Jumat, 23 Agustus 2024

Tarekat Khalwatiyah (2)

Oleh karena Khalawatiyah termasuk tarekat yang banyak tersiar dan banyak pemeluknya di Indonesia, saya ingin memperpanjang dan memperlengkap pembicaraan tentang tarekat ini sebagai berikut. Uraian ini saya petik dari kitab karangan Sa'id ’Aidrus Al-Habasyi "'Uqudul La’al Science Asnaditid Rijal" (Kairo, 1961), yang saya pinjam daripada seorang ulama terkemuka di Jakarta, Sayyid Salim bin Jindan.

Dalam kitab itu saya dapati ceritera, mengapa Ad-Dardir tertarik kepada tarekat Khalawatiyah dan menerimanya dari Al-Hafnawi Asy-Syafi’i, begitu juga Ali Al-Wina’i, sehingga mereka diberi persalin khirqah dari gurunya. Yang demikian itu ialah karena "Sir dan Suluk dari Syeikh Qasim Al-Khalawati" sangat sederhana dalam pelaksanaannya, untuk membawa jiwa dari tingkat yang rendah kepada tingkat yang sempurna melalui tujuh gelombang, yang disebut martabat tujuh dari jiwa itu. Bagi mereka yang sudah mengenal tarekat Naqsyabandiyah pembahagiaji jiwa manusia dalam tujuh tingkatan itu tidak asing lagi. Tujuh tingkat yang dimaksudkan itu ialah nafsul ammarah, nafsul law- wamah, nafsul mulhamah, nafsul muthma’innah, nafsul radhiyah, nafsul mardhiyah dan nafsul kamilah.

  1. Manusia yang berada dalam nafsul ammarah bersifat jahil, ki- kir, loba, takabur, pemarah, gemar kepada kejahatan, dipengaruhi syahwat, dan mempunyai sifat-sifat buruk yang lain. Manusia dalam keadaan ini hanya dapat melepaskan dirinya daripada sifat-sifat yang buruk itu ialah dengan memperbanyak zikir dan mengurangi makan dan minum.
  2. Manusia yang berada dalam nafsul lawwamah, banyak kege- maran dalam mujahadah dan pelaksanaan syari’at, ia banyak berbuat amal saleh, tetapi masih bercampur aduk dengan sifat ujub, takabur dan ria. Melepaskan dirinya daripada ria hanya dapat dilakukan dengan fana dalam ikhlas, dengan syuhud, bahwa penggerak dan penyempurna rasa ialah Allah. Melepaskan diri daripada dua sifat yang pertama dapat dilakukan dengan mujahadah, yaitu meninggalkan adat kebiasaan yang buruk, dan melakukan enam perkara, yaitu mengurangi makan, mengurangi tidur, mengurangi bicara, sering berpisah diri dari manusia, tetap dalam zikir dan dalam pikiran yang sempurna.
  1. Manusia yang berada dalam nafsul mulhamad, biasanya kuat mujahadah dan melakukan tajrid, dan oleh karena itu menemui isyarah-isyarah tauhid, tetapi ia belum dapat melepaskan diri seluruhnya daripada hukum-hukum manusia. Maka oleh karena itu manusia ini harus membiasakan badan dan jiwanya, menenggelamkan batinnya ke dalam hakekat iman, dan menenggelamkan lahirnya ke dalam kesibukan syari’at Islam.
  2. Manusia yang berada dalam keadaan nafsul muthma’innah, tidak dapat lagi meninggalkan hukum-hukum taklifi agama barang se-jari, tidak merasa enak jika tidak berakhlak dengan akhlak Nabi Muhammad, tidak merasa tenteram hatinya kecuali dengan menuruti segala pertunjuk dan sabdanya, maka manusia yang seperti ini tak dapat tidak menyenangkan segala orang yang melihat kepadanya dan mendengar ucapan-ucapannya.
  3. Manusia yang mempunyai nafsul radhiyah, ialah manusia yang ada dalam keadaan fana kedua, sudah terlepas daripada sifat-sifat manusia yang biasa, dengan tidak dipaksakan halnya dalam baga. Di antara tanda-tandanya kita lihat, bahwa ia tidak menggantungkan dirinya kepada sesama manusia, hanya kepada Tuhan semata-mata.
  4. Maka kita dapatilah manusia dalam keadaan nafsul mardhiyah, yaitu manusia yang telah dapat mencampurkan ke dalam dirinya kecintaan khalik dan khalak, tidak ada penyelewengan dalam syuhudnya, karena ia sudah kembali daripada alam gaib ke dalam alam syahadah. Ia menepati seluruh janji Tuhan dan meletakkan sesuatu pada tempatnya.
  5. Manusia yang tertinggi berada dalam keadaan nafsul kamilah, yaitu manusia yang dalam pekerjaan ibadatnya turut seluruh badannya, lidahnya, hatinya dan anggota-anggota yang lain. Manusia yang demikian banyak istigfar, banyak tawadu’, kesenangan dan kegemarannya ialah dalam tawajjuh khalak kepada Haq, sangat takut dan ngeri berada dalam keadaan lain daripada itu.

Oleh kerana itu Khalawatiyah menafsirkan makam yang tujuh buah itu dengan :

  1. nafsul ammarah ialah maqam zulmatul aghyar, kegelapan yang gelap-gulita,
  2. nafsul lawwmah ialah makam anwar, cahaya yang bersinar,
  3. nafsul mulhamah ialah maqam kamal, kesempurnaan,
  4. nafsur radhiyah ialah maqam wisal, sampai dan berhubungan, dan
  5. NafsuI mardhiyah ialah maqam tajalli af'al, kelihatan perbuatan Tuhan,
  6. nafsul kamilah ialah maqam tajalli sifat, tampak nyata segala sifat Tuhan.

Tiap-tiap manusia berada dalam satu maqam, ia tidak dapat melihat keadaan dalam maqam di atasnya, demikian sampai kepada maqam yang ketujuh. Manusia dalam maqam yang ketujuh masih belum dapat mengangkat hijab asma daripada tajalli zat. Hal ini sesuai dengan pendapat Al Junaid : Mungkin seorang manusiaeapatmerasakan ketuju maqam, tetapi tidak dapat menyempumakan maqam pertama.

Diketahui orane bahwa pancaran rabbani tidak dapat dibangkitkan dengan asma, tetapi ia adalah nur yang dikumiai Tuhan bagi siapa ia suka, di tengah-tengah asma atau sesudahnya. Seorang salik dalam maqam yang pertama oleh syeikhnya ditalqinkan asma, jika ia teruk menerus melaksanakan, amalan, tinggi rendah suaranya, sambil duduk atau berdiri, Tuhan menyalakan dengan berkah asma itu dalam batinnya, suatu masa di suatu tempat damuka melihatlah ia dengan mata hatinya segala yang buruk di sekitamya, lalu berlari memasuki ikhlas. Tiap-tiap bertambah zakimya, bertambah cepat larinya mencapai keikhlasan itu, dan dengan demikian pada akhirnya ia beroleh yang dinamakan jazbah rahmaniyah, yang dapat membawa dialakeadarajat kamal dan menguatkan jiwanya dalam memilkul amannh dan menghadapi tajalliyat. Yang demikian ini dalam tarekat Khalawati yah, dinamakan khusiyah ism pertama.

Dalam khaisiyah ism kedua salik yang bimbing itu keluar danipada kegelapan ma'siat kepada cahaya taat yang terang benderang, sedang dalam khusiyah ism ketiga lahirlah huwahiyat mutlak, hakikat imanivah, ma'rifat qudaiyah rabbaniyah dalam hati salik yang bimbang itu. Tandanya ia Iul anak kepada hidup abadi dan melepaskan dirinya dari pada kelejian dunia, lau masuk dalam maqam kamul. Khawas atau khaisiyah asma ini tidak dapat lahir melainkan dengan memperbanyak zikir jalli yang kuat dan khafi, dengan adab yang berkekalan.

Khasiyah yang keempat dan kelima menyusul dalam keadaan zikir. Zikir itu dilakukan dalam keadaan menghadap kiblat, duduk di atas dua lutut atau berdiri, kosong daripada segala cita-cita, mendengar apa yang diucapkan, bersih lahir dan batin, terus-menerus dalam wudhuk, berpegang teguh kepada syari'at dan tarekat, dan meminta kelebihan daripada Tuhan dengan tak ada henti-hentinya.

Jika semua itu dikerjakan salik akan sampai kepada maqam yang keenam, yang dicapai dengan mujahadah dan riadhah. Adapun mencapai khasiyah maqam yang ketujuh memang tidak mungkin dengan usaha, tetapi dengan jazbah daripada Allah. Maqam ini dinamakan maqam Haqqul Yaqin, yang dinamakan juga maqam tauhid atau wahdatul wujud, bukan menjadi satu secara tunggal, tetapi sampai kepada onggokan mutiara derajat kamal, syuhud wihdatul wujud, sebagai hasil mujahadah, riadhah yang berturut-turut, zul iftiqar dan maskanah.

Demikian berapa catatan tentang tingkat khawas atau khasiyah dan tingkat merabat tujuh jiwa sebagai yang sudah diterangkan dalam suluk Khalawatiyah. Untuk mencapainya dimulai dengan menyesali dosa, membuang aib, berazam tidak akan kembali kepada ma'siat, menyelidiki desas-desus diri, bersungguh-sungguh dalam beribadah kepa- da Tuhan dengan mahabah dan ikhlas dalam segala amal saleh dan berakhlak dengan pekerti yang luhur.

Had atau difinisi tasawwuf pada mereka ialah menyesal terhadap dosanya, tawajjuh dengan ikhlas kepada kerelaan Tuhannya, melepaskan jiwa dari pengaruh diri, mencari Hak dengan akal dan perasaan, membersihkan diri daripada kekejikan dan berakhlak dengan khuluk sepanjang Sunnah Nabi. Ada sepuluh perkara yang mereka jadikan tiang amalnya, yaitu yaqdhah atau kesadaran, taubah atau minta ampun, muhasabah atau selalu memperhitungkan laba rugi, inabah atau berhasrat kembali kepada Tuhan, tafakkur atau selalu menggunakan pikiran, tazakkur selalu menyebut dan mengingat Tuhan, i‘tisam, selulu berpegang kepada pimpinan Tuhan, firar atau selalu lari dari kejahatan dan keduniaan yang tidak berfaedah, riadhah atau selalu melatih diri dalam amal, dan sima' atau selalu menggunakan pendengaran dalam mengikuti perintah-perintah agama.

Di dalam tarekat ini dibicarakan secara pelikir perpindahan dari maqam ke maqam, yang saya tinggalkan pembicaraannya, sesuai dengan bentuk kitab ini sebagai pengantar. Tetapi meskipun demikian saya ingin mengemukakan pendirian tarekat ini mengenai fana, yang dalam golongan fuqaha acap kali menimbulkan salah paham. Mereka mem- bagikan fana atas tiga tingkat, pertama fana fil af’al, dengan arti, bah- wa tidak ada yang menciptakan sesuatu kecuali Allah, kedua fana fis sifat, yang berarti tidak ada kebenaran sebenar-benarnya dalam hakekat kecuali Allah, dan ketiga fana fiz zat, yang dimaksudkan bahwa tidak ada yang maujud sebenar-benarnya melainkan zat Allah sendiri.

Adapun keadaan talqin dalam tarekat ini sama dengan cabang Naksyabandiyah yang lain : sycikh meletakkan tangannya dalam ta-gan murid, menyuruh mendengar zikir yang diucapkannya dengan menutup dua mata, kemudian diikutnya perlahan-lahan. Sesudah istighfar dan do’a, bertahlil tiga kali yang diikuti oleh murid, membaca fatihah dsb. dan mengucapkan azan pada telinga kanan dan telinga kirinya.

Sayyid Ali Al-Wina’i menerangkan martabat asma atau zikir dalam tujuh tingkat, pertama lafadh syahadah scbagai perbandingan untuk ammarah, kedua lafadh Allah, untuk lawwamah, ketiga lafadh huwa untuk mulhamah, keempat lafadh Haq untuk mutmainnah, kelima lafadh hayyun untuk radhiyah, keenam lafad qayyum untuk mardhiyah, dan ketujuh lafadh qahhar untuk nafsul kamilah, yang dinamakannya ghayatut talqin, talqin terakhir untuk murid.

Sumber: Prof. Dr. H. Aboebakar Atjeh dalam buku "Pengantar Ilmu Tarekat". halaman 341-345, Cetakan III, Januari 1985 M, Penerbit Ramadhani, Solo, Jawa Tengah

Previous
« Prev Post

Artikel Terkait

Copyright Ⓒ 2024 | Khazanah Islam