Senin, 02 September 2024

Tarekat Sanusiyah

Sebuah tarekat yang lahir dan sangat luas tersiar di Afrika Utara ialah Sanusiyah, tarekat yang bersifat sangat keras, terutama dalam melakukan jihad atas jalan Allah dan mentaati pemimpin-pemimpinnya. Sebenarnya tarekat ini merupakan lanjutan daripada sebuah tarekat Marokko Khadhiriyah, yang didirikan oleh Ibn Dabbagh (mgl. 1717) M.J., yang merupakan cabang juga dari Amirghaniyah dan Idrisiyah. Tetapi ada orang mengatakan, bahwa Khadhiriyah itu yang berasal dari Sanusiyah. Tarekat ini terutama tersiar pada hari-hari pertama di Jaghbub kemudian berpindah ke Kufra, di sebelah timur Sahara.

Bagaimanapun juga tarekat Sanusiyah ini berkembang oleh se- orang tokoh tarekat yang bernama Sidi Muhammad bin Ali As-Sanusi dan oleh karena ia termasuk cucu daripada Al-Idrisi, maka tarekat ini' dinamoakan juga Al-Idrisiyah. Sanusi lahir dalam tahun 1791 di Tursy, dekat Musyatghanam (Algeria atau Aljazirah) dan meninggal di Jaghbub (Cyrenaica).

Orang Barat menamakan, bahwa Sanusiyah adalah tarekat yang moderen, sangat sederhana dalam amal-amal dan wiridnya, tidak bera- pa menyimpang daripada ajaran Islam yang asli.

Mengenai riwayat hidup daripada pendiri tarekat ini dapat kita ceriterakan, bahwa As-Sanusi mula-mula mendapat didikan agama dari seorang guru ternama Abu Ras (mgl. 1823 M) dan Belganduz (mgl. 1829 M) di tempat tinggalnya sendiri. Kemudian Sanusi pergi ke Fas dari tahun 1821 sampai 1828, dan di sana ia memperdalam ilmunya mengenai tafsir Qur'an, ilmu Hadis, ilmu Hukum Fiqh, dll. pengajaran Islam tingkat lanjutan. Kemudian ia mengerjakan ibadat Haji ke Mekkah, yang dilakukannya dengan perjalanan melalui Tunisia Selatan dan Mesir. Diceriterakan bahwa ia kemudian mengambil tempat tinggal yang tetap di Sabia, dan di sana dalam tahun 1837 untuk pertama kali ia membuat zawiyah, tempat melatih murid-murid tarekatnya, di sebuah gunung yang terkenal di Mekkah, bernama Abu Qubais.

Sepulang dari sana ia tidak tinggal di Mesir, tetapi ia menetap be- berapa waktu di Cyreinaiaca, di mana ia mendirikan pula zawiyah suluk dari tarekat Rifa'i, kemudian pindah membuat zawiyah pula di Al-Baidha dekat Cyreine (Jabal Akhdhar), kemudian pindah pula ke Temessa, dan akhirnya menetap di Jaghbub sampai tahun 1855, kota mana pada awal mulanya sangat sepi, tetapi kemudian diisinya dengan budak-budak yang sudah merdeka, yang kemudian menjadi pengikut-pengikutnya yang gagah perkasa. Ia meninggal dalam kota ini dan di- kuburkan orang di sana.

Riwayat hidupnya menceriterakan, bahwa dia mempunyai dua orang anak, pertama yang tua bernama Sidi Muhammad Al-Mahdi (lahir 1844 dan meninggal 1961 di Guro), yang kemudian menjadi khalifahnya, dan kedua bernama Sidi Muhammad Asy-Syarief (lahir 1846 dan meninggal 1896) Al-Mahdi meninggalkan dua orang anak, masing-masing bernama Sidi Muhammad Idris, yang lahir 1883, dalam tahun 1909 diangkat menjadi raja Kecil, di bawah pengawasan Itali, dan memerintah antara 1916 sampai 1923. Anak yang lain bernama Sidi Ridha, yang mempunyai enam orang putra, masing-masing bernama Sidi Ahmad Syarif, lahir 1880, menjadi khalifah daripada tarket neneknya antara tahun 1901 sampai 1916, kemudian dalam perang dunia pertama ia memihak kepada Jerman tetapi kemudian ia pergi ke Turki dan turut dalam mengadakan propaganda untuk mendirikan gerakan Pan Islamisme serta bertempat tinggal di Ankara. Lima orang anaknya yang lain bernama Sidi Muhammad AI-'Albid menjadi tuan tanah di sebelah selatan Fezzan, antara tahun 1916 – 1918 memimpin pertempuran di Saharan menentang Perancis, selanjutnya Sidi Ali AI-Khattab, Sidi Safiuddin, yang menjadi ketua Parlemen Itali di Cyreneica dalam tahun 1921, Sidi AI-Hallal dan Sidi Ar-Ridha.

Markas Tarekat Sanusiyah ini pada mula-mulanya berada di Jaghbub antara 1855 - 1895, kemudian dipindahkan ke Kufra 1895, ke Guro 1899, kemudian dipindahkan lagi ke Kufra 1902, sementara zawiyah-zawiyah sufinya, yang dalam tahun 1859 berjumlah hanya dua pu­ luh dua buah, meningkat dalam tahun 1884 sampai seratus buah ba­ nyaknya.

Di antara wirid-wirid yang dilakukan secara sir oleh penganut­penganut tarekat ini ialah ucapan : "Ya Latif" sebanyak seribu kali, kemudian dalam hukum, sangat memegang kepada Qur'an dan Hadits. Meskipun dalam pelaksanaan fiqh kadang-kadang terdapat perbedaan, tarekat ini kuat memegang mazhab Maliki dan membuka pintu ijtihad untuk penetapan hukum. Dalam kitab Sabilul Mukminin fi Thariqil Arba'in, yang berisi zikir-zikir serta hizib-hizib tarekat ini, kita ketahui bahwa tujuannya tidak menyeleweng kepada hal-hal yang dibuat-buat. Di antara kitab-kitab yang menyiarkan ajaran ini kita sebutkan Kitab Risalah karangan Hasan Ujaimi (1702), yang kemudian diterjemahkan atau diringkaskan oleh Sidi Murtadha Az-Zabidi menjadi Kitab Iqdal Juman. Mengenai zikir Halliyah yang juga menjadi pembicaraan dalam tarekat ini banyak diterangkan oleh Abi Sa'id Al-Qadiri dalam kitabnya Adabuz Zikir, yang ditulis dalam tahun 1686 di India, oleh Ivanov disebut dalam Katalogusnya 1280.

Pengaruh Qadiriyah, sebagaimana yang dilihat orang dalam tarekat ini di kala perkembangannya di Musytaghnam, dan pengaruh Tijaniryah dan Thaibiyah, sebagai yang pernah dirasa orang dalam perkembangannya di Fas, mungkin diperoleh Sanusi di Mekkah, tatkala ia belajar pada gurunya Ahmad bin Idris Al-Fasi (mgl. 1837 di Sabia), yang mendirikan tarekat Qadiriyah-Idrisiyah, dan yang menjadi guru juga dari dua buah tarekat lain Rasyidiyah dan Amirghaniyah.

Saya catat beberapa hal mengenai tarekat ini, karena dengan tidak langsung ada hubungannya dan pengaruhnya di Indonesia, yang sejak purbakala banyak dikunjungi oleh "Syeikh-Syeikh Maghribi", yang selain dari menjadi muballigh, tentu banyak sedikit sudah dipengaruhi oleh paham-paham tarekat ini.

Sumber: Prof. Dr. H. Aboebakar Atjeh dalam buku "Pengantar Ilmu Tarekat". halaman 377-383, Cetakan III, Januari 1985 M, Penerbit Ramadhani, Solo, Jawa Tengah

Previous
« Prev Post

Artikel Terkait

Copyright Ⓒ 2024 | Khazanah Islam