Seandainya kepadaku ada yang berkata: Anda telah menyatakan ingkar anggapan kaum Mu’tazilah, Qadariyyah, Jahamiyyah, Haruriyyah, Rafidhah dan Murji‘ah. Karena itu cobalah tunjukkan pandangan agama anda, yang anda nyatakan berada dalam petunjuk (Allah) itu!
Maka niscaya pula kujawab: Pertama-tama, pandanganku ini merupakan pandangan agama yang berlandaskan Kitabullah dan sunnah rasul-Nya, sahabat-sahabat Nabi dan keluarganya, bahkan pandangan para tabi'in dan para ulama ahli hadits. Sungguh, aku berpegang teguh pada semua sumber tersebut, termasuk pandangan Ahmad ibn Hanbal ra serta para pengikutnya; sebab beliau itu merupakan pemimpin utama yang ilmunya sempurna, yang kepadanya Allah menunjukkan kebenaran-Nya serta menjauhkan kesesatan pula darinya, bahkan menyingkapkan tabir paham-paham para pembuat bid’ah ataupun orang-orang yang tersesat itu kepadanya dan kepada para pemimpin lainnya. Kesimpulannya, aku berpegang teguh pada ketetapan Allah, para malaikat-Nya, semua kitab-Nya, sekalian rasul-Nya serta hamba-hamba pengikut Allah dan rasul-Nya; dan tidaklah aku mengingkari satu pun pandangan yang berasal dari sumber-sumber tersebut.
Sungguh, Allah ‘Azza wa Jalla adalah Tuhan yang Maha Esa, yang tiada Tuhan selain Dia, tempat bergantung yang tidak bersekutu ataupun berputera; dan, sesungguhnya, Muhammad saw .itu hamba-Nya serta utusan-Nya yang membawa petunjuk dan agama yang benar. Ketahuilah, bahwa surga dan neraka itu benar adanya; dan hari kiamat itu tidak diragukan lagi kedatangannya, di mana Allah pun niscaya membangkitkan orang-orang dari lubang kuburnya.
Sesungguhnya, Allah bersemayam di atas ’Arasy, sebagaimana yang dinyatakan firman-Nya: "Tuhan yang Maha Pemurah itu bersemayam di atas 'Arasy” (QS, Thaha, 20:5).
Allah pun memiliki 'wajah’, sebagaimana dinyatakan firman-Nya: "Maka, kekallah wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran serta kemuliaan”’ (QS, ar-Rahman, 55:27); dan Allah memiliki ’tangan’, yang tidak terbayangkan, sebagaimana firman-Nya: "Yang Aku ciptakan dengan tangan-Ku” (QS, Shad, .38:75); dan '’bahkan, tangan-tangan Allah terbuka” (QS, al-Ma‘idah, 5:64); dan Allah pun memiliki ’mata’, yang tidak terbayangkan, sebagaimana firman-Nya: "Yang berlayar dengan pengawasan mata Kami’’ (QS, al-Qamar, 54:14).
Barangsiapa menyatakan nama Allah itu bukan ’Allah’, maka tersesatlah dia.
Dan Allah pun memiliki ilmu, sebagaimana yang dinyatakan firman-Nya: ’’Sungguh, al-Qur‘an itu diturunkan dengan ilmu Allah” (QS, Hud, 11:14); dan “tidaklah seorang perempuan pun mengandung atau melahirkan, kecuali dengan ilmu-Nya”’ (QS, Fathir, 35:11). Aku menisbatkan, bahwa Allah memiliki pendengaran dan penglihatan; dan tidaklah aku menafikan hal itu seperti yang dilakukan kaum Mu'tazilah, Jahamiyyah ataupun Khawarij. Bahkan aku menisbatkan, bahwa Allah memiliki kekuatan, sebagaimana firman-Nya: ”Apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah, yang menciptakan mereka, lebih besar kekuatan-Nya ketimbang mereka” (QS, Fushshilat, 41:15).
Aku menyatakan, bahwa Kalamullah (al-Qur‘an) itu bukan makhluk; dan apa pun yang ada ini tidak mungkin terwujud, kecuali Allah memfirmankan 'terjadilah’ bakalnya, maka ia pun jadilah. Dan sebagaimana firman-Nya: '’Sesungguhnya, seandainya Allah menghendaki sesuatu cukup dengan firman ’terjadilah’ bakalnya, maka ia pun jadilah” (QS, Yasin, 36: 82). Maka itu tidaklah di muka bumi ini ada kebaikan ataupun kejahatan, kecuali dengan kehendak Allah. Sungguh, tidaklah seseorang bisa berbuat sesuatu, di muka bumi ini, sebelum Allah menghendakinya; dan tidak seorang pun yang mungkin melakukan sesuatu serta tidaklah dia memiliki kemampuan, tanpa izin Allah ataupun ilmu-Nya. Tidak ada pencipta selain Allah, yang segenap perbuatan hamba-Nya hanyalah tercipta dengan kehendak-Nya dan terbatas pada takdir-Nya, sebagaimana firman-Nya: "Dan (Allah) yang menciptakan kamu serta apa pun yang kamu perbuat”’ (QS, ash-Shaffat, 37: 96).
Sesungguhnya, manusia tidaklah mampu menciptakan apa pun, bahkan mereka itulah yang diciptakan, sebagaimana firman-Nya: ” Adakah pencipta yang selain Allah’ (QS, Fathir, 35:3); dan '’tidaklah mereka mampu menciptakan apa pun, bahkan mereka itulah yang diciptakan’’ (QS, an-Nahl, 16:20); dan "’apakah (Allah) yang menciptakan itu sama halnya dengan (makhluk) yang tidak mampu menciptakan” (QS, an-Nahl, 16:17); dan "apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun, ataukah mereka yang menciptakan itu’’ (QS, ath-Thur, 52:35); dan dalam Kitabullah (al-Qur‘an) ayat-ayat yang semacam ini masih banyak lagi.
Allah menyempurnakan janji-Nya kepada orang-orang mukmin, karena ketaatan mereka; dan Allah pun senantiasa bersikap lembut serta menunggu mereka, bahkan membuat mereka jadi baik dengan memberi petunjuk. Sementara orang-orang kafir Dia biarkan tersesat, tidak diberi petunjuk ataupun kelembutan iman — tidak sebagaimana yang selama ini diduga oleh orang-orang yang tersesat ataupun pembangkang itu. Seandainya Allah memberi mereka kelembutan iman, niscaya mereka jadi orang-orang shaleh; dan seandainya Dia memberi mereka petunjuk, niscaya mereka pun mendapat petunjuk, sebagaimana firman-Nya: "Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, dia itulah yang mendapat petunjuk, dan barangsiapa disesatkan-Nya, mereka itulah yang rugi’’ (QS, al-A’raf, 7: 178). Sungguh, Allah kuasa membuat orang-orang kafir itu jadi shaleh dan memberi mereka keimanan, sehingga mereka jadi orang-orang mukmin. Tetapi . Dia menghendaki mereka tetap jadi kafir, di mana Allah menghinakan mereka dengan cara yang semacam itu dan menutup hatinya.
Sungguh, perbuatan baik ataupun jahat hanyalah terjadi dengan kehendak-Nya. Kita kembalikan segenap persoalan (kita) ini kepada Allah, dengan menetapkan bahwa semua kebutuhan ataupun kefakiran yang terdapat dalam diri kita hanyalah berasal dari kehendak-Nya jua; dan kita pun menetapkan bahwa al-Qur‘an yang Kalamullah itu bukanlah makhluk, sebab barangsiapa menganggap al-Qur‘an itu makhluk, maka kafirlah dia. Kita pun yakin bahwa Allah di akhirat nauti benar dapat terlihat mata, sebagaimana terlihatnya rembulan di malam purnama; dan orang-orang mukmin, yang mendapat kenikmatan melihat Allah dengan cara ini, telah tegas-tegas dinyatakan oleh kesaksian Rasulullah saw sendiri.
Sementara orang-orang kafir tidak dapat menikmati penglihatan ini, sebagaimana firman-Nya: "Sekali-kali tidak, sungguh, mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari melihat Tuhannya” (QS, al-Muthaffifin, 83:15). Bahkan Musa pernah memohon kepada Allah agar dapat melihat-Nya di dunia ini, lalu Allah SWI memperihatkan kebesaran-Nya pada sebuah gunung, di mana gunung itu jadi hancur-lebur; dan Musa pun dengan itu segeia tersadar, bahwa dia tidak mungkin melihat Allah di dunia ini.
Sementara itu aku tidaklah mengkafirkan siapa pun di antara ummat Islam yang sebelum ini, yang melakukan dosa semacam berzina, mencuri, minum tuak ataupun lainnya, berbeda dengan kaum Khawarij, di mana mereka justru mengkafirkan orang-orang seperti itu. Tetapi barangsiapa melakukan dosa besar semacam berzina, scraya menganggapnya halal serta mengingkari bahwa itu haram, maka aku pun mengkafirkannya.
Aku nyatakan bahwa pengertian Islam jauh lebih luas ketimbang iman, tetapi tidaklah setiap muslim itu mukmin, dan aku pun yakin bahwa hati manusia berbolak-balik di antara (kekuasaan) dua jari Allah, sebagaimana bolak-baliknya langit dan bumi pun dalam genggaman-Nya; dan begirulah memang yang diriwayatkan dari Rasulullah saw.
Dan tidaklah aku mengklaim siapa pun di antara ahli tauhid . serta orang-orang mukmin itu mesti memasuki surga ataupun neraka, kecuali mereka yang benar-benar telah diberi kesaksian oleh Rasulullah saw jua. Sungguh, aku tetap memohon kiranya orang-orang Muslim yang berdosa dapat memasuki surga, sebab aku sangat mengkhawatirkan seandainya mereka mendapat siksaan neraka. Tetapi Allah niscaya pula mengeluarkan orang-orang mukmin dari neraka, setelah mereka diberi syafa'at oleh Rasulullah saw, sebagaimana riwayat-riwayat yang disampaikan dari beliau sendiri. Aku pun yakin bahwa siksa kubur serta (kebangkitan) alam mahsyar itu benar, bahwa timbangan (al-mizan) serta jalan (al-sbirath) itu benar, begitupun kebangkitan (kubur) setelah mati itu benar — di mana setelah itu Allah menempatkan orang-orang mukmin di suatu (tempat) pengadilan.
Sesungguhnya, keimanan itu yalah sesuatu yang bertambah ataupun berkurang, yang menaik ataupun menurun; dan tentang ini kita telah menerima banyak riwayat yang shahih dari Rasulullah saw, yang diriwayatkan oleh orang-orang yang terpercaya. Dan aku pun yakin bahwa kecintaan para ulama salaf itu, yang telah dipilih Allah SWT, begitu besarnya terhadap para sahabat Nabi saw. Mereka itulah orang-orang yang beliau sanjung, sebagaimana Allah menyanjung mereka; dan aku pun (insya Allah) selalu mengikuti pandangan-pandangan mereka itu.
Sungguh, kunyatakan bahwa Imam yang sah dan utama setelah Rasulullah saw adalah Abu Bakr al-Shiddig ra, yang telah dimuliakan Allah serta diperkenankan-Nya pula memerangi orang-orang murtad. Kaum Muslimin pun telah memberinya kepercayaan sebagai pemimpin, sebagaimana Rasulullah saw pernah memberinya kepercayaan memimpin shalat jamaah kaum Muslimin; dan kekhalifahannya kuyakini telah memperoleh sepakat (ijma’) para sahabat, yang juga menggelarinya sebagai Khalifah Rasul. Urutan khalifah setelahnya adalah "Umar ibn al-Khaththab ra, lalu 'Utsman ibn 'Affan ra — dalam hal ini aku mengklaim orang-orang zhalim yang membunuh "Utsman sebagai musuh-musuh Islam — dan, kemudian, ‘Ali ibn Abu Thalib ra. Adapun kepemimpinan para sahabat yang empat ini, setelahnya wafat Rasulullah saw, merupakan pengganti kenabian.
Aku bersaksi atas kebenaran masuknya sepuluh sahabat Rasulullah ke dalam surga, sebagaimana yang telah diberi kesaksian oleh beliau sendiri. Sungguh, kita wajib mengikuti jejak-langkah para sahabat Nabi, tanpa mencampuri pertentangan yang pernah terjadi di antara mereka; dan aku pun yakin bahwa keempat pemimpin tersebut merupakan khalifah-khalifah yang telah mendapat petunjuk (kbulafa‘ur-rasyidun), yang keutamaannya sebagai pemimpin tidak mungkin tertandingi pemimpin-pemimpin lain.
Dan aku pun membenarkan riwayat-riwayat yang telah dinisbatkan oleh para ahli, bahwa Allah SWT selalu turun dari langit (malam) ke dunia ini dengan memfirmankan ’adakah yang meminta?’ atau "adakah yang memohon ampun?’ Sesungguhnya, aku membenarkan apa pun yang dikutipkan atau dinisbatkan para ahli tersebut; dan hal ini tentu berlainan sangat dengan anggapan orang-orang sesat yang menyimpang itu, sebab mereka telah menakwilkan (isi) Kitabullah dan sunnah rasul-Nya dengan cara vang menyimpang dari kesepakatan ulama-ulama Muslim, bahkan telah melenceng jauh dari kandungan isinya.
Tidaklah aku menyada-adakan bid’ah, dalam agama Allah, dengan sesuatu yang tidak diizinkan-Nya; dan tidaklah aku menyatakan sesuatu, tentang Allah, dengan suatu yang tidak aku ketahui tentangnya. Aku pun menyatakan bahwa ‘Allah, di hari kiamat, niscaya datang menampakkan diri, sebagaimana firman-Nya: ''Dan datanglah Tuhanmu, sementara para malaikat pun berbaris-baris’’ (QS, al-Fajr, 89: 22). Bahkan aku yakin bahwa Allah kuasa mendekati hamba-Nya dengan kehendak-Nya, sebagaimana yang difirmankan-Nya: "Dan Kami lebih dekat kepadanya, ketimbang urat lehernya’’ (QS, Qaf, 50: 16); dan "*kemudian Dia mendekat dan bertambah dekat lagi. Maka, jadilah Dia sedekat (jarak) dua ujung busur panah atau bahkan lebih dekat lagi’ (QS, an-Najm, 53: 8-9).
Yang juga termasuk ajaran agdma Islam adalah shalat Jum’at, shalat kedua hari raya ‘led dan semua shalat wajib; dan aku memperbolehkan seseorang mendirikan shalat di belakang Imam yang shaleh ataupun tidak, sebab Ibn 'Umar ra pun pernah shalat di belakang al-Hajjaj (tangan-kanan Mu'awiyyah yang sangat zhalim). Adapun tentang mengusap kedua (ujung) sepata dalam wudhu, ketika bepergian ataupun tinggal di rumah, itu kutvatakan sebagai 'sunnat’ semata; dan hal ini, tentu, berlainan sangat dengan anggapan mereka yang mengingkarinya. Di samping itu merupakan sebagian dari ajaran Islam pula untuk memanjatkan doa bagi para pemimpin, yang kiranya mereka bertindak baik dan benar; dan kita pun ‘wajib mengakui kepemimpinan mereka, sebab orang-orang yang memberontaki para pemimpinnya — sekalipun mereka bertindak yang kurang baik — adalah termasuk orang-orang yang keliru. Sungguh, aku tidak membenarkan kekerasan senjata atau pembunuhan ketika terjadi fitnah (kerusuhan) apa pun.
Dan aku meyakini adanya Dajjal, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Rasulullah saw, bahkan meyakini adanya siksa kubur serta adanya Munkar dan Nakir vang menanyai orang-orang mati di dalam kuburnya. Aku pun membenarkan hadits tentang Isra’ dan Mi‘raj; dan mengabsahkan kebenaran sebagian takwil mimpi, di mana sebagian dari mimpi-mimpi itu memiliki penakwilan yang benar Bahkan aku membenarkan sedekah serta doa bagi orang-orang Muslim yang meninggal dunia, sebab Allah SWT niscaya memberi manfaat dengan itu semua. Aku pun membenarkan, sungguh, di dunia ini memang ada sihir-sihir dan tukang sihirnya, Dan aku pun mewajibkan shalat jenazah bagi seseorang Muslim yang meninggal dunia, baik dia itu shaleh ataupun tidak, bahkan aku membenarkan pembagian warisan-warisannya.
Aku pun menyatakan, sesungguhnya, surga dan neraka itu makhluk (ciptaan) Allah; dan orang-orang yang meninggal dunia ataupun terbunuh itu menerima takdirnya berdasarkan suatu ketentuan yang pasti. Bahkan tentang rezki yang halal ataupun haram, yang diperoleh manusia, itu berasal dari Allah jua; dan berbeda dengan anggapan kaum Mu'tazilah ataupun Jahamiyyah, aku mengakui bahwa setan mampu menghasut dan menyeret manusia agar ragu-ragu, sebagaimana yang difirmankan-Nya: "Orang yang memakan riba itu tidaklah berdiri, kecuali sebagaimana berdirinya orang-orang yang kemasukan setan lantaran kegilaannya’’ (QS, al-Baqarah, 2:275); dan '’dari kejahatan bisik-bisik setan yang bersembunyi, yang membisik-bisikkan kejahatan ke dalam relung dada manusia, dari golongan jin dan manusia” (QS, an-Nas, 114:4-6). Dan aku pun menyatakan bahwa orang-orang shaleh memiliki suatu kekhususan yang berupa (kebenaran) firasat, yang diberikan Allah kepadanya.
Tentang anak dari orang-orang musyrik, yang mati ketika masih kanak-kanak, aku yakin bahwa mereka niscaya masuk neraka, di mana Allah memfirmankan 'masuklah kalian ke sana’, sebagaimana riwayat-riwayat yang kita terima. Aku yakin bahwa Allah itu Maha Tahu atas apa pun yangada dalam diri hamba-Nya, atas takdir yang dialaminya — baik yang telah, yang sedang dan yang akan terjadi ataupun tidak. Di samping itu memang kita wajib saling menasehati di antara sesama Muslim, menaati para pemimpin; dan pandangan-pandangan kita tersebut, tentu, berlainan sangat dengan anggapan para pembuat bid’ah serta orang-orang yang memperturutkan hawa-nafsunya semata.
« Prev Post
Next Post »