Minggu, 01 September 2024

Tarekat Tijaniyah

Salah satu tarekat yang terdapat juga di Indonesia di samping tarekat-tarekat yang lain ialah tarekat Tijaniyah. Dalam tahun berapa tarekat ini masuk ke Indonesia tidak diketahui orang dengan pasti, tetapi sejak tahun 1928 mulai terdengar adanya gerakan ini di Cirebon. Seorang Arab yang tinggal di Tasikmalaya, bernama Ali bin Abdullah At-Thayyib Al-Azhari, berasal dari Madinah, menulis sebuah kitab berkepala "Kitab Munasyatul Murid" (Tasikmalaya, 1928 M.) berisi beberapa pertunjuk mengenai tarekat ini, dan kitab itu terdapat tersebar luas di Cirebon khususnya, dan di Jawa Barat umumnya.

Oleh karena gerakan ini pernah mendapat perhatian umum, Pemerintah Belanda pernah menyelidikinya. Dr. G.F. Pijper, ketika itu Adjunct-Adviseur Voor Inlandsche Zaken, menulis sebuah karangan mengenai tarekat Tijaniyah itu, yang dimuat dalam kitabnya "Fragmenta Islamica" (Leiden, 1934). Beberapa hal di antaranya kita kutip sebagai di bawah ini.

Memang sebelum 1928 tarekat Tijaniyah belum mempunyai anggotaanya di Jawa, tetapi tarekat ini sudah terkenal dan tersiar luas di Afrika Barat dan Utara, selanjutnya di Mesir, dan di sebelah Barat Jazirah Arab.

Pendirinya adalah seorang ulama dari Algeria, bernama Abul Abbas Ahmad bin Muhammad bin Mukhtar At-Tijani, lahir di 'Ain Mahdi dalam tahun 1150 H. (1737-1738 M.). Diceriterakan bahwa dari bapaknya ia keturunan dari Hasan bin Ali bin Abi Thalib, sedang nama Tijani adalah dari Tijaniah dari keluarga ibunya. Sejak umur tujuh taun konon ia sudah menghafal seluruh Qur'an, kemudian lalu ia mempelejari ilmu-ilmu Islam yang lain dengan giatnya, sehingga pada waktu ia menjadi guru masih remaja putera.

Waktu ia berumur dua puluh satu tahun ia mulai bergaul dengan orang-orang Sufi. Tatkala dalam tahun 1186 H. (1172-1773 M) ia naik haji ke Mekkah, ia berhubungan dengan beberapa orang Sufi dalam perjalanannya itu di Mesir, dan kemudian di Madinah berkenalan dengan Muhammad bin Abdul Karim As-Samnan, pendiri tarekat Sammaniyah, dan belajar padanya mengenai ilmu-ilmu rahasia bathin. Tiap guru agama yang didatanginya mengatakan bahwa ia akan mempunyai harapan yang baik dan gilang-gemilang.

Dalam tahun 1196 H (1781-1782 M) ia pergi ke Tilimsan meningkatkan ilmu pengetahuannya pada Abu Samghun dan As-Shalalah. Di sini mulailah terbuka pandangan bathinnya. Bukan dalam tidur tetapi dalam jaga dan sadar, konon ia bertemu dengan Nabi Muhammad saw, yang mengajarkan kepadanya beberapa wirid, istighfar, dan selawat, yang masing-masing harus diucapkan seratus kali dalam sehari semalam, dan memerintahkan dia mengajarkan wirid itu kepada semua orang Islam yang menghendakinya. Konon Nabi memerintahkan juga kepadanya, agar ia melepaskan diri dari tarekat-tarekat yang lain. Dalam tahun 1200 H (1785-1786 M) Rasulullah kelihatan lagi dalam kasyafnya dan mengajarkan pula tambahan wiridnya dengan tahlil, yang harus diucapkan seratus kali pula, sambil berkata: "Engkau merupakan penunggu yang akan menyelamatkan tiap hamba Allah yang durhaka".

Sejak itu Tijani mulailah mengajar tarekatnya, yang dengan segera tersiar ke sana-sini di sekitar tempat tinggalnya. Kemudian ia pergi ke Fez, dan di sana tidak berapa lama kemudian ia pun berpulang ke rahmatullah menemui Tuhannya, yaitu pada suatu pagi tanggal 17 Syawal 1230 H (22 September 1815 M.) pada waktu ia berusia delapan puluh tahun. Ia dikuburkan di Fez.

Tarekat Tijaniyah ini mempunyai wirid yang sangat sederhana, dan wazifah yang sangat mudah. Wiridnya terdiri dari istighfar seratus kali, selawat seratus kali, dan tahlil seratus kali. Boleh dilakukan dua kali sehari, yaitu pagi dan sore, pagi sesudah sembahyang Subuh sampai sembahyang Zuha, sore sesudah sembahyang Ashar sampai sembahyang Isya. Wazifahnya terdiri dari "astaghfirull?h al-az?m allazi l? ilaha illa huu wal hayyul qayyum" (saya minta ampun kepada Allah, yang tidak ada Tuhan melainkan Dia, Ia selalu hidup dan mengawasi), sebanyak tiga puluh kali, kemudian dibaca shalatul fatih, yang berbunyi "All?humma shalli ala sayyid?n? Muhammad al-fatihi lima ughliqa, wal khatimi lima sabaqa, n??iril haqqi bil haqqi, wal hadi ila shirathil mustaq?m, wa ala ?lihi ?aqqa qadrihu wa miqdarih?l az?m (Ya, Tuhanku! Berikanlah rahmat kepada penghulu kami Muhammad, yang terbuka baginya apa yang tertutup, yang menjadi penutup bagi semua yang sudah lampau, pembantu kebenaran dengan kebenaran, orang yang menunjuki kepada jalan yang benar, begitu juga atas keluarganya sekedar yang layak dengan kadar yang besar) lima puluh kali, dan bacaan "la ilaha illallah" (tidak ada Tuhan melainkan Allah) seratus kali, kemudian barulah ditutup dengan do’a yang dinamakan Jauharatal kamal, sebanyak dua belas kali, didapat dalam kitab "Fathur Rabbani", pada halaman enam puluh.

Sebenarnya pembacaan wazifah ini boleh petang hari tapi yang baik adalah pada malam harinya, sekurang-kurangnya dua kali, pagi dan sore.

Lain daripada itu membaca hayhalah, yaitu pada hari Jum'at, terdiri dari zikir tahlil dan Allah, Allah, sebanyak yang tidak ditentukan sejak sudah sembahyang Ashar sampai kepada terbenamnya matahari.

Tarekat ini menentukan beberapa syarat untuk pelaksanaan itu, pertama berwudhu, bersih pakaian dan tempat serta badan orang yang mengerjakannya, tertutup segala auratnya, tidak boleh berbicara, berniat yang tegas, mengucapkan wirid, wazifah, dan hayhalah sambil duduk menghadap ke kiblat. Sebagaimana tarekat-tarekat yang lain tarekat ini pun menganjurkan, agar murid-muridnya dalam mengerjakan amalan itu, menggambarkan rupa gurunya dalam ingatannya, dan mengikuti seluruh nasehat-nasehatnya dengan tenang.

Pernah terjadi perdebatan sekitar Cirebon oleh ulama-ulama mengenai tarekat ini, dan pernah orang menyerang guru-gurunya dengan ucapan-ucapan dan surat-surat siaran sekitar tahun 1928 sampai 1931. Tetapi keadaan ini kemudian tenang kembali, sesudah Nahdatul Ulama menyatakan sebagai keputusannya, bahwa tarekat itu tidak termasuk kepada ajaran yang sesat, karena amalan-amalannya sesuai dengan ajaran Islam. Tetapi majallah Al-Manar, Maret 1926 M., Hal. 796 - 778, sebuah majallah dari golongan Salaf, menyatakan tarekat itu menyeleweng dari ajaran Islam yang sebenarnya.

Di Cirebon tarekat Tijani ini pernah tersiar dengan suburnya di bawah pimpinan Kiyai Buntet dan keluarganya, terutama di bawah pimpinan alm. Kiyai Abbas Buntet dan saudaranya Kiyai Anas di desa Martapada, dekat kota Cirebon. Tetapi juga dikatakan, bahwa murid-murid yang datang itu ada yang berasal dari jauh-jauh, dari Tasikmalaya, Brebes dan Banyumas. Terutama dalam bulan Ramadhan kelihatan kesibukan tarekat ini.

Perselisihan paham dengan tarekat-tarekat lain dan perkumpulan-perkumpulan yang memang tidak menyetujui tarekat, seperti Muhammadiyah, pernah menyebabkan debat-mendebat, sehingga terpaksa Pemerintah campur tangan. Begitu juga turutnya Kiyai Madrais, seorang guru yang sangat sederhana dekat Kuningan, ke dalam tarekat ini, yang menarik ribuan murid-murid, menimbulkan kecurigaan bagi Pemerintah Belanda. Tetapi perkumpulan Nahdhatul Ulama, yang pernah memeriksa wirid dan wazifah daripada tarekat ini, menyatakan, bahwa tarekat itu tidak menyimpang daripada aliran yang benar (hal. 117 dari Fragmenta Islamica).

Di antara mereka yang sangat menentang tarekat ini termasuk seorang alim Mekkah Sayyid Abdullah bin Sadoqah Dahlan, kemenakan dari Mufti Syafi'i di Mekkah. Sementara Nahdhatul Ulama memasukkan pembicaraan tentang tarekat ini ke dalam acara Kongresnya di Cirebon Agustus 1931, sebagai acara yang sangat menarik perhatian ulama-ulama di Indonesia.

Pemeriksaan pemerintah Belanda yang diadakan dalam th. 1932 menyatakan, bahwa gerakan Tijaniyah itu mempunyai banyak guru-guru dan murid-muridnya tersebar di Cirebon Kuningan, Tasikmalaya dan dalam beberapa kabupaten di Jawa Tengah, semuanya berjalan dengan damai dan tidak mengganggu ketenteraman umum. Demikianlah kita catat beberapa hal mengenai tarekat Tijaniyah itu.

Sumber: Prof. Dr. H. Aboebakar Atjeh dalam buku "Pengantar Ilmu Tarekat". halaman 374-377, Cetakan III, Januari 1985 M, Penerbit Ramadhani, Solo, Jawa Tengah

Previous
« Prev Post

Artikel Terkait

Copyright Ⓒ 2024 | Khazanah Islam