TImam Abu al-Hasan al-Asy'ari dalam sebuah buku fonumental yang berjudul "Al-Ibadah fi Ushul al-Diyanah" memberikan kita penjelasan bagaimana pemahaman ketuhan kelompok sesat dan ahli bid'ah dalam dalam teologi keislam. dan beliau mengatakan
Ketahuilah, bahwa segolongan besar orang-orang yang tersesat dari kebenaran - dari para pengikut Mu'tazilah serta kaum Qadariyah - telah begitu saja menuruti hawa nafsu mereka dengan mengikuti tradisi para pemimpinnya dan nenek moyangnya, sampai-sampai mereka berani menakwilkan al-Qur'an berdasarkan kehendaknya sendiri, tanpa alasan-alasan yang berlandaskan Kitabullah ataupun sunnah rasul-Nya, bahkan tidak juga bersumberkan pandangan ulama salaf yang dahulu. Dengan begitu mereka mengingkari riwayat- riwayat yang disampaikan para sahabat Nabi saw, tentang hal-hal yang berkaitan dengan masalah 'melihat Allah dengan mata kepala'. Tentang masalah ini sebenarnya telah beredar riwayat-riwayat yang bermacam-macam, baik atsar para sahabat ataupun khabar para ulama. Tetapi mereka menyangkal adanya syafa'at Rasulullah saw bagi orang-orang Muslim yang berdosa; dan mereka mengingkari riwayat-riwayat yang berkaitan dengan masalah ini, yang disampaikan oleh ulama salaf yang dahulu. Mereka pun mengingkari adanya siksa kubur, di mana orang-orang kafir mendapatkan siksa, padahal para sahabat dan tabi'in telah sepakat tentang hal itu. Mereka menganggap al-Qur'an sebagai makhluk, persis sebagaimana anggapan rekan-rekan mereka yang musyrik, yang berkata:
"Ini (al-Qur'an) tidak lain dari perkataan manusia"(QS, al-Muddatstsir, 74: 25).
Sungguh, mereka menganggap al-Qur'an itu sama halnya dengan perkataan manusia. Di samping itu mereka pun meyakini serta mengukuhi, bahwa manusia itu pelaku segenap perbuatan jahatnya. Pernyataan tersebut sama halnya dengan anggapan kaum Majusi, yang menyatakan adanya dua pencipta - yaitu, yang satu bertindak jahat dan yang lain bertindak baik. Atau sebagaimana aliran Qadariyah yang menganggap Allah hanyalah pencipta kebaikan, sementara kejahatan adalah ciptaan setan. Mereka pun menganggap segala sesuatu yang tiada itu merupakan kehendak Allah, sementara yang ada ini bukan kehendak-Nya; dan hal ini jelas bertentangan dengan kesepakatan kaum Muslimin, yang meyakini bahwa apa pun kehendak Allah niscaya terwujud, sementara apa yang tidak Dia kehendaki niscaya tidak terwujud - sekalipun, seandainya Allah menghendaki, Dia Maha Kuasa mewujudkan apa pun.
Dan Allah berfirman:
"Tidaklah kamu dapat menghendaki sesuatu, kecuali Allah enghendakinya jua"(QS, at-Takwir, 81: 29). Artinya, tidaklah kita dapat berkehendak terhadap adanya sesuatu, kecuali adanya sesuatu tersebut telah dikehendaki Allah.
"Dan seandainya Allah kehendaki, maka tidaklah mereka saling berbunuh-bunuhan"(QS, al-Baqarah, 2: 253); dan "seandainya Aku kehendaki, niscaya Aku berikan pada setiap jiwa petunjuk untuknya"(QS, as-Sajdah, 32: 13); dan"Maha Kuasa (Allah) memperbuat apa pun yang dikehendaki-Nya"(QS, al-Bujur, 85: 16).
Bahkan Allah memfirmankan kisah (Nabi) Syu'aib yang berkata:
"Aku tidaklah patut kembali padanya, kecuali seandainya Allah Tuhanku menghendaki itu. Dan pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu"(QS, al-A'raf, 7: 89).
Karena itu Rasulullah saw menyebut mereka sebagai 'Majusi'- nya ummat Islam, sebab kepercayaan mereka sama halnya dengan kepercayaan orang-orang Majusi, bahkan mereka menyelaraskan anggapannya dengan pandangan kaum Majusi tersebut. Sungguh, mereka menganggap kebaikan ataupun kejahatan memiliki pencipta masing-masing, sebagaimana pandangan kaum Majusi; dan mereka pun menganggap dirinya memiliki kemampuan yang memberi madharat ataupun manfaat terhadapnya, yang jelas-jelas bertentangan dengan firman Allah SWT kepada nabi-Nya saw:
"Katakanlah: Aku tidaklah kuasa menarik manfaat bagi diriku dan tidak pula menolak madharat, kecuali dikehendaki Allah' (QS, al-A'raf, 7: 188). Karena itu, selain bertentangan dengan al-Qur'an, anggapan mereka pun bertentangan dengan kesepakatan kaum Muslimin.
Mereka pun berkata, bahwa mereka memiliki kemampuan berbuat yang di luar kekuasaan Allah; dan mereka menganggap dirinya memiliki kemampuan yang menyifati keperiadaannya, sebagai makhluk yang memiliki kemampuan berbuat, yang sama sekali tidak disebutkan Allah. Hal ini persis sebagaimana pandangan kaum Majusi yang menganggap setan memiliki kemampuan berbuat jahat, yang juga merupakan pandangan yang tidak dibenarkan Allah. Karena itu mereka disebut sebagai 'Majusi'-nya ummat Islam, sebab kepercayaan mereka sama halnya dengan kepercayaan kaum Majusi tersebut, bahkan cenderung mengikuti kesesatan Majusi itu. Mereka pun menyebarkan anggapan yang membuat kebanyakan manusia jadi bimbang terhadap rahmat Allah dan berputus-asa terhadap nikmat-Nya, dengan memutuskan kata bahwa orang-orang yang berbuat maksiat itu tempatnya adalah di neraka serta kekal di dalamnya.
Dan hal ini jelas bertentangan dengan firman Allah SWT:
"Sungguh, Dia mengampuni semua dosa yang selain syirik, kepada siapa pun yang Dia kehendaki"(QS, an-Nisa', 4: 48).
Mereka pun menyatakan, bahwa orang-orang yang masuk neraka tersebut tidak akan dikeluarkan lagi dari sana; dan anggapan mereka ini jelas bertentangan dengan riwayat yang dikutip dari Rasulullah saw, bahwa Allah SWT niscaya mengeluarkan para penghuni neraka setelah disiksa dan merupakan arang. Bahkan mereka pun mengingkari pernyataan bahwa Allah memiliki 'wajah', sebagaimana yang difirmankan-Nya:
"Maka, kekal-lah wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran serta kemuliaan"(QS, ar-Rahman, 55: 27).
Mereka pun mengingkari bahwa Allah memiliki 'tangan', sebagaimana firman-Nya: "Yang Aku ciptakan dengan tangan-Ku''(QS, Shad, 38: 75); dan mengingkari bahwa Allah memiliki 'mata', sebagaimana firman-Nya: "Yang berlayar dengan pengawasan mata Kami"(QS, al Qamar, 54: 14); dan "agar kamu diasuh di bawah pengawasan mata- Ku"(QS, Thaha, 20: 39).
Bahkan mereka mengingkari pernyataan bahwa Allah memiliki ilmu, padahal firman-Nya:
"Sungguh, al- Qur'an itu diturunkan dengan ilmu Allah"(QS, Hud, 11: 14); dan mengingkari bahwa Allah memiliki kekuatan, padahal firman-Nya:
"Yang memiliki kekuatan serta Maha Kokoh" (QS, adz-Dzariyat, 51: 58). Di samping itu mereka pun menafikan riwayat yang dikutip dari Rasulullah saw, bahwa setiap malam Allah SWT turun ke 'langit dunia; dan, lebih dari itu, mereka menafikan riwayat-riwayat (hadits) Rasulullah saw lainnya.
Begitupun halnya dengan aliran-aliran Jahamiyah, Murjiah, Haruriyah, serta ahli-ahli bid'ah yang sesat - yang menyalahi kitab Allah dan sunnah rasul-Nya, bahkan menyalahi riwayat-riwayat yang dipegang teguh para sahabat ataupun kesepakatan para ulama, sebagaimana yang dilakukan kaum Mu'tazillah serta Qadariyyah.
Sungguh, dalam bab-bab berikut akan kuuraikan masalah- masalah tersebut - insya Allah - satu per satu atau masalah per masalah. Dan kepada-Nya jua kita mohonkan pertolongan, taufik dan kekuatan.
« Prev Post
Next Post »