Rabu, 04 Desember 2024

Al-Quran Kalamullah Bukan Makhluk

Seandainya seseorang bertanya tentang alasan yang menyatakan bahwa al-Qur`an itu Kalamullah dan bukan makhluk, maka jawabnya adalah firman Allah: "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah tegaknya langit dan bumi dcngan perintah-Nya" (QS, ar-Rum, 30: 25). Dan yang dimaksud dengan perintah-Nya dalam ayat tersebut adalah Kalamullah. Scandainya Allah memerintahkan kedua (langit dan bumi) itu tegak, maka tegaklah keduanya dan tiada runtuh ; dan, karena itu jelaslah, bahwa tegaknya langit dan bumi itu dengan perintah-Nya jua. Bahkan firman Allah: "Ingatlah, hanya pada Allah hak mencipta dan memerintah" (QS, al-Kaf, 7: 54). Adapun pengertian mencipta dalam ayat ini mencakup apa pun yang diciptakan, termasuk juga kalam, sebab kata 'kalam' seandainya berkalimat umum pengertiannya pun niscaya menyarankan hal yang umum pula; dan kita tidak boleh menggeser arti kalam yang sebenar-nya, tanpa alasan-alasan kuat. Ketika Dia berfirman, "Ingadah, hanya pada Allah hak mencipta...," maka (mencipta) ini mencakup apa pun yang dicipta; dan ketika berfirman, "... dan memerintah," maka memerintah ini tidaklah mencakup apa pun yang dicipta. Maka dari itu, jelas, apa yang kuuraikan di atas menegaskan pengertian bahwa Kalamullah bukan makhluk.

Seandainya seseorang berkata: Bukankah Allah dalam firman-Nya, "Barangsiapa memusuhi Allah, malaikat-Nya, rasul-Nya, Jibril dan Mikail" (QS, al-Baciarah, 2: 98), menyebutkan Jibril dan Mikail, padahal sebelumnya sudah disebutkan (kata) malaikat? Maka katakan kepadanya: Aku mengkhususkan al-Qurtan di sini atas dasar sepakat para ulama serta alasan-alasan yang difirmankan Allah dan malaikat-Nya. Jibril dan Mikail tidaklah terkait dengan perkataan malaikat dalam ayat tersebut, sekalipun mereka berdua memang malaikat juga, sebab (mereka) dituturkan secara eksplisit. Jadi, pengertiannya itu seakan-akan Allah menfirmankan, "memusuhi (sebagian) malaikat,” lalu memfirmankan, "serta memusuhi Jibril dan Mikail.”

Ketika Dia berfirman, "Ingatlah, hanya pada Allah hak mencipta dan memerintah,” Dia tidak mengkhususkan kata 'mencipta' itu pada apa pun yang dicipta: dan kemudian mengikutinya dengan kata 'memerintah', yang menunjukkan perintah untuk mencipta, sementara perintah-Nya itu yalah Kalamullah. Karena itu, tidak bisa tidak, Kalamullah tersebut pasti bukan makhluk, sebab, Kalamullah tersebut pasti sudah ada sebelum dan sesudah diciptanya makhluk.

ALASAN YANG LAIN :

Yang juga menyatakan bahwa Kalamullah bukan makhluk adalah firman-Nya, "... scandainya Allah menghendaki sesuatu, cukup dengan firman 'terjadilah' bakalnya, maka ia pun jadilah” (OS, Yasin, 36: 82). Artinya, seandainya al-Our'an itu makhluk, tentu ia memiliki kata-kata yang dipergunakan untuk menciptanya, yaitu 'terjadilah' tersebut, dan scandainya Allah bermaksud mencipta firman كن tersebut, maka setiap kali Allah hendak berfirman tentu harus didahului 'firman' yang pertama itu untuk menjadikannya, dan begitu seterusnya, ad inftnitum, sehingga tidak berkesudahan. Tetapi hal ini mustahil terjadi, yang karena itu Kalamullah pasti bukan makhluk.

PERSOALAN :

Seandainya seseorang berkata: Arti firman Allah "... cukup dengan firman "terjadilah" bakalnya, maka ia pun jadilah” itu menunjukkan bahwa terjadinya sesuatu adalah dengan firman كن tersebut (dalam bentuk tunggal), sekalipun untuk hal apa pun, dan tidak dengan kata كوني pula (dalam bentuk jamak), sebab seandainya harus dengan kata jamak tersebut, ia akan mengandung pengertian bahwa segenap sesuatu yang ada ini mengharuskan adanya Kalamullah. Sungguh, orang-orang yang beranggapan semacam itu berarti telah memperbuat kebohongan besar. Karena, seandainya benar begitu, maka segenap sesuatu yang seperti manusia, kuda, keledai dan lain sebagainya, semua itu mengharuskan adanya Kalamullah juga. Bahkan seandainya hal ini mustahil, maka firman Allah untuk mencipta apa pun tetap saja mesti dengan kalimat, "... 'terjadilah' (kalian) bakalnya,” bukan dengan kalimat, "'.... 'terjadilah' (kamu) bakalnya.”

Lalu orang-orang yang beranggapan bahwa Kalamullah itu makhluk, secara tidak langsung mereka pun beranggapan bahwa Allah tidak memiliki sifat "berfirman" (mutakallim). Tentu saja anggapan yang semacam ini tidak dibenarkan, sebagaimana tidak dibenarkannya anggapan yang menyebut 'ilmu' Allah itu makhluk atau Allah tidak memiliki sifat 'mengetahui' ('alim). Sungguh, Allah senantiasa mengetahui. Seandainya Dia tidak bisa dikatakan tidak mengetahui, maka Allah pun niscaya mengetahui: dan begitupun seandainya Dia tidak "berfirman' tentu Dia bisu atau rusak, sebagaimana pula seandainya Dia tidak mengetahui tentu Dia bodoh atau ragu. Dan mengingat hal ini semua tidak mungkin, maka mustahillah Dia bersifat bisu araupun bodoh.

ALASAN YANG LAIN :

Firman Allah SWT: "Katakanlah: Seandainya lautan dijadikan tinta untuk menuliskan kalimat-kalimat Tuhanku, niscaya lautan itu kering sebelum habis kalimat-kalimat Tuhanku ditulis” (OS, al-Kahf, 18: 109). Artinya, sekalipun semua lautan dijadikan tinta untuk menuliskan kalimat-kalimat Allah serta segenap pohonan dijadikan penanya, niscaya kalimat-kalimat Allah tidak habis tertulis sebagaimana tidak habisnya ilmu-ilmu Allah, sekalipun lautan tinta itu sampai kering serta pohonan pena itu sampai hancur (karena menuliskan ilmu-Nya). Sungguh, barangsiapa perkataannya habis karena tertulis, akhirnya pun tentu dia akan berdiam diri. Sementara Allah tidaklah begitu, sebab kalimat-Nya tidak akan habis karena tertulis: dan karena itu Allah mesti memiliki sifat 'berfirman', sebab seandainya tidak niscaya Dia pun diam atau hancur. Sungguh, Maha Tinggi Allah dari pandangan kaum Jahamiyyah yang semacam ini.

PASAL LAIN TENTANG KALAMULLAH

Orang-orang Jahamiyyah, sebagaimana halnya dengan orang-orang Nasrani, beranggapan bahwa kalimat Allah itu merupakan kalam-Nya yang ditiupkan ke dalam perut Maryam. Lebih dari itu kaum Jahamiyyah menambahkan anggapan bahwa Kalamullah adalah sebangsa makhluk yang bersarang pada pohon kayu, yang merupakan pelindungnya. ' Seandainya memang begitu, tentu pohon kayu itu memiliki sifat 'berfirman' pula, dan tentunya perkataan Nabi Musa pun mesti digolongkan makhluk, bahkan tentunya pohon kayu itulah yang berkata, '"Wahai Musa, sesungguhnya, Aku adalah Allah: dan tiada Tuhan yang wajib disembah selain Aku, yang karena itu beribadahlah kamu (wahai Musa) kepada-Ku!” Benar, seandainya Kalamullah itu (sebangsa) makhluk yang bersarang pada pohon kayu, tentu ia dapat berkata-kata yang sebagaimana pohon kayu tadi. Tetapi coba anda camkan firman Allah ini, ”... namun perkataan dari-Ku telah pasti: Sesungguhnya, Aku akan penuhi neraka jahannam itu dengan jin dan manusia secara bersama” (OS, as-Sajdah, 32: 13). Maka itu Kalamullah tidak bisa dikatakan sebagai sebangsa makhluk yang bersarang pada pohon kayu, yang kedudukannya pun sebagai makhluk, sebagaimana pula ilmu-Nya tidaklah bisa disebut makhluk yang bersarang pada selain-Nya. Sesungguhnya, Maha Suci Allah dari semua ini.

JAWAB :

Sebagaimana tidak boleh dikatakan bahwa Allah menciptakan kehendak-Nya pada sebagian makhluk, maka tidak boleh pula dikatakan bahwa Allah menciptakan kalimat-Nya pada sebagian makhluk. Seandainya kehendak Allah diciptakan pada sebagian makhluk, tentu makhluk itulah yang menginginkan kehendak-Nya dan bukan Allah sendiri: dan yang begini, jelas, tidak mungkin terjadi. Begitupun halnya dengan Kalamullah, seandainya ia diciptakan pada sebagian makhluk, tentu makhluk itulah yang mengucapkan kalimat-Nya. Sungguh, hal semacam ini tidak mungkin terjadi.

ALASAN YANG LAIN :

Juga yang membantah anggapan mereka adalah ketika Allah berfirman, dengan maksud menerangkan kesalahan anggapan orang-orang musyrik, yang menyatakan bahwa al-Our'an itu tidak lain dari perkataan manusia semata, dan barangsiapa beranggapan bahwa a-Our'an itu makhluk, secara tidak langsung dia telah beranggapan bahwa al-Our'an itu perkataan manusia. Dan inilah bantahan Allah terhadap orang-orang musyrik. Bahkan seandainya Allah tidak memiliki sifat 'berfirman', sementara Dia telah menjadikan makhluk yang bisa berkata-kata, tentu pula segala sesuatu yang ada ini bukan karena kehendak-Nya, dan jelaslah bukan karena firman-Nya, ”...'terjadilah" (kalian) bakalnya.” Sungguh, begitulah bantahan yang terdapat di dalam al-Our'an, yang hal ini merupakan jalan keluar bagi sekelompok besar kaum Muslimin.

PASAL KALAMULLAH LAGI

Anda mesti tahu, kiranya rahmat Allah menyertai anda, bahwa kaum Jahamiyyah telah menganggap Kalamullah itu makhluk, Maka anggapan semacam ini mengandung pengertian bahwa Allah tidaklah berbeda dengan patung-patung, yang tidak bisa berpikir dan tidak pula bisa berbicara. Dalam kaitannya dengan pasal ini Allah memberitahukan peristiwa Ibrahim as kepada kita, ketika beliau ditanya kaumnya tentang siapa yang merusak patung-patung (berhala) mereka. Beliau menjawab: Yang merusak patung-patung ini yalah patung yang paling besar itu, silakan saja tanya patung tersebut, seandainya ia memang bisa berbicara ataupun berpikir. Lalu sambung Ibrahim kepada kaumnya: Sekiranya patung-patung tersebut tidak bisa berpikir dan tidak pula bisa berbicara, apa pula manfaatnya mereka dipertuhankan? Sementara yang namanya Tuhan tidaklah patut Dia tidak berpikir ataupun berbicara, dan karena patung-patung itu tidak bisa dihidupkan ataupun dijadikan makhluk yang berbicara, tidaklah patut mereka disembah sebagai Tuhan. Maka, bagaimana mungkin sifat 'berbicara' ini mustahil bagi-Nya? Sungguh, Maha Tinggi Allah dari hal yang begitu, dan seandainya Allah mustahil dipadankan dengan patung-patung yang tidak bisa berbicara tersebut, maka Allah pun niscaya memiliki sifat 'berbicara'.

ALASAN YANG LAIN :

Allah berfirman: ''Milik siapakah kerajaan hari ini” (OS, al-Mu'min, 40: 16). Artinya, dengan ayat ini Allah bermaksud memberitahukan DirNya kepada kita: dan menurut suatu riwayat, ketika Dia memfirmankan ayat tersebut tidak seorang pun memberi jawaban. Maka Allah menjawab sendiri dengan sambungan firma-Nya, "... hanya milik Allah, yang Maha Esa lagi Maha Perkasa” (OS, a-Mu'min, 40: 16). Dan Allah berfirman ketika belum ada manusia, malaikat, kehidupan, jin ataupun pepohonan. Sungguh, karena itu Kalamullah tidaklah termasuk kategori makhluk, sebab ia sudah ada ketika yang namanya makhluk belum lagi ada.

ALASAN YANG LAIN :

Ketika Allah berfirman, "Dan Allah telah berkata-kata dengan Musa secara langsung” (OS, an-Nisa', 4: 164), yang dimaksud dengan "berkata-kata' dalam ayat tersebut yalah berbicara lisan. Maka pembicaraan langsung tidak mungkin dilakukan oleh yang tidak memiliki sifat "berbicara, bahkan tidak mungkin diadakan terhadap sesuatu yang lain — sebagaimana halnya tidak mungkin sifat 'ilmu' ada pada orang yang tidak berilmu.

ALASAN YANG LAIN :

Allah pun berfirman: "Katakanlah: Dia itulah Allah yang Esa. Allah tempat bergantung segenap sesuatu. Tiada Dia berputera dan tiada pula Dia diperputerakan. Dan tiada sesuatu pun yang sepadan dengan-Nya” (OS, al-Ikhlas, 112: 1-4). Maka, bagaimana mungkin al-Guran dapat dikatakan makhluk? Seandainya itu mungkin, tentunya pun nama-nama Allah yang terdapat dalam al-Our'an itu makhluk: dan seandainya begitu, niscaya pula keesaan-Nya itu makhluk, ilmu-Nya dan kuasa-Nya itu makhluk. Sesungguhnya, Maha Tinggi Allah dari hal yang begitu.

ALASAN YANG LAIN :

Allah pun berfirman: ''Maha Agung nama Tuhanmu” (OS, ar-Rahman, 55: 78). Sungguh, nama 'Maha Agung' tidak diberikan pada makhluk. Dan hal ini jelas menunjukkan bahwa nama-nama Allah itu bukan makhluk, karena firman-Nya pun: ''Dan (tetap) kekallah Dzat Tuhanmu”' (OS, ar-Rahman, 55: 27). Bahkan dalam ayat ini terkandunglah pengertian bahwa Dzat Tuhan tersebut tidak boleh diklaim sebagai makhluk, begitu pula nama-Nya.

ALASAN YANG LAIN :

Allah pun berfirman: ”'Bersaksilah Allah bahwa tiada Tuhan yang selain Dia, dan (begitupun) para malaikat serta orang-orang yang berilmu, yang tegak berdiri dengan keadilan” (OS, Ali 'Imran, 3: 18). Kesaksian yang ditegaskan dalam ayat tersebut, tidak bisa tidak, niscaya hanya berasal dari Diri-Nya, sebab, sekiranya kesaksi- an itu keluar dari makhluk, tentu ia bukan kesaksian bagi-Nya. Karena kesaksian itu bagi-Nya semata dan Dia telah menetapkannya, maka penegasannya pun tidak lepas dari dua kemungkinan, sebelum adanya makhluk atau sesudahnya. Seandainya kesaksianitu ditegaskan sesudah adanya makhluk, maka itu tidak selaras dengan (sikap) mempertahankan yang menjadi fitrah makhluk. Nah, bagaimana mungkin hal ini terjadi? Bahkan hal ini menunjukkan bahwa keesaan Tuhan tidak harus ditegaskan sebelum makhluk diciptakan. Sekiranya kesaksian tentang keesaan-Nya tidak mungkin ditegaskan sebelum makhluk diciptakan, niscaya keesaan dan wujud-Nya tidak akan terjadi pula. Padahal, sebelum makhluk diciptakan pun Dia telah Esa. Sekarang, seandainya kesaksian tentang keesaan-Nya itu ditegaskan sebelum makhluk diciptakan, berarti anggapan yang menyatakan Kalamullah itu makhluk tidak dapat diterima, sebab, kalam-Nya adalah kesaksian-Nya.

ALASAN YANG LAIN :

Pernyataan lain yang membantah anggapan kaum Jahamiyyah, di mana al-Our'an itu sebenarnya Kalamullah dan bukan makhluk, yalah nama-nama Allah pun berasal dari al-Guran. Bahkan Allah berfirman: "Sucikanlah nama Tuhanmu yang Maha Tinggi, yang menciptakan dan yang menyempurnakan” (OS, al-A'la, 87: 1-2). Dengan pernyataan tersebut jelaslah bahwa nama Tuhanmu yang Maha Tinggi, yang menciptakan dan yang menyempurnakan, tidak bisa diklaim sebagai makhluk — sebagaimana halnya dengan kebesaran Tuhan, di mana firman-Nya, ”... Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami” (OS, al-Jin, 72: 3). Maka, kalam-Nya pun tidak bisa begitu.

ALASAN YANG LAIN :

Allah SWT berfirman: "Dan tidaklah mungkin Allah berkata-kata dengan manusia, kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir ataupun dengan mengirimkan (malaikat) utusan, lalu dengan seizin Nya diwahyukan kepada manusia apa pun yang Dia kehendaki” (OS, asy-Syura, 42: 51). Seandainya Kalamullah itu tidak lain dari makhluk yang terdapat pada sesuatu yang kedudukannya adalah makhluk pula, niscaya hal ini tidak sesuai dengan pengertian ayat tersebut, sebab Kalamullah itu sebenarnya telah didengar oleh segenap makhluk. Sekalipun begitu, kaum Jahamiyyah tetap beranggapan bahwa Kalamullah itu makhluk yang diciptakan pada yang selain Allah. Seandainya benar begitu, martabat para Nabi pun niscaya tidak berarti. Bahkan seandainya orang-orang Jahamiyyah itu tetap beranggapan bahwa "kata-kata" Allah kepada Musa adalah sejenis kalimat yang diciptakan-Nya pada pohon kayu, tentunya pun orang lain yang mendengar kalam-Nya tersebut — baik ia malaikat ataupun nabi yang sengaja diutusNya — niscaya lebih tinggi derajatnya ketimbang Musa as, sebab Musa mendengar kalam-Nya bukanlah dari-Nya langsung melainkan dari pohon kayu. Karena itu mereka beranggapan bahwa orang-orang Yahudi pun, yang mendengar kalimat Allah dari nabi (Musa) itu, berarti lebih tinggi derajatnya ketimbang Musa ibn 'Imran, sebab, orang-orang Yahudi tersebut mendengarnya dari nabi Allah, sementara Musa hanya mendengarnya dari pohon kayu.

Adapun bantahan terhadap anggapan kaum Jahamiyyah yang semacam itu, seandainya Kalamullah tetap dianggap sebagai sejenis makhluk yang diciptakan pada pohon kayu, maka tidak mungkin Dia berkata-kata dengan Musa di belakang tabir. Menurut kebiasaan, yang suka menghampiri pohon kayu itu hanyalah jin ataupun manusia, di mana dari tempat itulah mereka mendengarkan kata-kata (kalam). Maka apa pula bedanya Musa as dengan yang lainnya, dalam hal mendengarkan kata-kata (kalam) tersebut, dan dengan demikian, berarti, perkataan yang didengar Musa as itu pun bukanlah Kalamullah yang didengarnya dari belakang tabir.

JAWAB :

Kepada mereka itu katakanlah: Anda telah menganggap peristiwa Allah berkata-kata dengan Musa as itu mengandung pengertian, bahwa Dia menciptakan kata-kata (kalam) yang dengannya itu Dia berkata-kata dengan Musa as. Baiklah, anggaplah begitu: tetapi ada suatu peristiwa lain, yaitu ketika Allah menciptakan kata-kata (kalam) pada lengan. Sungguh, tangan pun pernah berbicara kepada Rasulullah saw, katanya: "Janganlah Tuan makan dengan menggunakan aku, sebab aku telah terkena racun! Nah, dengan begitu kata-kata yang didengar Nabi adalah Kalamullah.

Seandainya Allah tidak mungkin berkata-kata dengan kata-kata makhluk yang semacam itu, mengapa anda membantah tentang ketidakmungkinan Allah menciptakan perkataanNya pada pohon kayu, karena toh kata-kata makhluk itu bukan Kalamullah, dan seandainya kata-kata makhluk itu Kalamullah, maka berarti Allah telah berbicara melalui makhluk, bahkan Dia menciptakan perkataanNya pada diri makhluk. Dengan begitu, anda pun harus menetapkan bahwa Allah berkata-kata dengan kata-kata yang diciptakan-Nya pada tangan Nabi tersebut, dan yang berkata, "Janganlah Tuan makan dengan menggunakan aku, sebab aku telah terkena racun,” itu sebenarnya Allah. Maha Tinggi Allah dari anggapan anda yang semacam itu. Bahkan seandainya mereka beranggapan bahwa Kalamullah itu bukan sesuatu yang diciptakan pada tangan, kepadanya pun katakanlah: Dengan begitu, tidak benar pula seandainya Kalamullah itu merupakan sesuatu yang diciptakan pada pohon kayu.

JAWAB :

Mereka pun bertanya tentang 'kata-kata' yang dengannya itu Allah menjadikan serigala dapat berbicara, sebagaimana yang diriwayatkan oleh salah satu hadits Nabi. Kepadanya itu katakanlah: Sekiranya Allah berkata-kata dengan kata-kata yang diciptakan-Nya pada yang selain Dir-iNya, mengapa pula anda tidak menerima suatu pandangan yang menyatakan bahwa kata-kata yang didengar dari serigala itu Kalamullah. Dalam hal ini terdapat bukti-bukti yang mengharuskan mereka berpendapat, bahwa bukan serigala itu yang mengucapkan kata-kata tersebut, karena ia adalah Kalamullah. Kata-kata yang didengar dari serigala itu merupakan suatu mukjizat, sebagaimana halnya perkataan yang keluar dari pohon kayu tersebut. Tetapi, sekiranya serigala itu bisa berbicara dengan kata-kata tersebut, mengapa pula anda mengingkari bahwa pohon kayu pun bisa berbicara dengan kata-kata yang semacam itu — sebagaimana yang terjadi ketika ia kepada Musa as berkata, "Wahai Musa, sesungguhnya, Aku adalah Allah!” Maha Tinggi Allah dari anggapan anda yang serupa itu.

JAWAB :

Lalu katakanlah: Seandainya Kalamullah itu diciptakan pada sesuatu yang selain DiriiNya, maka apakah yang demikian ini meyakinkan anda bahwa perkataan (kalam) yang anda dengar dari sesuatu itu merupakan makhluk dan boleh disebut Kalamullah pula? Maka, mungkin mereka beranggapan: Tidak mungkin pohon kayu bisa berbicara, sebab setiap yang bisa berbicara itu harus makhluk hidup. Tetapi, sekiranya toh diterima bahwa perkataan pun bisa keluar dari makhluk yang tidak hidup, mengapa pula orang yang mati tidak mungkin berbicara? Katakanlah kepadanya: Mengapa anda tidak menerima bahwa benda mati itu bisa berbicara, sementara Allah sendiri menyatakan bahwa langit dan bumi pun telah berkata, ” .kami datang (kepada-Nya) dalam keadaan taat” (OS, Fushshilat, 41:11).

JAWAB :

Seandainya kutanyakan: Bukankah Allah kepada Iblis pun berfirman, "Sesungguhnya, laknat-Ku tetap atas dirimu, sampai hari pembalasan” (OS, Shad, 38: 78). Maka tidak bisa tidak mereka mesti menjawab, ya! Sekali lagi kukatakan: Sekiranya (benar) Kalamullah itu makhluk, sementara yang namanya makhluk pasti musnah, maka kutukan Allah kepada Iblis pun tentu musnah pula, sehingga Iblis tidak terkutuk lagi nantinya. Tidak, anggapan yang semacam ini tidak bisa diterima, bahkan bertentangan dengan firman Allah yang tersebut tadi. Maka, mengingat kutukan-Nya itu tetap berlaku sampai hari kiamat — sebab Allah memfirmankan, "Dia yang menguasai hari pembalasan” (OS, al-Fatihah, 1: 4), di mana Iblis pun kekal dalam neraka — niscayalah kutukan-Nya itu juga Kalamullah, sebagaimana firman-Nya, ”... kutukanKu atas dirimu”. Dengan begitu, Kalamullah pun tidak mungkin musnah dan bukanlah makhluk, sebab yang namanya makhluk bisa musnah: dan karena kemusnahan (fana) itu tidak mungkin terjadi atas Kalamullah, maka berarti ia bukan makhluk.

Previous
« Prev Post

Artikel Terkait

Copyright Ⓒ 2024 | Khazanah Islam