Sayyid Abdullah bin Alawi bin Muhammad Al-Haddad dianggap salah seorang qutub dan arifin dalam ilmu tasawwuf. Banyak ia mengarang kitab-kitab mengenai ilmu tasawwuf dalam segala bidang, dalam aqidah, tarekat dsb. Kupasan-kupasannya mengenai akhlak sangat menarik. Bukan saja dalam ilmu tasawwuf, tetapi juga dalam ilmu-ilmu yang lain banyak ia mengarang kitab. Kitabnya yang bernama: "Nasa'ihud Diniyyah", sampai sekarang merupakan kitab-kitab yang dianggap penting.
Di antara kitab-kitab yang banyak itu, yang kita anggap penting untuk kita catat dalam uraian mengenai tarekat Sufi itu ialah risalah kecil tetapi sangat berharga, yang bernama "Al-Mu'awwanahfi Suluki Thariqil Akhirah", karena di dalamnya, berisi nasihat, yang merupakan intisari daripada ajarannya. Tentu tidak ada kesempatan untuk kita kupas semua, dan oleh karena itu kita ambil beberapa hal yang kita anggap perlu untuk sekedar memperoleh gambaran daripada keindahan wasiatnya itu.
Al-Haddad memulai wasiatnya dengan menguatkan keyakinan dan memperbaikinya, karena hal ini menjadi pokok yang terutama. Jika keyakinan seseorang sudah teguh dalam hatinya, yang gelap menjadi terang, yang ghaib akan menjadi kesaksian. Ia memberikan alasan dengan ucapan-ucapan Ali bin Abi Thalib dan Rasulullah sendiri, keyakinan itu dapat diperoleh dengan mendengar ayat-ayat Qur'an, Hadis dan khabar-khabar yang diriwayatkan Nabi serta sahabat-sahabatnya, yang di dalamnya nampak kebesaran Allah yang tak dapat disaingi dalam penciptaannya. Kemudian kita melihat kepada keadaan alam di sekitar kita dan kepada alam yang mengagumkan di seluruh cakrawala, perbuatan ini pasti akan membuahkan taat kita kepada Tuhan dalam melakukan suruh tegahnya, sesudah kita merasa tidak berdaya dan harus menyerahkan diri kepadanya. Ia membagi yakin itu dalam tiga tingkat, pertama derajat ashabul yamin, yang iman tetapi masih ada ke- ragu-raguan, kedua derajat muqarrahin, yang mempunyai iman yang bulat, tidak dapat digoncangkan ke kanan dan ke kiri, merupakan sumber baginya untuk melihat dengan terang, apa-apa yang tertutup bagi orang lain, dan ketiga derajat Nabi-Nabi yang mempunyai iman sangat sempurna, tidak ada sesuatu pun yang dapat menyamainya dalam keistimewaannya, terbuka baginya alam dunia dan alam akhirat.
Wasiat yang berikutnya mengenai perbaikan niat, yang harus dilakukan pada tiap-tiap pekerjaan sesuatu dengan ajaran-ajaran agama. Baik pahala atau dosa, baik kesempurnaan sesuatu perbuatan atau kegagalannya bergantung kepada niat, segala sesuatu ditujukan dengan niat taat kepada Tuhan. Kemudian dia menguraikan alasan-alasan nya dan bermacam-macam niat menurut tinggi rendah nilainya.
Muraqabah termasuk wasiat Al-Haddad yang terpenting. Muraqabah artinya selalu diawasi Tuhan, dan orang yang sedang melakukan suluk hendaknya selalu Muraqahah dalam gerak dan diamnya, dalam segala masa dan zaman, dalam segala perbuatan dan kehendak, dalam keadaan aman dan bahaya, di kala lair dan di kala tersembunyi, selalu menganggap dirinya berdampingan dengan Tuhan dan diawasi oleh Tuhan. Jika beribadat lakukanlah ibadat itu seakan-akan dilihat Tuhan, jika ia tidak melihat Tuhan pun, niscaya Tuhan dapat melihat dia dan memperhatikan segala amal ibadatnya. Bukankah Tuhan ada di mana-mana, juga di sampingmu, bahkan lebih dekat dengan dirimu sendiri pada urat lehermu sendiri. Al-Haddad mengatakan, bahwa Muraqahah itu termasuk maqam dan manzal, ia termasuk maqam ihsan yang selalu dipuji-puji Nabi Muhammad.
Dalam melakukan ibadat dan mengisi seluruh waktu dengan ibadat, sangat dianjurkan dalam wasiat Al-Haddad itu, sehingga bukan saja segala ibadat yang fardhu dan sunat, tetapi sampai-sampai kepada menentukan waktu makan dan minum serta berjalan dan duduk tidak ketinggalan daripada salah satu amal. Ia mengemukakan suri-suri kehidupan dari orang-orang saleh, dari orang-orang Salaf, dari Ibn Atha’illah, dari Auf, apalagi dari sahabat dan Rasulullah sendiri, yang menggunakan tiap detik sujud pada Tuhan atau zikir kepadanya. Alangkah buruknya laku seseorang suluk jika ia melakukan malam yang kosong itu tanpa ibadat. Lalu diuraikanlah macam-macam ibadat dan fadilatnya, dikupas dan diulas wazifah dan cara-cara melakukannya.
Selanjutnya diwasiatkan banyak membaca Qur’an, banyak mempelajari ilmu pengetahuan yang bermanfaat, banyak melakukan zikir, do’a dan wirid, sekitar sembahyang dan di luarnya, memperbanyak berfikir tentang kebesaran Tuhan dan kekurangan diri, mempercepat kaki dan ringan tangan dalam segala kebajikan, berpegang teguh kepada Qur’an dan Sunnah sebagai agama Tuhan yang kuat dan jalannya yang lurus, menjauhkan diri dari segala bid’ah dan menuruti hawa nafsu, menjalankan segala yang difardhukan Tuhan dan menjauhkan segala yang diharamkan Tuhan dan memperbanyak amalan sunat, yang dapat memperdekatkan hamba kepada Tuhannya.
Segala persoalan itu diuraikan dengan mengemukakan cukup alasan dari Qur’an dan Hadits dengan menyebutkan faham-faham tokoh Sufi terbesar, seperti Imam Ja’far Sadiq, Hasan Al-Asy’ari, Ibn Arabi, Imam Ghazali dll., sehingga kupasannya tidak hanya merupakan ajaran agama tetapi juga merupakan uraian filsafat tasawwuf dan ilmu hakikat yang mendalam.
Selanjutnya Al-Haddad menyebutkan dalam wasiatnya mempelajai kaifiat-kaifiat ibadat dengan sempurna, menjaga kebersihan lahir dan batin sampai kepada persoalan yang kecil-kecil seperti mendahulukan kanan dari kiri, bersiwak, berharum-haruman, begitu juga kebersihan batin dengan membersihkan perangai-perangai yang terkeji, seperti takabur, ria, hasad, cinta dunia, berlaku dengan akhlak yang mulia, seperti tawadu’, bermalu, ikhlas, bermurah tangan dan berlapang dada.
Terutama dalam akhlak dan budi pekerti wasiat itu sangat diperluas, tidak saja dengan menyebutkan sifat-sifat utama dan tercela, yang harus dipakai dan disingkirkan, tetapi juga sampai kepada adab-adab Islam yang terperinci, pada waktu berbicara, pada waktu berjalan, pada waktu dud uk dalam pertemuan, pada waktu makan, segala do’a do’a yang diperlukan, segala kelakuan yang harus diperhatikan dalam mesjid, ketika sembahyang, mengenai zakat, mengenai puasa, mengenai naiar dan sadaqah, mengenai amar ma’ruf dan nahimunkar, mengenai keadilan dalam segala tindakan, mengenai silaturahm dan maaf-maafan, mengenai hidup bertetangga dan berkeluarga, mengenai keba[jikan ibu dan bapa, semuanya itü diku pas secara terperinci dengan menggunakan alasan-alasan agama dan akal, sebagaimana biasa kita dapati dalam wasiat-wasiat Sufi seorang guru kepada muridnya, tetapi wasiat Al-Haddad ini demikian panjangnya sehingga merupakan sebuah pelajaran tersendiri. Wasiat-wasiat itu ditulis beransur-ansur mengenai persoalan kehilangan ma‘rifat hati, mengenai hamad dan sana, mengenai zuhud di dunia, mengenai jalan-jalan kepada durul khulud, mengenai keburukan terhadap cinta mas dan perak, mengenai tawakal, mengenai cinta Tuhan dan Rasul, mengenai penyerahan diri kepada ridha dan qoha Allah, dan mengenai do’a. Semua urai an-uraian itu ditutup dengan pasal yang dinamakan wasiat Ilahiyah, yang katanya dipetik dari hadits-hadits Qudsi, ditulis demikian rupa dengan kata-kata yang indah dari susunan kalimat yang berirama, dan sebagaimana layak merupakan penutup sebuah wasiat Sufi yang mengharukan dan acapkali meneteskan air mata.
Sumber: Prof. Dr. H. Aboebakar Atjeh dalam buku "Pengantar Ilmu Tarekat". halaman 362-365, Cetakan III, Januari 1985 M, Penerbit Ramadhani, Solo, Jawa Tengah
« Prev Post
Next Post »