Selasa, 27 Agustus 2024

Kaidah Moral Metode Descartes

Sebelum membangun kembali rumah tempat tinggal kita, tidak cukuplah kalau kita hanya membongkarnya, menyediakan material serta arsiteknya, atau menjadi arsitek sendiri, selain telah menyiapkan gambarnya. Di samping itu masih harus siap dengan rumah lain yang dapat kita diami dengan nyaman selama pekerjaan dilakukan. Demikian pula, agar tidak ragu-ragu dalam bertindak, sementara menurut nalar saya harus bersikap seperti itu dalam membuat penilaian, dan agar pada tahap itu sedapat mungkin saya tetap hidup bahagia, maka saya membuat kaidah moral sementara, yang hanya terdiri dari tiga atau empat prinsip, yang dengan senang hati akan saya sampaikan kepada Anda.

Yang pertama adalah mematuhi undang-undang dan adat-istiadat negeri saya, sambil tetap berpegang teguh kepada agama yang, berkat karunia Tuhan, telah diajarkan kepada saya sejak masa anak-anak. Dalam hal-hal lain saya berpedoman pada pendapat yang paling moderat dan paling jauh dari yang ekstrem, yang dalam praktek diterima secara umum oleh orang-orang yang paling bijaksana di lingkungan saya. Karena mulai saat itu saya menganggap semua pendapat saya salah, untuk mengujinya kembali, saya yakin bahwa jalan terbaik adalah mengikuti pendapat orang-orang yang paling bijaksana. Meskipun di antara orang-orang Persia dan Cina terdapat orang-orang arif seperti di antara bangsa kita, saya merasa bahwa yang paling berguna bagi saya adalah menyesuaikan diri dengan pendapat orang-orang yang merupakan lingkungan pergaulan saya. Untuk mengetahui pendapat mereka yang sesungguhnya, saya harus lebih berpegang pada apa yang mereka lakukan daripada apa yang mereka katakan, bukan saja karena hanya sedikit orang yang mau mengatakan apa yang mereka yakini—mengingat rusaknya adat-istiadat kita—melainkan juga karena beberapa orang memang tidak mengetahui apa yang mereka yakini. Oleh karena daya nalar yang menyebabkan kita meyakini sesuatu berbeda dengan daya nalar yang menyebabkan kita mengetahui bahwa kita meyakini hal-hal ltu, maka sering adanya unsur yang satu tidak disertai dengan adanya unsur yang lain.

Di antara beberapa pendapat yang sama-sama diterima secara umum, saya memilih hanya yang paling moderat, bukan hanya karena paling mudah dilaksanakan dan kelihatannya paling baik—karena biasanya yang ekstrem cenderung jelek—tetapi juga agar saya tidak terlalu menyimpang dari jalan yang benar; sebab seandainya saya gagal karena memilih salah satu ekstrem, yang harus saya ambil tentulah ekstrem yang lain. Terutama saya menggolongkan semua janji sebagai ekses yang membatasi kebebasan seseorang, bukan karena saya tidak menerima adanya undang-undang—yang dengan tujuan mengimbangi ketidaktetapan pribadi-pribadi yang lemah, memungkinkan seseorang untuk membuat perjanjian atau kontrak yang haruskan mereka patuhi, bila merekamempunyai suatu rencana yang baik atau bahkan rencana yang netral, demi lancarnya urusannya—tetapi karena di dunia ini saya tidak melihat satu hal pun yangtetap keadaannya. Sejauh menyangkut diri saya sendiri, saya memang telah bertekad untuk menyempurnakan penilaian saya, dan sama sekali bukan untuk membuatnya tambah buruk. Oleh karena itu, saya akan menganggap diri membuat kesalahan besar terhadap akalsehat apabila, dengan dalih pernah menyetujui sesuatu, saya merasa berkewajiban untuk tetap menganggapnya baik, padahal sebenarnya sudah tidak baik lagi, atau bila menurut anggapan saya sudah tidak baik lagi. Prinsip saya yang kedua adalah bersikap setegas dan semantap mungkin dalam tindakan saya, dan mengikuti pendapat yang paling meragukan secara sama mantapnya sebagaimana mengikuti pendapat yang sangat meyakinkan, bila saya telah memutuskan untuk mengikutinya.

Dalam hal ini saya meniru pengembara yang tersesat di dalam hutan: ia tidak boleh berjalan tanpa arah, kadangkadang membelok ke sana kadang-kadang kemari, apalagi berhenti di suatu tempat; ia harus berjalan selurus mungkin ke satu arah, dan tidak mengubahnya demi alasan sepele, walaupun semula mungkin hanya secara untung-untungan ia memutuskan mengambil arah tersebut. Dengan cara itu, jika ia tidak berhasil mencapai tempat yang ditujunya, paling tidak akhirnya ia akan tiba di suatu tempat; dan itu lebih baik daripada tetap di tengah hutan. Demikian pula halnya dengan kejadian-kejadian dalam hidup ini, yang sering tidak dapat ditangguhkan. Sudah pasti bahwa, manakala kita belum mampu membedakan pendapat yang paling benar, kita harus mengikuti yang paling dapat diterima. Dan bahkan, walaupun kita belum dapat melihat yang paling mungkin di antara beberapa pendapat, kita tetap harus menentukan pilihan yang harus kita anggap bukan lagi sebagai hal yang diragukan—jika kita hadapkan dengan kenyataan sesudahnya—melainkan sebagai sesuatu yang sangat benar dan meyakinkan, karena pertimbangan yang membuat kita memutuskan demikian adalah benar. Dengan cara semacam ini saya menjadi bebas dari segala rasa sesal dan kecewa yang biasanya menggoncangkan pikiran orang yang bernalar lemah dan bimbang, yang secara tak menentu membiarkan diri melakukan hal yang semula mereka anggap baik, tetapi dianggapnya jelek di kemudian hari.

Prinsip ketiga adalah selalu berusaha mengalahkan diri sendiri, dan bukannya nasib; mengubah keinginankeinginan sendiri, dan bukannya merombak tatanan dunia; serta membiasakan diri untuk meyakini bahwa tidak ada satu pun yang berada di bawah kekuasaan kita sepenuhnya kecuali pikiran kita. Dengan demikian, jika kita gagal—walaupun kita sudah berusaha sebaik mungkin mengenai hal-hal yang berada di luar kekuasaan kita—lalu tampak nyata bahwa hal itu memang benarbenar mustahil bagi diri kita.

Pertimbangan ini saja rasanya sudah cukup bagi saya untuk menghindari keinginan apa pun terhadap masa mendatang yang tak mungkin saya peroleh, sehingga hah saya puas. Mengingat bahwa secara alami kita hanya menghendaki hal-hal yang menurut pikiran kita memiliki kemungkinan untuk dicapai, tentunya apabila kita menganggap bahwa semua kebaikan yang ada di luar kita pun berada di luar jangkauan kemampuan kita, kita tidak akan menyesal jika tidak dapat meraihnya—karena memang sudah nasib kita—kalau kegagalan itu tidak diakibatkan oleh kesalahan sendiri. Kita pun tidak menyesal tidak memiliki kerajaan Cina atau Meksiko. Dengan berpedoman pada pepatah "mengusahakan yang terbaik dari keadaan yang tidak baik", kita tidak akan lebih menginginkan keadaan sehat, kalau sedang sakit; atau tidak akan lebih menginginkan kebebasan, kalau sedang dibelenggu. Kita pun tidak akan berangan-angan memiliki tubuh yang terbuat dari bahan yang tidak gampang rusak seperti berlian, ataupun mempunyai sayap untuk terbang seperti burung. Kendati demikian, saya mengakui bahwa diperlukan latihan yang panjang dan meditasi yang lama serta berulang-ulang untuk membiasakan diri memandang segala sesuatu dari sudut pandang seperti itu. Menurut pendapat saya, inilah terutama rahasia para guru kebijaksanaan yang berhasil membebaskan diri dari kekuasaan harta, dan yang walaupun menderita serta miskin, tetap saja mampu berbincang-bincang tentang kebahagiaan dengan dewa-dewa mereka. Sebab, dengan terus-menerus menggumuli batas-batas yang ditetapkan oleh alam bagi mereka, mereka menjadi sangat yakin bahwa tak suatu pun berada di bawah kekuasaan mereka kecuali pikiran mereka sendiri. Hal tersebut sudah cukup untuk mencegah mereka menginginkan hal-hal lain. Dan mereka menerapkan pikiran mereka dengan sedemikian mutlak, sehingga ada dasamya kalau mereka menganggap diri lebih kaya dan lebih berkuasa, lebih bebas dan lebih bahagia dari siapa pun yang—walaupun dimanja oleh alam dan harta—tidak dapat memperoleh semua yang mereka inginkan, karena tidak menganut paham semacam itu.

Akhirnya, untuk menutup pembahasan tentang moral, saya memutuskan untuk menelaah berbagai kegiatan yang biasa dilakukan orang dalam hidup ini satu demi satu, supaya dapat memilih yang terbaik. Tanpa bermaksud membicarakan kegiatan orang lain, saya pikir yang terbaik untuk saya lakukan adalah melanjutkan kegiatan yang sedang saya lakukan, yakni mengembangkan nalar seumur hidup saya dan meneruskan penelitian tentang kebenaran sejauh mungkin, sesuai dengan metode yang telah saya tetapkan. Sejak saya mulai menggunakan metode ini, saya telah memperoleh begitu banyak kepuasan, sehingga saya berpendapat bahwa dalam hidup ini kita tidak mungkin mendapat kebahagiaan yang lebih menyenangkan dan murni daripada itu. Dengan menggunakan metode itu, setiap hari saya menemukan beberapa kebenaran yang bagi saya tampak cukup penting—yang pada umumnya tidak diketahui orang lain—sehingga kepuasan yang ditimbulkannya begitu memenuhi hati saya dan hal lain tidak penting lagi bagi saya. Selain ketiga prinsip yang telah saya kemukakan terdahulu—dan yang berlandaskan keinginan saya untuk terus belajar—karena Tuhan telah memberikan kepada kita masing-masing cahaya untuk membedakan yang benar dan yang salah, saya berpendapat bahwa saya tidak harus merasa puas sesaat pun dengan pendapat orang lain, jika saya tidak berkeinginan menggunakan pikiran saya sendiri untuk menilainya pada suatu kesempatan.

Saya juga tidak akan terlepas dari rasa bersalah mengikuti pendapat itu, seandainya tidak berharap mendapat kesempatan untuk menemukan pendapat yang lebih baik, jika memang ada. Akhimya, saya pun tidak mungkin dapat membatasi keinginan saya atau merasa puas, seandainya saya tidak memilih jalan yang saya anggap dapat menghantar saya untuk mencapai semua pengetahuan yang dapat saya jangkau, sekaligus semua hal yang baik yang dapat diperoleh, selaras dengan kemampuan saya itu. Lagi pula, karena kehendak kita mengejar atau menghindari sesuatu semata-mata karena nalar kita menganggapnya baik atau jelek, cukuplah kalau kita menilai dengan baik agar dapat bertindak dengan baik, dan menilai sebaik mungkin agar dapat mengerjakan sesuatu sebaik-baiknya juga, guna mencapai semua kebenaran, dan sekaligus semua kebaikan yang mungkin diperoleh. Dan jika kita yakin akan hal itu, tidak dapat tidak kita akan merasa puas.

Setelah merasa yakin akan prinsip-prinsip itu dan memisahkannya dengan kebenaran iman yang selalu merupakan kepercayaan asasi saya, saya berpendapat bahwa saya bebas untuk mulai melepaskan pendapat-pendapat saya yang lain. Karena saya berharap dapat lebih mencapai tujuan dengan berbincang-bincang dengan sesame manusia daripada dengan mengurung diri dalam kamar yang hangat oleh tungku pemanas, tempat saya mendapat gagasan-gagasan itu, saya mulai bepergian lagi tatkala musim dingin belum benar-benar berakhir. Selama sembilan tahun berikutnya, tak ada yang saya kerjakan selain berkelana ke sana kemari di berbagai tempat di dunia, sambil berusaha berperan sebagai penonton dan bukan sebagai pelaku dalam semua komedi kehidupan yang saya saksikan. Di dalam setiap kejadian, yang saya utamakan adalah merenungkan apa yang dapat menimbulkan keraguan dan menyesatkan; dan dengan cara seperti itu saya mencabut semua kekeliruan yang pemah menyelinap ke dalam benak saya sebelumnya. Dengan berbuat demikian, saya bukan hendak meniru kaum skeptik, yang meragukan sesuatu sekadar untuk meragukannya saja dan selalu berpura-pura bimbang. Malahan sebaliknya, tujuan saya adalah mendapatkan sesuatu sebagai dasar keyakinan saya dan menyingkirkan lumpur serta pasir untuk menemukan cadas atau tanah liat. Dalam hal itu saya merasa cukup berhasil baik.

Lagi pula, dalam usaha menemukan kekeliruan dan ketidakpastian dalil-dalil yang saya teliti—bukan atas dasar perkiraan-perkiraan yang lemah melainkan berdasarkan penalaran yang jelas dan meyakinkan—saya tidak pemah menemukan hal-hal yang sedemikian meragukan yang membuat saya tidak dapat membuat kesimpulan yang cukup meyakinkan, walaupun mungkin dalil itu sendiri tidak mengandung sesuatu yang meyakinkan. Seperti halnya bila seseorang menghancurkan rumah tua, biasanya ia menyimpan puingnya untuk membangun yang bam, demikian pula ketika saya membongkar semua gagasan saya yang menurut hemat saya tidak memiliki dasar yang baik, saya melakukan berbagai pengamatan dan memperoleh bermacam-macam pengalaman, yang kemudian berguna bagi saya untuk membentuk gagasan yang lebih meyakinkan.

Di samping itu, saya terus melatih diri menggunakan metode yang telah saya tetapkan. Saya selalu menerapkan kaidah-kaidah metode itu dalam penalaran saya, dan kadang-kadang menyisihkan beberapa jam secara khusus untuk memecahkan soal-soal matematika. Cara pemecahan soal-soal matematika itu saya pakai juga untuk membahas soal-soal ilmu lain, yang dapat saya jadikan serupa dengan soal matematika dengan memisahkannya dari prinsip-prinsip ilmu yang bersangkutan—bila saya menganggapnya kurang kuat dasarnya—sebagaimana dapat Anda temukan contoh penerapannya untuk beberapa bidang ilmu dalam buku ini.

Demikianlah, secara lahir saya tidak kelihatan berbeda dari orang-orang yang tidak mempunyai kesibukan lain selain hidup tenang dan damai dengan berusaha menghindari dosa tetapi mendapat kesenangan, dan yang mencari hiburan yang tak tercela untuk menikmati waktu senggang mereka tanpa menghadapi kesulitan. Namun, sebenarnya saya terus melanjutkan rencana saya dan mendapat manfaat dari pengetahuan yang semakin dalam tentang kebenaran, barangkali lebih daripada yang mungkin saya peroleh dengan membaca buku atau mengunjungi para cendekiawan. Sementara itu, sembilan tahun telah berlalu dan saya tetap belum menentukan sikap terhadap masalah-masalah yang biasanya diperdebatkan oleh para cendekiawan. Saya juga belum mulai mencari dasar untuk suatu filsafat yang lebih meyakinkan daripada falsafah orang kebanyakan. Pengalaman beberapa pakar cemerlang— yang juga mempunyai rencana semacam ini sebelumnya, dan yang saya rasa tidak berhasil—membuat saya membayangkan bahwa kesulitannya demikian banyak, sehingga saya tentu tidak akan berani cepat-cepat mencoba melakukannya, seandainya saya tidak mendengar kabar burung yang tersebar luas bahwa saya telah berhasil menyelesaikan rencana saya. Saya tidak mengerti benar apakah dasar pendapat itu. Jika salah satu dasamya berasal dari uraian-uraian saya, itu tentulah karena saya mengakui ketidaktahuan saya secara lebih polos daripada yang biasa dilakukan oleh orang-orang yang tanggung-tanggung pengetahuannya, atau mungkin juga karena saya menunjukkan alasan-alasan mengapa saya meragukan banyak hal yang oleh orang lain dipandang sebagai hal yang pasti; yang jelas, bukan karena saya memprakarsai suatu paham tertentu.

Namun, karena saya berniat jujur dan tidak ingin dianggap lebih daripada kenyataan saya yang sebenarnya, saya berpendapat bahwa saya harus berusaha sekeras mungkin agar dapat mencapai tuntutan reputasi yang diberikan orang kepada saya. Sudah delapan tahun lamanya keinginan itu mendorong saya untuk menjauhkan diri dari tempat-tempat di mana saya mempunyai kenalan, dan mengucilkan diri di sini , di sebuah Negara yang berkat perang yang lama telah menjadi demikian tertib, sehingga angkatan perang yang ditempatkan di sini tampaknya hanya dimaksudkan untuk menjaga agar penduduk dapat menikmati hasil perdamaian dalam suasana aman yang lebih terjamin. Di sinilah, di tengah-tengah suatu bangsa besar yang sangat giat bekerja dan lebih suka memperhatikan urusannya sendiri daripada ingin mengetahui urusan orang lain, dan dengan dukungan segala kemudahan yang biasa diperoleh di kotakota besar yang ramai dikunjungi orang, saya dapat hidup menyendiri dan terasing, bagaikan di gurun-gurun pasir yang paling terpencil. Yang dimaksudkan adalah Negen Belanda la pergi ke sana pada tahun 1628

Previous
« Prev Post

Artikel Terkait

Copyright Ⓒ 2024 | Khazanah Islam