Salah seorang daripada tokoh tarekat Ba Alawi ialah Sayyid Abdullah bin Alawi bin Muhammad Al-Haddad, pencipta Ratib Haddad, yang banyak dikenal dan diamalkan, baik di Hadramaut atau di Indonesia, India, Hijaz, Afrika Timur dll. Al-Haddad ini.lahirnya di Tarim, sebuah kota yang terletak di Hadramaut, pada malam Senen, 5 Safar, th. 1044 H. Ia mempelajari agama Islam pada ulama-ulama Ba Alawi, kemudian juga ia berpindah belajar di Yaman dan kemudian menyempurnakannya ke Mekkah dan Madinah. Tatkala ditanya orang padanya, pada guru-guru mana ia belajar, terutama ia mempelajari ilmu tasawwuf dan tarekat, ia menjawab bahwa ia tidak dapat menyebutkannya seorang demi seorang, karena jumlahnya lebih dari 100. Bagaimanapun juga di antara guru-gurunya yang terpenting dapat kita baca di sana-sini disebut orang dalam kitab-kitab mengenai dirinya, ialah Sayyid bin Abdurakhman bin Muhammad bin Akil As-Saggaf, karena padanya ia mendapat ijazah tertinggi dari Sulf. Memang As-Saggaf ini adalah seorang tokoh sufi yang terkenal dalam mazhab Mulamatiyah. Selanjutnya disebut orang sebagai gurunya ialah Sayyid Abubakar bin Abdurakhman bin Syihabuddin dan guru sufi yang terkenal Abdurakhman bin Syeikh Aidid. Tetapi gurunya yang terpenting, menurut keterangan yang saya peroleh, ialah Sayyid Umar bin Abdurakhman Al-Attas, seorang daripada tokoh tarekat yang terkenal, yang dianggap luar biasa dalam ilmu hakekat. Al-Haddad sendiri menyebut nama tokoh tarekat ini dengan penuh hormat sebagai gurunya, dan menerangkan bahwa daripadanyalah ia peroleh ajaran tarekat zikir yang sempurna serta peroleh khirqah terakhir.

Oleh karena saya sangka bahwa tarekat Al-Haddad itu banyak dipengaruhi oleh tarekat dan ajaran tasawwuf Al-Attas ini, baiklah saya ceriterakan agak panjang sedikit sejarah hidup gurunya itu. Sebenarnya mengenai Al-Attas orang peroleh uraian yang panjang lebar dalam sebuah kitab yang bernama ”Al-Qirthas fi Manaqib Al-Attas", karangan Imam Ali bin Hasan Al-Attas, seorang tokoh tasawwuf yang terkenal juga dan kuburnya terdapat di Hadramaut. Karangan ini belum pernah dicetak, hanya ditulis dengan tangan, dan disalin oleh mereka yang berkepentingan, sehingga tersiar luas juga di Indonesia. Saya melihat Manaqib ini pada Sayyid Ali bin Husain Al-Attas di Jakarta, yang berkemurahan hati memberikan kepada saya mencatat beberapa hal mengenai diri guru yang terpenting dari Al-Haddad yang akan kita tulis sejarah hidup dan ratibnya itu.

Sayyid Umar bin Abdurakhman bin Akil Al-Attas mempunyai hubungan keturunan sampai kepada Imam Ja'far Sadiq, Imam Ali Zainal Abidin, dan dengan demikian merupakan anak cucu daripada Fatimah, putri Nabi. Ia dilahirkan dalam sebuah desa di Hadramaut, yang bernama Al-Issak, dalam 1072 H. Al-Attas ini hanya belajar pada seorang gurunya saja, bernama Sayyid Husain Ibn Abi Bakar bin Salim.

Diceriterakan bahwa Al-Attas ini pada waktu kecilnya kena serangan penyakit cacar dan dengan demikian buta kedua belah matanya, yaitu tatkala ia berumur 4 tahun. Kebutannya itu tidak menghambat kemajuan pendidikannya. Ia dalam waktu yang sangat singkat sudah menghafal Al-Qur'an seluruhnya, begitu juga pelajaran-pelajaran yang disampaikan oleh gurunya diangkat di luar kepala seluruhnya. Keluarbiasaan ini tidak saja menimbulkan cinta kasih sayang gurunya kepadanya, tetapi juga membuat gurunya sangat menghormatinnya. Gurunya tidak pernah bangkit berdiri untuk seseorang yang datang menemuinya, kecuali terhadap Al-Attas itu, sambil mengucapkan selalu: "Marhaban".

Nilai kebesarannya Al-Attas itu tidak terletak dalam karangan-karangannya, tetapi dalam kesalihannva dan amalnya, terutama murid-muridnya yang diajarkan dalam keadaan tidak melihat itu. Katanya, bahwa murid-muridnya itulah karangannya.

Banyak orang menceriterakan tentang keanehan dan kekermatannya. Di antaranya Abu Turab, seorang pengarang yang terkenal, yang menceriterakan, bahwa ada suatu hari ia haus dan ingin minum seteguk air. Orang melihat ia menepuk tanah, dan konon terpancarlah air dari dalam tanah itu. Konon pula tepukan yanp pertama di atas tanah itu mengeluarkan sebuah bejana, yang tidak terpermanai indahnya, terbuat daripada kaca putih bersih. Abbul Abas Ar-Riqqi menerangkan, bahwa bejana itu sampai sekarang masih tersimpan di Makkah. Keanehan yang lain diceriterakan orang, bahwa ia kedatangan tamu dan tidak mempunyai lauk-pauk untuk memberi makannya. Tiba-tiba seorang membawakan dia daging, dan ia lalu memotong-motong daging itu dengan sebuah pisau, yang dengan tiba-tiba dikeluarkan dari saku bajunya, sedang orang ketahui, bahwa sebelumnya saku bajunya itu kosong adanya. Keanehan yang lain berbunyi, bahwa gurunya permemerintahkan dia pergi ke sebuah desa yang penuh dengan orang jahat, terletak di Do'an dan di Wadi Oman. Ia laksanakan perintah itu dan ia sampaikan ajaran-ajarannya di sana selama 40 tahun lamanya, sehingga seluruh penduduk desa itu menjadi orang baik-baik semuanya.

Abdullah bin Umar Ba Ubaid menerangkan, bahwa Sayyid Umar tersebut adalah seorang wali, yang tidak dapat disaingi pengetahuannya. Ia seorang qutubb dalam zamannya, sesudah gurunya Abubakar bin Salim yang disebutkan di atas. Orang menyebutkan juga dia seorang ahli kasyaf.

Tarekat dan ratibnya termasyhur, dan tak dapat tidak mempengaruhi tarekat dan ratib muridnya Al-Haddad. Ratib Al-Attas ini sangat luas dan disebutkan kupasan atau syarahnya dalam bahagian yang kedua dari kitab yang kita sebutkan di atas "Al-Qirthas fi Manaqibi AI-Attas". Pengarangnya memberi uraian yang panjang lebar tentang tarekatnya dan ratibnya dengan mengemukakan hadits-hadits Nabi yang saheh dan ayat-ayat Qur'an yang langsung ada hubungannya. Sayang kitab tersebut sampai sekarang tidak dicetak, sehingga kita tidak dapat mempelajarinya secara perbandingan. Dan oleh keren itu juga saya berpendapat, bahwa tarekat Al-Attas itu tidak tersiar luas di Indonesia, meskipun AI-Qirthas dalam bentuk manuskrip terdapat pada beberapa orang yang tertentu.

Kita sudah sebutkan, bahwa ia tidak meninggalkan karangannya, tetapi murid-muridnya yang banyak itu menyampaikan ajarannya itu dari mulut ke mulut dan menyebut dalam kitab-kitab karangan mereka.

Di antara murid-muridnya ialah Sayyid Isa bin Muhammad Al-Habasvi di Khanfar, Hadramaut, Syeikh Ali bin Abdul Ilah Baras, di Quraibah, Do'an, Hadramaut, dll., semuanya tokoh-tokoh terkenal dalam tasawwuf.

Tetapi sebagimana kita katakan salah seorang yang sangat terkemuka dan dicintai di antara murid-muridnya ialah Sayyid Abdullah bin Alawi bin Muhammad Al-Haddad, pencipta Ratib Haddad, yang sedang kita bicarkan itu. Al-Haddad ini kemudian menjadi tokoh besar dalam tarekat dan seorang pengarang yang ternama. juga ia seorang yang tidak dapat melihat, meskipun otaknya tajam dan ilmunya sangat luas, mengajar di sana-sini, dan mengarang, yang disalin orang dari pada ucapan-ucapannya yang berharga itu. Penyakit ini diperolehnya sejak kecil, meskipun demikian tidak menggangu jalan pendidikannya dan jalan pengajarannya. Ia terkenal sebagai seorang abid. Tiap hari ia keliling kota Tarim untuk bersembahyang sunat dalam tiap-tiap mesjid.

Dalam kitab Masyrn'ul Rawi disebutkan, bahwa ia seorang yang melimpah-limpah ilmunya, ahli yang mempertemukan hakekat dan syare'at, sejak kecil ia telah menghafal Al-Qur'an 30 juz, seorang yang bersungguh-sungguh dalam membersihkan dirinya dan mengumpulkan ilmu pengetahuannya dari ulama-ulama terkenal yang semasa dengan dia, seorang mujadid yang terkenal ijtihad-ijtihadnya dalam persoalan ibadah, seorang yang bersungguh-sungguh menghidupkan ilmu dalam amal, dan oleh karena itu dikenal orang di Timur dan di Barat. Terhadap pendidikannya, sejarah Masyara'ul Rawi menerangkan, bahwa ia seorang yang banyak melahirkan murid-murid yang salih, yang tersi?r kemudian ke seluruh pojok bumi dari zaman ke zaman. Diceriterakan juga, bahwa ia pernah mengunjungi Mekkah dan Madinah dalam tahun 1080 H, dan salah seorang gurunya di Mekkah ialah Sayyid Muhammad bin Alawi As-Saqqaf Ba Alawi.

Oleh karena pada penutup ratibnya selalu disebut-sebut Ba Alawi yang dianjurkannya menghadiahkan bacaan Fatihah, ada baiknya kalau kita mengetahui serba sedikit tentang Ba Alawi ini, yang tarekat juga tak dapat tidak mempengaruhi Ratib Haddad. Dalam juz ke II daripada kitab "Masyara'ul Rawi fi Managibi Sadat Ba Alawi", karangan seorang arifin Muhammad bin Abubakar Asy-Sylli, dapat kita baca bahwa mungkin yang dimaksudkannya itu ialah Muhammad bin Ali bin Muhammad, pencipta tarekat Ba Alawi ini, yang tarekatnya juga tak dapat tidak mempengaruhi Ratib Haddad, yang keturunannya sambung-menyambung sampai kepada Imam Ja'far Syadiq, anak Imam Al-Baqir, anak Imam Ali Zainal Abidin, anak Imam Husein bin Ali Abi Thalib. Nama Zainal Abidin sangat terkenal dalam dunia tasawwuf dan tarekat umum, serba sedikit sudah saya ceriterakan dalam kitab saya "Pengantar Sejarah Sufi dan Tasawwuf" dan saya bicarakan juga tentang do'anya yang terkenal dengan nama Sajaditah. Do'a-do'anya itu sekarang sudah dikumpulkan dalam sebuah kitab yang bernama "As-Sahifah Al-Kamilah As-Sajadiyah" (Nejef, 1321 H.), yang saya terima dari seorang alim Al-Ja'fari, melalui Asad Shahab di Jakarta.

Muhammad bin Abi bin Muhammad Syahid Marba, yang kita bicarakan ini, dilahirkan di Tarim dalam tahun 574 H, di mana ia hidup dan mempelajari segala cabang ilmu pengetahuan Islam, pada waktu gurunya yang ternama, seperti Ba Ubaid, Ba Isa, Ba Marwan, tetapi tasawwuf dan ilmu hakekat dipelajarinya dari lmam Salim bin Sasri, Muhammad bin Ali Al-Qarib dan pamannya Syeikh Alawi bin Muhammad. Syahid Marba dan Syeikh Sofyan dari Yaman Bin Abil Hib, Ibn Jadid.

Kembali kita menceriterakan tentang Al-Haddad, bahwa ia selain daripada ahli tarekat dan hakekat juga boleh dianggap seorang pengarang yang utama, meskipun ia sejak kecil menderita alat penglihatan nya. Di antara kitab-kitabnya yang terpenting dan banyak tersiar dalam pasar buku ialah An-Nasa’ih An-Diniyah, sebuah kitab dicetak di Indonesia, di antaranya oleh Salim Nabhan di Surabaya dan Al-Ma’arif di Bandung, pada pinggirnya tercatat kitab yang penting mengenai tarekatnya, bernama "Sabilul Azkar". Selanjutnya kitabnya bernama "Ad-Da’watul ittihaful Sa’il, risalah Al-Mu’awwanah, Al-Fusulul Ilmiyah, Risalatul Murid, Rasalatul Muzakarah, dan yang terpenting juga ialah Kitabul Majmu’, yang terdiri atas 4 bahagian berisi wasiat dan massalah-massalah hikam yang terpenting, dan pada akhirnya ditutup dengan kumpulan sajak-sajak yang indah, yang dinamakan Durrul Manzum. Banyak orang berpendapat, bahwa nilai sajak-sajaknya itu sangat tinggi. Orang berkata, bahwa ilmu Sayyid Abdullah Al-Haddad tidak tersimpan dalam karangannya, tetapi tersimpan dalam kepribadian, dan ihwalnya, tersimpan dalam Sya’ir dan sajaknya.

Perlu kita catat di sini, bahwa seorang muridnya yang bernama Syeikh Ahmad Al-Sawi, pernah juga menulis sebuah kitab mengenai seja- rah hidup gurunya Al-Haddad itu, bernama "Tasbitul Fuad", dalam jilid yang besar, tetapi sayang tidak dicetak, sampai sekarang tersimpan dalam salah satu perpustakaan di Hadramaut.

Sayyid Abdullah Al-Haddad, Sahib Ratib ini, menurut sejarah me ninggal pada malam Selasa tanggal 7 Zulkaedah th. 1132 H, dalam usia lebih kurang 89 th. Empat puluh hari sebelum ia meninggal di kala sa kitnya pada akhir bulan Ramadhan, ia sudah menjelaskan kejadian-kejadian yang akan datang pada dirinya.

Saya belum tutup bahagian Al-Haddad dalam karangan ini, sebelum saya menceriterakan sedikit tentang keluarganya Asy-Syii, Mu hammad bin Abu Bakar, Asy-Syii adalah pengarang Masyra’ul Rawi tersebut di atas. Lahir di Tarim tahun 980 H, adalah juga seorang yang dalam dan suka mengembara menyiarkan ilmunya sampai ke Yaman, dan India, kemudian dari sana ia pernah melawat ke Aceh dalam masa pemerintahan raja perempuan (mungkin Safiyatuddin Syah), yang dikunjunginya dan dipuji-puji kemuliaannya, kebesaraannya, kekuasaanya, kesalehannya, selalu dikelilingi oleh wazir-wazir dan raja-raja bawahannya. Ia kawin dengan anak seorang wazir, dan oleh karena itu beroleh kedudukan yang mulia dan beberapa orang anak, tinggal beberapa lama di Aceh menyiarkan ilmunya sampai ia meninggal dunia di sana (Masyara’ul Rawi, Jld. I, hal 171).

Sumber: Prof. Dr. H. Aboebakar Atjeh dalam buku "Pengantar Ilmu Tarekat". halaman 365-371, Cetakan III, Januari 1985 M, Penerbit Ramadhani, Solo, Jawa Tengah