Kamis, 19 Desember 2024

Makna Simbol-Simbol di Al-Quran

Katakanlah kepada kaum Mu'tazilah: Allah berfirman, "Alif-lam-mim. Kitab (al-Gur'an) ini tiada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi mereka yang tagwa” (OS, al-Bagarah, 2:1-2). Masalahnya, bukankah ayat ini menjelaskan bahwa al-Gur'an itu merupakan petunjuk bagi orang-orang yang tagwa? Tentu pertanyaan ini tidak bisa tidak mesti dijawab, ya! Lantas katakanlah kepada mereka: Bukankah Allah menegaskan pula bahwa orang-orang kafir itu gelap dari melihat al-Gur'an, sebagaimana yang difirmankannya, "Dan orang-orang yang tidak beriman itu pada telinga mereka ada sumbat, sementara al-Our'an ini suatu kegelapan bagi mereka” (OS, Fushshilat, 41:44). Maka pertanyaan ini pun tidak bisa tidak mesti dijawab, ya! Lalu katakan lagi kepada mereka: Apakah mungkin Allah memberitahukan seseorang bahwa al-Our'an itu merupakan petunjuk dan juga kegelapan baginya? Tentu pertanyaan ini tidak bisa tidak mesti dijawab, tidak! Maka katakanlah kepada mereka: Seperti ketidakmungkinannya al-Gur'an itu merupakan suatu kegelapan bagi orang-orang yang telah dinyatakan Allah kepadanya bahwa al-Our'an itu merupakan petunjuk, maka tidak mungkin pula al-Gur'an itu merupakan suatu petunjuk bagi orang-orang yang telah dinyatakan Allah kepadanya bahwa al-Our'an itu merupakan kegelapan.

MASALAH :

Lantas kukatakan kepada mereka: Apabila seruan Allah pada keimanan itu dapat dikatakan sebagai petunjuk bagi orang yang menerimanya dan juga bagi yang tidak menerimanya, maka mengapa anda tidak mengakui bahwa bisikan Iblis pada kekufuran itu pun dapat dikatakan sebagai kegelapan bagi orang yang menerimanya dan juga bagi yang tidak menerimanya? Dan kalau bisikan Iblis pada kekufuran itu hanya merupakan kegelapan bagi orang-orang kafir yang menerimanya, tidak bagi orang-orang mukmin yang menolaknya, maka mengapa anda tidak mengakui bahwa seruan Allah kepada keimanan itu hanya merupakan petunjuk bagi orang-orang mukmin yang menerimanya, tidak bagi orang-orang kafir yang menolaknya? Tetapi, kalau tidak demikian, maka apa bedanya antara petunjuk dan kegelapan?

MASALAH YANG LAIN :

Kukatakan kepada mereka: Bukankah Allah berfirman, "Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah” (OS, al-Bagarah, 2:26). Masalahnya, bukankah ayat ini menegaskan bahwa Dia tidak menyesatkan seluruh ummat manusia? Sebab, kalau Dia bermaksud menyesatkan keseluruhan, tentu Dia berfirman, "Dengan perumpamaan itu mereka semua disesatkan Allah”. Dengan berfirman sepertiungkapan kalimat dalam ayat tadi, Dia memberitahukan kita bahwa Dia tidak menyesatkan seluruh ummat manusia. Dan pernyataan ini tidak bisa tidak mesti dijawab, ya! Lantas kukatakan lagi kepada mereka: Mengapa pula anda tidak mengakui bahwa (sambungan) firman-Nya, Dan dengan perumpamaan itu banyak orang yang diberi-Nya petunjuk” (OS, al-Bagarah, 2:26), itu menegaskan bahwa Dia pun tidak bermaksud menunjuki seluruh ummat manusia? Sebab, kalau Dia bermaksud menunjuki keseluruhan, tentu Dia berfirman, "Dan dengan perumpamaan itu mereka semua diberi-Nya petunjuk”. Dengan berfirman seperti ungkapan kalimat dalam ayat ini, Dia memberitahukan kita bahwa Dia tidak menunjuki seluruh ummat manusia, dan anggapan anda, bahwa Allah memberi petunjuk kepada segenap makhluk, jelas tidak dapat dibenarkan.

MASALAH YANG LAIN :

Kalau anda mengatakan bahwa seruan Allah pada keimanan itu merupakan petunjuk bagi orang-orang kafir yang tidak mau menerima petunjuk-Nya, maka mengapa anda tidak mengakui bahwa seruan Allah pada keimanan itu pun merupakan manfaat, sejahtera dan petunjuk pula bagi orang-orang kafir yang tidak mau menerima petunjuk-Nya tersebut: dan juga mengapa anda tidak mengakui bahwa Dia memelihara mereka dari kekufuran, sekalipun mereka tidak terpelihara dari kekufuran? Mengapa anda tidak (sekaligus) mengakui bahwa Dia memberi taufig kepada mereka agar mereka mau beriman, sekalipun mereka tidak mau menerima taufig untuk beriman? Sungguh, dalam hal ini tidaklah Allah mesti memberi petunjuk kepada orang-orang kafir, tidak pula mesti memberi sejahtera, taufig ataupun memelihara agar mereka mau beriman. Kalau mereka adalah orang-orang kafir, maka petunjuk tersebut tidak dapat diberikan kepadanya, sebab orang-orang kafir itu tidaklah diperhatikan Allah. Jadi, bagaimana mungkin mereka mendapat petunjuk untuk beriman, sementara mereka tidak diperhatikan Allah? Apabila mungkin orang-orang kafir itu mendapat petunjuk untuk beriman, mengapa anda tidak mengakui bahwa keimanan itu merupakan sesuatu yang layak baginya: dan apabila hal itu mungkin dibenarkan, mengapa pula anda tidak mengakui bahwa apa yang anda katakan tadi tidak dapat dibenarkan.

MASALAH KESESATAN (DHALLAH)

Apakah Allah menyesatkan orang kafir itu dari keimanan atau dari kekufuran? Kalau mereka menjawab: Allah menyesatkannya dari kekufuran. Maka kukatakan kepada mereka: Bagaimana mungkin dia tersesat dari kekufuran dan terhindar darinya, sementara mereka adalah orang-orang kafir? Tetapi kalau mereka menjawab: Allah menyesatkannya dari keimanan. Berarti mereka telah meninggalkan anggapannya semula. Dan kalau mereka menjawab: Allah menyesatkannya dan juga tidak menyesatkannya dari sesuatu pun. Maka katakanlah kepada mereka: Kalau begitu, apa bedanya anda dengan mereka yang beranggapan bahwa orang-orang mukmin itu ditunjuki dan juga tidak ditunjuki pada sesuatu pun oleh Allah? Sekiranya Dia mustahil menunjuki orang-orang mukmin tidak pada keimanan, maka mengapa anda tidak mengakui bahwa Dia pun mustahil menyesatkan orang-orang kafir tidak dari keimanan?

MASALAH :

Tanyakanlah kepada mereka: Apakah pengertian yang terkandung dalam firman Allah, "Dan Allah menyesatkan orang-orang zhalim” (OS, Ibrahim, 14:27). Kalau mereka menjawab: Pengertiannya adalah Dia menamai mereka sebagai orang-orang sesat dan menetapkan mereka dalam kesesatan. Katakanlah kepada mereka: Bukankah Allah menasehati orang-orang Arab dengan mempergunakan bahasa mereka? Perhatikan saja firman-Nya, Dengan bahasa Arab yang nyata” (OS, asy-Syu'ara, 26:195): dan ''Kami tidaklah mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya” (OS, Ibrahim, 14:4). Maka mereka pun tidak bisa tidak mesti menjawab, ya! Lantas katakan lagi kepada mereka: Bahkan Allah menurunkan al-Qur'an dengan bahasa Arab, maka dari mana pula anda mengartikan (semisalkan) kalimat bahasa Arab أَضَلُّ فُلَانَا ضَلَالًا ini (yang mestinya berarti, si Fulan 'menyesatkan' Fulanan) sebagai سَمَّاهُ ضَالًّا pula (yang jadinya berarti, menamainya sebagai orang yang sesat)? Kalau mereka menjawab: Kami mengartikan demikian, sebab kami pun mendengar seseorang yang mengatakan رَجُلٌ لِرَجُلٍ ضَالٌّ ini diartikan sebagai ضَلَّلَهُ pula. Maka kukatakan pula kepada mereka: Bahkan aku seringkali mendengar orang-orang Arab yang sekiranya mereka bermaksud menamai sescorang sebagai orang yang sesat, maka mereka menyebut ضَلَّلَ فُلَانٌ فُلَانًا kepadanya, tidak أضَلَّ فُلَانٌ فُلَانًا tersebut. Karena itu sekiranya Allah memfirmankan يُضِلُّ اللهُ الظَّالِمِيْنَ semisalnya, tidak bisa ini diartikan sebagai menamai orang yang sesat dan menctapkannya dalam kesesatan. Nah, karena menurut uslub bahasa (idiom) Arab perkataan أضَلَّ فُلَانٌ فُلَانًا itu tidak bisa diartikan sebagai سَمَّاهُ ضَالًّا pula, maka tafsiran anda pun terhadap ayat di atas tidak dapat dibenarkan, sebab menyalahi kaidah bahasa Arab.

MASALAH :

Kukatakan kepada mereka: Kalau anda beranggapan bahwa pengertian Allah menyesatkan orang-orang kafir itu Dia menamai mereka orang-orang yang sesat, sementara pengertian serupa ini tidak terdapat dalam uslub bahasa Arab, maka sekiranya Nabi saw menamai orang-orang yang sesat atau rusak pun — pada suatu kaum — semestinya dia menyesatkan atau merusakkan mereka. Kalau hal ini tidak dapat anda terima, maka pengertian firman 'Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim' itu pun tidak pula dapat diterima sebagai 'menamai orang yang sesat dan menetapkannya dalam kesesatan."

JAWAB :

Maka kukatakan kepada mereka: Bukankah Allah berfirman, "Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, dia itulah yang mendapat petunjuk, dan barangsiapa disesatkan-Nya, tidaklah kamu akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang memberinya petunjuk” (OS, al-Kahf, 18:17): dan "bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman” (OS, Ali 'Imran, 3:86): dan "Allah menyeru ke (surga) Darussalam dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus” (OS, Yunus, 10:25).

Ayat-ayat ini mengandung pengertian bahwa seruan Allah itu bersifat umum, sementara petunjuk-Nya itu bersifat khusus serta tidak diberikan kepada siapa saja, sebagaimana firman-Nya, "'Allah tidak menunjuki orang-orang kafir” (OS, al-Bagarah, 2:264). Kalau Allah sendiri menegaskan kepada kita bahwa Dia tidak menunjuki orang-orang kafir, maka bagaimana bisa orang mengatakan bahwa Dia menunjuki orang-orang kafir? Padahal dalam firman-Nya yang lain dinyatakan pula, "Sesungguhnya, kamu tidak dapat menunjuki orang yang kamu cintai, tetapi Allah dapat menunjuki orang yang dikehendaki-Nya” (OS, al-Gashash, 28:56): dan "bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, melainkan Allah itulah yang menunjuki orang yang dikehendaki-Nya” (OS, al-Bagarah, 2:272): dan "seandainya Aku kehendaki, niscaya Aku berikan pada setiap jiwa itu petunjuk baginya” (OS, as-Sajdah, 32:13). Kalau hal menunjuki orang-orang kafir itu merupakan kemungkinan, maka bisa mungkin pula Dia menyesatkan orang-orang mukmin, padahal firman-Nya, Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, dia itulah yang mendapat petunjuk” (OS, al-A'raf, 7:178), dan "petunjuk bagi mereka yang tagwa” (OS, al-Bagarah, 2: 2). Dan kalau hal menyesatkan orang-orang mukmin ini tidak bisa mungkin, mengapa anda tidak mengakui pula bahwa Dia pun tidak mungkin menunjuki orang-orang kafir, sebagaimana firman-Nya, "Allah tidak menunjuki orang-orang kafir” (OS, al-Bagarah, 2: 264). Bahkan masih banyak lagi ayat-ayat lainnya yang seperti kita sebutkan di atas.

JAWAB :

Bukankah Allah berfirman: ''Maka, pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa-nafsunya sebagai tuhannya, sementara Allah membiarkannya tersesat berdasarkan ilmu-Nya, dan Dia telah (rapat-rapat) mengunci pendengarannya ataupun hatinya, bahkan meletakkan tutup atas penglihatannya” (OS, al-Jatsiyah, 45: 23). Barang tentu pertanyaan ini mesti dijawab, ya! Maka kukatakan lagi: Apakah Allah menyesatkannya itu agar dia menjadi sesat atau mau menerima petunjuk? Kalau mereka menjawab: Allah menyesatkannya itu agar dia mau menerima petunjuk. Katakanlah kepada mereka: Bagaimana mungkin Allah menyesatkannya itu agar dia mau menerima petunjuk? Sebab, kalau hal ini mungkin, maka mungkin pula Allah menunjukinya itu agar dia menjadi .sesat, dan kalau Allah tidak mungkin menunjuki orang mukmin agar dia menjadi sesat, maka mengapa anda tidak mengakui pula bahwa Allah tidak mungkin menyesatkan orang kafir agar dia mau menerima petunjuk.

JAWAB :

Lantas kukatakan kepada mereka: Kalau anda beranggapan bahwa Allah memberi petunjuk kepada orang-orang kafir namun mereka tidak mau menerimanya, maka mengapa anda tidak mengakui bahwa Dia pun memberi manfaat kepada mereka namun mereka tidak mau mengambilnya, bahkan Dia memberi sejahtera kepada mereka namun mereka tidak mau mempedulikannya. Apabila mungkin Dia memberi manfaat kepada orang-orang yang tidak mau mengambilnya, maka mengapa anda tidak mengakui bahwa Dia pun memberi celaka kepada orang-orang yang tidak mau memperolehnya? Kalau Dia hanya memberi celaka kepada orang-orang yang mau memperolehnya, tentu pula Dia hanya memberi manfaat kepada orang-orang yang mau mengambilnya: dan kalau mungkin Dia memberi manfaat kepada orang-orang yang tidak mau mengambilnya, tentu mungkin pula Dia memberi sejahtera kepada orang-orang yang tidak mau mempedulikannya. Bahkan kalau Dia tidak mungkin memberi manfaat kepada orang-orang yang tidak mau mengambilnya, tentu tidak mungkin pula Dia memberi petunjuk kepada orang-orang yang tidak mau menerimanya.

MASALAH :

Anda pernah bertanya kepadaku tentang petunjuk Allah, di mana anda berkata: Bukankah Allah berfirman, ''Bulan Ramadhan, yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Gur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasannya” (OS, al-Bagarah, 2: 185). Maka, mengapa tidak diakui bahwa al-Our'an pun sebagai petunjuk bagi orang-orang kafir di samping bagi orang-orang mukmin? Kukatakan kepada mereka: Ayat tersebut mengandung pengertian khusus, sebab Allah menjelaskan kepada kita bahwa al-Our'an itu merupakan petunjuk bagi mereka yang tagwa dan bukan petunjuk bagi mereka yang kafir, sementara dalam al-Our'an tidaklah terdapat ayat-ayat yang kontradiksi. Maka yang dimaksud dengan firman-Nya, "..sebagai petunjuk bagi manusia,” itu hanya bagi orang-orang mukmin dan bukannya orang-orang kafir.

SOAL :

Kalau ada orang yang bertanya: Bukankah Allah telah berfirman, "Sesungguhnya, kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan” (OS, Yasin, 36:11), dan "kamu hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut terhadap (Oiamart) itu” (OS, an-Nazi'at, 79: 45), sementara Nabi saw telah memberi peringatan kepada orang-orang yang mau dan yang tidak mau mengikuti peringatan, bahkan kepada orang-orang yang takut dan yang tidak takut? Maka jawablah, ya! Dan kalau mereka mengatakan: Mengapa anda tidak mengakui bahwa firman-Nya, ".. pemberi peringatan bagi siapa yang takut,” itu dimaksudkan sebagai 'pemberi peringatan bagi siapa yang takut dan juga yang tidak”? Katakanlah kepada mereka: Yang dimaksud dengan ayat pertama tadi, sebenarnya, hanya orang-orang yang mau mengikuti peringatan itulah yang dapat mengambil manfaat dari peringatan nabi-Nya. Dan yang dimaksud dengan ayat kedua tadi, sebenarnya, hanya orang-orang yang takut terhadap hari giamat itulah yang dapat mengambil manfaat dari peringatan nabi-Nya. Memang, dalam ayat lain Dia memberitahukan kita bahwa Dia pun seolah-olah memberi peringatan kepada orang-orang kafir, namun ditegaskan firman-Nya, "Sesungguhnya, orang-orang kafir itu sama saja bagi mereka, apakah kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman” (OS, al-Bagarah, 2: 6). Sungguh, inilah gambaran tentang orang-orang kafir di dalam al-Gur'an. Lantas Dia pun berfirman, Dan berilah peringatan kepada karib-kerabatmu yang dekar” (OS, asy-Syu'ara, 26: 214), dan ''Aku memperingatkan kamu dengan petir, sebagaimanapetir yang menimpa kaum 'Aad dan kaum Tsamud” (OS, Fushshilat, 41: 13). Sesungguhnya, ayat ini memang menyebutkan orang-orang kafir. Tetapi, sekalipun benar Allah menyebutkan peringatan kepada orang-orang kafir, sebagaimana halnya Dia menyebutkan peringatan bagi siapa yang takut terhadap giamat, bukanlah hal itu mesti diartikan sebagai peringatan Allah kepada orang-orang kafir dan juga orang-orang mukmin secara bersama. Sebab, Allah telah menegaskan kepada kira, al-Our'an itu merupakan petunjuk bagi orang-orang tagwa dan kegelapan bagi orang-orang kafir, dan Dia pun, tegas-Nya, tidaklah memberi petunjuk kepada orang-orang kafir. Karena itu pengertian ayat tadi mesti hanya ditujukan kepada orang-orang mukmin, sebab al-Gur'an tidak ditujukan kepada orang-orang kafir.

SOAL :

Kalau seseorang bertanya tentang firman Allah, "Dan kaum 'Tsamud, mereka telah Kami beri petunjuk, tetapi mereka lebih menyukai kebutaan ketimbang petunjuk” (OS, Fushshilat, 41: 17), bukankah kaum Tsamud itu orang-orang kafir dan bukankah Allah pun memberi mereka petunjuk? Maka katakanlah padanya: Persoalannya bukanlah seperti yang anda bayangkan. Sungguh, dalam hal ini terdapat dua jawaban tentang pertanyaan tersebut: Pertama, kaum Tsamud itu terbagi dua golongan, yaitu golongan orang-orang kafir dan golongan orang-orang mukmin. Golongan mukmin inilah yang diselamatkan Allah beserta Nabi Shaleh as, sebagaimana ditegaskan firman-Nya: " Kami selamatkan Shaleh beserta orang-orang yang beriman dengannya” (OS, Hud, 11: 66). Jelas, kaum Tsamud yang diberi-Nya petunjuk hanyalah yang mukmin, sementara kaum Tsamud yang kafir tidak, sebab Allah pun menjelaskan di dalam al-Our'an bahwa Dia tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir: dan di dalam al-Our'an itu tidaklah terdapat ayat-ayat yang kontradiksi, tetapi malahan ayat yang satu dengan ayat yang lainnya saling memperkuat dan saling membenarkan. Jadi, kalau ayat yang satu menjelaskan bahwa Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir, sementara ayat yang lainnya menjelaskan bahwa Allah memberi petunjuk kepada kaum Tsamud, maka sebagai kesimpulan kita pun mesti mengerti bahwa yang dimaksudkan Allah dengan kaum Tsamud dalam firman-Nya tersebut adalah yang mukmin dan bukannya yang kafir. Kedua, yang dimaksudkan Allah dengan kaum Tsamud tersebut adalah yang mukmin, tetapi kemudian mereka itu murtad, dan Allah memberitahukan kita bahwa Dia memberi petunjuk kepada mereka, tetapi setelah diberi petunjuk mereka pun lebih menyukai kufur ketimbang iman. Jadi, perunjuk itu sendiri hanya Disampaikan Allah ketika mereka masih dalam keadaan mukmin.

Kalau ada orang yang membantah jawaban pertama tadi, seumpamanya, bagaimana mungkin yang dimaksud dalam firman "mereka telah Kami beri petunjuk” itu yalah kaum Tsamud yang mukmin, dan kemudian yang dimaksud dalam firman "tetapi mereka lebih menyukai kebutaan” itu yalah kaum Tsamud yang kafir, sementara mereka bukan orang-orang mukmin? Maka katakanlah kepadanya: Menurut uslub bahasa yang biasa digunakan al-Our'an, bisa saja yang dimaksud dalam firman "'mereka telah Kami beri petunjuk” itu yalah kaum Tsamud yang mukmin, sementara yang dimaksud dalam firman "tetapi mereka lebih menyukai kebutaan” itu yalah kaum Tsamud yang kafir. Sungguh, bahkan masih ada beberapa firman Allah yang semacam ini, di antaranya, ” Allah tidaklah sekali-kali akan mengadzab mereka, sementara kamu berada di antara mereka” (OS, al-Anfal, 8: 33), yang dimaksud di sini adalah orang-orang kafir. Lalu sambungan firman-Nya, "Dan Allah pun tidaklah sekali-kali akan mengadzab mereka, sementara mereka meminta ampunan” (OS, al-Anfal, 8: 33), yang dimaksud adalah orang-orang mukmin. Kemudian itu firman-Nya, "Mengapa Allahtidak mengadzab mereka” (OS, al-Anfal, 8: 34). Ketahuilah, pengertian yang semacam (kukemukakan) ini tidak bertentangan dengan apa yang dikatakan oleh para ahli bahasa — yakni, sekalipun secara lahiriah ayat-ayat ini menunjuk pada satu jenis, tetapi yang dimaksudnya adalah dua jenis. Dan, akhirnya, apa yang mereka bantah itu sudahlah terjawab.

Previous
« Prev Post

Artikel Terkait

Copyright Ⓒ 2024 | Khazanah Islam