Tidak banyak kita mengetahui tentang tarekat ini, meskipun namanya terkenal di Indonesia karena tabuhan rebana, yang namanya di Aceh rapa’i, perkataan yang terambil dari Rifa’i, pendiri dan penyiat tarekat ini, begitu juga dikenal orang di Sumatera permainan dambus, menikam diri dengan sepotong senjata tajam, yang diiringi zikir-zikir tertentu.
Dalam “Handworterbuch des Islam”, (Leiden, 1941) saya hanya mendapat beberapa catatan tentang Akhmad bin Ali Abul Abbas, yang dianggap pencipta daripada tarekat Rifa’iyah itu. Ia meninggal di Umm Abidah pada 22 Jumadil Awal 578 H, (23 September 1183). Sedang tanggal lahirnya diperselisihkan orang, ada yang mengatakan dalam bulan Muharram 500 H (September 1106) dan ada yang mengatakan dalam bulan Rajab th. 512 H (Oktober/Nopember 1118) di Qaryah Hassan, dekat Basrah. Ada orang berpendapat, bahwa nama Rifa’i ini terambil daripada nama aku Rifa’a, yang sudah terdapat di Mekkah sejak tahun 317 H, pindah dari sana ke Sevilla di Spanyol, dan dari sana dalam tahun 450 H datanglah kakek dari Ahmad itu ke Basrah. Oleh ka- rena itu beberapa lama kakeknya itu memakai nama Al-Magribi, karena ia datang dari Barat.
Ibn Khalikan tidak banyak menulis tentang sejarah hidupnya. Lebih banyak diutarakan beberapa catatan mengenai hidupnya dalam kitab Tarikh Islam, karangan Az-Zahabi, dalam kitab Tanwirul Absar (Kairo, 1806), Qiladatul Jawahir (Bairut, 1801, dan sebagai orang Sufi dalam Manaqib, yang tentu lebih banyak membicarakan tentang kekramatannya daripada mengenai kepribadian, pendidikan dan perjuangannya, terutama yang ditulis oleh Al-Hammami dan Al-Faruthi (w. 694).
Dari sejarah hidupnya itu dapat kita ketahui, bahwa tatkala ia ber umür 7 tahun, ayahnya meninggal di Bagdad dalam tahun 419, dan ia dididik oleh pamannya Mansur Al-Batha'ihi, yang tinggal di Basrah. Menurut Sya'rani dalam kitabnya Lawaqihul Anwar, pamannya itu adalah seorang Syekh Tarekat, yang kemudian dinamakan menurut nama Ahmad "Rifa'iyah". Ia pernah belajar juga pada seorang pamannya yang lain, Abul Fadl Ali Al-Wasithi, mengenai hukum-hukum Islam dalam mazhab Syafi'i. Ia belajar dengan giat dalam segala cabang ilmu sampai umur 27 tahun. Ia mendapat ijazah dari Abul Fadl dan Khirqah dari Mansur, yang telah bertempat tinggal di Umm Abidah, dan yang kemudian meninggal di sana dalam tahun 540. Ahmad tidak melepaskan keluarga ini dan banyak bergaul dengan anak-anak Mansur, yang semuanya ahli tarekat.
Orang tidak mengetahui apa ia pernah menulis kita mengenai tarekatnya. Yaqut pun tidak menceriterakan apa-apa tentang itu. Beberapa hal mengenai tarekatnya ditulis oleh murid-muridnya, begitu juga terdapat di sana-sini dalam kitab-kitab yang membicarakan tentang ilmu Sufi. Dengan demikian menjadi pentinglah yang ditulis oleh Abul Huda mengenai pengajaran-pengajarannya, kumpulan-kumpulan syairnya, do'a dalam bermacam bentuk, wirid-wirid dalam kitab-kitab yang aneka warna. Dalam manaqib ada diterangkan, bahwa ia mengaku dirinya na'ib dari Ali dan Fatimah, dan banyak orang Sufi memberikan dia gelar Qutub, Ghaus, dan Syekh.
Manaqibnya menceriterakan tentang bermacam-macam hal yang terjadi pada dirinya, misalnya tentang bersedekah, tentang pergaulan dengan seorang tokoh Sufi terbesar dalam zamannya, yang melebihi kekeramatannya. Di antara ceritera yang aneh ialah mengenai ziarah Rifa'i ke Madinah. Tatkala menziarahi kubur Nabi Muhammad, Nabi konon mengeluarkan tangannya dari dalam kubur, sehingga dapat dicium oleh Rifa’i.
Sebagaimana kita katakan, bahwa tarekat Rifa’iyah ini terkenal di Indonesia, meskipun agak berbeda dengan tarekat-tarekat lain dalam hal menyiksa diri dan melukakannya sebagai salah satu tandak khusus bagi tarekat ini. Permainan ini dinamakan dabus.
Perkataan dabus ini berasal dari bahasa Arab Dabbus yaitu sepong besi yang tajam. Dalam permainan dabus ini orang-orang Rifa’iyah berzikir di tengah-tengah suara rebana yang gemuruh, di Aceh rapa’i namanya, sebagaimana kita katakan di atas berasal dari Rifa’i, tokoh tarekat yang dianggap keramat, meninggal 1182 M, seorang teman semasa dengan tokoh tarekat besar yang lain. Abdul Qadir Jailani, meninggal 1166 M, pendiri tarekat Qadiriyah. Memang sebagaimana yang dikatakan oleh Dr. C. Snouck Hurgronje dalam “De Atjehers”, j. II, hl. 256, permainan dabus dan rebana ini sangat rapat hubungannya dengan tarekat Rifa’iyah itu. Penganut-penganut tarekat yang dianggap sudah sempurna dan keramat dikurniai Tuhan dengan bermacam-macam keajaiban, di antaranya kebal, tidak dimakan senjata tajam, tidak terbakar dalam api yang menyala-nyala dsb., karena dengan bantuan kedua wali Ahmad Rifa’i dan Abdul Kadir Jailani, Tuhan memperlihatkan keajaiban-keajaiban itu kepadanya.
Kita baca dalam "Encylopaedie van Nederlandsch Oost Indie", bahwa permainan dabus ini bersama-sama tarekat Rifa’iyah tersiir hampir seluruh Indonesia. C. Poensen menceriterakan tentang permainan dabus ini di tanah Pasundan dalam kitabnya "Het daboes van Santri Soenda", begitu juga kita baca dalam kitab-kitab karangan ahli ketimuran lain, bahwa permainan ini bersama-sama tarekatnya masuk ke Sumatera Barat dengan nama badabuih.
Dalam kitab-kitab tua tulisan tangan, yang masih terdapat di sana sini di seluruh Indonesia, kita masih mendapati ajaran-ajaran Ahmad Rifa’i ini, meskipun gerakan ini tidak begitu kelihatan lagi hidup dalam masyarakat.
Tarekat Rifa’iyah ini, yang mula-mula berdiri di Irak kemudian tersiar luas ke Basrah, sampai ke Damaskus dan Stambul di Turki. Cabang-cabangnya yang terdapat di Syria ialah Hariyah, Sa’diyah dan Sayyidiyah, yang terdapat di Mesir bernama Baziyah, Malikiyah dan Habibiyah, terutama dalam abad yang ke XIX Masehi. Cabang Sa'diyah di Syria didirikan oleh Sa’duddin Jibawi (mgl. 1335 M), yang bercabang pula, masing-masing didirikan oleh dan bernama Abdus Salamiyah dan Abdul Wafaiyah. Hariri, pendiri cabang di Syria wafat. 1247.
Sumber: Prof. Dr. H. Aboebakar Atjeh dalam buku "Pengantar Ilmu Tarekat". halaman 355-358, Cetakan III, Januari 1985 M, Penerbit Ramadhani, Solo, Jawa Tengah
« Prev Post
Next Post »