Orang-orang Mu'tazilah tidak mengakui adanya adzab kubur, padahal terdapat banyak riwayat dari Nabi saw dan juga beberapa riwayat dari sahabat-sahabat Nabi ra. Bahkan terdapat suatu riwayat dari salah seorang di antara mereka, bahwa barangsiapa mengingkari ataupun menafikan tentang adzab kubur, haruslah di dalam hal ini dia mendapat kesepakatan dari para sahabat Nabi saw.
Abu Bakr ibn Abu Syaibah meriwayatkan dari Abu Mu'awiyyah, dari al-A'masy, dari Abu Shaleh, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah saw, bahwa beliau bersabda: "'Kita berlindung kepada Allah dari adzab kubur.”
Ahmad ibn Ishak al-Hadhrami meriwayatkan dari Wahib, dari Musa ibn 'Ukbah, dari Ummu Khalid binti Sa'id ibn al- Ashi, di mana dia (Ummu Khalid) mendengar Rasulullah saw memohon perlindungan dari adzab kubur.
Bahkan Anas ibn Malik meriwayatkan hadits dari Nabi saw, di mana beliau bersabda: "Kalau tidaklah kalian akan saling kubur menguburkan, niscaya 2ku mohonkan kepada Allah agar Dia memperdengarkan adzab kubur kepada kalian, sebagaimana Dia telah memperdengarkannya kepadaku."
ALASAN YANG LAIN :
Bukti lain yang menerangkan adzab bagi orang-orang kafir di dalam kuburnya adalah firman Allah:
'' Kepada mereka diperlihatkan neraka pada hari pagi dan petang, pada hari terjadinya kiamat — masukkanlah (wahai para malaikat) si Fir'aun dan kaumnya itu ke dalam adzab yang sangat keras” (OS, al-Mu'min, 40: 46).
Sungguh, Allah memberi adzab kepada mereka di saat terjadinya kiamat, setelah diperlihatkan-Nya neraka itu kepada mereka (di dunia ini) pada waktu pagi dan petang.
Bahkan diberitakan bahwa Allah akan mengadzab mereka dua kali, pertama dengan pedang dan kedua di dalam kubur mereka, kemudian mereka dikembalikan ke dalam adzab yang sangat pedih di akhirat kelak. Allah pun menjelaskan bahwa orang-orang yang mati syahid di dunia ini akan memperoleh rezki dan gembira-ria karena karunia Allah, sebagaimana firman-Nya:
"Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu (benar-benar) mati, tetapi mereka tetap hidup di sisi Tuhannya dengan memperoleh rezki. Mereka gembira-ria karena karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, bahkan mereka pun senang-hati terhadap orang-orang yang masih tertinggal di belakangnya, yang belum menyusul mereka, di mana mereka tidaklah khawatir dan tidaklah pula sedih” (OS, Ali 'Imran, 3: 169-170). Sungguh, keadaan orang-orang yang mati syahid — yang digambarkan dalam ayat di atas — itu tidak di mana-mana, melainkan di dunia ini, sebab orang-orang yang belum menyusul mereka pun masih dalam keadaan hidup. Adapun mereka tidak benar-benar mati dan tidak pula terbunuh.
« Prev Post
Next Post »