Filsafat Praktis
Menurut Tusi, perintah-perintah Al-Quran diberikan kepada manusia sebagai seorang individu, sebagai anggota keluarga, dan sebagai penghuni kota atau negara. Pembagian menjadi tiga kedudukan itu dengan jelas menggambarkan pembagian filsafat praktis menjadi etika, rumah tangga dan politik, yang dilakukan oleh para ahli pikir Muslim. Hal yang sama berlaku pula isi ilmu-ilmu ini; tapi di kemudian hari disiplin-disiplin ini diperluas dengan sungguh-sungguh di bawah pengaruh Plato dan Aristoteles. Perkataan Shustery bahwa “etika merupakan satu-atunya subyek di mana Timur tidak menerima Barat,” dan bahwa “satu-satunya pengaruh yang dapat dibawa dari Barat ke Timur dalam hubungannya dengan subyek ini adalah metode ilmiah,” lebih benar dalam hal masalah rumah tangga dan politik, yang di dalamnya pengaruh Yunani paling sedikit ditemukan daripada dalam hal etika.
Psikologi
Tusi membuka karangannya, bukan dengan mengemukakan bukti mengenai eksistensi jiwa, tapi dengan mengemukakan asumsi bahwa jiwa merupakan suatu realitas yang bisa terbukti sendiri, dan karena itu tidak memerlukan lagi bukti lain. Lagi pula jiwa, tidak bisa dibuktikan. Dalam masalah semacam ini, pemikiran yang lepas dari eksistensi orang itu sendiri merupakan suatu kemustahilan adanya seorang ahli argumen dan seluruh masalah untuk diargumentasi, sedangkan dalam hal ini keduanya sama, yaitu jiwa.
SIFAT JIWA
Jiwa merupakan substasi sederhana dan immaterial yang dapar merasa sendiri. Ia mengontrol tubuh melalui otot-otot dan alat-alat perasa, tapi ia sendiri tidak dapat dirasa lewat alat-alat tubuh. Setelah menyebutkan argumentasi ibn Miskawaih mengenai jasmaniah jiwa dari sifatnya yang tak dapat dibagi, kemampuannya untuk membuat bentuk-bentuk baru tanpa kehilangan bentuk-bentuknya yang lama, pemahamannya akan bentuk-bentuk yang bertentangan pada waktu yang sama, dan pembetulannya akan ilusi-rasa, Tusi menambahkan dua argumentasinya sendiri. Penilaian atas logika, fisika, matematika, teologi dan sebagainya, dan dapat diingat dengan kejelasan yang khas, yang mustahil ada di dalam suatu substansi material; oleh karena itu, jiwa merupakan suatu substansi immaterial.
Lagi pula, akomodasi fisik itu terbatas, sehingga seratus orang tidak dapat ditempatkan did alam sebuah tempat yang dibuat untuk limapuluh orang, hal ini tidak berlaku bagi jiwa. Dapat dikatakan bahwa jiwa mempunyai cukup kemampuan untuk menempatkan semua gagasan dan konsep obnyek-obyekk yang dikenalnya ke dalam banyak ruang agar siap pada waktu diperlukan. Ini juga membutkikan bahwa jiwa merupakan suatu substansi yang sederhana dan immaterial.
Dalam ungkapan umum “kepalaku, mataku, telingaku,” kata “ku” menunjukkan idividualitas (huwiyyah) jiwa, yang memiliki anggota-anggota tubuh ini, dan bukan jasmaniahnya. Memang jiwa memerlukan tubuh sebagai alat penyempurnaan dirinya, tapi ia tidak begitu dikarenakan pemilikannya akan tubuh.
INDERA-INDERA JIWA
Kepada jiwa vegetatif, hewani dan manusiawi yang dikemukakan oleh para pendahulunya, al-Tusi menambahkan jiwa imajinatif yang menempati posisi tengah di antara jiwa hewani dan manusiawi. Jiwa manusiawi ditandai dengan adanya akal (nutq) yang menerima pengetahuan dari akal pertama. Akal itu ada dua jenis : akal teoritis dan akal praktis, sebagaimana dikemukakan oleh Aristoteles. Dengan mengikuti pendapat Kindi, Tusi berangggapan bahwa akal teoritis merupakan suatu potensialitas, yang perwujudannya mencakup empat tingkatan. Yaitu akal material (‘aql-i hayulani), akal malaikat (‘aql-i malaki), akal aktif (‘aql-i bi al-fi’i), dan akal yang diperoleh ( (‘aql-i mustafad). Pada tingkatan akal yang diperoleh setiap bentuk konseptual yang terdapat di dalam jiwa menjadi nyata terlihat, seperti wajah seseorang yang ada di dalam kaca dapat dilihat oleh orang tersebut. Di lain pihak, akal praktis berkenaan dengan tindakan-tindakan yang tak sengaja dan yang sengaja. Oleh karena itu, potensialitasnya diwujudkan lewat tindakan-tindakan moral, kerumahtanggan dan politis.
Jiwa imajinatif berkenaan dengan persepsi-persepsi rasa di satu pihak. Dan dengan abstraksi-abstraksi rasional di pihak lain, sehingga jika ia disatukan dengan jiwa hewani maka ia akan menjadi tergantung kepadanya dan hancur bersamanya. Tetapi jikakalau ia dihubungkan dengan jiwa manusia, ia menjadi terlepas dari anggota-anggota tubuh dan ikut bergembira atau bersedih bersama jiwa itu dengan kekekalannya. Setelah keterpisahan jiwa dari tubuh, maka jejak imajinasi tetap berada dalam bentuknya, dan hukuman atau penghargaan jiwa manusiawi menjadi ebrgantung kepada jejak ini (hai’at) yang dikenal atau dilakukan oleh jiwa imajinatif di dunia ini.
Imajinasi sensitif dan kalkulatif Aritoteles jelas merupakan struktur jiwa imajinatif Tusi, tapi tindakannya menghubungkan jiwa imajinatif dengan teori hukum dan penghargaan yang berbelit-belit di akhir merupakan gagasannya sendiri.
Sedangkan mengenai tradisi yang diterimanya dari ibn Sina dan Ghazali, Tusi mempercayai lokalisasi fungsi di dalam otak. Dia telah menempatkan akal sehat (hiss-i mushtarak( dalam ruang otak yang pertama, persepsi (mushawwirah) di awal bagian pertama ruang otak yang kedua, imajinasi di bagian depan ruang otak yang ketiga, dan ingatan di bagian belakang otak.
Politik
Karya Farabi Siyasah al-Madinah dan Ara’ Ahl al-Madinah al-Fadhilah adalah upaya pertama untuk merumuskan secara filosofis teori politik di dunia Muslim. Dia menggunakan istilah ‘ilm al-madani, baik dalam arti ilmu kemasyarakatan maupun ilmu pemerintahan. Dengan mengikuti pendapatnya, Tusi juga memakai istilah siyasat-i mudum dalam dua arti tersebut. Sebenarnya, sikapnya terhadap masyarakat negara (tamaddun), kelompok sosial dan kota terutama berasal dari pandangan Farabi tentang hal itu.
Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Untuk memperkuat sikapnya, Tusi mengacu pada istilah insan, sebuah kata Arab yang berarti manusia, yang secara hurufiah berarti orang yang suka berkumpul dan berhubungan. Karena kemampuan alamiah untuk berteman itu (uns-i thaba’i) merupakan ciri khas manusia, maka kesempurnaan manusia dapat dicapai dengan menunjukkan sepenuhnya watak ini terhadap sesamanya. Peradaban merupakan nama lain dari kesempurnaan ini. Inilah sebabnya Islam menekankan keutamaan shalat berjamaah.
Kata tamaddun berasal dari kata madinah (kota) yang bermakna kehidupan bersama manusia yang memiliki pekerjaan yang berbeda-beda dengan tujuan saling membantu dalam memenuhi kebutuhan mereka. Karena tak satu manusia pun bisa mencukupi dirinya sendiri, maka setiap orang membutuhkan bantuan dan kerjasama orang lain. Keinginan setiap manusia berbeda-beda dan begitu juga dengan dorongan yang membuat manusia mau bekerjasama. Beberapa orang bekerjasama demi kesenangan; beberapa yang lain demi keinginan untuk mendapatkan keuntungan; dan beberapa lagi bertujuan demi kebaikan dan kebajikan. Perbedaan sebab-sebab kerjasama itu mendorong timbulnya pertentangan minat yang bisa mengakibatkan terjadinya penyerangan dan ketidak adilan. Dengan begitu maka diperlukan pemerintahan untuk membuat setiap orang merasa puas dengan haknya tanpa melanggar hak orang lain. Oleh karena itu, pelaksanaan keadilan merupakan fungsi utama pemerintahan, yang harus dipimpin oleh seorang raja yang adil, yang menjadi penengah kedua setelah hukum-hukum Tuhan. Dia boleh saja melaksanakan kebijaksanaan kerajaan menurut waktu dan keadaan, tapi ini pun harus sesuai dengan prinsip-prinsip umum hukum Tuhan. Raja semacam itu, menurut kesimpulan Tusy, merupakan wakil Tuhan di bumi, dan merupakan dokter bagi kekerasan dunia.
Dia harus memiliki latar belakang keluarga yang terhormat, bercita-cita tinggi, adil dalam menilai, teguh pendirian, kukuh dalam menghadapi kesulitan, lapang dada dan memiliki sahabat-sahabat yang berbudi baik. Tuga pertamanya dan paling utama adalah mengukuhkan Negara dengan menciptakan rasa cinta di antara kawan-kawannya dan kebencian di antara musuh-musuhnya, juga dengan meningkatkan kesatuan antar sarjana, prajurit, petani dan pedagang – empat kelompok yang ada di dalam negara.
Kemudian Tusi menetapkan prinsip-prinsip etika perang sebagai petunjuk bagi para penguasa. Musuh tidak boleh dianggap enteng, serendah apapun dia, tapi perang juga harus dihindari sedapat mungkin, lewat muslihat-muslihat diplomatis sekalipun, tanpa harus melakukan penghianatan. Tapi jika pertentangan tak terelakkan lagi, maka serangan harus dilakukan atas nama Tuhan dan dengan persetujuan seluruh anggota pasukan. Pasukan harus dimpimpin oleh seseorang yang memiliki semangat yang hebat, penilaian yang adil, dan pengalaman di medan perang. Tusi terutama menekankan agar dinas rahasia selalu waspada terhadap gerak musuh.
Lagi pula, diplomasi menuntut agar musuh-musuh itu, selagi memungkinkan, dijadikan tawanan perang bukannya dibunuh, dan tidak boleh ada pembunuhan setelah kemenangan tercapai, sebab pengampunan lebih pantas diberikan oleh seorang raja daripada balas dendam. Dalam masalah pertahanan, musuh harus dikejutkan dengan serangan atau sergapan mendadak, asalkan kedudukannya cukup kuat; kakau tidak, maka tak boleh ada waktu terbuang percuma hanya untuk menggali parit, membangun benteng atau bahkan menyelenggarakan perundingan damai dengan jalan menawarkan kekayaan dan menggunakan saluran diplomatik.
Tusi yang menjabat sebagai wazir Hulagu, sangat waspada terhadap perubahan pemerintahan kerajaan menjadi despotisme penuh, karena itu dia menasehatkan agar para pembantu raja tidak berusaha menghubungi mereka, sebab dengan menjadi teman mereka tidak lebih daripada berurusan dengan api. Tidak ada jabatan yang lebih membahayakan daripada menteri raja, dan menteri tidak memiliki pelindung yang lebih kuat untuk melawan rasa cemburu Dewan dan tingkah-tingkah aneh keningratannya daripada sifat yang layak dipercaya. Menteri harus menjaga rahasia yang dipercayakan kepadanya dan tidak boleh mencari tahu mengenai hal-hal yang bukan urusannya. Tusy sangat dihormati oleh pemimpin Mongol, meski begitu dia menyetujui pendapat ibn Muqna bahwa semakin dekat seseorang kepada raja, haruslah semakin besar rasa hormatnya terhadap raja sehingga bila raja memanggilnya dengan sebutan ‘saudara; maka dia harus memanggilnya dengan sebutan “tuan”.
Ilmu Rumah Tangga
Dengan menyatakan rasa berhutangnya terhadap ibn Sina, Tusi mendefinisikan rumah (manzil) sebagai hubungan istimewa antara suami dan istri, orangtua dan anak, tuan dan hamba serta kekayaan dan pemiliknya. Tujuan ilmu rumah tangga (tadbir-i manzil) adalah mengembangkan sistem disiplin yang mendorong terciptanya kesejahteraan fisik, sosial dan mental kelompk utama ini, dengan ayah sebagai pemegang kendalinya. Fungsi ayah adalah menjaga dan memperbaiki keseimbangan keluarga.
Kekayaan diperlukan guna mencapai tujuan-tujuan pokok pemeliharaan-diri serta pemeliharaan keturunan. Untuk memperolehnya, Tusi menyarankan agar manusia bekerja secara terhormat dan mencapai kesempurnaan dalam pekerjaan itu, tanpa melaksanakan ketidakadilan, kekejian ataupun kekejaman. Penataan rambut dan pembersihan sampah, tak diragukan lagi, merupakan pekerjaan yang menjijikan tapi diperlukan demi kelayakan sosial.
Tusi menganggap menabung harta sebagai tindakan yang bijaksana, asalkan hal itu tidak didorong oleh sifat tamak dan kikir, dan tidak mendatangkan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga atau mengundak resiko bagi keutuhan dan harga diri seseorang did alam masyarakat. Mengenai kelayakan, secara umum dia membela sikap menengah. Orang tak perlu mengeluarkan harta kalau hal itu menimbulkan keberlebihan, keberpameran, kesalahhitungan dan kepelitan.
Bukan kepuasan syahwat, tapi keayahan dan perlindungan atas milikanlah yang menjadi pokok perkawinan. Itelegensi, integritas, kemurnian, kesederhanaan, kecerdasan dankelembutan hati, dan terlebih, kepatuhan terhadap suami merupakan sifat-sifat yang harus ada pada diri seorang istri. Memang baik kalau si istri memiliki keterhormatan, kekayaan serta kecantikan, tapi semua ini menjadi tidak berarti kalau tidak dibarengi dengan intelegensi, kesederhanaan dan kemurnian.
Kesejahteraan mengharuskan suami memiliki banyak gagasan. Dia boleh saja baik dan bermurah hati terhadap istrinya, tapi kalau sudah menyangkut masalah-masalah yang lebih luas dari rumah tangganya, dia harus menghindar dari kecintaannya yang berlebihan, tidak boleh membuka rahasia serta membicarakan masalah-masalah penting dengannya. Poligami tidak dikehendaki sebab hal itu bisa mendatangkan kekacauan dalam rumah tangga. Wanita pada dasarnya lemah pikiran dan secara psikologis cemburu terhadap pasangan lain suaminya dalam merebut cinta dan kekayaannya. Dengan berat hati Tusi memberikan kelonggaran poligami kepada para raja, sebab mereka memerintahkan kepatuhan tanpa syarat, tapi sebagai langkah yang bijaksana mereka disarankan agar menghindari hal itu. Laki-laki bagi keluarga sama dengan jantung bagi tubuh, dan karena satu hati tidak dapat menghidupi dua tubuh, maka begitu juga seorang laki-laki tidak dapat mengurus dua keluarga. Sedemikian suci kehidupan rumah tangga di mata Tusi sampai-sampai dia menyarankan agar jangan kawin kalau tidak mampu menjaga keseimbangan keluarga.
Mengenai disiplin anak-anak, Tusi juaga mengikuti pendapat ibn Miskawaih, memulai dengan penanaman moral yang baik lewat pujian, hadiah dan celaan yang halus. Dia tidak emnyukai celaan yang sering diucapkan serta teguran terbuka; celaan yang sering diucapkan akan meningkatkan godaan, sedang teguran terbuka akan mengundang kebencian. Setelah memberi mereka aturan-aturan makan, berpakaian, bercakap-cakap, bersikap dan tatacara bergaul dalam masyarakat, anak-anak harus dilatih untuk memeilih pekerjaan yang sesuai dengan mereka. Anak perempuan harus dilatih menjadi istri serta ibu yang baik dalam rumah tangganya nanti.
Tusi menutup pembahasan ini dengan menekankan sekali pemerhatian hak-hak orang tua, sebagaimana ditetapkan oleh Islam. Secara psikologis, anak-anak baru bisa menyadari hak-hak ayahnya, setelah mereka mencapai usia yang membuat mereka bisa membeda-bedakan sesuatu, sedangkan mengenai hak-hak ibunya, mereka telah melihat dengan jelas sejak awal sekali. Dari sini Tusi berkesimpulan bahwa hak-hak ayah terutama bersifat mental,s edangkan hak-hak itu bersifat fisik. Jadi dari ayahnya seseorang merasa berutang karena pengabdian tanpa pamrih san ayah, dan dari ibunya karena disediakan makanan, pakaian dan kenyamanan-kenyamanan fisik lainnya.
Terakhir, pelayan bagi sebuah keluarga sama artinya dengan tangan dan kaki bagi manusia. Tusi menyarankan agar ia diperlakukan dengan baik, sehingga ia merasa tergugah untuk menyamakan sikapnya dengan sikap majikannya. Tujuan utamanya ialah agar ia melayani tuannya atas dasar cinta, penghormatan danpengharapan, dan bukan karena kebutuhan, paksaan atau ketakutan, yang membuat ketidaknyamanan di dalam rumah tangga.
Ringkasnya, bagi Tusi, rumah adalah pusat kehidupan keluarga. Pemasukan, tabungan, pengeluaran dan disiplin istri, anak serta pelayan, semuanya merupakan pencipta kesejahteraan keluarga.
« Prev Post
Next Post »