ibn Waki' berkata: Aku mendapat berita dari ' Amr ibn Hammad 'ibn Abu Hanifah, dari ayahnya. Katanya, adapun yang menyebabkan Ibn Abu Laila minta maaf kepada Abu Hanifah adalah perkataan, "Al-Our'an itu makhluk.” Maka (setelah dia bertaubat), baru Abu Hanifah memberi maafnya. Lalu aku pun bertanya kepada ayahku, bagaimana seandainya aku beranggapan begitu. Ayahku menjawab, "Hendaklah kau takut kepada Allah!”
Harun ibn Ishak berkata: Aku mendengar berita dari Isma'il ibn Abu al-Hakam, dari 'Amr ibn “Ubaid ath-Thunanisi, bahwa Abu Hanifah dikunjungi Hammad ibn Abu Sulaiman, maka dia berkata, ”Aku berlepas diri dari perkataan anda, kecuali anda bertaubat.” Sementara itu di samping Hammad ada Ibn 'Anbah, maka (kepada Hammad) dia pun berkata, "Tetanggamu telah memberitahukanku pula, bahwa Abu Hanifah telah menyatakan hal yang sama kepada orang-orang yang berkata begitu (bahwa Kalamullah itu makhluk), kecuali setelah dia meminta maaf dan dimaafkannya.”
Berita lain yang didapat Harun yalah dari Abu Yusuf, yang berkata: "Aku berdebat dengan Abu Hanifah selama dua bulan, sehingga aku menolak kemakhlukan al-Our'an.”
Sulaiman ibn Harb menyatakan al-Our'an itu bukan makhluk, sebab Allah berfirman: "Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak pula akan melihat mereka” (OS, Ali 'Imran, 3: 77). Sungguh, ayat ini mengandung pengertian bahwa Kalamullah dan penglihatan-Nya itu sama-sama bukan makhluk.
Husein ibn ' Abdul Awwal meriwayatkan bahwa Muhammad ibn al--Husein Abu Yazid al-Hamdani mendapat berita dari 'Umar ibn Oais, dari Abu Oais al-Mala'i, dari 'Athiyyah, dari Abu Sa'id al-Hudiri, di mana dia (Abu Sa'id) berkata: Rasulullah saw bersabda,
"Adalah Kalamullah itu lebih tinggi derajatnya ketimbang segenap kalam, sebagaimana Allah mengungguli segenap makhluk-Nya.” Sungguh, sabda Rasulullah ini menunjukkan bahwa al-Qur'an itu Kalamullah. Bahkan yang namanya Kalamullah tidak mungkin' di- klaim scbagai makhluk Allah, sebagaimana dijelaskan Allah melalui firman-Nya: ''Sampai dia mendengar firman Allah” (OS, at-Taubah, 9: 6). Juga masih ada (bukti) yang lain dalam firman-Nya, yaitu yang menerangkan Allah telah berbicara dengan Musa secara langsung.
Waki' menerima dari A'masy, dari Khaisumah, dari 'Ady ibn Hatim, di mana dia ('Ady ibn Hatim) berkata: Rasulullah saw bersabda, "Salah seorang di antara kamu ada yang kepadanya Tuhan (langsung) berbicara tanpa diterjemahkan.”
Dan hadits yang menerangkan Allah benar-benar mempunyai sifat mutakallim serta sifat kalam adalah hadits yang diriwayatkan 'Affan, bahwa Hammad ibn Salamah mendapat berita dari al-Asy'ats al-Hirani, dari Syahr ibn Hausyab, di mana Nabi saw bersabda: ” Adalah Kalamullah itu lebih tinggi derajatnya ketimbang segenap kalam, sebagaimana Allah mengungguli segenap makhluk-Nya.”
Ya'la ibn al-Minhal as-Sa'di meriwayatkan Ishak ibn Sulaiman al-Rasy yang berkata bahwa al-Jarrah ibn adh-Dhahak al-Khaddy mendapat berita dari 'Algamah ibn Martrsad, dari Abu 'Abdurrahman as-Sulamy, dari 'Utsman ibn 'Affan ra, bahwa Rasulullah saw bersabda: "Sebaik-baik kamu adalah yang mempelajari al-Our'an dan mengajarkannya.” Dan juga sabdanya: "Adalah al-Our'an itu lebih tinggi derajatnya ketimbang segenap kalam, sebagaimana Allah mengungguli segenap makhluk-Nya.”
Salid ibn Daud menuturkan bahwa Abu Sufyan mendapat berita dari Mu'ammar, dari Oatadah, di mana dia (Gatadah) membaca firman-Nya: ''Dan seandainya pohonan di muka bumi ini jadi pena serta lautan jadi tinta, lalu ditambahkan padanya tujuh lautan lagi sesudah itu, niscaya tiada habis kalimat Allah ditulis” (OS, Lugman, 31: 27).
Harun ibn Ma'ruf menceritakan Jarir ibn Mansur yang berkata, bahwa Hilal ibn Yasaf mendapat berita dari Firwah ibn Naufal, di mana dia (Firwah ibn Naufal) berkata: Aku bertetangga dengan Khahab ibn al-Arat, yang suatu kali dia berkata kepadaku, "Sahabat, hendaklah kau mendekatkan diri kepada Allah, dengan segenap kemampuanmu, dan tiada sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah yang lebih dicintai-Nya, selain kalam-Nya.”
Al-Laits ibn Yahya berkata: Ibrahim ibn al-Asy'at mendebatku, di mana katanya, "Aku mendengar berita dari Muammal ibn Isma'il, dari ats-Tsauri, bahwa barangsiapa beranggapan al-Our'an itu bukan makhluk, niscaya ia kufur. Masih tentangitu, ada riwayat lain dari Ja'far ibn Muhammad, di mana dia menegaskan bahwa al-Our'an itu bukan Khalik dan juga bukan makhluk. Lalu, seandainya seseorang beranggapan semacam yang disebutkan (riwayat) dari Ja'far ini, maka menurut hadits — yang diterima dari Zaid ibn 'Ali (yaitu pamannya Ja'far), dari 'Ali ibn al-Husein — niscaya ia kafir, sekalipun dia seorang ulama atau seorang yang hafal hadits.
Dan hadits terakhir ini banyak sekali dikutip oleh para ahli hadits, di antaranya al-Hama- dan, ats-Tsauri, "Abdul 'Aziz ibn Abu Salamah, Malik ibn Anas, asy-Syafi'i dan pengikut-pengikutnya, al-Laits ibn Sa'ad, Sufyan ibn 'Uyainah, Hisyam, 'Isa ibn Yunus, Hafsh ibn Ghiats, Sa'ad ibn 'Amr, 'Abdurrahman ibn Mahdi, Abu Bakr ibn 'Iyasy, Waki', Abu 'Ashim an-Nabil, Ya'la ibn '"Ubaid, Muhammad ibn Yusuf, Basyar ibn al-Mufadhal, 'Abdullah ibn Daud, Salam ibn Abu Muti', Ibn al-Mubarak, 'Ali ibn 'Ashim, Ahmad ibn Yunus, Abu Nu'aim, Oubai-shah ibn 'Ugbah, Sulaiman ibn Daud, Abu 'Ubaid al-Oasim ibn Salam, Yazid ibn Harun, bahkan banyak lagi yang lainnya.
Begitulah, sebenarnya masih banyak lagi riwayat-riwayat yang berbicara sekitar al-Our'an, tetapi sekiranya semua itu mesti diungkapkan di sini tentu akan banyak menyita waktu dan halaman. Maka, akhirnya, hanya kepada Allah jua aku mengucapkan syukur: dan segenap puji hanya bagi Allah yang memelihara sekalian alam.
Kesimpulannya, al-Gur'an itu bukan makhluk. Sungguh, untuk memperkuat hal ini telah banyak kukemukakan ayat-ayat al-Our'an, bukti-bukti akal serta beberapa penjelasan lainnya. Berdosalah orang yang menyatakan al-Our'an itu makhluk, di mana orang yang menyatakan itu hanya orang-orang bodoh, bahkan anggapannya tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan. Di samping itu, bukti-bukti yang kusodorkan di atas sengaja kuambil dari perkataan mereka sendiri — yang kukembalikan untuk menolak perkataan mereka pula. Sungguh, segenap puji hanya bagi Allah yang Maha Perkasa.
PASAL MEREKA YANG TIDAK MENYATAKAN AL-QUR'AN ITU MAKHLUK ATAU BUKAN
Kepada mereka tanyakanlah: Mengapa anda tidak menyatakan a-Our'an itu makhluk atau bukan makhluk? Sekiranya mereka menjawab: Kami beranggapan begitu karena Allah pun tidak menyebutkan dalam kitab-Nya bahwa al-Our'an itu makhluk atau bukan makhluk, tidak pula Rasulullah maupun kesepakatan kaum Muslimin, karena itu kami tidak menganggap ia makhluk atau bukan makhluk. Kepada mereka itu kembali tanyakan: Apakah Allah, rasul-Nya dan kesepakatan orang-orang Muslim, tidak menyuruh anda menyatakan al-Our'an itu bukan makhluk? Sekiranya mereka menjawab, ya! Alangkah dusta mereka. Namun sekiranya menjawab, tidak! Katakanlah: Kalau begitu, anda jangan berdiam diri dari menyatakan al-Our'an itu bukan makhluk. Dan mengapa pula anda tidak mengakui bahwa di dalam kitab-Nya ada ayat-ayat yang menyatakan a-Our'an itu bukan makhluk? Sekiranya mereka menjawab: Kami tidak menemukannya! Kembali kepadanya katakan: Seandainya benar anda tidak menemukannya, mengapa anda berkesimpulan bahwa itu tidak ada? Sungguh, kita telah menemukannya. Lalu bacakanlah kepada mereka ayat-ayat yang menyatakan al-Our'an itu bukan makhluk, sebagaimana firman-Nya: "Ingatlah, hanya pada Allah hak menciptakan dan memerintah” (OS, al-A'raf, 7: 54), dan "sesungguhnya, seandainya Allah menghendaki sesuatu cukup dengan firman 'terjadilah' bakalnya, maka ia pun jadilah” (OS, Yasin, 36: 82): dan "katakanlah: Seandainya lautan dijadikan tinta untuk menuliskan kalimat-kalimat Tuhanku” (OS, al-Kahf, 18: 109): dan masih banyak lagi ayat-ayat yang semacam itu. Kembali kepadanya katakan: Apakah anda (harus) tidak mempunyai pendapat tentang persoalan yang diperbincangkan orang ini? Anda dapat mengemukakan apa yang ditakwilkan kaum Muslimin, mengapa pula anda tidak dapat mengemukakan bahwa al-Our'an itu bukan makhluk, padahal kita telah begitu banyak mengemukakan bukti-bukti al-Our'an sejak sebelum ini.
SOAL :
Apabila seseorang bertanya: Tidakkah anda berpendapat bahwa Kalamullah itu berada di Lauh al-Mahfuzh? Maka jawabnya. ya! Sebab Allah berfirman: Bahkan yang mereka dustakan adalah al-Ouran yang mulia, yang (tersimpan) di Lauh al-Mahfuzh (OS, al-Buruj, 85: 21-22). Pengertian al-Gur'an tersimpan di Lauh al-Mahfuzh adalah ia tersimpan di (relung) dada orang-orang yang diberi ilmu, sebagaimana firman-Nya: "Sebenarnya, al-Our'an adalah ayat-ayat yang nyata Gi (relung) dada orang-orang yang diberi ilmu” (OS, a'Ankabut, 29: 49). Artinya, al-Our'an itu selalu dibaca oleh mereka. Maka tiada seorang pun dapat mengubahnya, sebab firman-Nya: "Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk mengubah al-Our'an” (OS, al-Oiyamah, 75: 16). Jadi pada prinsipnya al-Our'an itu tertulis pada mushaf kita, terpelihara dalam dada kira, selalu kita baca dan kita dengar, sebagaimana firman-Nya: "Maka lindungilah dia sampai dia mendengar firman Allah” (OS, at-Taubah, 9: 6).
SOAL :
Sekiranya seseorang menanyai anda tentang 'melafazhkan al-Our'an', bagaimana pendapat anda? Jawablah: Al-Our'an itu dibaca, bukan dilafazhkan. Dan kita pun tidak boleh mengatakan bahwa a-Our'an itu kalam-Nya yang dilafazhkan, sebab menurut kebiasaan orang-orang Arab kata لَفَظَ itu berarti رَمَى pula. Semisalkan لَفَظْتُ بِاللُقْمَةِ مِنْ فَمِّيtersebut, maka artinya pun رَمَيْتُ بِهَا pula — yaitu, menyemburkan suap. Maka itu Kalamullah tidak dilafazhkan, tetapi (istilahnya) dibaca, ditulis ataupun dihafal. Adapun yang mengatakan, ” Kami melafazhkan al-Our'an,” itu dikatakan hanya untuk menetapkan al-Our'an adalah makhluk serta untuk memperindah bid'ahnya ataupun ungkapan kata-katanya. Maka yang tidak memahami arti ungkapan mereka niscaya tertipu oleh kekufurannya, dan sekiranya kita telah memahami arti ungkapan mereka, tentu pula kita harus menolaknya. Sehingga kita tidak boleh mengatakan, "Al-Qur'an itu makhluk,” sebab ia dengan sepenuhnya bukan makhluk.
SOAL :
Sekiranya seseorang bertanya: Bukankah Allah berfirman, "Tidaklah datang kepada mereka kata-kata peringatan (dzikr) yang baru dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarnya, sementara mereka bermain-main” (OS, al-Anbiya', 21: 2). Maka katakanlah kepadanya: Yang dimaksudkan Allah dengan kata dzikr dalam ayat tersebut bukanlah al-Our'an, melainkan kata-kata Rasul saw dan peringatannya kepada mereka, sebab Allah berfirman kepada nabi-Nya, "Dan berilah peringatan karena, sesungguhnya, peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang beriman” (OS, adz-Dzariyat, 51: 55), dan lagi firman-Nya, ”... ini peringatan Rasul,” yang karena itu Rasul saw dinamai juga pemberi peringatan. Surigguh, firman Allah ini menyarankan pengertian bahwa dzikr itu merupakan peringatan (baru) yang didatangkan kepada mereka, yang hanya mereka dengar sambil bermain-main. Maka, dalam ayat tersebut tidaklah Allah mengatakan 'peringatan yang datang kepada mereka hanyalah (peringatan) yang baru'. Jadi, dengan begitu al-Gur'an pun jelas bukan sesuatu yang baru. Sekiranya seseorang berkata: Tidaklah datang kepada mereka seorang Bani Tamim yang mengajak pada kebenaran, melainkan mereka menghalanginya. Jelas, pengertian kalimat ini bukanlah 'yang datang (mengajak pada kebenaran) kepada mereka hanyalah seseorang Bani Tamim'. Begitulah, memang pengertian kata-kata dalam ayat yang ditanyakan kepadaku tadi bukanlah seperti itu.
SOAL :
Seandainya mereka bertanya tentang firman Allah: ”... al-Our'an yang (berbahasa) Arab” (OS, Yusuf, 12: 2). Maka jawabnya: Ketahuilah, pengertian ayat tersebut memang Allah menurunkan al-Our'an dalam bahasa Arab, tetapi ia bukan makhluk. Sekiranya mereka kembali mengemukakan firman-Nya: ''Dan kami turunkan besi yang padanya itu terdapat kekuatan hebat” (OS, al-Hadid, 57: 25). Dan besi adalah makhluk, sementara melihat konteks kedua ayat ini, tampaklah al-Our'an dan besi itu sama-sama diturunkan Allah. Maka mengapa pula al-Our'an tidak termasuk makhluk? Kukatakan: Besi adalah benda mati. Sementara yang namanya al-Our'an sekalipun diturunkan pula, sebagaimana halnya besi, tetapi tidak berarti ia harus merupakan benda mati, dan karena itu tidak pula ia harus merupakan makhluk, sekalipun besi adalah makhluk.
JAWAB :
Katakanlah: Allah telah memerintahkanku agar selalu memohon perlindungan-Nya dengan Kalamullah yang sempurna. Dia (Allah) itu bukan makhluk: dan kita pun tidak diperintahkan berlindung kepada makhluk, sementara memohon perlindungan dengan Kalamullah itu diperintahkan. Dengan begitu, sungguh, Kalamullah itu pasti bukan makhluk.
« Prev Post
Next Post »