Sabtu, 31 Agustus 2024

Aliran Cartesianisme

Anda pasti pernah mendengar pendapat umum yang mengatakan bahwa "Orang Prancis adalah cartesian". Saya tidak tahu apakah ada semacam kebenaran di dalamnya, tetapi yang ingin saya ketahui adalah arti dari ungkapan itu. Saya akan menunjukkan kepada Anda bahwa di balik pendapat itu tersirat se- macam gagasan mengenai cartesianisme yang berkaitan dengan suatu sistem yang menganut logika yang ketat.

Sekarang kita tahu arti pernyataan itu. Kalau begitu, dalam menilai dan bertindak, orang Prancis konon mengikuti logika ketat dan pemikiran sistematis mereka mengungguli pengalaman dan kehidupan. Tentu saja itu tidak benar, dan bangsa-bangsa lain di dunia ini juga tidak begitu.

Namun, ciri-ciri tadi juga bukan merupakan arti sebenarnya dari cartesianisme. Untuk memahami pemikiran Descartes, seperti yang dianjurkan oleh Descartes sendiri, kita harus menyertakan perjalanan gagasan kita sendiri.

Di sini saya hanya akan membahas salah satu karya- nya, yaitu Risalah tentang Metode yang sepenuhnya ditulis secara kronologis. Descartes menyajikan kehidupannya "seperti sebuah lukisan" dan tampaknya mencari sumber dari berbagai gagasannya di dalam kekecewaan yang dialaminya ketika ia lulus dari kolese dan di dalam sekian banyak pendapat yang saling bertentangan, yang diterimanya.

Pelajaran yang diberikan oleh Descartes adalah bahwa kita tidak boleh memisahkan pemahaman tentang filsafatnya dari perhatian atas proses ia menjadi filsuf. Filsafat bukanlah sebuah rangkuman berbagai kebenaran objektif, melainkan suatu proses batin dan nyata, suatu gerakan yang membimbing filsuf dan filsafatnya. Filsafat harus memahami manusia, manusia itu sendiri yang berfilsafat. Apa jadinya filsafat yang tidak lagi berbicara tentang manusia yang memikirkannya? Seperti yang dikatakan Plato, bukan filsafat yang berbicara tentang manusia, melainkan manusia yang bersifat filsafati.

Filsafat Descartes tampil sekaligus sebagai tatanan nalar dan sebagai proses spiritual. Proses filsafati itulah yang akan saya bicarakan di sini.

Bagaimana Descartes Menjadi Cartesian

Ia dilahirkan pada tanggal 31 Maret 1596, di Touraine, di sebuah desa yang bernama La Haye (!), dari keluarga ningrat golongan bawah. Pada bagian pertama Risalah tentang Metode, Descartes menceritakan tahun-tahun ia menjadi pelajar

Pada tahun 1606, pada usia sepuluh tahun, ia belajar di kolese La Flèche (Sarthe). Ia mengagumi bakat, pengabdian para gurunya, namun ia tidak puas dengan filsafat yang diajarkan kepadanya, karena filsafat itu tidak memberikan "keyakinan" dalam berbagai tujuan yang harus dicapai.

Moral diajarkan secara susastra, contoh-contohnya diambil dari zaman kuno tanpa pembuktian. Descartes membandingkan "tulisan para penulis kuno yang membahas masalah tata budaya dengan istana-istana hebat dan mahemegah yang dibangun di atas pasir dan lumpur".

Matematika yang sangat digemarinya karena kepastian dan kegamblangan nalar-nalarnya, diajarkan untuk keperluan praktis (pengukuran luas tanah, kartografi, arsitektur...).

Descartes heran bahwa tidak pernah "dibangun di atas matematika sesuatu yang lebih tinggi", artinya ilmu, yang akan memungkinkan bagi manusia untuk mengarahkan diri di dalam kehidupan. Ilmu pengetahuan berkembang pesat di Prancis pada abad ke-17 tetapi untuk diterapkan secara teknis (tanpa menawarkan tujuan yang lebih tinggi). Pendidikan yang diterima Descartes tidak merupakan kesatuan. Singkatnya, di dalam studinya, Descartes tidak menemukan baik kegunaan, atau universalitas, maupun kepastian yang dicarinya.

Padahal, katanya, "saya selalu ingin belajar untuk membedakan yang benar dari yang salah, agar melihat dengan jelas segala tindakan saya dan berjalan dengan yakin di dalam hidup ini [...] Dan mengambil keputusan untuk tidak mencari ilmu lain kecuali yang mungkin terdapat dalam diri sendiri, atau di dalam buku besar alam raya..." Montaigne juga berkata: "Alam raya yang besar ini... saya menginginkannya menjadi buku sekolah saya."

Namun, itu tidak berarti bahwa Descartes menemukan filsafatnya (cartesianisme) di dalam "buku besar alam raya". Risalah tentang Metode juga merupakan kritik atas satu-satunya pengalaman teraba dan langsung sebagai sumber pengetahuan. Maka ia pergi mengunjungi Jerman utara, Belanda, Italia, kemudian menetap di Belanda pada tahun 1628.

8 Juni 1637: Risalah tentang Metode

"Risalah tentang metode untuk mengarahkan nalarnya dengan baik, dan mencari kebenaran di dalam ilmu pengetahuan".

Descartes sebenarnya hanya tergiur oleh matematika. Ia mengkaji "rangkaian panjang penalaran" yang menghasilkan kepastian. Keinginannya untuk mencapai kepastian di mana pun membuatnya berpendapat bahwa yang universal adalah metode yang diilhami oleh matematika, namun bukan yang melulu bersifat praktis dan diterapkan dalam bidang kuantitas melainkan dalam bidang yang lebih luas yaitu yang membentuk ilmu.

Pada malam hari tanggal 10 November 1619, ia merasa mendapat ilham dari Tuhan, dan mengajukan sebagai asas bahwa seluruh dunia dibuat dari satu materi yang sama dan tunggal. Dalam hal ini, jika kesatuan ada di dalam benda, itu karena objek yang diketahui memang satu, karena metodenya harus satu. Descartes pertama-tama meletakkan metodenya atas dasar kesamaan jiwa manusia yang, karena selalu sama, pastilah selalu bernalar dengan cara yang sama (lihat uraiannya mengenai "akal sehat" dalam Risalah tentang Metode, bagian pertama).

Metode

Jadi, apa yang dimaksudnya dengan metode? Dengan merenungkan berbagai operasi pikiran yang membawa para ahli matematika pada kepastianlah, Descartes menyatakan: "tidak ada jalan lain yang terbuka bagi manusia untuk mengetahui kebenaran kecuali intuisi yang gamblang dan deduksi yang niscaya."

Intuisi bukan kepercayaan atau kesaksian yang berubah-ubah dari indera atau penilaian menyesatkan dari imajinasi, pengarahan yang buruk, melainkan pembentukan suatu pikiran sehat dan cermat.

Deduksi hanyalah kelanjutan dari intuisi: artinya "melihat" bahwa satu pernyataan adalah akibat dari pernyataan yang lain.

Jika A termasuk dalam B
B termasuk dalam C
maka A termasuk dalam C

Kejelasan dan kegamblangan, kesederhanaan dan kemu- dahan adalah kriteria dari penalaran yang baik.

Ajaran pertama
(Risalah tentang Metode, bagian kedua)

Ditulis oleh Descartes, Pertama, tidak pernah menerima apapun sebagai benar kecuali jika saya mengetahuinya secara jelas bahwa hal itu memang benar; artinya menghindari secara hati-hati penyimpulan terlalu cepat dan praduga, dan tidak me- masukkan apapun dalam pikiran saya kecuali apa yang tampil sedemikian jelas dan gamblang di dalam nalar saya, sehingga tidak akan ada kesempatan untuk me- ragukannya.

Ajaran pertama ini mengajukan satu kriteria untuk menentukan kegamblangan: Yang gamblang adalah sesuatu yang tidak dapat saya sangsikan. Evidensi langsung dan tak mungkin salah, sebagai intuisi bernalar, merupakan kri- teria kebenaran.

Yang gamblang adalah sesuatu yang tidak dapat saya sangsikan. Apa yang harus disangsikan?

  1. Di satu pihak kita harus menyangskan pendapat- pendapat kita yang keliru, perasaan-perasaan kita, dan berbagai prasangka kita. Dari hal itu lahirlah penilaian yang tergesa-gesa dan penilaian tanpa pengkajina.
  2. Di lain pihak kita harus menyangskan: indera dan apa yang diberikan oleh indera kita, segala sesuatu yang dapat dikaitkan dengan khayalan (tampilan yang saya buat dari berbagai benda dan kodrat du- nia...), terakhir kepastian saya sendiri (mungkin saja jin jahil ingin agar saya keliru setiap kali saya menghitung dua tambah tiga...).

Walaupun demikian, Descartes tidak menjadikan kesangsian sebagai sistem filsafatnya, sebagaimana yang dilakukan oleh skeptisisme, namun kesangsian sebagai sa- rana untuk mengetahui kebenaran secara lebih jelas. Kesang- sian yang bertumpu pada pengetahuan bernalar maupun pada pengetahuan empiris tetapi tanpa kegunaan utama: Ia menyiapkan sebuah jalan yang sangat mudah agar jiwa kita terbiasa untuk melepaskan diri dari indera.

Penemuan Cogito

Metode adalah jalan yang harus diikuti dan di ujungnya harus ditemukan suatu kepastian, karena dengan kepas- tian kita dapat melihat ketidakpastian. Maka saya men- dapati, jus t r u di da l am me nerapkan kesangsian, kekuatan saya untuk menyangksikan tidak terbatas. Maka, kesangsian radikal membuat saya melihat segala sesuatu sebagai tidak benar, diragukan, menyesatkan. Namun, segera pula saya mendapati bahwa si aku yang me- nyangsikan itu pastilah merupakan sesuatu. Biarlah jin jahir itu menyesatkan saya sesuka hatinya, ia tidak akan mampu menjadikan aku yang menyangksikan sesuatu yang lain kcuali aku yang merupakan sesuatu.

Ego cogito, ergo sum, Saya berpikir maka saya ada.""Pemikiran saya artikan segala sesuatu yang terjadi pada saya demikian rupa sehingga saya segera menya- darinya", katanya di dalam Secondes Réponses."

Di dalam ungkapan saya berpikir, subjek dan atribut berkaitan. Jika saya berpikir, saya ada. Siapa saya? "Se- suatu yang berpikir". Pada umumny a, justru dengan ber- pikir, yang merupakan objek pengalaman langsung, saya mendapati diri saya sebagai aku yang berpikir; dan ber- tolak dari pengalaman pribadi itulah Descartes meru- muskan jiwa manusia. Jadi, cogito merupakan penegasan dari subjek berpikir yang tak dapat ditundukkan; tak ada pemikiran tanpa pemikir.

Namun, siapa saya? "Kepastian bahwa saya ada belum mengatakan siapa saya. Ketika saya mendalami kepastian itu, saya melihat dalam diri saya, aku sendiri sebagai pemikiran" (*Méditations Métaphysiques, "Méditation II"*). Descartes tidak mengatakan telah mendapat temuan objektif tentang aku psikologis tetapi tentang kepastian yang menjadi landasan bagi setiap pengetahuan yang mungkin dan akan datang.

Seluruh filsafat Descartes terdiri atas dua hal:

  1. melandasi suatu ilmu dengan kepastian;
  2. memungkinkan suatu pemikiran yang menyatu.

Arti Sebenarnya dari Rasionalisme Cartesian

Pada lukisan Weenix, seorang pelukis Belanda abad ke-17, Descartes digambarkan memegang sebuah buku. Di sampul buku itu, kita dapat membaca: *Mundus est fabula* (Dunia adalah sebuah fabel). Apa arti lukisan itu?

Ketika merumuskan subjek sebagai substansi yang berpikir, sebagaimana substansi itu muncul dengan gamblang dalam *cogito* dan ketika ia membedakan substansi itu dari bahan sebagai substansi yang mengisi sebagian ruang, Descartes menampilkan revolusi di dalam penampilan realitas fisik. Jika keluasan merupakan atribut esensial dari benda-benda fisik, keluasan tidak lain hanya sebuah *ruang geometris*.

Dengan menumpukkan filsafatnya pada hal-hal batiniah, artinya hal yang hanya dimiliki oleh subjek berpikir, ia membongkar gagasan tentang *kosmos* (tempat manusia, makhluk hidup, benda, dunia berbaur erat). Dunia hanyalah objek, artinya bahan, yang dapat dijelaskan secara geometris dan mekanis. Dunia tidak mungkin dibayangkan sebagai suatu totalitas hidup yang melingkupi manusia dan menempatkannya di suatu tempat yang ditetapkan di dalam suatu tatanan yang memiliki tujuan tertentu, di mana di dalamnya manusia hanya merupakan bagian dan sarana.

Meskipun demikian, ketika mencari manusia sejati—artinya yang berada di balik jiwa subjek dan badan objek—Descartes mengakui seperti yang dikatakannya di dalam Risalah tentang Metode:

Telah saya terangkan pula bahwa jiwa tidak sekadar ditempatkan di dalam badan manusia hanya untuk menggerakkan anggota badan, seperti halnya seorang juru mudi ditempatkan di kapalnya. Jiwa harus digabung dan dipersatukan secara lebih erat dengan badan, agar di samping mampu menggerakkan anggota badan, dapat pula memiliki perasaan dan hasrat yang sama seperti kita, dan dengan demikian membentuk manusia yang sebenarnya.

Dengan demikian saya kira kita memahami arti lukisan dan arti tulisan Mundus est fabula yang tampaknya penuh teka-teki itu. Filsafat Descartes tidak boleh disempitkan menjadi rasionalisme yang dangkal, bersifat reduksionis dan sempit. Jika ilmu mampu memahami dunia, itu pemahaman yang bersifat analogis, seolah ilmu meniru alam. Namun, jangan keliru, manusia hanya dapat memahami satu model tampilan dari dunia ini. Dunia sebagaimana adanya, hanya Tuhan yang tahu. Terakhir, ilmu tidak mengungkap segalanya. Sesungguhnyalah, ilmu tidak mengatakan apa pun mengenai saya sebagaimana adanya: ilmu tidak dapat mereduksi manusia sebagaimana adanya untuk diri manusia itu sendiri, ilmu tidak dapat merumuskan manusia untuk keperluan ilmu. Bagi ilmu, mungkin saja saya hanyalah sebuah roda di dalam mesin alam raya yang mahabesar, sebuah kasus individual bagi statistika. Saya dapat menerimanya karena saya benar-benar menyadari bahwa hanya dalam kemutlakan saya ada, ilmu hanya ada karena saya adala suatu tindakan mutlak

Maka, seperti yang dikatakan Eric Weil, "karena saya dapat berkata saya ada, dunia dapat menerima nilai dan harkat hanya dari saya." (Logique de la Philosophie).

Ditulis oleh Jean-Louis Chevreau : Guru filsafat di Lycée International Français, Jakarta; Penceramah di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia.

Previous
« Prev Post

Artikel Terkait

Copyright Ⓒ 2024 | Khazanah Islam