Fariduddin Attar dikenal sebagai salah satu penulis besar Persia, namun karya-karyanya telah menjadi milik dunia, dikaji di dunia timur dan barat. Attar tidak hanya memengaruhi para tokoh muslim klasik seperti Jalaluddin Rumi (penulis magnum opus Fihi Ma Fihi), tetapi juga menginspirasi popular culture di era modern, khususnya di bidang musik.
Salah satu karya besar Attar adalah Tadzkiratul Auliya—sebuah hagiografi atau riwayat hidup orang-orang suci—yang ringkasannya sedang di tangan Anda ini. Buku ini memuat cerita-cerita spiritual para tokoh sufi populer, kisah-kisah ajaib mereka yang syarat hikmah, dan anekdot-anekdot mereka yang menggelitik namun tetap memiliki kedalaman makna. Mulai dari Hasan al-Bashri, Ibrahim bin Adham, Dzun-Nun al-Mishri, Hatim al-Asham, Sufyan al-Tsauri, al-Muhasibi, Maruf al-Karkhi, hingga tokoh kontroversial al-Hallaj, serta tokoh-tokoh populer lain. Dan, Tadzkiratul Auliya ini disebut-sebut menjadi referensi utama informasi tentang sufi besar wanita Rabiah al-Adawiyah yang legendaris itu.
Tadzkiratul Auliya disusun Attar agar kita tak melupakan mereka: para wali Allah itu, orang-orang saleh yang hidupnya memperkaya kehidupan spiritual kita, yang mempersembahkan hidupnya untuk Sang Khalik dan segenap makhluk, yang sangat mencintai Allah dan Rasulullah dan dicintai segenap umat manusia. Mengenal dan meneladani orang-orang saleh itu semoga menjadi wasilah tamba ati, obat hati, dari penyakit-penyakit yang memperkeruh spiritual kita.
Inilah karya yang layak menjadi abadi dalam literatur Islam dan dunia.
Judul Buku : Tadzkiratul Auliya
Judul Asli : Muslim Saints and Mystics: Episodes from the Tadhkirat al-Auliya' (Memorial of the Saints)
Penulis : Fariduddin Attar
Tebal Buku : 364 Halaman
Cetakan : Cetakan I, Juni 2015
Penerbit : Yogyakarta, Penerbit Titah Surga
KATA PENGANTAR
Dunia sufisme mengenal banyak cerita mistis, sebagian dari cerita itu termuat dalam kitab Tadzkiratul Auliya' (Kenangan Para Wali) ini. Buku ini ditulis Fariduddin Attar dalam bahasa Persia, meskipun judulnya ditulis dalam bahasa Arab. Selain berarti kenangan, kata tadzkirah dalam bahasa Arab juga berarti pelajaran. Sehingga Tadzkiratul Auliya' berarti pelajaran yang diberikan oleh para wali atau guru sufi.
Tradisi mengajar melalui cerita sudah lama ada dalam kebudayaan Persia. Jalaluddin Rumi mengajarkan tasawuf melalui cerita dalam kitabnya Matsnawi. Penyair sufi Persia yang lain, Sa'di, juga menulis Gulistan (Taman Mawar), yang berisi cerita-cerita penuh pelajaran. Demikian pula Hafizh dan beberapa penyair lain. Tradisi bertutur menjadi salah satu pokok kebudayaan Persia.
Kebudayaan Islam Indonesia juga mengenal tradisi bercerita. Islam yang pertama datang ke Nusantara adalah Islam yang dibawa oleh orang-orang Persia lewat jalur perdagangan sehingga metode penyebaran Islam juga dilakukan dengan bercerita. Mereka menggunakan wayang sebagai media dakwah Islam.
Attar menjelaskan mengapa ia menulis buku yang berisi cerita kehidupan para wali (sufi). Alasannya karena Al-Ouran pun mengajar dengan cerita-cerita. Surat Yusuf, misalnya, lebih dari sembilan puluh persen isinya merupakan cerita. Terkadang Al-Quran membangkitkan keingintahuan kita dengan cerita: Tentang apakah mereka saling bertanya? Tentang cerita yang dahsyat, yang mereka perselisihkan (QS. An-Naba: 1-3).
Bagian awal dari surat Al-Kahfi bercerita tentang para pemuda yang mempertahankan imannya; Ingatlah ketika pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa: Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami ini (QS. Al-Kahfi: 10). Surat ini dilanjutkan dengan kisah pertemuan Nabi Musa dan Nabi Khidhir, diteruskan dengan riwayat Zulkarnain, dan diakhiri oleh cerita Rasulullah SAW.
Demikian pula surat setelah Al-Kahfi, yaitu surat Maryam, yang penuh cerita; Dan kenanglah kisah Maryam dalam Al-Quran. Ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke satu tempat di sebelah timur (QS. Maryam: 16). Al-Quran memakai kata udzkur yang selain berarti “ingatlah” atau “kenanglah” juga berarti “ambillah pelajaran.” Attar mengikuti contoh Al-Quran dengan menamakan kitabnya Tadzkiratul Auliya'.
Alasan lain mengapa cerita para wali itu dikumpulkan Attar adalah karena ia ingin mendapat keberkahan dari mereka. Dengan menghadirkan para wali (sufi), kita memberkahi diri dan tempat sekeliling kita. Sebuah hadis menyebutkan bahwa di dunia ini ada sekelompok orang yang amat dekat dengan Allah SWT. Bila mereka tiba di suatu tempat, karena kehadiran mereka, Allah selamatkan tempat itu dari tujuh puluh jenis bencana. Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah mereka itu dan bagaimana mereka mencapai derajat itu?” Nabi yang mulia menjawab, “Mereka sampai ke tingkat yang tinggi itu bukan karena rajinnya mereka ibadah. Mereka memperoleh kedudukan itu karena dua hal; ketulusan hati mereka dan kedermawanan mereka pada sesama manusia.”
Itulah kepribadian para wali (sufi). Mereka adalah orang yang berhati bersih dan suka membantu sesama. Wali (sufi) adalah makhluk yang hidup dalam paradigma cinta dan mereka ingin menyebarkan cinta itu pada seluruh makhluk di alam semesta. Attar yakin bahwa kehadiran para wali (sufi) akan memberkahi kehidupan kita, baik kehadiran mereka secara jasmaniah maupun kehadiran secara ruhaniah.
Sayangnya, sekarang ini kita sukar berjumpa dengan orang-orang shalih secara jasmaniah. Kita sulit menemukan waliyullah di tengah kita, untuk kita ambil hikmah dari mereka. Oleh karena itu, Attar menuliskan kisah-kisah para wali (sufi) yang telah meninggal dunia. Attar memperkenalkan mereka agar kita bisa mengambil hikmah dari mereka. Seringkali kita juga lebih mudah untuk mendapatkan pelajaran dari cerita-cerita sederhana ketimbang uraian-uraian panjang yang ilmiah.
Ini adalah karya utama penyair Persia abad ketiga belas, Fariduddin Attar, di bidang mistisisme Islam. Narasi Attar secara halus menggambarkan perbuatan, mukjizat dan anekdot yang mengungkap sifat yang berbeda dari tiap pendekatan manusia terhadap pemenuhan hal-hal mistis. Kisah-kisah dalam buku ini secara tidak langsung juga menyajikan perkembangan ajaran para wali (sufi) pada masa-masa awal kemunculannya.
Tadzkiratul Auliya’ merupakan sumber informasi yang sangat berharga tentang para wali (sufi) pada masa awal. Dari sudut pandang gagasan, tema dan gaya sastra, pengaruh karya Attar itu sangat dirasakan tidak hanya dalam sastra Persia tetapi juga dalam literatur Islam lainnya. Karya prosa monumental ini berisi ringkasan biografi wali (sufi) yang terkenal di Persia.
Namun, aspek yang paling penting dari pemikiran Attar terletak pada kenyataan bahwa semua karya-karyanya ternyata dikhususkan untuk tasawuf. Dari seluruh karya asli yang terkumpul itu, bahkan tidak ada satu ayat yang tidak mengandung warna mistis. Pada kenyataannya, Attar mendedikasikan seluruh keberadaan sastra untuk tasawuf.
Fariduddin Attar dianggap sebagai salah satu penyair mistis terkemuka dari tradisi sastra Persia. Usia hidupnya tidak pasti, meskipun ia bisa ditempatkan pada abad kedua belas dan ketiga belas yang lahir di Nishapur, masuk wilayah Iran saat ini.
Menurut tulisan-tulisannya sendiri, tasawuf itu dimaksudkan untuk menjadi pencarian spiritual manusia menuju penyatuan dengan Tuhan. Pencarian ini sepanjang sejarah telah mengambil banyak bentuk, tapi bagi Attar itu cukup spesifik. Menurut Attar, ziarah spiritual manusia membawa dia melalui tujuh lembah berturut-turut. Pertama adalah “Lembah Pengembaraan kemudian “Lembah Cinta’, ‘Lembah Pengetahuan’, kemudian ‘Pelepasan’, ‘Penyatuan’, 'Ketakjuban' dan akhirnya ‘Lembah Peniadaan Dir? bisa tercapai. Ini adalah maqam tertinggi kesatuan ilahi dengan Tuhan. Tasawuf itu dimaksudkan untuk menjadi upaya manusia yang mencakup segala aspek kehidupan dalam bingkai pikiran agama.
Dalam buku ini termuat riwayat dan pemikiran tiga puluh delapan wali (sufi) yang mungkin saja sebagiannya belum dikenal masyarakat. Diterbitkan dan dinarasikan dalam gaya yang sangat menarik, sehingga untuk alasan ini pembaca akan menemukan minat dan perhatian terhadap ajaran tasawuf.
« Prev Post
Next Post »