Baron de Montesquieu (1689-1755) lahir di Chateau La Bréde, dekat Bordeaux pada bulan Januari. Ibunya, Marie Francoise de Penel, adalah pewaris keluarga Inggris-Gascon. Kendati begitu, keadaan keluarganya tidak sangat makmur. Dia justru mendapatkan gelar dan kekayaan dari pamannya, Jean Baptiste de Secondat, yang merupakan Président a mortier di parlemen Bordeaux, yang nantinya juga akan diwariskannya kepada Montesquieu.
Ibunya meninggal ketika ia berusia tujuh tahun. Pendidikannya ia lalui di Juilly, dekat Meaux dan kemudian pindah ke Bordeaux. Ayahnya meninggal pada tahun 1713, setahun sebelum dia diterima sebagai penasihat parlemen. Pada tahun 1715 ia menikah dengan seorang gadis Protestan, Jeanne Lartigue. Nampaknya mereka hidup rukun. Pada tahun 1716 pamannya meninggal dan mewariskan kepadanya namanya, kantor hukumnya yang penting dan nasib baik. Jabatan ini sama sekali bukan pekerjaan enteng. Dia memémg bekerja dengan serius, tetapi nantinya dia mengakui bahwa dia tidak sepenuhnya mengerti semua aturan kuno yang diterapkan dalam pengadilan. Yang jelas dia tidak bisa menikmati hidupnya sebagai pejabat peng- adilan. Selain itu, selama tinggal di Bordeaux, ia berperan aktif dalam Akademi Bordeaux dengan menyumbangkan beberapa naskah filsafat, politik dan ilmu alam.
Montesquieu termasuk noblesse de robe, kaum bangsawan. Sebagian dari maksudnya dalam mengusulkan pemisahan kekuasaan di Perancis adalah untuk mengangkat aristokrasi Perancis setara dengan posisi aristokrasi Inggris. Ada alasan yang mendasari hal itu. Kalau Rousseau percaya bahwa kebebasan politik bisa dicapai hanya dalam suatu demo- krasi dan Voltaire percaya hal ini dapat dicapai dengan paling baik lewat seorang raja-filsuf, Montesquieu berpen- dapat bahwa kebebasan paling terjamin jika ada aristokrasi yang kuat untuk membatasi kecenderungan despotis baik ke arah monarki maupun masyarakat umum. Dia percaya bahwa jalan untuk melestarikan dan mempertahankan ke- bebasan adalah dengan "kekuasaan melawan kekuasaan".
Kendati termasuk warga yang populer di dalam masya- rakat, Montesquieu bukanlah seorang yang murah hati. Sebagai pemilik tanah ia amat ketat dalam mengumpulkan dan menagih hutang orang yang paling kecil sekali pun; sementara ia sendiri lambat dalam membayar kembali uang yang ia pinjam dari orang lain. Di Paris ia dikenal sebagai orang yang kikir. Banyak orang menjulukinya sebagai orang yang "tidak pemah makan di mejanya sendiri". Bah- kan untuk pemikahan putrinya, Denise, Montesquieu amat berhemat. Dalam hal ini, sekali pemah ia mengingatkan cucu lelakinya, La fortune est un etat et non pas un bien.
Pada tahun pertama jabatannya sebagai pembesar peng- adilan, ia menyelesaikan karyanya Lettres persanes (Surat- surat Persia) yang diterbitkan secara anonim di Amsterdam pada tahun 1721. Dalam karya itu, lewat penyamaran dalam surat-surat yang ditulis oleh dua orang Persia yang melancong ke Eropa, Montesquieu tanpa ampun menyindir kebodohan dalam kesusasteraan, gereja, sosial dan politik Perancis pada jamannya. Dua musafir dari Persia itu, Usbek dan Rica, mengungkapkan keheranan mereka melihat adat kebiasacin Perancis yang aneh, misalnya dalcim kebiasaan memotong rambut mereka dan memakai rambut palsu, ser- ta adat kebicisaan lainnya dalam hal berpakaian yang justru berkebalikan dari adat kebiasaan Persia.
Dengan menggunakan tokoh dari luar Perancis, Montes- quieu dengcin leluasa bisa menyindir dan mengejek situasi masyarakat Perancis jamannya. Lebih pedas lagi, mereka memberikan komentar tentang kehidupan politik Perancis. Mereka menggambarkan Louis XIV sebagai "tukang sulap" yang "membuat orang-orang saling membunuh satu sama lain, bcihkan ketika mereka sebenarnya tidak punya sesuatu untuk dipertengkarkan". Mereka juga bicara tentang "tu- kang sulap lain, yaitu Paus... yang membuat orang-orang percaya bahwa tiga itu hanyalah satu; dan bahwa roti yang dimakan orang bukanlah roti dan anggur yang diminum orang bukanlah anggur dan ribuan hal lain sejenis itu". Banyak lagi hal-hal lain yang jelas merupakan sindiran tajam terhadap kehidupan di Perancis.
Dalam karya itu, Montesquieu berusaha menetapkan dua prinsip penting teori politik: pertama, bahwa semua masya- rakat bersandar pada solidaritas kepentingan; dan kedua, bahwa suatu masyarakat bebas bisa ada hanya di atas dasar penggabungan keutamaan warga negara, seperti da- lam republik-republik pada masa klasik. Beberapa hal yang ditulisnya di sini mengantisipasikan apa yang kemudian dikembangkan Montesquieu lebih luas: bahwa manusia se- lalu dilahirkan dalam suatu masyarakat dan karenanya sua- tu diskusi mengenai asal-usul masyarakat dan pemerintah- an tidaklah perlu dan tidak ada gunanya; bahwa kepenting- an pribadi bukan landasan yang memadai bagi berbagai lembaga manusia, seperti ditegaskan oleh Hobbes; dan bah- wa kemungkinan suatu pemerintahan yang baik tergantung pada pendidikan dan keteladanan dalam keutamaan warga negara.
Montesquieu tidak percaya bahwa absurditas dan ke- busukan dalam masyarakat Perancis bisa dibereskan de- ngan tindakan pemerintah. Pandangannya atas kodrat ma- nusia memberi tekanan besar pada gairah manusia dan dia percaya bahwa rasa iri dan hasrat penguasaan antara lain merupakan sumber utama despotisme. Ia juga sudah ber- minat pada struktur dan basis psikologis penguasa absolut. Model yang ia ambil ialah Louis XIV dan bahan yang ia baca adalah tulisan-tulisan tentang negara-negara di Timur Dekat dan Timur Jauh.
Sukses Lettres persanes membuat Montesquieu /diterima oleh masyarakat Paris maupun oleh masyarakat' Perancis. Di sini ia hidup sebagai bangsawan. Teman-temannya me- nolong dia masuk ke dalam Akademi Perancis pada tahun 1728. Pada tahun itu juga ia menjual kantor président a mortier-nya, sebagian karena kebutuhan finansial dan se- bagian karena dia ingin tinggal di Paris. Akibatnya ia pu- nya kebebasan untuk bepergian.
Dari tahun 1728 sampai 1731 Montesquieu berkeliling Austria, Jerman, Hongaria, Italia, Belanda dan Inggris. Dua tahun tinggal di Inggris amat mempengaruhi karya-karya- nya di kemudian hari. Selama ia tinggal di sana ia terpilih sebagai anggota Royal Society. Sepulang dari Inggris ia membagi waktxmya antara La Bréde dan Paris. Ia menjadi cendekiawan independen dan menulis dua karya besar, Considérations sur les causes de la Grandeur des Romains et de leur décadence (1734, Ulasan tentang Sebab-sebab Kejayaan dan Kemerosotan Kekaisaran Romawi) dan De l'Esprit des Lois (1748, Jiwa Undang-Undang).
Considérations barangkali merupakan karya Montesquieu yang paling kurang dikenal. Gaya penulisan karya ini se- benarnya baik, jernih dan menyajikan analisis mengenai persebaban sejarah serta hakikat politik. Ia tertarik pada sejarah Kekaisaran Romawi karena tulisan-tulisan menge- nainya merupakan dokumen sejarah paling lengkap tentang masyarakat politik yang tersedia baginya. Studinya tentang Kekaisaran Romawi ini membawanya pada konsep-konsep yang nantinya ia kembangkan dalam De l'Esprit des Lois.
« Prev Post
Next Post »