Sabtu, 24 Agustus 2024

Tarekat Khalidiyah

Cabang Naqsyabandiyah di Turkestan mengaku berasal dari tarekat Thaifuriyah dan cabang-cabang yang lain terdapat di Cina, Kazan, Turki, India dan Jawa. Disebutkan dalam sejarah, bahwa tarekat itu didirikan oleh Bahauddin qs (w. 1338 M). Dalam pada itu ada suatu cabang Naqsyabandiyah di Turki, yang berdiri dalam abad ke XIX, bernama Khalidiyah.

Menurut sebuah kitab, yang saya terima dari Barmawi Umar, dikatakan, bahwa pokok-pokok tarekat Khalidiyah Dhiya’iyah Majjiyah, diletakkan oleh Syeikh Sulaiman Zuhdi Al-Khalidi, yang lama bertempat tinggal di Mekkah. Kitab ini berisi silsilah dan beberapa pengertian yang digunakan dalam tarekat ini, setengahnya tertulis dalam bentuk sajak dan setengahnya tertulis dalam bentuk biasa. Dalam silsilah dapat dibaca, bahwa tawassul tarekat ini dimulai dengan Dhiyauddin Khalid, sambung-menyambung dengan beberapa syeikh Naqsyabandiyah, akhirnya sampai kepada Thaifur, Ja'far, Salman, Abu Bakar dan terus kepada Nabi Muhammad, Jibril dan Allah. Jika kita selidiki akan kelihatan, bahwa perpecahan tarekat ini dimulai dari tarekat Aliyah, satu cabang daripada tarekat Naqsyabandiyah Khwajakaniyah yang terkenal.

Dalam kitab ini dibicarakan silsilah tarekat, adab zikir, tawassul dalam tarekat, adab suluk, tentang salik dan maqamnya, tentang rabithah, dan beberapa fatwa pendek yang diperbuat oleh Syeikh Sulaiman Zuhdi Al-Khalidi mengenai beberapa persoalan yang diterimanya dari bermacam-macam daerah, di mana tersiar tarekat ini, termasuk daerah Indonesia, mengenai talqin wanita oleh guru laki-laki, tentang khalifah-khalifah yang meninggalkan petunjuk gurunya, tentang istiqamah dan pertanyaan-pertanyaan lain, di antaranya berasal dari Abdurrahman bin Yusuf Al-Jawi Al-Banjari.

Adab suluk yang dibicarakan dalam tarekat ini sesuai dengan ajaran Khwajakaniyah, terdiri daripada delapan tingkat, dinamakan menurut bahasa Persi :

  1. Pertama HUSYE DARDAM, yaitu bernafas tanpa ghiflah, hudur dan wuquf dalam segala keluar masuk nafas pada tiap hal dan tempat.
  2. Kedua NAZAR BARQADAM, melihat kepada kaki untuk menguatkan hudur dan membersihkan jiwa dalam air afaqi, karena konon panca indera yang lima adalah sumber mata air yang dapat membersihkan hati, tetapi dapat juga mengotorkannya, kewajibannya ialah menjaga hati itu yang luasnya seperti lautan samudera, agar tidak dikotorkan.
  3. Ketiga SAFAR DAR WATHAN, yang sebenarnya berarti merantau dalam tanah air mencari dalam sesuatu daerah tertentu, tetapi dimaksudkan ialah menukarkan akhlak dan sifat dalam sir diri, dari fana kepada baqa, yang demikian itu dijelaskan dengan perpindahan dari suatu keadaan kepada keadaan lain, dari sesuatu ta'yin kepada ta'yin.
  4. Keempat ialah KHALAWATU DAR ANJUMAN, yang berarti tunggal dalam yang banyak. Dengan kata ini dimaksudkan, bahwa pada permulaan khalawat salik itu halnya adalah banyak dalam tunggal, oleh karena itu ia diselubungi khawatir. Apabila halnya sudah meningkat dan hudurnya sudah berubah, maka halnya menjadi tunggal dalam khalawat dan banyak dalam jalwat. Jika mu'amalahnya naik pula, maka keadaannya menjadi lebih berubah, yaitu menjadi satu tunggal dalam banyak. Maka menjadilah pendengarannya dan penglihatannya sesuai dengan Haq, sebagaimana disebutkan dalam Hadits.
  5. Kelima berbunyi YADKARD, dengan arti dzikrullah yang dibagi atas dzikir ism zat dengan wuquf, dan dzikir nafi serta isbat de gan syarat.
  6. Keenam BAA KSAST, yang sama artinya dengan : "O, Tuhan Engkaulah tujuanku! Kerelaan-Mulah yang kucari!" Pertunjuk ini merupakan pokok dasar dan niat yang ikhlas dalam ibadat dan amal untuk Tuhan semata-mata, dimulai dengan maksud pada permulaan dan pada kesudahan. Barang siapa ingat kepada Tuhan tetapi beramal untuk kepentingan dunia selain Tuhan adalah sama dengan meninggalkan tarekat Naqsyabandi.
  7. Ketujuh ialah NAKSH DASSYAT, yang dimaksudkan bahwa ia diingat dan yang mengingatnya ialah Tuhan, dan dengan demikian lahirlah dalam tarekat ini suatu latihan jiwa yang disebut muraqabah, selalu berada dalam pengawasan Tuhan.
  8. Kedelapan YED DASSYAT, yang berarti lahir tauhid hakiki dengan lidah sesudah fana dan baqa yang sesempurna-sempurnanya.

Semua pokok ini menjadi tujuan dan amal dalam suluk Khalidiyah. Selain daripada itu termasuk dunia semata-mata, yang diucapkan dengan bahasa Persi wa ghairu in hamah baidyaet.

Murid melatih din dengan tingkat ini dalam suluknya, dan mursyid memimpin nya dengan baik. Baik tarekat rabithah, maupun tarekat dzikir dari cabang Naqsyabandiyah ini terang dan jelas, kedua-duanya dilakukan sebagai suatu jalan untuk mencapai jazbah ilahiyah.

Oleh karena itu sangat diminta perhatian untuk suluk dan arba'in melakukan syarat-syarat yang baik dan adab-adab yang sempurna, di antara lain menerima suluk itu dari mursyid sendiri, yang sudah ditunjukkan dan sudah berijazah untuk sesuatu daerah, menganggap khalawat sebagai tamsil kubur bagi mati, dan oleh karena itu segera taubat kepada Tuhan, niat untuk menyempurnakan arba'in atau empat puluh hari latihan, sebagaimana terselip dalam banyak kejadian tersebut dalam Firman Tuhan dalam Qur'an mengenai petunjuk empat puluh hari itu, seperti mi'raj Nabi Musa, pertapaan Nabi Muhammad dalam gua Hira', selesai pengadukan tanah untuk tubuh Adam, berbentuk manusia anak dalam kandungan dll, selanjutnya mengurangi bicara, mengurangi makan, mengurangi tidur, melakukan zikir yang bekekalan sebagaimana yang diperintahkan oleh syeikh, tidak melakukan perkara-perkara yang membawa kepada bid'ah, seperti menyanyi dan menari, dan lain-lain pertunjuk yang berfaedah, baik bagi mursyid, syeikh, maupun bagi murid yang akan menjalankan tarekat ini, seperti keterangan mengenai tawajjuh dan melakukan khatam Khwajakan, yang tidak saya perpanjang, karena sudah dibicarakan dalam pembicaraan mengenai tarekat Nasyabandiyah yang pokok.

Uraian-uraian dalam tarekat Naqsyabandiyah, baik cabang AlBahaiyah, Mujjaddidiyah, Khalidiyah, Dhiyaiyah maupun dalam Khalawatiyah dsb. banyak berhubungan dengan istilah-istilah dalam bahasa Persi, bahasa pendirinya Naqsyabandi besar itu. Sebagaimana sukar mengikuti istilah-istilah itu dalam suluk dan riadhah, begitu juga dalam filsafatnya dan ilmu hakekatnya. Meskipun demikian saya mencoba mencatat beberapa pengertian dari risalah yang dinamakan "Masiaratul Hikam Lis Salikin ila Siratis Sa'irin", di samping saya mempersilakan pembaca mempelajari persoalan-persoalan ini dalam kitab-kitab, yang dikarangn oleh seorang ulama yang ahli dalam tarekat Naqsyabandiyah yaitu Dr. Syeikh H. Jalaluddin, karangan-karangan mana mudah terdapat dalam pasar buku.

Umumnya diceriterakan, bahwa manusia itu terdiri daripada sepuluh latha'if, yang terbagi atas dua alam, lima dari alam khalak dan lima dari alam amar. Alam khalak itu terdiri dari nafsul haiwani, tubuh yang bersifat hewan, dan empat anasir yang dikenal dengan turab, tanah, ma, air, hawa, angin, dan nar, api, kelompok anasir susunan manusia yang kita kenal dalam ajaran tasawwuf. Anasir susunan tubuh manusia ini ada yang bersifat mengangkat manusia itu kepada tingkat Malaikat, ada yang menarik ke bawah ke tingkat binatang. Nafsu haiwani diumpamakan jauharah halus yang bersifat asap, yang mengerakkan natiqah dan hakikat insan, yang bersama akal dapat digunakan juga roh haiwani, yang memberi kehidupan bagi manusia dan yang jika roh ini putus, manusia itu kembali menjadi mayat. Kekuatan diri itu terletak dalam otak, yang dinamakan nafsu natiqah dan hakikat insan, yang bersama akal dapat digunakan untuk musyahadatul a'yan sabitah yang gaib dengan segala bahagian-bahagiannya dan kasyaf, baik yang bersifat wujudani maupun yang bersifat hakiki.

Perasaan sebahagian terdiri dari panca indera dan sebahagian terdiri daripada tingkat jiwa yang tujuh, dimulai dengan jiwa ammarah disudahi dengan jiwa 'ubudiyah.

Adapun alam amar terdiri daripada lima latha'if, yaitu qalb, hati, ruh, roh, sir, rahasia, khafi, ilham Tuhan, dan akhfa, ilham Tuhan yang lebih pelik. Sebenarnya dua perkataan terakhir ini tidak dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, khafi' menurut istilah ahli Sufi ialah lathifah rabbaniyah, yang dicurahkan Tuhan ke dalam roh manusia dengan kekuatan tertentu, saya terjemahkan dengan ilham Tuhan, hanya untuk memudahkan. Qalb atau hati adalah lathifah sanubari, berupa darah, terletak di sebelah dada kiri ke bawah, roh haiwani terletak di sebelah kanan, roh insani terletak di antara dada dan tetek kiri, dinamakan sir, yang terletak di antara dua tetek kanan dinamakan khafi, di tengah dada dinamakan akhfa. Lathifah-lathifah ini mempunyai sifat-sifat yang ajaib sebagai kurnia Tuhan. Hati merupakan tempat riqqah, ma'rifah, hubb, sabr, yaitu kelemahan, ma'rifat, kecintaan dan sabar. Roh ialah tempat rahmah, basath dan surur, kasih sayang, kemurahan dan kegembiaraan. Sir ialah tempat farah, dhahak, ghurur, gembira, tertawa, kebimbangan. Khafi ialah tempat hazan, khauf, buka', yaitu kecemasan, takut dan tangis. Akhfa adalah tempat syahwah jur'ah, syaja'ah, harus, yaitu hawa nafsu, keberanian, kesatria dan kesungguhan. Diterangkan lebih lanjut, bahwa maqam qalb itu adalah wilayah Adam, maqam roh adalah wilayah Nuh dan Ibrahim, maqam sir adalah wilayah Musa, maqam khafi adalah wilayah Isa dan maqam akhfa adalah wilayah Nabi Muhammad saw. Dalam penafsiran lain dijelaskan bahwa alam qalb ialah alam malak dan syahadan, alam roh adalah alam malakut dan arwah, alam sir adalah alam jabarut, alam khafi adalah alam lahut, dan alam akhfa adalah alam gaib huwiyah ilahiyah. Oleh karena itu martabat hati itu dimasukkan ke dalam martabat af'al, martabat roh dimasukkan ke dalam martabat asma, martabat sir dimasukkan ke dalam martabat sifat subtuwihyah, martabat khafi dimasukkan ke dalam martabat sifat salabiyah, dan martabat akhfa adalah martabat zat mutlaqah yang tertinggi.

Tiap-tiap latha’f amar ini mempunyai nur atau cahaya. Lalu disebut, bahwa cahaya hati itu kuning, cahaya roh merah, cahaya sir putih, cahaya khafi hitam, cahaya akhfa hijau, cahaya nafsun nathiqah ungu, semua cahaya ini diperoleh sebelum fana, tetapi sesudah fana semuanya menjadi satu, yang disebut launul 'aqiqi, warna batu permata akik. Dan pada akhirnya sesudah baqa hakiki dalam zat, semua cahaya itu tidak mempunyai warna lagi, tidak diketahui bagaimana dan juga tidak dibolehkan mencari-cari, mengusut dan menggambar-gambarkan, karena tidak ada contoh umpama baginya.

Demikian kita catat beberapa hal mengenai filsafat dan aqidah Naqsyabandiyah dengan cabang-cabangnya, yang bertali dengan riadhah dan suluk diri dan jiwa manusia, yang rapat hubungannya dengan ajaran-ajaran amal dan zikirnya.

Dari kitab yang saya sebutkan namanya pada permulaan karangan ini diketahui, bahwa tarekat Khalidiyah ini pun banyak terdapat di Indonesia, mempunyai syeikh, khalifah dan mursyid-mursyidnya, ternyata daripada beberapa buah surat yang berasal dari Banjarmasin dan daerah-daerah lain, yang dimuat dalam kitab kecil tersebut di atas, berkenaan dengan fatwa Sulaiman Az-Zuhdi Al-Khalidi dalam beberapa masalah dan kesukaran-kesukaran dalam pelaksanaan tarekat itu di Indonesia.

Sumber: Prof. Dr. H. Aboebakar Atjeh dalam buku "Pengantar Ilmu Tarekat". halaman 345-349, Cetakan III, Januari 1985 M, Penerbit Ramadhani, Solo, Jawa Tengah

Previous
« Prev Post

Artikel Terkait

Copyright Ⓒ 2024 | Khazanah Islam