Sabtu, 09 November 2024

Pemerintahan Brobok Karena Prinsipnya

1. Gagasan Umum Buku Ini

Rusaknya setiap pemerintahan pada umumnya dimulai dengan rusaknya prinsip-prinsipnya.

2. Rusaknya Prinsip Demokrasi

Prinsip demokrasi menjadi rusak bukan hanya ketika semangat persamaan padam, tetapi juga ketika rakyat jatuh ke dalam semangat persamaan yang ekstrem, dan ketika setiap warga merasa senang setingkat dengan mereka yang telah dipilihnya untuk memerintahnya. Kemudian orang banyak itu, yang merasa tidak mampu memegang kekuasaan yang telah mereka serahkan, ingin mengatur sendiri segala sesuatu, mendebat senat, bertindak menggantikan pejabat kehakiman, dan memutuskan perkara menggantikan hakim.

Apabila begini keadaannya, keutamaan tak lagi bisa dipertahankan agar tetap hidup di republik. Rakyat bergairah menjalankan fungsi para hakim yang tak lagi mereka hormati. Permusyawaratan dalam senat berkurang, dan semua rasa hormat terhadap para senator lenyap; dan dengan demikian juga rasa hormat terhadap orang lanjut usia. Manakala tiada lagi rasa hormat terhadap orang lanjut usia, akan tidak ada pula rasa hormat terhadap orangtua; rasa hormat yang sudah selayaknya terhadap para suami juga akan dicampakkan, begitu pula sikap tunduk kepada majikan. Dengan demikian penyalahgunaan kebebasan akan menjadi umum, dan memerintah akan sama sulit serta melelahkannya dengan menaati. Para isteri, anak dan budak akan membuang semua sikap taat. Tidak akan ada lagi hal-hal seperti sopan-santun, ketertiban dan keutamaan.

Kita menemukan suatu gambaran yang sangat hidup tentang sebuah republik yang rakyatnya menyalahgunakan persamaan mereka di dalam Pesta Xenophan. Setiap tamu secara bergilir memberitahukan alasan mengapa ia merasa puas. "Saya puas", seru Chamides, "karena kemiskinanku. Ketika saya kaya, saya terpaksa mengambil hati para informan saya, karena tahu bahwa saya cenderung lebih mudah dilukai oleh mereka daripada merugikan mereka. Republik tiada hentinya menuntut saya untuk membayar pajak baru, dan saya tidak dapat menolak membayarnya.

Oleh karena itu, sejak saya menjadi miskin, saya telah berhasil memiliki kekuasaan; tak seorang pun mengancam saya; sebaliknya sayalah yang mengancam orang lain. Saya dapat pergi atau tinggal ke mana atau di mana pun sesuka saya. Kaum kaya sudah bangkit dari kursi mereka dan membuka jalan bagiku. Kini aku raja, dahulu aku budak: dahulu aku membayar pajak kepada republik, kini aku dipelihara oleh re publik; tiada lagi aku takut kehilangan, melainkan berharap untuk memperoleh".

Rakyat jatuh ke dalam kemalangan ini apabila orang- orang yang mereka percayai -yang ingin menyembunyikan kebobrokan mereka sendiri- berupaya untuk mengkorup mereka. Dengan menyembunyikan ambisi mereka sendiri, kepada rakyat mereka bicara mengenai kebesaran negara; dengan menyembunyikan keserakahan mereka sendiri, tiada hentinya mereka mengolok-olok keserakahan rakyat.

Korupsi akan meningkat di kalangan para koruptor, begitu juga di antara mereka yang telah dikorup. Orang-orang akan membagi-bagikan uang masyarakat di antara mereka sendiri; dan setelah semakin lamban menangani berbagai urusan, mereka akan mencampur-adukkan kemiskinan mereka dengan hiburan kemewahan. Tetapi dengan kelambanan serta kemewahan mereka, tidak ada yang dapat memuaskan keinginan mereka kecuali harta kekayaan masyarakat.

Kita tidak perlu heran melihat mereka menjual hak pilih mereka. Tidaklah mungkin memberi hadiah pada rakyat tanpa melakukan pemerasan secara besar-besaran: dan untuk mengatasi hal ini, negara harus ditumbangkan. Makin besar keuntungan yang agaknya mereka dapat dari kebe- basan mereka, makin dekat pula mereka pada saat-saat kritis kehilangan keuntungan itu. Para tiran kecil itu memunculkan seorang tiran yang memiliki segala bentuk kekejian. Sisa-sisa kebebasan segera tak tertahankan; muncul- lah seorang raja lalim, dan orang-orang pun kehilangan segala-galanya, bahkan kehilangan keuntungan dari korupsi mereka sendiri.

Oleh karena itu, demokrasi memiliki dua ekses yang harus dihindari, yaitu: semangat ketidaksamaan yang menimbulkan aristokrasi atau monarki, dan semangat persamaan yang keterlaluan, yang menimbulkan kekuasaan sewenang-wenang, karena yang terakhir ini diakhiri dengan penaklukan.

3. Semangat Persamaan yang Ekstrem

Semangat persamaan sejati sangat jauh dari semangat persamaan ekstrem, seperti langit dan bumi. Semangat persamaan yang sejati tidak memiliki implikasi bahwa setiap orang harus memerintah, atau bahwa tak seorang pun harus diperintah, melainkan bahwa kita menaati atau memerintah orang-orang yang sederajat dengan kita. Semangat persamaan sejati itu berusaha keras untuk tidak menggoncang kekuasaan seorang penguasa, melainkan bahwa para penguasa itu tak lain dan tak bukan adalah orang-orang sesama mereka.

Memang dalam keadaan alamiah semua orang dilahirkan sama, tetapi mereka tidak dapat terus dalam keadaan seperti ini. Masyarakat membuat mereka kehilangan keadaan ini, dan mereka memulihkannya kembali hanya dengan perlindungan hukum.

Demikianlah perbedaan antara demokrasi yang teratur baik dan yang tidak teratur baik. Dalam demokrasi yang teratur baik manusia sederajat hanya sebagai warga negara; tetapi di dalam demokrasi yang tidak teratur baik, orang-orang sama atau sederajat juga sebagai petugas pengadilan, senator, hakim, ayah, suami, atau majikan. Tempat kodrati bagi keutamaan ada di dekat kebebasan; tetapi tidak lebih dekat dengan kebebasan yang berlebihan daripada dengan perbudakan.

4. Sebab Khusus Kebobrokan Warga

Adalah keberhasilan besar, terutama sejauh menyangkut warga, meracuni mereka sedemikian rupa sehingga tidak mungkin mengekang mereka. Karena merasa iri hati kepada para petugas kehakiman, segera mereka iri hati pula kepada jabatan tersebut; demikian pula bila mereka memusuhi orang-orang yang memerintah, mereka segera pula memusuhi konstitusi. Jadi kemenangan terhadap bangsa Persia di selat Salamis itulah yang telah merusak republik Athena; dan, hal yang sama, kekalahan bangsa Athena menghancurkan republik Syracuse. Marseilles tidak pernah mengalami masa transisi besar dari kehinaan sampai kebesaran itu; ini disebabkan oleh langkah bijaksana republik itu, yang selalu mempertahankan prinsip-prinsipnya.

5. Bobroknya Prinsip Aristokrasi

Aristokrasi rusak apabila kekuasaan para bangsawan menjadi sewenang-wenang: jika ini terjadi, tak kan lagi ada keutamaan, baik di pihak pemerintah maupun yang diperintah.

Jika hukum dijalankan oleh keluarga-eluarga yang berkuasa, ini adalah monarki dengan beberapa raja; dan di antara monarki, monarki ini adalah salah satu dari yang paling baik; karena hampir semua raja ini dibatasi oleh hukum. Tetapi ketika mereka tidak menjalankan hukum, jadilah monarki ini sebuah negara despotis yang terus- menerus digoyang oleh banyak penguasa lalim.

Dalam kasus terakhir ini, republik hanya memiliki kaum bangsawan. Lembaga pemerintahan adalah republik; dan lembaga yang diperintah adalah negara sewenang-wenang, yang membentuk dua lembaga yang paling berada di dunia.

Puncak kebobrokan terjadi ketika kekuasaan para bangsawan menjadi turun-temurun, karena mereka kemudian hampir tidak dapat bersikap wajar. Jika mereka itu hanya sedikit, kekuasaan mereka lebih besar, tetapi keamanan mereka berkurang. Jika jumlah mereka itu banyak, kekuasaan mereka lebih kecil, dan keamanan mereka lebih terjamin, sedemikian sehingga kekuasaan itu terus bertambah besar; lalu keamanan berkurang, sampai kepada penguasa yang amat lalim, yang dikitari oleh kekuasaan dan bahaya yang amat besar.

Oleh karena itu, jumlah kaum bangsawan yang besar dalam suatu aristokrasi yang turun-temurun menyebabkan pemerintah menjadi kurang keras; tetapi, karena kurang terdapat keutamaan, mereka menjadi lamban dan tak peduli, yang menyebabkan negara kehilangan kekuatan dan kegiatannya.

6. Bobroknya Prinsip Monarki

Sebagaimana demokrasi ditumbangkan ketika rakyat mencabut senat, para petugas kehakiman dan para hakim dari fungsi mereka, demikian pula monarki menjadi bobrok ketika penguasa tanpa perasaan mencabut segala hak istimewa masyarakat atau kota. Dalam kasus pertama, orang banyak merampas kekuasaan, dalam kasus terakhir itu kekuasaan itu dirampas oleh satu orang saja.

"Hancurnya dinasti Tsin dan Soui", kata seorang penulis Cina, "disebabkan oleh hal ini: para pangeran ingin lang sung mengatur sendiri segala sesuatu, dan bukannya mem. batasi diri dengan pengawasan dan kontrol umum yang merupakan satu-satunya hal yang pantas jadi kewenangan mereka, sebagaimana yang dilakukan oleh para leluhur mereka.

" Dalam contoh ini, penulis Cina itu menunjukkan kepada kita sebab-sebab kebobrokan hampir semua monarki.

Monarki hancur ketika penguasa mengira bahwa ia menunjukkan pelaksanaan kekuasaan lebih besar dengan cara mengubah daripada dengan menyesuaikan diri terhadap tatanan segala sesuatu; ketika ia mencabut pekerjaan turun-temurun dari warga negara secara sewenang-wenang dan memberikan pekerjaan itu kepada orang lain; dan bila ia lebih gemar menuruti khayalan daripada penilaian rasional.

Begitu pula, monarki itu menjadi hancur bila penguasa- yang mengarahkan segala sesuatu sepenuhnya kepada dirinya sendiri-menyamakan negara dengan ibukotanya, ibu kota dengan istananya, dan istana dengan dirinya sendiri.

Akhirnya, monarki itu menjadi hancur bila sang penguasa menyalahgunakan wewenangnya, situasinya serta cintanya kepada rakyatnya, dan ketika ia tidak sepenuhnya yakin bahwa seorang raja harus menganggap dirinya aman, persis sebagaimana seorang penguasa lalim harus menganggap dirinya berada dalam bahaya.

7. Bahaya Bobroknya Prinsip Pemerintahan Monarki

Bahayanya muncul bukan ketika suatu negara beralih dari satu pemerintahan moderat ke pemerintahan moderat lainnya, seperti dari suatu republik ke suatu monarki, atau dari sebuah monarki ke sebuah republik; tetapi ketika negara itu dihempaskan dari suatu pemerintahan moderat ke suatu pemerintahan despotis atau sewenang-wenang.

Sebagian besar bangsa Eropa masih diatur dengan prinsip-prinsip moral. Tetapi, jika dari penyalahgunaan kekua- saan yang lama, atau hasrat penaklukan yang menggebu-gebu, muncul kekuasaan yang lalim, baik moral maupun iklim tidak akan mampu untuk menahan pengaruhnya yang buruk, dan setelah itu, sekurang-kurangnya selama beberapa waktu, kodrat manusia akan dihina juga di bagian dunia yang indah ini-dengan mana kodrat manusia itu telah diperkosa di tiga bagian dunia yang lain

8. Tingkat Kesiapan Kaum Bangsawan untuk Mempertahankan Tahta

Kaum bangsawan Inggris menguburkan diri mereka ber- sama Charles I di bawah reruntuhan tahta; dan sebelum saat itu, ketika Philip DI berusaha keras untuk mencobai bangsa Perancis dengan daya tarik berupa kebebasan, mahkota senantiasa didukung oleh kebangsawanan yang meng- anggap ketaatan kepada seorang raja sebagai suatu kehormatan, sekaligus memandang pembagian kekuasaan dengan rakyat sebagai suatu aib yang paling besar.

Kerajaan Austria pernah berusaha keras untuk menindas kaum bangsawan Hongaria, tanpa banyak dipikirkan apakah para bangsawan itu pada suatu ketika kelak akan berguna bagi kerajaan itu. Kerajaan dengan senang hati akan menguras uang negeri mereka, walaupun tidak banyak, tetapi tidak peduli akan jumlah orang yang besar sekali yang ada di sana. Ketika para pangeran bersama- sama membagi wilayah kekuasaan itu, beberapa bagian kerajaan itu menjadi lumpuh, dan tiada kegiatan di antara bagian-bagian itu. Tidak nampak adanya kehidupan kecuali dalam kalangan para bangsawan itu- yang karena benci terhadap penghinaan yang diarahkan pada penguasa, serta dengan melupakan luka-luka yang mereka derita-meng- angkat senjata guna membalas dendam demi kepentingan mereka, serta menganggap suatu kemuliaan yang tertinggi jika mereka berani untuk mati dan mengampuni.

9. Bobroknya Prinsip Pemerintahan Despotis

Prinsip pemerintahan yang lalim terus-menerus diancam oleh kebobrokan, karena kodrat pemerintah itu sendiri korup. Pemerintahan lain dihancurkan oleh peristiwa-peristi- wa tertentu, yang merusak berbagai asas masing-masing konstitusi mereka. Sistem pemerintahan ini dihancurkan oleh ketidak-sempurnaan yang melekat di dalam dirinya, ketika sejumlah sebab aksidental tidak mencegah perusakan terhadap prinsip-prinsipnya.

Oleh karena itu sistem tersebut bertahan hanya apabila keadaan, yang ditimbulkan oleh iklim, agama, situasi atau watak suatu bangsa, memak- sanya untuk menyesuaikan sistem itu dengan tatanan, dan menerima aturan tertentu. Dengan hal-hal ini, kodratnya terdesak tanpa diubah; keganasannya tetap ada; dan dapat dijinakkan serta mudah dikendalikan hanya untuk sementara waktu.

Previous
« Prev Post

Artikel Terkait

Copyright Ⓒ 2024 | Khazanah Islam