Rabu, 28 Agustus 2024

Tarekat Sammaniyah

Nama tarekat ini terambil daripada nama seorang guru tasawwuf yang masyhur, disebut Muhammad Samman, seorang guru tarekat yang ternama di Madinah, pengajarannya banyak dikunjungi ororang Indonesia di antaranya berasal dari Aceh, dan oleh karena itu tarekatnya itu banyak tersiar di Aceh, biasa disebut tarekat Sammaniyah. Ia meninggal di Madinah dalam tahun 1720 M.

Sejarah hidupnya dibukukan orang dengan nama Manaqib Tuan Syeikh Muhammad Saman, tertulis bersama kisah Mi’raj Nabi Muhammad, dalam huruf Arab, disiarkan dan dibaca dalam kalangan yang sangat luas di Indonesia sebagai bacaan amalan dalam kalangan Rakyat. Sayang dalam Manaqib ini tidak berapa banyak yang mengenai kehidupan sehari-hari daripada tokoh tarekat ini, tetapi yang banyak diceriterakan ialah tentang salih dan zuhudnya, keramat dan keanehan-keanehan yang terdapat pada dirinya sebagai kutub, yang pernah hidup di negeri Madinah. Dalam kitab ini disebutkan, bahwa khalifah Syeikh Muhammad Saman, yang bernama Syeikh Siddiq Al-Madani, tertarik akan kisah wali-wali Tuhan dan tertarik kepada Hadits Nabi, yang ko non menjanjikan rahmat Tuhan bagi mereka yang suka membaca manaqib wali-wali itu, di samping membaca Qur'an, membaca tahlil dan bersedaqah, tergeraklah ia akan menulis Manaqib gurunya Syeikh Muhammad Saman, yang dianggap ahli syari'at, tarekat dan hakekat, ku tub dalam negeri Madinah. Konon pembacaan Manaqib Syeikh Muhammad Saman ini demikian pengaruhnya, sehingga "barang siapa berkehendak ziarah akan kubur Rasulullah saw. padahal tiada minta izin kepadanya (Syeikh Muhammad Saman), niscaya adalah ziarahnya itu sia-sia" (hal. 3). Apa sebab maka demikian, karena Syeikh Muhammad Saman itu pada waktu di Madinah adalah orang yang sangat berkhidmat, sejak masa kecilnya sampai ia menjadi mursyid, seorang yang sangat memuliakan akan ibu bapanya, seorang yang selalu musyahadah dan muraqabah dan tidur tidak berkasur, pada waktu sahur ia bangun sendiri, lalu melakukan ratib, bersembahyang Subuh berjem?'ah, dan segala amal ibadah yang lain.

Dalam Manaqib itu diceriterakan segala cara Syeikh Muhammad Saman melakukan ibadatnya, yang oleh pengikut-pengikutnya diturut sebagai tarekat, misalnya ia sembahyang sunat asyraq dua raka'at, sunat Dhuha dua belas raka'at, membanyakkan riadhah, menjauhi kesenangan dunia. Dan oleh karena itu sebelum sampai umurnya ia sudah termasuk orang yang saleh. Pada suatu hari orang tuanya memberi makan kepadanya, tidak berapa lama kemudian orang tuanya kembali, tetapi dengan terperanjat didapatinya makanan itu masih utuh. Tatkala orang tuanya menceriterakan hal itu kepada guru anaknya, guru itu menjawab bahwa anak itu tidak syak sudah menjadi waliyullah. Ceritera ini mengemukakan lebih lanjut bagaimana Syeikh Muhammad Saman siang malam duduk dalam uzlah, bagaimana ia uzlah dan masuk khalwat, ziarah ke Baqi', tempat kuburan segala isteri-isteri Nabi Muhammad yang terletak dekat kota Madinah. Manaqib itu selanjutnya menceriterakan kisah permulaan Syeikh Muhammad Saman menjalani tarekat dan hakekat. Pada suatu kali ia memakai pakaian yang indah-indah. Kepadanya datang Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani membawa pakaian jubah putih. Syeikh Muhammad Saman, yang ketika itu dalam khalwat diperintahkan membuka pakaiannya yang indah-indah itu lalu disuruh pakai jubah putih yang dibawanya. Katanya : "Inilah pakaian yang layak untukmu".

Konon Syeikh Muhammad Saman selalu menutup-nutup dan menyembunyikan ilmunya serta amalnya, hingga datanglah perintah daripada Rasulullah menyuruh melahirkan ilmu dan amalnya itu dalam kota Madinah. Maka termasyhurlah ilmu dan amalnya itu, sehingga datanglah orang berduyun-duyun dari beberapa negeri mengambil tarekat kepadanya. Tidak kurang banyaknya datang pengiriman-pengiriman mas dan perak dari raja-raja kepadanya, tetapi mas dan perak itu segera dibagikan kepada fakir miskin, tidaklah ada yang tinggal padanya barang sesen jua pun. Kepada murid-murid Syeikh Muhammad Saman mengajarkan cara sembahyang, cara berzikir, cara bersalawat, membaca istigfar, cara menghadapakan sesuatu permohonan kepada Allah. Tidak lupa ia menasehatkan kepada murid-muridnya supaya ia beramah tamah dengan fakir miskin, jika ia guru berlemah-lembut kepada muridnya, mendidiknya naik dari satu martabat kepada martabat yang lebih tinggi. Selanjutnya wasiatnya itu berisi ajaran jangan tamak, jangan mencintai dunia, harus menukarkan akal bashyariyah dengan akal rabbaniyah, tauhid kepada Allah dalam zat, sifat dan af'alnya.

Kemudian Manaqib itu menceriterakan kekeramatan Syeikh Muhammad Saman, di antara lain : Barang siapa menyerukan namanya tiga kali, akan hilang kesusahan dunia akhirat. Barang siapa ziarah kepada kuburannya dan membaca Qur'an serta berzikir, Syeikh Muhammad Saman mendengarnya. Syeikh Muhammad Saman pernah mengatakan, bahwa ia sejak dalam perut ibunya sudah pernah menjadi wali, barang siapa memakan makanannya, pasti masuk sorga, barang siapa memasuki langgarnya, niscaya diampuni Allah dosanya.

Sebenarnya sejarah hidup yang lengkap daripada Syeikh Muhammad Saman ditulis orang dalam kitab Manaqib Al-Kubra, yang saya terangkan isinya ini adalah catatan dari Manaqib itu, yang diusahakan oleh Haji Mohammad Idris bin Mohammad Tahir, Kampung Delapan Ilir Sungai Bayas, mungkin di Palembang.

Pada penutup Manaqibnya diterangkan, bahwa seorang bernama Tuan Haji Muhammad Akib Ibn Hasanuddin di negeri Palembang berhutang seribu enam puluh ringgit, yang tak ada jalan lagi untuk membayarnya sudah kira-kira lima tahun lebih. Maka ia pun dukacitalah kerana hutangnya itu. Maka pada suatu hari sambil menangis ia meminta kepada Tuan Syeikh Muhammad Saman, seraya katanya : ”Jikalau sesungguhnya Tuan Syeikh Muhammad Saman itu qutub yang mempunyai keramat yang sangat besar, niscaya dilepaskan Allah SWT dari segala hutangku itu”. Maka kata orang itu pula : ”Maka tiba-tiba belum boleh sampai setahun lamanya daripada perkataan fakir itu, sudah dilepaskan Allah daripada segala hutang itu dengan berkat keramat Tuan Syeikh Muhammad Saman”.

Demikianlah ceritera-ceritera yang aneh-aneh tentang Syeikh Muhammad Saman, termuat dalam Manaqibnya, yang membuat orang tertarik dan gemar untuk membacakan pada kesempatan-kesempatan yang penting. Manaqib tersebut dalam kalangan anak negeri, terutama di Sumatera, begitu juga dalam segala do’a dan amal ibadat bertawasul kepadanya. Manaqib pendek ini, yang mula-mula diterbitkan di Bombay, kemudian oleh Sulaiman Mar’i di Surabaya, tersiar sangat luas, pada akhirnya ditutup dengan sebuah do’a dalam bahasa Arab untuk bertawasul kepada Syeikh tarekat terbesar itu. Memang tarekat ini sangat luas tersiar di Aceh, sebagaimana di-katakan oleh R.A. Dr. Hoesein Jayadiningrat dalam "Atjesch-Neder-landsch Woordenboek" (Batavia, 1934), mula-mula dalam bentuk tarekat yang bersih dan zikirnya terkenal dengan Rated Saman, tetapi lama kelamaan tarekat ini berubah menjadi suatu kesenian tari yang hampir sama sekali tidak ada lagi hubungan dengan tarekat. Bahkan kebanyakan ulama Aceh menentang Rateb Saman itu, yang dinamakan juga Meusaman atau seudati, karena merupakan suatu kebudayaan yang dapat mengakibatkan hal-hal yang bertentangan dengan agama. Tidak saja bacaan-bacaan yang berasal daripada zikir sudah berubah bunyinya menjadi sya’ir-sya’ir percintaan, bahkan sebagai pertumbuhan kebudayaan sudah menular kepada permainan kaum wanita, yang dinamakan Seudati Inong.

Dr. C. Snouck Hurgronje dalam bukunya "De Atjehers" (Batavia 1894, deel. II) menceriterakan, bahwa Syaikh Muhammad Saman menyusun Ratebnya dalam bahagian pertama dari abad ke 18 di Madinah, dalam kota di mana Syeikh Ahmad Qus'aysi (w. 1661) pernah juga menyiarkan ajaran tarekatnya yang berasal dari Syattariyah, tarekat yang tidak asing lagi di Indonesia. Tujuannya, sebagaimana guru-guru tarekat yang lain, ialah memberikan suatu latihan kepada murid-muridnya untuk pada akhirnya mencari keredahan Tuhan dan kedekatan kepadanya, sebagaimana terdapat dalam ajaran-ajaran sufi yang lain. Kedua-dua guru tarekat ini melatih muridnya dalam ajaran yang sangat sederhana. Tarekat Samaniyah terdiri daripada ucapan-ucapan zikir, yang biasanya diamalkan malam Jum‘at dalam mesjid dan langgar-langgar bersama-sama sampai jauh malam. Zikir dan ratib itu biasanya diucapkan dengan suara yang amat keras, terdiri daripada nama Tuhan dan seruan kepadanya, dengan cara-cara yang tertentu, di bawah pimpinan seorang guru. Di samping kalimah syahadat, ratib Samman ini menunjukkan keistimewaannya dalam zikir, yang hanya menggunakan perkataan Hu, yaitu Dia (Allah).

Dr. Snouck Hurgronje mengakui di samping ratib Samman, lebih populer lagi di Aceh "Hikayat Samman", yang sebagaimana saya sudah ceriterakan di atas disusun daripada ceritera-ceritera yang aneh yang menunjukkan kekeramatannya. Tidak saja dibaca orang untuk mengetahui isinya, tetapi juga untuk amal yang diharapkan pahala, diharapkan pertolongan untuk menyembuhkan sesuatu penyakit atau melepaskan diri daripada sesuatu kecelakaan. Banyak orang bernazar akan memperoleh sesuatu, yang dilepaskannya dengan membaca Manaqib Syeikh Samman.

Sepanjang penyelidikan saya, Manaqib Syeikh Samman itu, sebagaimana yang tersiar di Indonesia tidak semua sama isinya. Rupanya tiap-tiap pengarang Indonesia itu menerjemahkan beberapa bagian terpenting dari Manaqib Al-Kubra berbahasa Arab, mana-mana yang dianggapnya penting. Dalam Manaqib Syeikh Muhammad Saman, yang disusun oleh Haji Muhammad Nasir bin H. Muhammad Saleh Krukut dan dicetak pada percetakan Sayyid Usman Jakarta, saya dapati ceritera-ceritera yang berlainan, meskipun semuanya mengenai kekeramatan Syeikh Muhammad Samman itu. Di antara ceritera yang dikemukakan, tidak terdapat pada naskah tersebut di atas, adalah mengenai suatu kejadian atas dirinya Syeikh Abdullah Al-Basri, yang konon karena kesalahannya pernah dipenj?rakan dalam bulan Ramadhan di Mekkah, dan dirantai kaki dan lehernya. Kehabisan akal menyebabkan Abdullah Al-Basri meminta tolong dengan menyebutkan tiga kali nama Syeikh Samman. Maka dengan tiba-tiba jatuhlah rantai itu semata demi semata, sehingga ia dapat keluar dari penjara. Hal itu diketahui oleh seorang murid Syeikh Samman yang lain, yang bertanya kepadanya bagaimana maka ia dapat terlepas dari rantai. Jawabnya : "Tatkala aku meneriak- kan namanya tiga kali, aku lihat Tuan Syeikh Muhammad Samman berdiri di hadapanku dan marah. Tatkala aku pandang mukanya tersungkurlah aku dan lupa akan diriku serta pingsan. Tatkala aku sadar kembali kulihat rantai itu telah terbuka dari badanku. Demikianlah kekeramatan Syeikh Muhammad Samman itu".

Syeikh Muhammad Samman dilahirkan tahun 1189 H, pada hari Rebo, tanggal 2 hari bulan Zulhijjah, dan kuburannya di Baqi’, dekat kuburan segala isteri Nabi.

Previous
« Prev Post

Artikel Terkait

Copyright Ⓒ 2024 | Khazanah Islam