Mu'awiyyah ibn 'Umar meriwayatkan dari Zaidah, dari Sulaiman al-A'masy, dari Zaid ibn Wahab, dari ' Abdullah ibn Mas'ud, di mana dia (ibn Mas'ud) berkata: Rasulullah saw, yang senantiasa benar kata-katanya, telah memberitahukan kami: "Sungguh, penciptaan (pertama) seseorang di antara kamu terkumpul dalam perut ibunya selama empatpuluh hari, lalu menjadi segumpal darah dalam jangka waktu yang sama, lalu menjadi segumpal daging dalam jangka waktu yang sama, lalu Allah pun mengutus malaikat dan memerintah “dengan empat kalimat: Tulislah ajalnya, rezkinya, amal baik-buruknya dan bahagia-celakanya, lalu Allah meniupkan sebagian ruh ke dalamnya. Maka, sesungguhnya, seorang di antara kamu (mungkin) beramal dengan amal perbuatan ahli surga, sehingga tiada jarak antara dirinya dan surga itu melainkan hanya satu hasta, namun ketentuan kitab mendahuluinya, di mana dia akhirnya beramal dengan amal perbuatan ahli neraka, maka masuklah dia ke dalamnya: dan, sesungguhnya, seorang di antara kamu (mungkin) beramal dengan amal perbuatan ahli neraka, sehingga tiada jarak antara dirinya dan neraka itu melainkan hanya satu hasta, namun ketentuan kitab mendahuluinya, di mana dia akhirnya beramal dengan perbuatan ahli surga, maka masuklah dia ke dalamnya.”
Lagi Mu'awiyyah ibn 'Umar meriwayatkan dari Zaidah, dari al-A'masy, dari Abu Shaleh, dari Abu Hurairah, dari Nabi saw, bahwa beliau (saw) bersabda: "Nabi Adam dan Musa as saling berbantahan, di mana Musa as berkata, 'Wahai Adam, anda ini manusia yang diciptakan Allah dengan tangan-Nya (langsung) dan ditiupkan ruh-Nya kepada anda, tetapi anda telah menyesatkan ummat manusia itu dan mengeluarkannya dari surga.” Lantas Adam menjawab, 'Wahai Musa, anda ini orang yang dipilih Allah dengan kalimat-Nya, tetapi anda malah mencela aku tentang perbuatan yang telah dituliskan Allah saat sebelum diciptakan langit." Maka menanglah Adam atas Musa.'
Yang juga meriwayatkan hadits 'menanglah Adam atas Musa' tersebut adalah Malik dari Abu al-Zinad, dari al-A'raj, dari Abu Hurairah, dari Nabi saw. Hadits ini menunjukkan bahwa anggapan kaum @adariyyah, yang mengatakan bahwa Allah tidak mengetahui sesuatu sampai ia muncul, tidaklah dapat dibenarkan: sebab, kalau Allah menuliskan sesuatu dan memerintahkan ia dituliskan, maka tidak mungkin Dia menuliskan sesuatu yang tidak diketahui-Nya. Maha Tinggi dan Maha Suci Allah dari yang demikian itu,
sebagaimana yang difirmankan-Nya, ''Dan tiada sehelai daun pun yang gugur, melainkan Dia mengetahuinya, tiada sebutir biji pun yang jatuh dalam kegelapan tanah dan tiada pula sesuatu yang basah ataupun yang kering, melainkan telah tertulis dalam kitab yang nyata” (OS, al-An'am, 6: 59), dan "tiada suatu binatang yang melata pun di muka bumi, melainkan Allah itulah yang memberinya rezki: dan Dia mengetahui tempat kediaman binatang itu ataupun penyimpanannya” (OS, Hud, 11: 6), dan ''Allah mengumpulkan (catatan) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya” (OS, al-Mujadalah, 58: 6), dan "sesungguhnya, Allah mengumpulkan (catatan) mereka dan menghitungnya dengan hitungan yang cermat” (OS, Maryam, 19: 94): dan "'ilmu-Nya benar-benar meliputi segenap sesuatu” (OS, ath-Thalag, 65: 12), dan "Dia menghitung segenap sesuatunya satu per satu” .(OS, al-Jin, 72: 28): dan "Dia Maha Mengetahui segenap sesuatu” (OS, al-Bagarah, 2: 29).
Allah menjelaskan bahwa semua makhluk akan dibangkitkan dan akan dikumpulkan, orang-orang kafir akan kekal dalam neraka, para Nabi dan orang-orang mukmin akan kekal dalam surga, hari kiamat benar-benar akan terjadi dan tidak akan terjadi lagi sesudahnya. Maka, hal ini menunjukkan bahwa jauh sebelumnya Allah telah mengetahui sesuatu yang akan terjadi. Bahkan Allah pun menggambarkan ahli neraka itu dalam firman-Nya, "'Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentu pula mereka akan kembali pada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya" (OS, al-An'am, 6: 28): dan (ketika Fir'aun bertanya kepada Musa) Allah pun memfirmankanNya, "Bagaimana pula keadaan ummat terdahulu? Musa pun menjawab: Pengetahuan tentang itu ada di sisi Tuhanku, di dalam sebuah kitab. Tuhanku tidaklah salah dan juga tidaklah lupa” (OS, Thaha, 20: 51-52). Sungguh, barangsiapa tidak mengetahui sesuatu sebelum itu terbukti, maka dia tidak pula mengetahui itu sesudahnya terbukti. Maha Tinggi Allah dari anggapan orang-orang zhalim tersebut.
Kembali Mu'awiyyah ibn 'Umar meriwayatkan dari Zaidah, dari Sulaiman al-A'masy, dari ' Umar ibn Murrah, dari ' Abdurrahman ibn Abu Laila, dari 'Abdullah ibn Rabi'ah, di mana dia (ibn Rabi'ah) berkata: Kami berada di sisi 'Abdullah dan berbincang-bincang tentang penciptaan manusia, lalu ada yang menanyainya, "Ya "Abdullah, apakah bagi seseorang itu ada yang menciptakan kedua tangannya?" "Abdullah menjawab, ” Bagaimana pendapat anda kalau seseorang itu kepalanya terputus, apakah anda dapat menciptakan tangan untuknya?” Dia pun berkata, Tidak!” Kembali 'Abdullah berkata, "Sesungguhnya, air mani itu apabila masuk ke rahim wanita dan menetap sampai empatpuluh hari ia pun kemudian menjadi segumpal darah, kemudian segumpal darah itu dalam jangka waktu yang sama menjadi segumpal daging, kemudian diutus malaikat dan dikatakan Allah kepadanya: Tulislah ajalnya, amal baik-buruknya, rezkinya dan bahagia-celakanya. Dan, sesungguhnya, tidaklah anda dapat merubah penciptaannya tersebut sampai menjadi berubah.”
Bahkan Mu'awiyyah ibn 'Umar pun meriwayatkan dari Zaidah, dari Mansur, dari Sa'ad ibn 'Ubaidah, dari Abu ' Abdurrahman, dari "Ali ra, di mana dia ('Ali) berkata: Kami membawa jenazah menuju Bag al-Oargad, maka datanglah Nabi saw menghampiri dan kemudian duduk, sementara kami segera mengelilinginya. Beliau membawa tongkat miliknya, lalu memukulkannya, dan seraya mengangkat kepalanya itu beliau bersabda, "Tidaklah seseorang di antara kamu dilahirkan, melainkan telah tertulis tempatnya di surga atau neraka, bahagia atau celaka.” Maka salah seorang di antara kami pun bertanya, ''Ya Rasulullah, apakah ketentuan kita telah ditetapkan dalam kitab, lalu bagaimana kalau kita meninggalkan amal baik? Sebab seseorang di antara kita, manakala tercatat telah tergolong orang-orang yang bahagia, niscayalah bahagia juga bakalnya, dan manakala tercatat telah tergolong orang-orang yang celaka, niscaya celaka juga bakalnya.” Rasulullah pun bersabda, "Berbuatlah, maka segenap sesuatunya niscaya menjadi mudah sesuai dengan apa yang telah ditetapkan bagimu. Adapun yang tergolong ke dalam orang celaka, maka dia dimudahkan untuk berbuat celaka, dan yang tergolong ke dalam orang bahagia, maka dia pun dimudahkan untuk berbuat bahagia.” Kemudian Rasulullah membacakan firman-Nya, "Adapun orang yang memberikan hartanya serta tagwa, serta membenarkan adanya pahala (surga) yang terbaik, maka kelak akan Kami sediakan jalan yang mudah baginya, dan adapun orang yang kikir serta merasakan dirinya berkecukupan, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak akan Kami sediakan kesukaran (neraka) baginya” (OS, al-Lail, 92: 5-10).
Musa ibn Isma'il meriwayatkan dari Hammad, dari Hisyam ibn 'Urwah, dari 'Urwah, dari 'A'isyah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya, seorang laki-laki beramal dengan perbuatan ahli surga, sementara dalam kitab telah tertulis bahwa dia tergolong ahli neraka, maka — kalau sebelum meninggal itu dia balik beramal dengan perbuatan ahli neraka, lantas dia meninggal, maka — dia pun niscaya masuk neraka. Dan, sesungguhnya, seorang laki-laki beramal dengan perbuatan ahli neraka, sementara dalam kitab telah tertulis bahwa dia tergolong ahli surga, maka — kalau sebelum meninggal itu dia balik beramal dengan perbuatan ahli surga, lantas dia meninggal, maka — dia pun niscaya masuk surga."
Beberapa hadits di atas menunjukkan bahwa Allah mengetahui sesuatu yang akan terjadi, bahkan Dia telah menentukan orang-orang yang tergolong ahli surga ataupun ahli neraka, di mana Dia menetapkan mereka ke dalam dua golongan: Golongan yang ada di surga dan golongan yang ada di (api) neraka, sebagaimana yang difirmankanNya, "Sebagian diberi-Nya petunjuk, tetapi sebagian lain telah pasti kesesatan baginya” (OS, al-A'raf, 7: 30): dan ''segolongan masuk surga dan segolongan lain masuk neraka” (OS, asy-Syura, 42: 7), dan "'di antara mereka ada yang celaka dan ada pula yang bahagia” (OS, Hud, 11: 105), dan "sesungguhnya, telah Kam: ciptakan (neraka) itu untuk kebanyakan jin dan manusia” (OS, al-A'raf, 7: 179). Sungguh, bahkan Nabi saw pun diriwayatkan bersabda, "Sesungguhnya, Allah telah menciptakan calon-calon penghuni surga dan neraka.”
ALASAN YANG LAIN :
Di antara bukti yang menunjukkan kebarilan anggapan kaum Qadariyyah adalah firman Allah: "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu menjadikan anak keturunan Adam dari tulang-rusuk mereka” (OS, al-A'raf, 7: 172). Dan Rasulullah saw pun diriwayatkan bersabda, bahwa sesungguhnya Allah telah mengusap tulang-rusuk Adam, maka keluarlah anak keturunannya itu dari tulang-rusuknya, bagaikan semut kecil. Kemudian mereka diperkenalkan pada keesaan-Nya dan dikemukakan padasemua alasan-Nya, sebagaimana yang difirmankan-Nya: "Dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka: Bukankah Allah ini Tuhanmu? Mereka pun menjawab: Benar, kami menjadi saksi! Adapun (itu Kami lakukan) agar kelak pada hari kiamat kamu tidak mengatakan: Sungguh, kami adalah orang-orang yang lupa tentang (keesaan) ini” (OS, al-A'raf, 7: 172). Maka itu kesaksian dalam masalah keesaan-Nya tersebut, yang dilakukan ketika mereka dikeluarkan-Nya dari tulang rusuk Adam, telah menjadi alasan terhadap mereka agar (mereka) tidak mengingkari lagi apa yang telah mereka ketahui pada awal penciptaannya dahulu, sebab kalau tidak diambil kesaksian tersebut, tentu mereka akan begitu saja mengingkarinya.
Ada satu hadits yang diriwayatkan dari Nabi saw, bahwa Allah mengumpulkan sebagian manusia dalam surga dan sebagian lainnya dalam neraka, di mana Dia membedakan yang satu dari yang lainnya. Maka, kecelakaan itu menguasai orang-orang yang celaka dan kebahagiaan itu menguasai orang-orang yang bahagia: dan Allah pun dalam firman-Nya menggambarkan penghuni neraka itu berseru-seru, "Ya Tuhan kami, kami telah dikuasai kecelakaan kami, maka kami adalah orang-orang sesat” (OS, al-Mu'minun, 23: 106). Sungguh, dalam hal ini segenap sesuatunya pun tercatat dalam ilmu Allah, telah terdahulu dan akan terlaksana kehendak-Nya.
Mu'awiyyah ibn "Umar meriwayatkan dari Zaidah, dari Thalhah ibn Yahya al-Ourasyi, dari 'A'isyah binti Thalhah, dari 'A'isyah Ummul Mu'minin, bahwa Nabi saw telah diminta menshalati jenazah seorang laki-laki Anshar. Melihat hal itu 'A'isyah berkata: ''Berbahagialah orang ini, ya Rasulullah, burung-burung kecil dari surga itu niscayalah tidak berbuat buruk dan tidak pula mengotorinya.” Rasulullah pun menjawab: "Bisa jadi malah lain dari itu, ya 'A'isyah, Allah itu sesungguhnya telah menentukan para calon penghuni surga di saat mereka masih dalam tulang-rusuk bapak-bapaknya, dan telah pula menentukan para calon penghuni neraka di saat mereka masih dalam tulang-rusuk bapak-bapaknya.” Sungguh, hadits ini menunjukkan bahwa kebahagiaan itu telah ditetapkan lebih dulu untuk para calon penerimanya, begitupun kecelakaan itu telah ditetapkan lebih dulu untuk para calon penerimanya. Karena itu Nabi saw bersabda: "Berbuatlah, maka segenap sesuatunya niscaya menjadi mudah sesuai dengan apa yang telah ditetapkan bagimu.”
ALASAN YANG LAIN :
Allah pun berfirman: "Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, dia itulah yang mendapat petunjuk, dan barangsiapa disesatkan-Nya, tidaklah kamu akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang memberinya petunjuk” (OS, al-Kahf, 18: 17): dan "dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan-Nya, namun dengan perumpamaan itu banyak pula orang yang ditunjukkan-Nya” (OS, al-Bagarah, 2: 26).
Dalam kedua ayat ini dijelaskan bahwa Dia kuasa memberi kesesatan dan juga kuasa memberi petunjuk, lalu firman-Nya pula: "Allah menyesatkan orang-orang zhalim dan (Dia) berbuat apa yang Dia kehendaki” (OS, Ibrahim, 14: 27). Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Dia itu Maha Kuasa berbuat apa pun yang dikehendaki-Nya. Karena itu sekiranya kekufuran termasuk sesuatu yang Dia kehendaki, tentunya pun kekufuran itu merupakan sesuatu yang diciptakan-Nya dan ditakdirkan-Nya. Dan hal ini memang telah dijelaskan di dalam firman-Nya: "Apakah kalian menyembah berhala-berhala yang kalian pahat tersebut? Padahal Allah itulah yang menciptakan kalian dan apa pun yang kalian buat itu” (OS, ash-Shaffat, 37: 95-96). Dengan demikian, sekiranya penyembahan mereka terhadap berhala-berhala itu merupakan salah satu di antara perbuatan mereka, maka hal tersebut tentunya pun adalah ciptaan Allah. Tetapi toh Dia memfirmankan pula, bahwa hal ini "sebagai balasan terhadap apa yang mereka lakukan” (OS, as-Sajdah, 32: 17). Artinya, Dia bermaksud memberi balasan atas segenap- perbuatan mereka. Karena itu, dalam kaitannya dengan penyembahan mereka terhadap berhala serta kekufuran mereka terhadap Dzat yang Maha Pengasih, maksud-Nya pun tidak lain dari memberi balasan atas segenap perbuatan mereka itu sendiri.
Masalahnya, kalau sesuatu yang telah ditakdirkan Allah itu mereka lakukan buat diri mereka sendiri, lalu diartikan bahwa mereka mampu dan kuasa melakukan hal itu di luar ketentuan serta kekuasaan Tuhan, maka bagaimana mungkin mereka memiliki kemampuan untuk menentukan perbuatannya? Dan bagaimana mungkin takdir itu tidak lagi dikuasai Tuhan? Ketahuilah, barangsiapa beranggapan demikian itu sama halnya dengan melemahkan Allah. Maha Suci Allah dari anggapan orang-orang yang melemahkan-Nya. Tidakkah anda perhatikan, betapa banyak orang yang beranggapan bahwa mereka mengetahui apa-apa yang tidak diketahui Allah, seakan-akan Allah memberi mereka ilmu yang tidaklah termasuk ilmu-Nya dengan menjadikan mereka sebagai orang yang mampu meneliti. Maka, bila ada yang beranggapan bahwa mereka mampu berbuat serta menentukan apapunyang tidak ditentukan Allah, berarti mereka telah mendakwakan untuk dirinya sendiri kekuasaan dan kemampuan yang tidak ditetapkan oleh Dzat yang Maha Pengasih. Sungguh, Maha Suci Allah dari anggapan orang-orang yang berbuat kebatilan dan kedustaan itu.
Katakanlah kepada mereka: Bukankah perbuatan orang yang kufur itu merupakan suatu perbuatan dusta serta batil? Kalau mereka menjawab, ya! Maka katakan pula kepada mereka: Bagaimana mungkin dia dikatakan berbuat kedustaan serta kebatilan, sementara dia sendiri beranggapan bahwa perbuatannya itu merupakan kebaikan serta kebenaran, bahkan dianggapnya sebagai keutamaan agama? Nah, kalau hal ini tidak mungkin, sebab pada hakikatnya tidak mungkin dikatakan berbuat kalau bukan oleh orang yang mengetahui apa yang diperbuatnya — yaitu, dikatakan berbuat oleh orang yang tidak mengetahui apa yang diperbuatnya — maka mau tidak mau Allah itulah yang mentakdirkan dan menciptakan kekufuran mereka yang dusta serta batil, yang bertentangan dengan kebenaran tersebut.
« Prev Post
Next Post »