1. Pokok Pembicaraan Bab Ini
Pokok ini sangat luas. Dalam tumpukan gagasan yang be- gitu saja muncul dalam pikiran, saya akan lebih memper- hatikan tatanan berbagai hal daripada hal-hal itu sendiri. Saya harus ke sana kemari agar dapat menyelidiki serta menemukan kebenaran
2. Mentalitas Warga Harus Dipersiapkan Untuk Menerima Hukum Yang Terbaik
Tak ada yang lebih berat bagi orang Jerman daripada mah- kamah Varus. Mahkamah yang dibangun oleh kaum Justinian di antara kaum Lazi, untuk mengambil tindakan hukum terhadap pembunuh Raja mereka itu tampak di depan mata mereka sebagai sesuatu yang paling menakutkan dan paling biadab. Mithridates, yang berpidato panjang lebar melawan orang-orang Romawi, mencela mereka terutama dalam cara kerja hukum mereka. Orang-orang Parthia tidak dapat bersabar dengan salah seorang raja mereka yang setelah dididik di Roma, ramah tamah, sopan serta bersahabat dengan semua orang. Kebebasan itu sendiri nampaknya tak dapat ditanggung oleh bangsa-bangsa yang tidak terbiasa menikmatinya. Jadi, udara segar kadang- kadang tidak menyenangkan bagi bangsa yang telah terbiasa hidup dalam kepengapan.
Seorang Venesia bernama Balbi, ketika sedang berada di Pegu, diperkenalkan kepada Raja. Ketika Raja diberi tahu bahwa orang Venesia tidak punya raja, ia tetawa terbahak- bahak sampai terbatuk-batuk, dan baru kemudian dengan susah payah ia dapat bicara dengan pejabat-pejabat tingginya. Pembuat undang-undang mana yang dapat mengusulkan pe- merintahan kerakyatan kepada orang-orang semacam ini?
3. Tirani
Ada dua jenis tirani: yang satu nyata, muncul dari penin- dasan; yang lain terletak dalam pemikiran yang pasti ditinggalkan bila mereka yang memerintah menetapkan hal- hal yang menggoyahkan bagi gagasan bangsa.
Dio menceritakan bahwa Agustus ingin sekali disebut Romulus; tetapi setelah diberi tahu bahwa rakyat takut kalau kalau ia akan menobatkan dirinya sendiri menjadi seorang raja, ia berubah pikiran. Orang Romawi kuno menolak seorang raja, karena mereka tidak dapat membiarkan siapa pun menikmati kekuasaan seperti itu; mereka tidak akan punya seorang raja karena mereka tidak dapat tahan menghadapi perilakunya. Karena meskipun Caesar dan Agustus sungguh- sungguh dilimpahi kekuasaan seperti raja, mereka mempertahankan semua penampilan lahiriah yang menunjukkan kesamaan; sementara kehidupan pribadi mereka sendiri bertolak belakang dengan pameran kemegahan dan kemewahan dari raja-raja asing, sehingga ketika orang-orang Romawi memutuskan untuk tidak mempunyai raja, ini hanya menan- dakan bahwa mereka akan mempertahankan adat mereka, dan tidak meniru adat bangsa-bangsa Afrika dan bangsa-bangsa Timur.
Penulis yang sama memberi tahu kita bahwa orang Romawi merasa jengkel terhadap Agustus karena ia membuat undang-undang tertentu yang terlalu keras; tetapi segera setelah ia memanggil kembali seorang pelawak yang bernama Pylades, yang telah dibuang oleh beberapa pihak yang berbeda-beda ke luar kota, lenyaplah kekecewaan me- reka. Orang-orang seperti itu memiliki kepekaan lebih kuat akan tirani ketika seorang pelawak dibuang daripada ketika mereka kehilangan undang-undang mereka.
4. Semangat Umum Umat Manusia
Umat manusia dipengaruhi oleh berbagai hal: iklim, agama, undang-undang, aturan pemerintah, preseden atau hal-hal yang terjadi sebelumnya, moral dan adat; dari sinilah ter- bentuk semangat umum bangsa-bangsa.
Pengaruh hal-hal itu tidak sama untuk setiap negara: ada yang berpengaruh lebih kuat, ada yang lemah. Alam dan iklim hampir merupakan satu-satunya hal yang mengatur suku bangsa biadab. Adat memerintah orang Cina; undang-undang menjadi tirani di Jepang; sedang moral memerintah di Sparta; dan aturan pemerintah serta kesederhanaan ting- kah laku kuno pernah muncul di Roma.
5. Sejauh Mana Kita Perlu Waspada Agar Semangat Umum Suatu Bangsa Tidak Berubah
Kalau kebetulan ada suatu negeri yang penduduknya berwatak sosial, terbuka, ceria, dikaruniai dengan selera dan kemampuan menyampaikan pikiran mereka, yang sigap dan ramah tamah, kadang-kadang kurang berhati-hati, seringkali tidak bijaksana, dan di samping itu punya keberanian, kemurahan hati, keterusterangan, dan punya gagasan akan kehormatan, tak seorang pun perlu berusaha mengendalikan tingkah laku mereka dengan undang-undang, kecuali justru mau membatasi kebajikan mereka. Apabila secara umum tabiat mereka baik, sedikit kelemahan yang mungkin ditemukan dalam tabiat mereka tidaklah begitu penting.
Mereka barangkali membatasi kaum wanita, mengabsah- kan undang-undang untuk memperbaharui tingkah-laku mereka dan mengurangi kemewahan mereka, tetapi siapa tahu bahwa dengan cara-cara ini mereka mungkin kehilangan selera khas yang merupakan sumber kekayaan bangsa, dan kehilangan keramah-tamahan yang akan membuat negeri itu sering dikunjungi orang asing?
Adalah tugas badan pembuat undang-undang untuk mengikuti semangat bangsa, kalau tidak bertentangan dengan asas-asas pemerintahan, karena kita tidak bisa bertindak dengan lebih baik kecuali jika kita bertindak dengan bebas, dan mengikuti kecenderungan alami kita.
Jika sikap taat yang ketat pada peraturan diterapkan pada bangsa yang pada hakikatnya periang dan santai, negara itu tidak akan mendapatkan manfaat apa pun baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Biarkan bangsa itu melakukan hal-hal yang ringan-ringan dengan kesungguhan, dan secara santai melakukan hal-hal yang paling serius.
6. Tidak Perlu Memperbaiki Segala Sesuatu
Biarkan kami seperti adanya kami sekarang, demikian kata seorang pria luhur dari suatu bangsa yang punya banyak kesamaan dengan bangsa yang sudah kita gambarkan di atas, dan alam akan memperbaiki apa pun yang salah. Negeri itu telah memberi kita kegairahan hidup yang dapat melukai dan membuat kita tergesa-gesa melebihi batas kesopanan: kegairahan ini diperbaiki oleh kesopanan yang diperolehnya, yang mengilhami kita dengan cita rasa dunia, dan di atas segala-galanya, untuk percakapan tentang kaum wanita.
Biarkan mereka meninggalkan kita seperti keadaan kita sekarang; kesembronoan kita yang menjadi satu dengan sifat baik kita akan membuat undang-undang yang akan merintangi kemampuan bergaul kita sama sekali tidak cocok bagi kita
7. Orang Athena dan Lacedaemonia
Orang Athena, kata pria tersebut melanjutkan, adalah bangsa yang punya hubungan tertentu dengan bangsa kita. Mereka mencampurkan kegembiraan dengan perdagangan; lelucon sindir menyindir, sama-sama disukai baik di senat maupun di gedung kesenian. Kegembiraan hidup ini, yang ada dalam dewan-dewan mereka, menyertai mereka dalam pelaksanaan keputusan-keputusan mereka. Sementara itu orang Sparta punya watak keras, bersungguh-sungguh, tekun dan tidak banyak bicara. Sama sulitnya untuk menyadarkan seorang Athena dengan cara menyindir dan seorang Sparta dengan cara mengalihkan perhatiannya.
8. Pengaruh Watak Yang Ramah
Makin komunikatif suatu bangsa makin mudah pula mere- ka mengubah kebiasaan-kebiasaan mereka, karena tiap orang lebih diamati oleh orang lain, dan kekhasan tiap pribadi juga lebih banyak diamati. Iklim yang mempengaruhi suatu bangsa untuk merasa senang dalam berkomunikasi juga membuat bangsa itu merasa senang akan perubahan, dan sesuatu yang membuat mereka senang akan perubahan membentuk selera bangsa itu
Masyarakat kaum wanita merusak tatakrama dan mem- bentuk selera; hasrat untuk memberikan kesenangan lebih daripada orang lain menimbulkan hiasan pakaian; dan hasrat untuk menyenangkan orang lain lebih daripada diri kita sendiri menimbulkan mode pakaian. Mode ini merupakan pokok persoalan yang penting; dengan mendorong sedikit perubahan pikiran saja, mode terus-menerus meningkatkan cabang perdagangannya
9. Kesombongan dan Keangkuhan Bangsa-bangsa
Bagi sebuah pemerintahan, keangkuhan berbangsa merupa- kan sesuatu yang sekaligus berguna dan berbahaya. Agar yakin akan hal ini, kita cukup menunjukkan, di satu pihak manfaat yang tak terhitung banyaknya dari kesombongan, seperti industri, kesenian, mode, gaya hidup dan cita rasa; di lain pihak, segala sesuatu yang buruk yang tak terhingga banyaknya yang muncul dari keangkuhan bangsa-bangsa, seperti kemalasan, kemiskinan, kelalaian akan segala sesuatu; singkatnya, kehancuran bangsa-bangsa maupun peme- rintahan mereka sendiri. Kemalasan adalah akibat keangkuhan, kerja adalah konsekuensi kesia-siaan. Keangkuhan orang Spanyol membawanya pada penolakan kerja, kesom- bongan orang Perancis mendorongnya bekerja lebih keras daripada orang lain.
Semua bangsa yang malas amat suram; karena barang siapa yang tidak bekerja menganggap diri mereka sendiri penguasa atas orang-orang yang bekerja.
Jika kita menyelidiki semua bangsa, kita akan menemu- kan bahwa kesuraman, kesombongan dan kelambanan pada umumnya berjalan seiring.
Orang-orang Achim sombong dan malas; mereka yang tidak punya budak belian, menyewanya meski hanya untuk membawa sekilo beras sejauh seratus langkah, karena mereka akan merasa terhina apabila melakukannya sendiri.
Di banyak tempat orang membiarkan kuku-kuku mereka tumbuh panjang, supaya semua orang tahu bahwa mereka tidak bekerja.
Kaum wanita di kepulauan Hindia menganggap belajar membaca sebagai hal yang memalukan: menurut mereka ini urusan budak-budak mereka, yang menyanyikan lagu-lagu pujian di pagoda-pagoda. Dalam suatu suku bangsa kaum wanita tidak memintal; pada suku lain mereka tidak membuat apa-apa kecuali keranjang dan tikar; mereka ini bah- kan tidak menumbuk padi; sedang pada bangsa lain kaum wanita tidak boleh mencari air. Aturan-aturan ini ditetap- kan dengan keangkuhan, dan dengan semangat yang sama mereka melaksanakannya. Tidaklah perlu disebutkan bahwa kualitas-kualitas moral dapat menimbulkan pengaruh ber- beda-beda, tergantung pada perpaduannya dengan nilai- nilai lain; jadi keangkuhan yang menjadi satu dengan ambisi dan gambaran mengenai kebesaran menimbulkan ber- bagai pengaruh yang terkenal di seluruh dunia di kalangan orang Romawi.
10. Watak Orang Spanyol dan Cina
Watak berbagai bangsa dibentuk oleh kebajikan dan sifat buruk. Dari campuran yang pas ini timbullah keuntungan- keuntungan besar, dan seringkali muncul ketika paling sedikit diharapkan; ada juga kemungkinan lain dari mana muncul kejahatan besar, yaitu kejahatan yang tidak diduga siapa pun.
Sepanjang zaman orang Spanyol terkenal akan kejujuran mereka. Justin menyebut kesetiaan mereka dalam menjaga apa pun yang telah dipercayakan kepada mereka; kerapkali mereka memilih mati daripada membocorkan rahasia. Mereka masih memiliki kesetiaan yang sama yang dulu membuat mereka terkenal. Semua bangsa yang berdagang di Cadiz mempercayakan keberuntungan mereka kepada orang Spanyol, dan belum pernah menyesal karena itu. Tetapi sifat yang mengagumkan ini bersama dengan kelam- banan mereka membentuk suatu campuran yang meng- hasilkan akibat yang sangat merusak. Bangsa-bangsa Eropa lainnya menjalankan sendiri semua perdagangan kerajaan mereka.
Watak orang Cina terbentuk dari campuran yang lain, yang langsung berlawanan dengan campuran orang Spanyol; ketidakstabilan hidup membuat mereka luar biasa giat; dan dengan hasrat berlebihan untuk memperoleh keuntungan, tak satu bangsa pedagang pun dapat menaruh kepercayaan kepada mereka. Ketidaksetiaan yang diketahui banyak orang ini telah memastikan mereka untuk berhu- bungan dagang dengan Jepang. Tidak seorang pedagang Eropa pun pernah berani melakukan usaha itu atas nama mereka betapa mudah pun bagi mereka untuk melakukan- nya dari daerah-daerah lautan mereka di belahan Utara.
« Prev Post
Next Post »