Jumat, 30 Agustus 2024

Mengenal Tarekat 'Aidrusiyah

Salah satu daripada tarekat yang masyhur dalam kalangan Ba' Alawi ialah Al-'Aidrusiyah, terutama dalam tasawwuf aqidah. Hampir tiap-tiap buku tasawwuf menyebutkan nama Al-'Aidrus sebagai salah seorang tokok Sufi yang ternama dan mengulangi beberapa ucapan mengenai pandangannya dalam beberapa masalah tasawwuf. Sayapun berjumpa beberapa kali dengan nama Al-'Aidrus itu dalam penyelidikan saya mengenai beberapa masalah tasawwuf, tetapi dengan menyesal saya tidak dapat mengetahui dengan sebenarnya Al-'Aidrus mana yang dikehendaki, karena penyebutan nama suku itu sangat sederhana sekali dalam beberapa kitab Sufi. Al-'Aidrus adalah nama salah satu suku Arab Selatan yang masyhur, yang di dalamnya banyak terdapat tokoh-tokoh Sufi ternama. Saya mencari sebuah kitab yang khusus membicarakan Al-'Aidrus sebagai tokoh Sufi terbesar, yang pandangannya acap kali disinggung-singgung mengenai masalah tasawwuf, tetapi dengan menyesal saya tidak mendapatkan kitab yang semacam itu. Dari seorang ulama yang terkenal di Jakarta, S. Salim bin Jindan, saya mendapat beberapa buah kitab, yang dapat memberikan saya sedikit keterangan mengenai tarekat dan wali-wali Al-'Aidrus itu, yang dapat saya anggap pemimpin-pemimpin yang terkemuka dalam tarekat Al-'Aidrusiyah. Terutama sebuah kitab yang saya pinjam dari ahli Hadis ternama Bin Jindan itu, kitab "Al-Yawaqitul Jawahiriyah" (Mesir, 1317), mengenai tarekat Al-'Alawiyah, dapat memberikan saya sedikit penerangan tentang Al-'Aidrus itu. Kitab tersebut dikarangan oleh tokoh Sufi yang terkemuka dari tarekat Al-Aidrusiyah itu, yang digelarkan qutub dan imamul 'Arifin, 'Aidrus ibn Umar bin 'Aidrus Al-Habasyi. Dalam kitab ini dibicarakan beberapa riwayat hidup daripada tokoh-tokoh Sufi Ba ’Alawi, pandangan dan sifat-sifat tarekat yang mereka jalankan, beberapa riwayat hidup daripada guru-guru tarekat yang mempunyai hubungan silsilah dan khirqah dengan tokoh-tokoh Al-’Aidrusiyah.

Sebagai gurunya yang kelima disebutnya nama Al-Hasan bin Salih bin 'Aidrus Al-Bahar Al-Jufri, yang di antara lain banyak memberikan bantuan kepada pengarang kitab tersebut mengenai tarekat Al-’Aidrusiyah, baik dalam zikir maupun dalam melakukan suluk, dan dengan demikian sampailah kepadanya ajaran-ajaran Syeikh Abdullah bin ’Alawi Al-Haddad dan ajaran-ajaran Syeikh Abdullah bin Abi Bakar Al-’Aidrus Ba ’Alawi, sampai ia peroleh ijazah dari gurunya yang kelima itu (I: 101).

Guru-guru yang lain yang telah mendidiknya dalam ilmu tarekat ialah Bin Samidh, Bin Thahir, Al-Jufri, Al-Haddad, Al-Habasyi, Bin Saqqaf, Bin Yahya, Balfaqih, dll, begitu juga ia menyebutkan nama-nama tokoh-tokoh Sufi lain yang terkenal dalam segala bidang, seperti Al-Ghazali, untuk membutikan, bahwa tarekat yang dianutnya dan disiarkan berdasarkan Qur’an dan Sunnah, melalui Ahli Bait, berhubungan dengan Nabi Muhammad saw.

Kitab "Baitus Siddiq" (Mesir, 1323), karangan S. Muhammad Taufiq Al-Bakri, menyebut, bahwa tarekat Al-’Alawiyah atau tarekat Ba’alawi didirikan dan dinamakan menurut nama Imam Besar Muhammad bin Ali Ba 'Alawi Al-Ja’fari. Kalimat Al-Ja’fari yang terakhir ini menunjukkan, bahwa ilmu fiqh yang diamalkan dalam tarekat ini mungkin menurut mazhab Al-Ja’fari salah satu mazhab dalam golongan Syi’ah yang terdekat dengan Ahli Sunnah wal Jama’ah. Juga di dalam kitab itu disebut, bahwa tarekat Al-’Aidrusiyah didirikan dan disiarkan yang pertama kali oleh Imam yang masyhur S. Abu Bakar Al-’Aidrus, raja’ Adan, yang meninggal dunia dalam tahun 814 H.

Pengarang kitab "Al-Yawaqitul Jauhariyyah" yang baru kita sebutkan di atas ini, menerangkan, bahwa Syeikh Tarekat Al-’Aidrusiyah itu, Abu Bakar ibn Syeikh Abdullah Al-’Aidrus bin Abi Bakar As-Sakran, diperanakkan di Tarim, sangat salih, menghafal Al-Qur’an serta tafsir, mempelajari ilmu lahir dan batin pada beberapa tokoh tokoh terkemuka, dan juga peroleh ijazah serta khirqah dari beberapa tokoh Sufi yang terkenal, di antaranya dari neneknya Abdul Rahman dalam tahun 865 H. la mcmpclajari memperdalam ilmu tasawwuf di antaranya dengan membaca kitab-kitab yang terkenal, seperti Ihya, Awariful Ma'arif, Risalah Qusyairiyah dan kitab-kitab yang lain. Dalam kitabnya "Al-Silsilatul Quddusiyah", yang membahas khirqah Al-'Aidrusiyah, ia menerangkan, bahwa Syeikhnya Abu Bakar itu mempunyai khirqah dan silsilah dari tokoh-tokoh Sufi yang terkemuka, sambung menyambung sampai kepada Syazili, Ibnal Maghrabi, Al-Jabarti, Al-Jabarti, Abu Madyna, Abdul Kadir Jailani, Imam Suhrawardi dll, yang disebutkan namanya satu persatu orang dalam kitabnya. Sejarah hidup Al'Aidrusi ini menunjukkan maqam dan ahwalnya yang gilang-gemilang, penuh kemurnian, kesucian dan keajaiban, penuh dengan tanda-tanda sebagai yang dipunyai oleh seorang tokoh Sufi terbesar. Pada waktu ia berumur 20 tahun ia dididik oleh saudarnya, dan banyak bergaul dengan Syeikh Umar Al-Mahdar, pamannya yang banyak menuntunnya dalam menempuh martabat suluk. Pernah ia mengatakan, bahwa pamannya itu telah mengurniaiinya tiga "tangan", pertama dari Nabi Muhammad mengenai tarekat Kasyaf, tangan dari Syeikh Abdur Rahman Saqqaf dan tangan dari salah seorang Rijulal Ghaib. Dapat kita ceriterakan, bahwa keluarganya dan sanak saudaranya adalah orang-orang alim dan tokoh-tokoh Sufi, sehingga baik pergaulannya maupun pengajarannya memberi bekas yang mendalam kepada jiwa tasawwufnya. Banyak ia mempelajari tarekat serta ilmunya, yang kemudian dapat mengangkat kedudukannya, tarekat-tarekat yang berhubungan dengan ajaran suluk, jazab, yang berhubungnan dengan adab, ihya dan qutub. Abdul Kadir bin Syeikh Al-'Adrus pernah membuat syair untuk memujinya, yang isinya, bahwa tarekat yang baik itu adalah tarekat yan pernah direlai Al-'Aidrus, dan oleh karena katanya kerjakan dengan benar, tempuh dengan niat jujur dan ikuti dia dengan jazab yang berlimpah-limpah. Seorang muridnya Umar bin Abdur Rahman, menulis manaquib dan sejarah hidupnya yang gilang-gemilang itu. Kemudian banyak orang lain menulis pula manaqib dan sejarah hidup tokoh Tarekat 'Aidrusiyah ini.

Syeikh Abdullah bin Abi Bakar bin Abdur Rahman meninggal di Tarim dalam usia 54 tahun dan dikuburkan di sana.

Sebagaimana yang sudah kita katakan keluarga Al-'Aidrus banyak sekali melahirkan tokoh-tokoh Sufi yang terkemuka, di antaranya S. Abdur Rahman bin Mustafa Al-'Aidrus, yang pernah menjadi pembicaraan Al-Jabarti dalam sejarahnya. Al-Jabarti menerangkan, bahwa S. Abdurrahman mula-mula mendapat ijazah dari ayah dan kakeknya, pernah mempelajari ilmu fiqh daripada seorang tokoh ulama yang terkemuka Abdur Rahman bin Abdullah Balfaqih. Dalam tahun 1153 ia pergi dengan ayahnya ke India dan di sana ia berkumpul dengan seorang tokoh yang terkemuka juga dalam tasawwuf, Abdullah bin Umar Al-Mahdar Al-'Aidrus, yang mendidiknya dalam tarekat zikir sampai ia diberi ijazah. Ia belajar juga pada Mustapa bin Umar Al-’Aidrus, Husen bin Abdur Rahman bin Muhammad Al-’Aidrus, Muhammad Fadlullah Al-’Aidrus, sehingga ia beroleh ijazah yang bersilsilah. Guru- gurunya yang lain adalah Muhammad Fakhir Al-Abbasi, Ghulam Ali dan Ghulam Haidar Al-Husaini, belajar ilmu Hadits dari Yusuf As- Surati, Azizullah Al-Hindi, selanjutnya belajar pada As-Sindi dll.

Dalam tahun 1158 H. ia berangkat ke Mesir yang mengagumkan ulama-ulama di Mesir, banyak di antaranya yang beroleh ijazah daripadanya. Ia berulang-ulang ke Mesir dan ke India, ia pernah naik haji tujuh kali dan mengunjungi Dimyat beberapa kali. Wirid-wiridnya di- kemukakan dalam kitab tersebut di atas "’Iqdu1 Yawaqit Al-Jauhriyah".

Menurut sejarah Al-Jabarti, ia lahir di Tarim pada tgl. 9 bulan Sa- far th. 1135 dan meninggal pada 10 Muharram th. 1192 H. di Mesir, disembahyangkan dalam mesjid Al-Azhar dengan imam Syeikh Ahmad Ad-Dardir dan dikuburkan dalam makam wali-wali Al-Itris, dekat Masyhad Sayyidah Zainab. Salah seorang muridnya ialah tokoh sufi yang ternama di Mesir Abdur Rahman bin Sulaiman Al-Misri.

Saya catat di sini untuk kesempumaan, bahwa ratib Al-'Aidrus lengkap dapat dibaca orang dalam kitab "Sabilul Muhtadin" (Mesir, 1957 M.), karangan Habib Abdullah bin 'Alawi bin Hasan Al-Attas, hal. 15, dalam buku mana orang dapat juga membaca ratib-rat?b dari tarekat Saqqafiyah, Bin Salim, Al-Mahdar, Al-Attas, Al-Haddad, Al- Handawan, Jamallullail, Bin Samith, Al-Bar, Al-Jufri, Bin Thahir, Al- Habasyi, Al-Miqdadi, As-Sakran, serta do'a-do'a, hizib-hizib, zikir- zikir dan salawat-salawat pilihan dari semua tarekat Ba 'Alawi yang ter- nama. Di belakang kitab ini ditambah sebuah uraian mengenai kepen- tingan tasawwuf dan wirid-wirid, dengan sejarah tokoh-tokoh ternama dari Ba’Alawi, terutama mengenai ajaran tentang tarekat, baik tarekat tauhid maupun tarekat zikir dan wirid, puji-pujian terhadap kelebihan tarekat Ba'Alawi, dengan martabat-martabatnya dan pengakuan-penga- kuan ulama, begitu juga syair-syair yang penuh dengan susunan kali- mat dalam sajak yang indah, madah-madah yang berirama, yang biasanya tertuang dari isi hati dan jiwa tokoh-tokoh Sufi dari tasawwuf fanniyah dan zauqiyah.

Uraian ini hanya sekedar untuk memperkenalkan beberapa tarekat Ba 'Alawi, yang banyak juga diamalkan dan tersiar di tanah air kita Indonesia, dalam pada itu saya mengaku, bahwa saya dalam mencari bahan-bahan untuk uraian ini masih meraba-raba, karena memang ti- dak ada kitab-kitab yang khusus membicarakan sejarah perkembangan tarekat-tarekat itu, baik dalam bahasa Arab maupun dalam bahasa asing lain yang saya ketahui.

Previous
« Prev Post

Artikel Terkait

Copyright Ⓒ 2024 | Khazanah Islam