Kamis, 14 November 2024

Implikasi Hukum dan Agama

1. Tentang Perasaan Religius

Orang saleh dan orang ateis selalu berbicara tentang agama; yang satu berbicara tentang apa yang dicintainya, sedang yang lain tentang apa yang dibencinya.

2. Tentang Motivasi dan Keterikatan terhadap Agama

Agama-agama yang berbeda-beda di dunia ini tidak memberikan motivasi dan keterikatan yang sama kepada mereka yang menganutnya; ini amat tergantung pada sejauh mana masing-masing agama itu bisa mengikuti perubahan pe mikiran dan persepsi umat manusia.

Sebenarnya ada hal lain selain Allah yang kita puja, dan kita tidak selalu menyukai hal-hal yang berbau religi; akan tetapi kita begitu terikat pada agama yang mengajar kita untuk memuja suatu wujud rohani. Keterikatan itu bersum- ber dari kepuasan yang kita dapatkan dalam diri kita sendiri berkat kecerdasan kita dalam memilih agama, dalam menempatkan Tuhan pada suatu posisi yang lebih tinggi dari siapa pun. Kita memandang pemujaan berhala sebagai agama orang-orang bodoh, dan memandang agama yang terarah kepada suatu wujud rohani sebagai agama bangsa-bangsa yang paling berbudaya.

Jika dengan suatu ajaran yang memberi kita gagasan tentang wujud rohani tertinggi, kita masih bisa bergabung dengan orang-orang yang berakal sehat dan menerima me- reka dalam ibadat kita, ini berarti kita membuat ikatan lebih kuat pada agama; karena motif-motif yang baru saja kita sebutkan ditambahkan pada kecondongan kodrati kita akan objek indrawi. Jadi, orang Katolik, yang lebih memiliki ibadat semacam ini daripada orang Protestan lebih terikat pada agama mereka daripada orang Protestan pada agamanya sendiri. Orang Katolik juga lebih bersemangat menyebarkan agamanya.

Ketika orang-orang Efesus diberitahu bahwa para bapa Konsili sudah menyatakan bahwa mereka boleh menyebut Perawan Maria sebagai Bunda Tuhan, mereka diliputi kegembiraan luar biasa, mereka mencium tangan uskup, memeluk lutut mereka, dan seluruh kota dipenuhi oleh ungkapan kegembiraan.

Agama intelektual menawarkan suatu pilihan atas nama Tuhan bahwa suatu perlakuan istimewa akan diterima oleh orang-orang yang menganutnya, dan ancaman hukuman bagi yang mengingkarinya. Ini membuat kita amat terikat pada agama. Pengikut ajaran Muhammad tidak akan menjadi muslimin yang tangguh bila tak ada kaum penyembah berhala yang dapat mereka jadikan pembanding untuk merasa bahwa merekalah kaum Allah yang terbaik. Hal yang sama juga berlaku bagi kaum Nasrani.

Agama yang penuh kegiatan ritual(upacara-upacara)lebih kuat ikatannya daripada agama yang punya lebih sedikit kegiatan ritualnya. Kita punya kecondongan luar biasa untuk membelanya. Keteguhan yang begitu mengakar pada pengikut Muhammad atau kaum Yahudi berhasil membuat bangsa Barbar dan biadab mengubah agama mereka, yang hanya memiliki sedikit upacara, seperti perburuan atau perang.

Setiap manusia mudah terpaku pada harapan dan keta- kutan; maka dari itu, suatu agama yang tidak punya gambaran tentang neraka ataupun surga, sulit memperoleh pengikut. Ini terbukti dari betapa mudahnya agama-agama asing masuk ke Jepang, yang diterima di sana dengan semangat serta kegembiraan.

Untuk memperkuat ikatan pada suatu agama, agama perlu terus-menerus mengajarkan moral yang murni. Meskipun secara perorangan penuh dosa, manusia secara keseluruhan sangat bersih dan mencintai moralitas. Mungkin saya bisa mengemukakan adegan-adegan teater sebagai buktinya. Di situ moralitas selalu ditonjolkan, dan hal-hal yang bertentangan dengannya selalu dipojokkan. Masyarakat penonton memang menghendaki demikian.

Bila proses ibadah suatu agama begitu agung, para penganutnya akan merasa bangga sehingga mereka lebih terikat. Kekayaan kuil-kuil dan kekayaan para imam amat mem- pengaruhi kita. Oleh karena itu, penderitaan rakyat justru bisa menjadi motif yang bisa membuat mereka senang pada agama yang sebenarnya dijadikan perisai oleh orang-orang yang menyebabkan mereka sengsara.

Previous
« Prev Post

Artikel Terkait

Copyright Ⓒ 2024 | Khazanah Islam